G.I. JOE : RETALIATION : A TOTAL BOO TO THE FRANCHISE

G.I. JOE : RETALIATION

Sutradara : Jon M. Chu

Produksi : Skydance Pictures, di Bonaventura Pictures, Hasbro, Paramount Pictures, MGM, 2013

GI9

            Now do note this. In a famous franchise’s long history, hanya sekedar tahu karakternya, pernah menikmati produk-produknya, bahkan merasa suka, tak lantas membuat Anda layak dikategorikan sebagai fans. It takes more than just that. You’re not a fan, hingga Anda bisa menceritakan panjang lebar sejarah panjang karakter-karakternya dan kemana saja sebuah franchise sudah mengembangkan sayapnya. Dan sebuah adaptasi, mutlak memerlukan pengetahuan luas dari apa yang disebut sebagai source material. Tidak hanya lantas dengan ujug-ujug pernah tahu dan mengaku-ngaku fans, lalu Anda bisa memporak-porandakan bangunannya seenaknya. In the hands of good producers or not, ada tanggung jawab lebih disana. Inilah yang tak dimiliki sekuel dari adaptasi toylines produksi Hasbro, ‘G.I. Joe : The Real American Hero’ ini dibalik nama-nama sineas delusional yang mengaku dalam setiap press release dan interview bahwa mereka adalah dead fan, super fan, or any kind of fan, dibalik kepentingan seorang Lorenzo di Bonaventura yang juga ada di belakang adaptasi layar lebar ‘Transformers’ menyambung adaptasi pertamanya, ‘G.I. Joe : Rise Of The Cobra’ yang tak memuaskannya tanpa tahu apa itu ‘G.I. Joe’ sebenarnya. Bahkan setelah lama rights-nya teronggok dibiarkan begitu saja oleh si produser.

GI2

            Then in trends, ‘G.I. Joe : Rise Of The Cobra’ yang berujung ke pemecatan Stephen Sommers, walau menghasilkan kocek lumayan gede yang membuatnya berhak memperoleh sekuel, memang banyak dihujat kritikus dan penonton serius yang tak benar-benar tahu source material itu di line up summer movies 2009. The truth is, mau diwarnai beberapa ketidaksesuaian pengembangan karakternya, tetap setia pada pakem asli source-nya. Bahwa ada karakter-karakter utama yang sudah hidup puluhan tahun bersama real fans-nya, tak begitu saja bisa dikacau-balaukan. Names like Duke yang diperankan Channing Tatum, walau banyak dianggap tak sesuai, but if you look closer to the classic action figures punya shape yang cukup layak, General Hawk oleh Dennis Quaid, bersama dua ninja pentolan adegan aksi lebihnya, Snake Eyes-nya Ray Park dan Storm Shadow yang dibintangi aktor impor dari Korea Lee Byung-Hun, stays true pada gambaran komikalnya yang memang pangsanya lebih ke pemirsa muda atau orang-orang yang tumbuh besar dengan franchise ini. They might be cartoonish, tapi itulah ‘G.I. Joe’ sebenar-benarnya. No, I’m not saying there cannot be any attempts untuk menghadirkan versi yang lebih dewasa dan membumi sesuai trend sekarang. But at least, lakukanlah dengan benar.

GI3

            And it’s been almost a year sejak kita mendengar berita bahwa sekuel ini mengalami penundaan atas reaksi jelek yang lantas dibantah mereka menjelang perilisannya tahun ini. Bahwa tak ada isu-isu re-shoots atas karakter Duke, masih tetap diperankan Channing Tatum, which killed off just minutes after the movie started, dengan alih-alih konversi menjadi 3D untuk gimmick yang lebih menjual. Padahal, penyutradaraan yang beralih ke sineas Chinese American Jon M. Chu yang selama ini dikenal lewat instalmen kedua dan ketiga ‘Step Up’ and dokumenter Justin BieberNever Say Never’ jelas sudah akrab sekali dengan gimmick 3D. Dengan duo penulis ‘Zombieland’, Rhett Reese dan Paul Wernick dimana Reese, lagi-lagi mengaku dead fanG.I. Joe’ bersama Chu yang bahkan katanya lebih lagi, mereka membelokkan sekuel ini dengan inovasi tolol dibalik tendensi-tendensi yang sama tak masuk akal-nya. As ‘G.I. Joe’ main character, dalam sejarah panjangnya, Duke memang pernah diisukan mati dalam sebuah part cerita dimana satuan khusus ini dihapuskan pemerintahnya, namun ada twist yang memuat penjelasan selanjutnya, atau mengalami koma dalam animasi layar lebar versi 1987. Entah memang ingin mengadopsi bagian itu dibalik usaha bombastisme pasar yang mereka akui, as Chu said, ‘We want to shock the audience’, tapi kecenderungan ini tak pernah punya resepsi populer kecuali bagi penonton atau kritikus serius yang terus saja ingin sesuatu yang beda tanpa arah jelas. Lihat saja nasib ‘Iron Eagle’, ‘Mortal Kombat’, bahkan ‘X-Men : The Last Stand’. Tapi okelah, apapun itu, mungkin tetap bisa dianggap sebagai inovasi secara mereka juga terlihat tricky dibalik pengadeganan elemen penting ini. Toh katanya mereka ingin membuat sekuel ini bukan sebagai reboot, tapi kelanjutan yang lebih fresh. Let’s see the plot first.

GI6

            Melanjutkan film pertamanya, G.I. Joes masih harus berurusan dengan Zartan (Arnold Vosloo) yang tetap ingin menguasai dunia bersama Cobra Commander (kini diperankan Luke Bracey ; voiced by Robert Baker) yang dikisahkan sudah ditawan di sebuah fasilitas mutakhir di Jerman. Zartan yang menyamar rupa sebagai Presiden AS (Jonathan Pryce) memfitnah G.I. Joes mencuri hulu ledak nuklir dari Pakistan dan memerintahkan pihak militer memberanguskan seluruh satuannya. Seluruh anggota G.I. Joe menjadi korban kecuali tiga yang tersisa dalam penyerangan itu ; Roadblock (Dwayne Johnson), Flint (D.J. Cotrona) dan Lady Jaye (Adrianne Palicki). Bersamaan dengan itu, Storm Shadow (Lee Byung-Hun) dan ex-Joe yang berkhianat, Firefly (Ray Stevenson) berhasil membebaskan Cobra Commander dari kurungannya. Terluka dan bersembunyi di sebuah kuil di puncak Himalaya, Storm Shadow lantas disatroni oleh Snake Eyes (Ray Park) bersama Jinx (Elodie Yung) atas perintah guru mereka dari Arashikage Ninja Clan, The Blind Master (RZA) yang menuduh Storm Shadow bertanggung jawab dalam pembunuhan guru tertinggi mereka, The Hard Master. Selagi anggota G.I. Joe merancang pembalasan bersama Jenderal Joseph ‘Joe’ Colton (Bruce Willis), Zartan dan Cobra Commander meluncurkan serangan nuklir bernama Project Zeus untuk menghancurkan dunia. Kini bersama Snake Eyes, Jinx dan Storm Shadow yang akhirnya ikut bergabung dengan G.I. Joe untuk membersihkan namanya, Roadblock, Flint, Lady Jaye dan pasukan Joe Colton harus berpacu dengan waktu demi menyelamatkan dunia.

GI7

            Let’s leave Duke parts, yang meski tak rapi memang seolah diberi celah buat mengembalikan Channing Tatum ke sekuel berikutnya nanti. Namun kesalahan terbesar sekuel ini adalah sebuah inkonsistensi dari keinginan lain yang disampaikan oleh Chu bersama duo penulisnya. Bahwa untuk merubah tone film pertamanya menjadi lebih baik, where these Joes portrayed in more vulnerable ways, realistic as humans, semuanya jadi omong kosong. Apa yang kita dapatkan disini tak lantas berubah dari film pertamanya. Karakternya mungkin tak seringan sebelumnya, tapi tetap tak ada elemen yang menunjukkan mereka lebih manusiawi. Tak ada goryness lebih yang menampilkan vulnerabilitas itu, dan fun factor-nya malah ditambah sedemikian rupa sampai-sampai semua karakternya yang bukan lagi komedian jadi terlihat seperti olok-olok raksasa dalam dialog super tolol dan ekspresi sok asyik masing-masing.

GI4

            Di sisi lain, penyusunan plotnya pun luar biasa berantakan. Chu bersama Reese dan Wernick terlihat sesuka hati menyambung benang merah dari film pertama padahal ini bukanlah sebuah reboot. Semua elemennya dibangun dalam plot kelewat ridiculous, dari resurrection Storm Shadow yang kelihatannya ingin sekali dijual Chu lewat sosok Lee Byung-Hun termasuk turnover karakternya yang berganti keberpihakan ke G.I. Joe yang benar-benar konyol (in their rivarly, Storm Shadow dan Snake Eyes dalam source aslinya memang sempat beberapa kali bekerja sama sebagai bagian dari G.I. Joe tapi bukan dengan cara setolol ini), bahkan diperparah lagi dengan penampilan RZA yang lagi-lagi tak punya konsistensi sebagai subplot yang menyempil demi tujuan itu. Kecuali Firefly yang masih bisa diperankan menarik oleh Ray Stevenson, karakter villain-nya pun jauh dibanding film pertama-nya. Selain melenyapkan karakter Destro-nya Christopher Eccleston yang sudah dibangun dengan baik menuju penghujung ‘Rise Of The Cobra’, Cobra Commander, sebagai seteru utama ‘G.I. Joe’ tak ubahnya hanya seperti hiasan tak penting disini. Belum lagi sederet karakter yang sudah lekat di benak penonton dari film pertamanya yang raib begitu saja tanpa penjelasan, including General Hawk.

GI8

        Dan bukan Roadblock, Lady Jaye and mostly Flint tak ada dalam source-nya, tapi selain bukan tokoh kelewat penting, bangunan konyol karakter bersama dialog-dialog menyebalkan itu membuat mereka tak bisa berbuat lebih. Adrienne Palicki hanya bisa berlindung dibalik kecantikannya, The Rock belum pernah kelihatan setolol ini menonjolkan otot tanpa jiwa sama sekali, dan D.J. Cotrona yang memerankan Flint pun ikut lewat begitu saja. Sementara Ray Park sebagai Snake Eyes bersama Elodie Yung dan Lee Byung Hun yang sepertinya sengaja mau ditonjolkan lebih oleh Chu, lagi dengan dipaksa senyam-senyum misterius bak model jam tangan tanpa kekuatan motif. Mungkin ia bernafsu mempersiapkan franchiseG.I. Lee’ sebagai pengganti ‘G.I. Joe’, entahlah. Masih ada pula Bruce Willis sebagai karakter (katanya) asli bernama Joe yang sebenarnya tak pernah dikenal dalam komik dan animasinya, tapi hanya lewat sebentar menjadi barisan produknya di tahun ‘60an. Bukan pula a collectible one. Sama seperti sebaris pemeran utama itu, Willis pun ikut dipaksa menampilkan mimik repetitifnya, lagi-lagi dengan dialog tak kalah tolol dan dipaksa memunculkan twist tak penting dari interaksinya dengan Lady Jaye. Lantas, apa itu sederet adegan prolog yang katanya ingin menekankan chemistry Channing Tatum dan Dwayne Johnson dengan konsep dangkal bermain game bersama di rumah berikut beberapa dialog tak penting? Ditambah lagi nama-nama cukup dikenal seperti Walton Goggins dan Joseph Mazello yang sekedar numpang lewat bukan statusnya sebagai cameo? And that end credits that put ‘with Bruce Willis, and Dwayne Johnson’ yang sangat juga terkesan sok asyik? What’s this? Shaw Brothers’ movie? Bollywood movie? Bah!

GI5

         Then comes the mindblowing actions. Oops, no. Just kidding. Adegan ninjas at the cliff yang jadi part paling menarik di trailer-nya itu memang bagus, apalagi dengan gimmick 3D yang lumayan eyecandy. Tapi hanya beberapa menit dibanding keseluruhan durasinya, jelas tak seberapa. Selebihnya adalah action-action standar yang sudah ratusan kali kita saksikan di blockbuster-blockbuster hebat lainnya. Gun-Fu yang dielu-elukan kritikus-kritikus luar itu? Shoot me. Bukan lagi sesuatu yang baru. Other ninjas fight? C’mon. Film pertamanya masih jauh lebih baik. Tampilan Hisstank legendaris ‘G.I. Joe’? Speaking about vehicles, you better see the first action scene of ‘A Good Day To Die Hard’. And while ‘Rise Of The Cobra’ punya scene Paris destructions yang menggelegar dibalik aksi para Joes meluncur kencang memakai rocket skateboard dengan banyak extras, ‘Retaliation’ hanya meninggalkan scene London destruction persis seperti trailernya yang cuma sekedar CGI dari adegan penampakan layar. Sorry, guys. You just failed!

GI1

          Alih-alih mau meningkatkan performa adaptasinya di sekuel ini, ‘G.I. Joe : Retaliation’ malah terjebak ke jurang terdalam sekuel-sekuel gagal total bahkan hanya sedikit dibawah blunderxXx 2 : State Of The Union’ yang sedikit banyak punya tendensi sama merubah sesuatu yang komikal dan fantastik jadi lebih serba (sok) manusiawi. Potensi itu bukan tak ada, tapi di tangan Jon M. Chu bersama Rhett Reese dan Paul Wernick, yang ternyata jelas-jelas hanya fans gadungan ini (oh yes, you can google any separate interviews dengan jawaban-jawaban mereka yang benar-benar konyol dan serba defensif), semuanya jadi tersia-sia. Saya jadi teringat ucapan seorang teman yang mengatakan, bila ‘Rise Of The Cobra’ jelas adalah adaptasi mainan Hasbro, ‘Retaliation’, kelihatan seperti adaptasi mainan Masbro. Being that dumb, this one is absolutely a total boo to the franchise. (dan)

~ by danieldokter on March 29, 2013.

7 Responses to “G.I. JOE : RETALIATION : A TOTAL BOO TO THE FRANCHISE”

  1. Bruce Willis……….. G.I. Joe…….. Ok

  2. Bruce Willis in G.I. Joe ….Okay

  3. reboot please…

  4. GI Yuck : Retardliation .
    expected as one of the blockbuster in 2013 but turn out to be a great disapointment even with the Rock and Bruce Willis, too bad.

  5. For the next G.I Joe, reboot is inevitable.

  6. Saya mantan fan GI-JOE antara 1987 hingga sekitar 1994 (setelah itu tidak terlalu mengikuti universe-nya).
    Secara garis besar, saya sangat setuju dengan review Dokter mengenai film ini.

    Namun demikian, maaf saya harus memberi sedikit koreksi, Dok; karakter Joe Colton tidak dapat dikatakan “tak pernah dikenal dalam komik”, karena pernah muncul di komik #86 tahun 1998 ini: http://mikescollection.files.wordpress.com/2012/01/joe86.jpg , yang nota bene kebetulan saya miliki juga, dan lalu muncul lagi dalam beberapa edisi lainnya.
    Lengkapnya: http://en.wikipedia.org/wiki/General_Joseph_Colton
    Kalau di animasi-nya, rasanya Colton memang belum pernah sempat ditampilkan.

    Demikian, Dok. Baru kali ini saya berkomentar, meski langsung koreksi. Well, I want you to be perfect, Doc!🙂
    Cheers!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: