JACK THE GIANT SLAYER : FEE-FI-FO-FUN!

JACK THE GIANT SLAYER

Sutradara : Bryan Singer

Produksi : Warner Bros, 2013

JGS1

            In Hollywood’s trends of fairytale adaptations, ada yg berupa adultization atau tetap di kelas tontonan keluarga, no, ‘Jack The Giant Slayer’ (formerly titled ‘Jack The Giant Killer’) ini bukan pengikut. Jauh sebelum ‘Red Riding Hood’, ‘Alice In Wonderland‘, ‘Mirror, Mirror’, ‘Snow White And The Huntsman’ dan ‘Hansel & Gretel : Witch Hunters’, proyek ini sudah lebih dulu mendapat lampu hijau atas pitching Darren Lemke ke Warner Bros. Namun rencana awal dengan sutradara D.J. Caruso sempat tertunda hingga akhirnya Bryan Singer masuk dengan penulis Christopher McQuarrie yang sudah beberapa kali bekerja dengannya, bersama Dan Studney untuk reworking skrip-nya. Diangkat dari penggabungan dua folktales Inggris yang banyak punya kesamaan, ‘Jack And The Beanstalk’ dan ‘Jack The Giant Killer’ yang mempopulerkan quote karakter para raksasa-nya dalam banyak variasi, ‘Fee-Fi-Fo-Fum!’ yang mungkin belum terlalu banyak dikenal anak-anak disini. So there you go, fairytales adaptation dan nama Bryan Singer, berikut Neal H. Moritz di deretan produser, agaknya sudah menjelaskan kemana arah film ini. Tanpa tendensi muluk-muluk lainnya, it’s a pure fairytales berbalut letupan-letupan ala blockbuster dibalik pameran CGI special effects, pastinya.

JGS

            Jack (Nicholas Hoult), anak petani yang hidup di kerajaan Cloister, sejak kecil tertarik dengan legenda Raja Erik melawan invasi para raksasa dari kerajaan Gantua di atas langit. Raksasa-raksasa itu berhasil dikalahkan, dan kacang ajaib yang jadi penghubung mereka turun ke bumi diamankan oleh Erik, hingga 10 tahun kemudian, Lord Roderick (Stanley Tucci), pejabat istana yang dijodohkan Raja Brahmwell (Ian McShane) dengan putrinya, Isabelle (Eleanor Tomlinson), mengincarnya dengan sebuah maksud. Seorang pendeta yang ingin mengamankannya lantas dalam pelariannya menyerahkannya pada Jack yang saling jatuh cinta pada Isabelle saat menyelamatkannya dari segerombolan preman di pasar. Tanpa disadari Jack, sebuah biji kacang itu terjatuh dan tumbuh menjadi pohon raksasa tepat ketika Isabelle yang melarikan diri dari istana berlindung di pondok kecilnya. Mereka pun terlempar ke dunia raksasa di atas langit, mencoba menyelamatkan diri dari para raksasa yang ingin menyerang kembali di bawah pimpinan Fallon, raksasa berkepala dua (Bill Nighy & John Kassir). Sementara dua pengawal raja, Elmont (Ewan McGregor) dan Crawe (Eddie Marsan) bersama Roderick dan Wicke (Ewan Bremner) menyusul naik, dengan Brahmwell yang harus memutuskan untuk menebang pohon itu secepat mungkin demi mencegah invasi para raksasa.

JGS7

            Now when you watch fairytale, expect fairytale. ‘Jack The Giant Slayer’ memang tak pernah mencoba untuk meracik gabungan dua source-nya menjadi plot yang  lebih pintar di skrip yang ditulis oleh McQuarrie dan Studman berdasar skrip asli Darren Lemke. Instead of it, mereka lebih memilih menyerang gencar dengan sisi entertainment yang menampilkan CGI effects Gantua Kingdom, the giant beanstalk plus perang antar manusia dengan raksasa se-seru mungkin, secara tujuan ‘Jack The Giant Slayer’ juga sejalan dengan wujudnya sebagai blockbuster. Sah saja, tapi harus diakui juga, se-ringan apapun skrip itu, Singer terlihat agak gagal mengolah prolog-prolognya dengan intensitas pace untuk menjaga antusiasme penonton mengikutinya. Storytelling di bagian awalnya terasa agak terbata-bata memperkenalkan satu-persatu karakternya dengan sebagian yang harusnya bisa ditampilkan lebih menarik lagi. Selain itu, kebiasaan Singer membesut elemen-elemen ‘sok asyik‘ di film-filmnya juga terasa ke multiple climax yang sedikit agak dipanjang-panjangkan.

JGS30

            Aktor muda Nicholas Hoult yang sedang naik daun dengan jadwal rilis berdekatan dengan ‘Warm Bodies’ didapuk menjadi Jack. Tak masalah memang, secara Hoult memang menyimpan daya jual yang sangat memenuhi syarat dari tampilan fisiknya, namun jadwal berdekatan itu sedikit banyak mendistraksi kekuatan karakternya sebagai Jack disini hingga tampak jomplang dengan kiprahnya di ‘Warm Bodies’. Chemistry-nya dengan pemeran Isabelle, Eleanor Tomlinson juga tak terbangun dengan sempurna. Ditambah Stanley Tucci dan Ian McShane yang sayangnya tergambar dengan komikalitas yang klise di tengah tema-tema sejenis, jadi jauh lebih menarik melihat aksi Ewan McGregor dan Eddie Marsan sebagai dua pengawal tangguh dengan chemistry yang kuat. Bill Nighy dan John Kassir dibalik polesan CGI-nya menjadi two headed giant, Fallon, juga cukup menyelamatkan ‘Jack And The Giant Slayer’ jadi tontonan yang lebih asyik.

JGS4

            But however, keunggulan utama ‘Jack And The Giant Slayer’ memang ada pada visual dan pameran aksi yang dibangun dari efek CGI-nya. Walau paruh awalnya sedikit draggy dan epilog yang ditampilkan Singer tak juga terasa kelewat penting, dengan alasan membuka kemungkinan ke sekuel ber-set modern sekalipun, bagian-bagian klimaks yang menunjukkan keunggulan teknologi CGI ini tak juga bisa disangkal cukup memanjakan mata plus efektifitas pameran 3D-nya. Tak spesial dan kelewat popped-up, namun tak lantas bukan berarti apa-apa. So, nikmati saja sisi adventurous dari fairytale-nya, bahwa folktaleJack And The Beanstalk’ memang akan jadi jauh lebih seru bila digabungkan dengan ‘Jack The Giant Killer’ bersama showdown peperangan para raksasanya melawan manusia. At least, dalam versi mash-up ini, ‘Jack The Giant Slayer’ bekerja dengan baik sebagai sebuah blockbuster penuh hiburan. Fee-Fi-Fo-Fun! (dan)

JGS13

~ by danieldokter on March 9, 2013.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: