ME AND FINDING SRIMULAT

ME AND FINDING SRIMULAT

fs1b

            To me, in my years of blogging and writing reviews since 1997 di salah satu media lokal di Medan, film itu hobi. Bukan profesi. Cuma mungkin digeluti lebih. Lahir dari dua orang tua berprofesi sama yang juga punya minat lebih ke film, dibawa ke bioskop sejak bayi, has made me loving it more. Dalam segala bentuk, format dan genre-nya. Kalaupun pernah membuat film indie di tahun 2003 dan 2005 dengan kualitas yang, err.. masih sangat kacau balau, dua diantaranya di-submit ke festival indie shorts di salah satu teve swasta dan empat short parodies untuk MTV Movie Awards 2005 yang akhirnya memberikan handycam Sony dan tiket ke Los Angeles buat jalan-jalan ke Universal Studios, itu juga tak lebih dari sekedar iseng-iseng.

photo (2)

      But then, semua berubah sejak social media semakin marak. Sama seperti banyak orang sekarang, kita jadi lebih mudah bertemu orang-orang dengan passion yang sama, bergabung dalam berbagai komunitas, termasuk berinteraksi langsung dengan pelaku-pelaku industrinya. So don’t ask. Even if I tweeted some movies lebih banyak di twitter, don’t even think I got paid do to that. That is something made by passion. Tanpa ada rasa rugi melewatkan banyak waktu untuk menulis review yang dari dulu selalu punya konsep harus informatif dibalik pembuatan film bersama subjektifitas penilaiannya. Buat memberi dukungan bagi karya-karya yang layak untuk didukung. Some can be very harsh, and others, could be very provocative untuk mendorong penonton-penonton lain ikut memberikan dukungannya. Termasuk terkadang berkutat di penjurian-penjurian festival lokal sampai nasional, dari indie seperti ‘Festival Film Anak’, FFI tahun kemarin untuk Piala Vidia dan Piala Maya yang konsepnya sangat saya suka, semua adalah bentuk dukungan. And to me, twitter memang bukan media untuk kultwit-kultwit tentang profesi, tapi lebih untuk penyaluran hobi.

fs

            And there, saat review-review itu masih jadi trend untuk di-posting di Fovies Kaskus, I met this man named Charles Gozali. Wrote the review for his first theatrical feature, ‘Rasa’, sejak awal saya tahu kalau Charles adalah legacy dari PT Garuda Film dibalik nama produser legendaris Hendrick Gozali, his dad, yang karya-karyanya sudah saya nikmati sejak kecil dengan catatan lebih, bahwa dari sekian banyak produksi mereka, PH ini hampir tak pernah membuat film asal-asalan. Even ones that follow the trends, termasuk drama-drama prostitusi yang jadi tipikalisme film jadul kita, walau judulnya mengundang, film-film produksi Garuda, mostly tak pernah jadi picisan.

photo (1)

       Diantaranya ada ‘November 1828’ yang begitu megah dibalik nuansa teater dengan art direction yang sempurna, ‘Perempuan Dalam Pasungan’ yang membuat saya ketakutan sambil menangis terhanyut dalam dramatisasinya, ‘Rembulan dan Matahari’, ‘Usia 18’, dan ‘Gadis Penaklukthat once shocked me, bahwa tampilan posternya yang menggoda di saat trend film-film seks Eropa Edwige Fenech atau Gloria Guida tentang guru dan murid menyeruak, ternyata adalah sebuah coming of age drama dengan heart factor begitu besar, and many others. Bahkan Warkop menghasilkan film-film terbaiknya di tangan Hendrick. ‘Sama Juga Bohong’ dan ‘Jodoh Bisa Diatur’, masing-masing ada sebelum film-film produksi Soraya dan di tengah-tengahnya, yang jauh berbeda tanpa harus menjual seksi-seksian Warkop babes-nya. Saya tak pernah tahu banyak tentang kiprah awalnya menjadi stunts, juga sinetron-sinetron karya Charles meski pernah menyaksikan beberapa episode diantaranya, termasuk ‘Buce Li’ dan ‘Elang’ sebagai genre action dalam sinetron yang visioner dan inovatif di tengah gempuran melodrama PH-PH India, tapi terlepas dari hasilnya, which I criticized at that time, bahwa kombinasi genre dalam ‘Rasa’ adalah sesuatu yang overloaded, ia tetap mencoba tampil berbeda dengan film-film lainnya. Charles merespon review itu dengan sangat humble lewat interaksi langsung-nya di thread ‘Rasa’ di kaskus, dan menekankan ia lebih menghargai kejujuran ketimbang pujian-pujian palsu.

fs2

      Then comes his second movie, ‘Demi Dewi’, yang makin membuat saya menangkap suatu kecenderungan dalam karya-karyanya. Bahwa mungkin kegemarannya ke era tertentu membuat film-film Charles selalu punya atmosfer kombinasi genre ala film-film Hong Kong tahun ’80-an, yang saat itu sempat jadi obrolan seru bersama dua orang teman yang saya kenal juga dari Kaskus, @kartowidjojo dan @KaniaKismadi . Tapi yang jelas, sama seperti banyak produksi ayahnya di Garuda Film, selalu ada heart factor dalam filmnya. He invited me to the premiere, yang sayangnya tabrakan dengan sebuah seminar, but I foundDemi Dewi’ sebagai, lagi-lagi, pencampuradukan genre yang jauh lebih rapi ketimbang ‘Rasa’. Since then, we talked a lot about movies sampai akhirnya bertemu langsung di studionya, MagMa.

fs8

      One thing that I knew, lepas dari banyak obrolan soal film, kesamaan-kesamaan selera ke banyak film Asia, and also same shared passions, Charles menangkap satu kritikan saya ke banyak film-film kita yang sering sekali salah kaprah menghadirkan latar belakang medis berikut penggambarannya. There were some projects, before, tapi dari situ, we became good friends and started discussing aboutFinding Srimulat’. Apalagi dalam plot yang juga menyangkut sedikit hal medis, he asked me to became a consultant in that part. Walau sebenarnya tak terlalu perlu, secara genre yang diusung adalah sebuah komedi, tapi keinginan untuk menyampaikan secuil detil tentang latar belakang medisnya sangat layak buat dihargai.

photo (4)

     And then again, Srimulat, adalah sebuah legenda. Walau saya berasal dari Sumatra dimana keterbatasan informasi masa itu tak banyak membuat orang-orang disini tahu lebih tentang panggung-panggung Srimulat kecuali film-film bioskop dari anggota-anggotanya ataupun nama Gepeng, sejak kecil saya mengikuti show-show komedi mereka dari TV dan video, selain juga menonton tiga film resmi Srimulat, ‘Gaya Merayu’, ‘Bayar Kontan’ dan pastinya yang paling ikonik, based on their most successful comedy shows tentang Drakula, ‘Untung Ada Saya’. Dalam sejarah komedi kita, walau beberapa kali jatuh bangun, I believe, Srimulat adalah legenda yang terus harus dihidupkan kembali. Jadi, selain memang sangat excited, ini adalah niat baik yang sangat perlu didukung.

fs3

        As long as I’ve seen, Charles memang punya kebiasaan agak berbeda dari sineas-sineas lain. Ia selalu mengajak beberapa kenalannya untuk berdiskusi panjang membedah skrip dari banyak aspek pandangan sebelum memasuki masa produksi, and I’m proud to be one of the team, bertemu teman-teman baru dengan passion yang sama. Ini memang adalah sebuah reunion genre dalam template wajib berisikan elemen-elemen klise dari banyak film yang sama-sama berpijak di genrenya, tapi selalu akan jadi berbeda menurut tokoh atau grup yang diangkat. Long lost legend, sedikit lovestory dari karakter utama yang ingin membawa mereka kembali serta karakter sampingan lainnya sekaligus sebagai jembatan ke generasi baru (ada Reza Rahadian, Rianti Cartwright, Nadila Ernesta dan Fauzi Baadila), senior actors seperti Ray Sahetapy, Butet Kertaradjasa, Adi Kurdi, dan Nungki Kusumastuti, bersama sebuah elemen tribute yang tak bisa tidak, harus tergelar dengan penuh referensi.

photo (6)

          One thing that I’m sure of, Charles is also a man with big hearts, yang masih mewarisi pakem-pakem yang selama ini ada dalam film-film ayahnya. Juga, orang yang memang tepat membawa kembali Srimulat, karena ia tumbuh besar dengan legenda ini, tahu seluk-beluk budaya, karakter serta sejarah panjang mereka, dan ‘Finding Srimulat’ dibesut menjadi sebuah romansa budaya dengan heart factor sebagai ciri khas dalam karya-karyanya. Bukan sekedar banyolan, tapi juga penuh dramatisasi dan sentilan. Dan tak ada yang membuat saya lebih yakin ketika mulai membaca draft-draft awal skripnya yang membidik sebuah unsur bittersweet comedy di dalamnya. Dan masih banyak unsur-unsur lain yang semakin mengundang ketertarikan. Dari pemilihan judul, cast, anggota-anggota Srimulat yang harus diyakinkan satu-persatu, ada yang berhasil dibawa, ada yang gagal dan menolak, hingga ke faktor-faktor sinematis lain termasuk scoring dan pilihan lagu tema (‘Lenggang Puspita’, karya legendaris Guruh Soekarno Putra yang dinyanyikan Achmad Albar, dengan tambahan versi remix oleh DJ Winky dan Mahesa) dan konsep pemasarannya kemudian, melalui proses bongkar pasang lewat diskusi yang juga cukup alot mulai pre-produksi, on locations sampai pasca-produksi termasuk trailer dan poster.

fs4

     And came the most exciting part, mengikuti detil demi detil suasana syuting terutama di Gedung Wayang Orang Bharata (sayang saya berhalangan untuk ikut ke Solo bulan Mei lalu) buat salah satu part terpenting yang menghidupkan kembali suasana panggung Srimulat. Menyaksikan kembali guyonan mereka secara live tepat di depan mata, bahkan berada di tengah-tengah legenda ini langsung di atas panggung. Dalam keadaan apapun, di saat aba-aba ‘action!’ terdengar, mereka menjelma menjadi entertainer yang sangat, sangat, konsisten. It’s truly been an unforgettable experience, dan atmosfer lucu yang sudah terasa sejak syuting membuat saya yakin selucu itu juga hasilnya setelah proses akhir nanti. Itu bedanya legenda dengan komedian biasa, and mostly, yang ada dibaliknya harus juga mengenal ciri khas masing-masing karakter untuk bisa mengarahkan mereka dengan batasan-batasan yang ada. The rest is the post process, yang selalu juga melalui diskusi-diskusi, langsung ataupun dari jauh, hingga ke pemutaran perdananya di Hari Film Nasional sekaligus membawa legenda ini kembali ke rumah mereka, right in the heart of Solo dalam sebuah ‘Kado Tawa’, lengkap dengan pawai yang dihadiri langsung oleh beberapa anggota Srimulat (Ibu Djudjuk, Tessy, Gogon, Dion dan Thohir) dan Reza Rahadian. Event besar yang penuh dengan rintangan karena faktor alam membuatnya harus berpindah lokasi, tapi tetap tak menghalangi antusiasme masyarakat Solo bahkan bila harus menyaksikannya sambil berdiri. Dan semua kerja keras itu terbayar saat aplaus panjang penonton dan rekan-rekan media termasuk moviebloggers yang datang dari berbagai kota mengakhiri screening malam perdana itu.

photo (5)

       So after all, memang ada tiga faktor penting yang jelas harus terbangun dalam ‘Finding Srimulat’. Komedinya harus lucu, bittersweet dramatization-nya harus bisa menyentuh tanpa overlapping di lovestory karakter utama dan Srimulat sendiri, serta referensi-referensi ke tribute-nya juga harus bisa muncul dengan bagus. Laugh, tears, and legends. But mostly, hal terbesar dibaliknya adalah niat baik untuk membawa kembali legenda budaya ini ke tengah-tengah generasi sekarang, dengan sebuah atmosfer nostalgia bagi penonton-penonton yang dulu mungkin pernah menikmati langsung panggung komedi mereka bersama orang-orang terdekatnya. Mungkin ayah atau ibu, yang kini bisa kembali menyambung legenda ini ke anak-anak atau cucu-cucunya.

fs6

          Then a friend asked me, dengan keterlibatan langsung, sebagai movie blogger atau penulis review film, apa saya bakal tetap menulis review-nya nanti tanpa terdistraksi oleh subjektifitas ? Well, I believe, the most hilarious comedy is the one that could make you laugh but wet your eyes at the same time, dan ‘Finding Srimulat’ punya itu. With hearts everywhere, dari segenap cast and crew-nya. No matter how deep you’re in, dibalik sebuah pertemanan, justru penting memberi masukan-masukan dari dalam lewat diskusi lebih dekat. Kalau hasilnya adalah sebuah karya yang baik, review tetap akan mengajak lebih banyak orang untuk menontonnya. Dan tentunya, sebagai bentuk dukungan yang harus terus diberikan pada film Indonesia yang layak buat didukung. So mengapa tidak?  Dalam kapasitas-kapasitas berbeda sesuai pangsa penontonnya, I’m sure, everybody’s gonna love this. Semoga ke depannya makin banyak lagi film-film yang tidak hanya dibuat dengan niat baik, tapi hasilnya juga harus sama baiknya. Nantikan ‘Finding Srimulat’ di 11 April mendatang, dan Selamat Hari Film Nasional! (dan)

~ by danieldokter on April 1, 2013.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: