TAMPAN TAILOR : A JOURNEY OF HOPE

TAMPAN TAILOR

Sutradara : Guntur Soeharjanto

Produksi : Maxima Pictures, 2013

TT11

            The truth. Film dengan premis hubungan bapak dengan anak, selalu bisa menyentuh hati. Another truth. Maxima Pictures, beberapa tahun belakangan, bukan lagi sebuah PH yang punya hati. Ada sedikit perubahan di ‘Brandal-Brandal Ciliwung’ tempo hari, memang. Tapi bukan juga masuk dalam kategori terlalu bagus. Yang tinggal hanya tiga nama untuk bisa membuat kita percaya terhadap jualannya. And no, I hate to say this. Biarpun perfilman kita sekarang punya banyak aktor yang baik, termasuk Vino G. Bastian, yang dua filmnya sekaligus hadir minggu ini atas bentuk persaingan tak sehat studio-studio film kita, predikat itu tak lagi jadi jaminan untuk bagus tidaknya sebuah film. Oke, yang pertama ada Guntur Soeharjanto. Lekat dengan genre komedi, Guntur sayangnya tak selalu menghasilkan film yang bagus setelah debut layar lebar yang oke di ‘Otomatis Romantis’. Lalu dua penulis skrip. Yang satu, Alim Sudio. Walau punya beberapa karya bagus dalam karirnya sebagai scriptwriter, tapi sebagian besarnya juga adalah film-film horor seksi ala Maxima. And next adalah Cassandra Massardi, yang sama juga, sering tak konsisten bersama lebih dari duapuluh deretan karyanya, termasuk satu blunder terparah dalam sejarah perfilman kita tentang penggunaan istilah ‘kanker jantung’ di ‘Purple Love’, yang juga filmnya Guntur.

TT2

            But then again, chemically, mungkin percampuran beberapa unsur bisa menghasilkan senyawa yang baik. Itulah yang terjadi setelah Maxima merilis trailerTampan Tailor’. Mari lupakan sejenak apa efeknya mereka memaksakan ‘Tampan Tailor’ dirilis berbarengan dengan satu lagi film Vino bersama Mizan, ‘Madre’ dibalik kebiasaan Maxima lepas tangan dalam promosi film-filmnya. Jangan juga terlalu menyama-nyamakannya dengan ‘The Pursuit Of Happyness’ (yes, it’s with ‘y’, not ‘i’ in happyness for its title), hanya karena premis bapak dan anak dalam sebuah pencarian harapan karena jauh sebelum film Will Smith itu pun sudah seabrek film punya template yang sama. Yang jelas, trailer itu hanya punya satu terjemahan. Bukan soal inspiratif tidaknya, namun yang jelas, it could crawled deep into your heart. And I’m gonna tell you, keseluruhan filmnya bahkan punya lebih dari sekedar kekuatan itu. Oh yes. Seolah kita tak akan pernah percaya ini filmnya Maxima.

TT3

            Dalam hidupnya, Topan (Vino G. Bastian) hanya punya satu obsesi. Membangun impian bersama istrinya, Tami, dari usaha tukang jahit yang mereka namakan ‘Tampan’ untuk Tami dan Topan, demi putra mereka, Bintang (Jefan Nathanio). Tapi nasib berkata lain. Tami meninggal lebih dulu akibat digerogoti kanker bersama keuangan mereka. Kehilangan usahanya, ia bersama Bintang yang terpaksa berhenti sekolah menumpang di gubuk kecil sepupunya Darman (Ringgo Agus Rahman) sambil bekerja menjadi calo tiket kereta api. Tapi keadaan bukan jadi makin baik, bahkan setelah Topan mendapatkan blessing in disguise dari sosok Prita (Marsha Timothy), wanita pemilik usaha kecil fotokopi dan penitipan anak. Menjalani kehidupan yang kian terpuruk dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain hingga harus mempertaruhkan nyawanya sekalipun, hanya ada satu yang tak pernah bisa mati dalam diri Topan. Harapan untuk tetap mewujudkan impian Tami bagi Bintang.

TT4

            Oh sure. Plot itu memang merupakan guliran klise yang sudah hadir dalam banyak template film kita. Sebuah drama penuh dengan konflik-konflik penderitaan ‘sudah jatuh ketimpa tangga masuk ke lubang pula’. But wait. Disini justru skrip Alim dan Cassandra secara tak terduga mendistraksi pola klise itu dengan sangat baik. Ketimbang bermain-main dengan tangisan, mereka mengeksplor sebuah perjuangan penuh hati ke dalam ‘Tampan Tailor’, dengan informasi cermat berdasar konsultasi teknis pula kali ini dibalik profesi penjahit yang diangkat, dan diterjemahkan sama baiknya oleh Guntur Soeharjanto dibalik tata kamera Enggar Budiono yang menampilkan tone muram, tapi halus tanpa kehilangan kecantikannya.

TT9

          Bangunan karakternya kuat, dialog-dialog penuh filosofi jas-nya menarik tanpa harus terjebak jadi preachy, bahkan lengkap dengan sempalan ‘a little love letter to cinema’ dalam plot-nya. Scoring Tya Subiyakto berikut dua lagu soundtrack-nya, ‘Ya Sudahlah’ dari Bondan Prakoso & Fade 2 Black serta ‘Andai Aku Bisa’ dari Ahmad Dhani juga bekerja dengan efektif membangun emosi yang sudah hadir dengan sendirinya dengan unsur-unsur lain tadi. Meski scoring itu bisajadi terasa terlalu manipulatif, tapi dalam konteks penceritaannya, ini justru bisa memperkuat rasa. Twist attempts dari koneksi adegan awal dan akhir yang menarik ke sebuah emotional ending penuh simbol itu mungkin bisa lebih baik lagi, tapi keseluruhannya sudah berhasil mengundang haru luarbiasa tanpa harus mengeksploitir karakter yang merengek-rengek di tengah penderitaannya.

TT8

            The rest belongs to the performance. Keluar dari comfort zone akting tipikalnya, Vino G. Bastian berhasil masuk ke kontradiksi karakter Topan dalam menghadapi konflik-konfliknya. Bersama pemeran Bintang, Jefan Nathanio, yang membentuk chemistry segitiga begitu kuat dengan Marsha Timothy, karakter-karakter ini jadi terasa sangat humanis. Vulnerable at times, tapi bisa menunjukkan ketangguhan luarbiasa tanpa harus terjebak ke emosi-emosi berlebihan ala film kita biasanya. Pemeran-pemeran pendukungnya juga juara. Ringgo Agus Rahman dan Lisye Herliman yang menyelipkan tone bittersweet comedy ke karakter mereka, Epy Kusnandar dan Joshua Pandelaki yang meski komikal tapi  tak sampai jadi berlebihan. Penampilan singkat Astri Nurdin, Irgi Ahmad Fahrezi dan Ferry Salim mungkin bukan unsur penting, tapi sekedar memberi warna, tak salah juga.

TT5

            So call it what you want. Jahitan yang rapi seperti jas buatan Topan, inspiratif, uplifting, atau yang lain, terserah. But to me, hal terbaik dalam ‘Tampan Tailor’ adalah kolaborasi penuh chemistry yang begitu berhasil mencuri hati sekaligus memberikan persembahan terbaik dari masing-masing unsur yang ada terutama Guntur, Cassandra, Alim, Vino dan tentunya Maxima. Simple and sweet, warm and tender, this journey of hope will easily melt your heart out! (dan)

~ by danieldokter on April 1, 2013.

3 Responses to “TAMPAN TAILOR : A JOURNEY OF HOPE”

  1. NIce

  2. […]  12.  TAMPAN TAILOR […]

  3. Kalau boleh tahu sebenarnya film tampan tailor ini masuk setting latar belakang tahun berapa?
    Dari dandanan si vino terkesan tahun 80an ???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: