SULE DETEKTIF TOKEK : TERRIBLE NODS TO THE GENRE

SULE DETEKTIF TOKEK

Sutradara : Reka Wijaya

Produksi : RK23 Pictures, 2013

SDT1

            I wouldn’t hestitate, untuk mengatakan Reka Wijaya, dari sekian banyak sineas kita, adalah seorang sutradara dan penulis yang cukup visioner, dan ini yang paling penting. Dipenuhi referensi, mostly terhadap kejayaan film-film kita tempo doeloe, tanpa harus stuck secara keseluruhan disana. Mau membuat sesuatu yang fresh seperti ‘Mother Keder‘ (skrip) atau ‘Planet Mars’ yang sayangnya cepat terlupakan itu, dia juga bagus. Sayangnya, untuk menghidupkan kembali suatu genre, apalagi komedi and mostly slapsticks, referensi saja tidaklah cukup. Lihat ‘Tarzan Ke Kota’, yang harusnya bisa jadi tribute memikat terhadap komedinya Benyamin S. dengan kombinasi voiceover karakter-karakter sisi fabel ala Hollywood yang diisi nama-nama terkenal. Hasilnya? Gagal.

SDT6

            Begitu juga ‘Sule Detektif Tokek’, yang sebenarnya bisa jadi franchise menarik dalam reliving genre slapstick spy-comedy/parody kita dulu. Sebut banyak film-film jadul yang berhasil menampilkan komedi tentang karakter-karakter detektif partikelir itu dengan referensi ke film-film spy luar termasuk James Bond. ‘Spion 025Benyamin S. Dua dari Warkop, ‘Pintar-Pintar Bodoh’ dan ‘Depan Bisa Belakang Bisa’, ‘Kosong-Kosong Tiga Belas’ sampai adaptasi ‘Six Balak’-nya Gito Rollies. Jelas terlihat bahwa Reka membangun film ini dengan referensi-referensi yang mirip. Mengkombinasikan kepopuleran Sule sebagai pelawak dengan banyak penggemar sekarang dengan genre komedi-komedi jadul tadi. Lengkap dengan fenomena tokek sebagai hewan yang dicari-cari sebagian orang dengan harga super tinggi bahkan jadi komoditi ekspor berikut informasinya, bersama kritik-kritik sosial pula. Ini jelas menarik. Tapi itulah kenyataannya. Mungkin kelihatan sepele, tapi building a slapstick, yang kerap ditertawakan penonton serius sebagai pendekatan penuh ketololan, adalah jauh lebih sulit daripada komedi biasa. Butuh sebuah ketepatan teknis multiaspek untuk akhirnya bisa membuat lucu-lucu klise yang itu ke itu lagi bisa membuat penonton tertawa dengan sukses. So how’s this one?

SDT4

            Tinggal bersama mertua cerewet (Mpok Nori) dan anaknya Iki (Rizky Sule / Rizky Febrian Sutisna) sambil bekerja sebagai detektif, Sule (Sule / Entis Sutisna) diminta oleh Marina (Poppy Sovia) untuk menemukan tokek peliharaan ayahnya, Gandhi (Pierre Gruno) yang dicuri oleh kolektor jahat bernama Mr. Bete (Joe P Project). Pasalnya, Mr. Bete merasa bete karena tokek miliknya selalu dikalahkan tokek milik Gandhi dalam enam kali festival tokek berturut-turut. Maka Sule dan Marina pun bekerja sama merebut tokek itu, sementara Mr. Bete justru menculik Iki untuk memancing mereka.

SDT3

            Dalam sebuah slapstick, ketimbang skrip, mungkin bangunan filmnya akan lebih banyak menggunakan improvisasi dari nama si komedian yang dijual sebesar judulnya. Bukan lawakan Sule tak lucu, dan tak ada yang salah dengan slapstick. Tapi skrip yang ada  justru kelihatan membatasi lawakannya yang kali ini juga mengorbitkan putra asli Sule dalam peran sama sebagai anaknya. Dan ini diperparah lagi dengan usaha-usaha menuangkan sub tema keluarga ke dalamnya. Slapstick-nya pun sama saja, bukan bisa lucu tapi malah jadi garing. Biar sudah mencoba, Reka mungkin sadar sekali akan keterbatasan ini sehingga ia membesut pengadeganannya dengan style transisi ke animasi pop art ala komik mirip yang digunakan dalam ‘Mama Cake’, tapi selain kebanyakan dan tak membantu, lama-lama malah jadi terasa membosankan.

SDT2

            Sementara pemeran-pemeran pendukungnya juga mendapat pembagian karakter yang tak konsisten untuk mengimbangi lawakan Sule. Kecuali Joe P. Project dan  Mpok Nori yang sesekali masih bisa membuat kita tertawa, Poppy Sovia dan Uli Auliani yang dijadikan penghias dengan mencoba ikut berkonyol ria justru kelihatan konyol ketimbang lucu. Masih ada lagi usaha membangun karakter sampingan berdialek Melayu Malaysia dengan kostum batik dibalik kritik sosial yang mungkin ingin disampaikan Reka, tapi tetap tak bekerja dengan baik ke komedinya. Bahkan dua themesong yang dibawakan Sule sama sekali tak bisa berfungsi penting buat membangun kelucuannya.

SDT5

            So that’s it. ‘Sule Detektif Tokek’ memang kelihatan sekali dibangun Reka dengan referensi-referensi ke genre-nya seolah sebuah tribute dengan segudang ide lain yang sebenarnya cukup fresh buat membangun plotnya. Tapi sayangnya, tanpa dukungan teknis yang sama baik, hampir semuanya gagal total. Debut pertama Sule dalam komedi layar lebarnya, ‘Sule, Ay Need You’ mungkin masih jauh lebih baik daripada yang satu ini. Apa boleh buat. With only just a few comedic scene that worked as well, ‘Sule Detektif Tokekis a terrible nods to the genre. Sayang sekali. (dan)

~ by danieldokter on March 17, 2013.

2 Responses to “SULE DETEKTIF TOKEK : TERRIBLE NODS TO THE GENRE”

  1. Thanks review nya Pak. Thanks atas kejeliannya di titik yang ingin saya sampaikan seperti soal batik dan lain lainnya.

  2. My pleasure. sama-sama🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: