MADRE : LIKE JAZZ, IT IMPROVISES

MADRE

Sutradara : Benni Setiawan

Produksi : Mizan Productions, 2013

m11

            Di tengah maraknya adaptasi novel yang di satu sisi bisa dianggap sebagai jaminan lakunya sebuah film nasional sekarang, karya-karya Dewi ‘Dee’ Lestari jelas merupakan komoditi menjanjikan. ‘Perahu Kertas’ dan ‘Rectoverso’ sudah menunjukkan itu. Sekarang giliran ‘Madre’, yang awalnya merupakan cerpen dari kumpulan fiksi berjudul sama di tahun 2011, dan kemudian dijadikan novelet yang berdiri sendiri untuk kepentingan adaptasi filmnya. Of course, temanya tak jauh-jauh dari lovestory. Tapi yang membuat ‘Madre’ menjadi unik, ada genre lain yang berjalan beriringan dalam bentuk adaptasinya sebagai film. It’s a food movie, genre yang masih jarang-jarang ada di Indonesia. So at least, bisa jadi variasi dan pembaharuan tema. Apalagi, pihak Mizan meng-handle beberapa unsurnya juga kelihatan jadi tak biasa, mostly di scoring besutan Andhika Triyadi yang menghadirkan nuansa jazz dari berbagai subgenre-nya.

m5

            Then the other factor pastilah ada di cast-nya. Vino G. Bastian, salah satu aktor kita dengan fanbase paling loyal, dan Laura Basuki, as ever, dibalik kualitas sweethearts-nya. Ada juga Didi Petet yang jadi jualan tak kalah penting disini, berikut theme song dari Afgan, ‘Jodoh Pasti Bertemu’. And what isMadre’? Jika belum membaca novelnya, skrip dari Dee dan Benni Setiawan cukup informatif memaparkan seluk-beluk istilahnya. Ini tak kalah penting, karena masalah informasi yang menyangkut pengetahuan-pengetahuan populer seperti ini, termasuk sepenggal tentang gap bisnis bakery kuno dan modern hingga soal kultur etnisnya, itu juga jarang-jarang tampil sebagai elemen penting di film kita. So yes. Unsur-unsur yang ada di ‘Madre’, tak peduli ia harus bersaing dengan ‘Tampan Tailor’ yang juga baik dan sama-sama menjual nama Vino dibalik lagi-lagi, persaingan PH yang tak sehat yang sudah saya singgung di reviewTampan Tailor’ sebelumnya, punya perpaduan yang cukup menarik. Tinggal bagaimana hasil kemasannya.

m7

            Like the tagline di teaser poster yang luarbiasa bagusnya itu, ‘Apa rasanya jika sejarah hidup kita berubah dalam sehari?’, Tansen (Vino G. Bastian), seorang anak muda free spirit yang melewatkan waktunya mencari ombak sebagai surfer dan blogger mendapati garis hidupnya tak seperti yang dipikirkannya saat ini. Warisan dari sang kakek, berupa sebuah kunci lemari es yang berisi adonan biang roti berumur 70 tahun, dinamakan Madre (Spanish word for Mother), membuat Tansen mengetahui nama aslinya adalah Tansen Roy Wuisan dengan darah Tionghoa berasal dari si kakek, Tan Sin Gie, dan nenek berdarah India. Dibaliknya ada sebuah bakery/toko roti kuno ‘Tan De Bakker’ yang sudah berhenti beroperasi, dengan sosok Pak Hadi (Didi Petet), pegawai setia yang ditugaskan menunggu Tansen buat meneruskan amanah sang kakek meneruskan bisnis ini. Tansen jelas panik. Sadar ia tak bakal sanggup mengelolanya, walaupun mengecewakan Hadi bersama mantan pegawai lainnya yang siap untuk kembali (Titi Qadarsih, Gatot W. Dwiyono, Lisa H. Pandansari, Savitri Nooringhati), Tansen memutuskan menjual Madre. Muncullah Meilan Tanuwidjaja (Laura Basuki), pengusaha toko roti modern Fairy Bread sekaligus fans blog Tansen yang ingin membelinya. Namun kemudian, mereka memutuskan untuk bekerjasama. Dari sini hubungan itu berkembang, dan perlahan Tansen mulai mencoba untuk memenuhi amanah sang kakek.

m8

            A lovestory, memang sering tak bisa dipisahkan sebagai elemen penting dalam sebuah food movie, atau sebaliknya. Ada keseimbangan yang dibutuhkan diantara keduanya untuk bisa menghasilkan karya yang menarik. Romantic, sekaligus delicious dalam pemaparan makanan yang dikedepankan sebagai tema. ‘Madre’ sebenarnya punya keduanya dengan pembagian cukup seimbang. Roti klasik beserta bentuk adonan madre dalam toples kaca kuno dibalik set vintage dari penata artistik Roma Rambeng bekerja memberikan taste cukup lezat, dan chemistry Vino dengan Laura, masing-masing dengan aura leading man yang kuat bersama gimmick rambut gimbalnya sebagai surfer dan Laura’s sweetheart quality, pun tergolong cukup baik. Begitu pula penampilan aktor-aktor pendukungnya. Titi Qadarsih mungkin sedikit terlalu komikal membawakan perannya sebagai Ibu Cory, tapi selebihnya sama sekali tak jelek. Celetukan-celetukan ala Sunda dari karakter Pak Hadi yang diperankan Didi Petet pun mampu memberi warna.

m3

   Namun sayangnya, Benni dan Dee memilih untuk tak membiarkannya hadir dengan letupan-letupan bombastis yang seharusnya sangat diperlukan dalam genre seperti ini. Mungkin mereka terpengaruh ke sebagian genre food movies yang menyajikan keseluruhannya dengan sedikit lebih punya nuansa light art ketimbang pure pop, tapi itupun kelihatan tak benar-benar yakin. Apa yang terjadi kemudian adalah usaha-usaha improvisasi yang sangat jelas terlihat ke arah itu di setiap pengadeganannya, dengan batasan-batasan yang tetap ditahan-tahan, termasuk ke sempalan elemen cinta segitiga dari karakter James yang diperankan Framly Daniel yang malah jatuhnya sangat klise. Sama seperti various genres of jazz atmosphere yang jadi pilihan Andhika Triyadi menghadirkan scoring-nya yang terus terang, sangat unik dan lepas, ‘Madre’ kelihatan terus-menerus melakukan itu. Tak jadi masalah sebenarnya, secara ini adalah pilihan. Namun bagi sebagian penonton, efek terhadap pace filmnya jadi berjalan agak perlahan serta naik turun. Terus berjalan di tengah-tengah without ever hit the marks, bahkan dengan delayed conclusion di endingnya. Mungkin, kalau mau berandai-andai, jika sinema kita sudah bisa dilengkapi dengan teknologi 4D aromascope seperti ‘Spy Kids 4’, kekurangan itu bisa makin tertutupi.

m2

             But however, ekses dari pilihan ini tak sekalipun membiarkan ‘Madre’ jadi suguhan yang hambar. Guliran lovestory-nya sebagai sebuah romantic comedy tetap tampil cantik dan hangat biarpun tak bombastis, dan elemen-elemen klasik-nostalgik dari kebanyakan set dengan latar Braga dibalik romantisme Bandung dari sinematografi Fachmi J. Saad, masih bisa muncul dengan solid. Dan faktor-faktor informasi dalam skripnya, dari soal adonan biang roti, gap bisnis bakery klasik dan modern sampai kultur etnis tadi juga dibesut Benni dan Dee dengan pemaparan yang cerdas. Begitu pula dialog-dialog yang memuat filosofi hidup dan cinta dengan roti dan ‘Madre’ sebagai metafora-nya. So like jazz, it improvises. But still, lovely beyond the philosophies. (dan)

m12

~ by danieldokter on April 4, 2013.

One Response to “MADRE : LIKE JAZZ, IT IMPROVISES”

  1. […] Mereka yang sudah bekerja lama akan terancam kehilangan pekerjaan via danieldokter.wordpress.com […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: