CLOUD ATLAS : HUMANISM THROUGH THE PASSAGE OF TIME

CLOUD ATLAS

Sutradara : Tom Tykwer, Lana Wachowski & Andy Wachowski

Produksi : Cloud Atlas Production, X-Filme Creative Pool, Anarchos Production, Warner Bros, 2012

CA8

            Trust me. ‘Cloud Atlas’ yang diadaptasi dari novel David Mitchell (2004) bukanlah sebuah film yang mudah untuk dibuat. Terlalu sulit malah, bahkan Mitchell sendiri sempat menganggapnya mustahil bisa dituangkan ke film. Plotnya yang digagas sepanjang lima abad melalui enam era dunia berbeda, dari abad ke-19 ke post apocalypytic future, bukan pula di satu lokasi, belum lagi seabrek karakter yang punya interkoneksi melalui abad demi abad itu, dan pastinya banyak lagi aspek-aspek humanisme yang tak bisa tidak, harus bisa terjelaskan sebagai tontonan. Tapi Tom Tykwer, sineas Jerman ; sutradara, penulis sekaligus komposer yang dikenal lewat ‘Run Lola Run’ dan ‘Perfume’ itu, bersama The Wachowski Brothers (now just The Wachowskis ; Andy dan Lana Wachowski) dari ‘The Matrix’ menjawab tantangan itu.

CA6

               Masa empat tahun yang ditempuh buat persiapannya, bukan sebagai produk studio besar Hollywood tapi produksi independen dari Jerman, mengumpulkan dana dari pemerintah Jerman dan source-source independen lainnya hingga beberapa kali mentok hampir gagal, sampai akhirnya Tom Hanks yang sangat antusias ikut bermain membawanya ke Warner Bros untuk menyelamatkan proses produksinya. Sesuai segmentasi part-part novelnya yang terbangun atas enam cerita, masing-masing sutradara menangani part yang berbeda (Tykwer di segmen kedua sampai keempat dan The Wachowskis di segmen pertama dan dua segmen terakhir) seperti sebuah omnibus tapi penyatuannya di-interwoven dengan unik dan tanpa deretan kronologis dari satu orang editor. The mosaics jump back and forth over one conclusion to all segments yang berbeda-beda genre pula. Dari drama, thriller, action bahkan sci-fi. Bagi mereka, termasuk dengan kebingungan DGA menentukan penilaian mereka, ini merupakan hal yang baru,  sementara sinema kita, meski mungkin proses-prosesnya tak sepenuhnya sama, sudah memulainya lewat ‘Kuldesak’, ‘Dilema’ dan ‘Rectoverso’ barusan. Ditambah lagi dengan sebarisan cast-nya yang bertabur nama-nama terkenal dari Hollywood sampai Asia, indeed, yes, ‘Cloud Atlas’ mungkin adalah salah satu film paling ambisius yang pernah dibuat dalam sejarah sinema.

CA2

          Segmen pertamanya ‘The Pacific Journal Of Adam Ewing’ berkisah tentang seorang pengacara Amerika Adam Ewing (Jim Sturgess) yang datang ke pulau kecil di Samudera Pasifik mengurus bisnis perkebunan ayah calon istrinya, Tilda (Bae Doona), Haskell Moore (Hugo Weaving). Seorang budak berkulit hitam, Autua (David Gyasi) mengikutinya ke kapal meminta perlindungan Ewing yang tak menyadari kalau dirinya diracuni pelan-pelan oleh Dr. Henry Goose (Tom Hanks). Segmen kedua, ‘Letters From Zedelghem’ yang disutradarai Tom Tykwer ber-set di Skotlandia tahun 1936. Robert Frobisher (Ben Whishaw), seorang musisi muda biseksual meninggalkan kekasihnya, bangsawan Rufus Sixsmith (James D’Arcy) mengejar impian menjadi amanuensis (penulis notasi musik) bagi komposer terkenal Vyvyan Ayrs (Jim Broadbent). Tinggal di kastil Ayrs bersama sang komposer dan istrinya (Halle Berry), sambil bekerja untuk Ayrs, Frobisher menciptakan komposisi masterpiece, ‘The Cloud Atlas Sextet’ yang malah ingin mengakuinya sebagai karyanya dengan sebuah ancaman. Frobisher yang tertekan merasa tak punya pilihan lain memilih menyelesaikan semua dengan caranya setelah menulis surat perpisahan pada Sixsmith yang terlambat menyusul.

CA4

         Segmen ketiga, ‘Half Lives : The First Luisa Rey Mystery’, mengisahkan sepak terjang jurnalis Luisa Rey (Halle Berry) mengungkap konspirasi kasus reaktor nuklir dari pengusaha Lloyd Hooks (Hugh Grant) di San Francisco,1973. Dibantu oleh Profesor Rufus Sixsmith (James D’Arcy) di masa tuanya yang bekerja sebagai seorang ahli nuklir dan Isaac Sachs (Tom Hanks), seorang teknisi di powerplant itu, Luisa harus menyelamatkan diri dari pembunuh bayaran Bill Smoke (Hugo Weaving) yang dikirim oleh Hooks. Yang keempat, ‘The Ghastly Ordeal Of Timothy Cavendish’ adalah tentang Timothy Cavendish (Jim Broadbent), publisis berusia 65 tahun di London yang terpaksa berhadapan dengan Dermot Hoggins (Tom Hanks), gangster sekaligus penulis yang membunuh seorang kritikus di keramaian pesta launching novelnya. Merasa terancam oleh kaki tangan Hoggins setelah ia dipenjarakan dan meminta bantuan pada kakaknya, Denholme (Hugh Grant), Cavendish malah dikirim ke panti jompo. Satu-satunya cara adalah merancang pelarian bersama penghuni lain, tapi ia harus berhadapan dulu dengan Suster Noakes (Hugo Weaving) yang kejam sebelum akhirnya berhasil menulis skrip berdasar biografinya yang akan segera difilmkan.

CA5

          Segmen kelima yang berlatar masa depan di tengah-tengah tirani Neo Seoul tahun 2144, ‘An Orison Of Sonmi-451’, mengisahkan Sonmi-451 (Bae Doona) yang merupakan clone prototype wanita pekerja restoran yang diinterogasi petugas penjara Mephi (Hugo Weaving). Melindungi rekannya, Yoona-939 (Zhou Xun) yang membunuh pemilik restoran, Seer Rhee (Hugh Grant) akibat sebuah pelecehan, Sonmi kemudian bergabung dengan gerakan pemberontak bernama ‘Union’ lewat Commander Hae-Joo Chang (Jim Sturgess) setelah mengetahui nasib clones yang di-daur ulang menjadi makanan mereka sendiri. Sonmi-451 memilih dieksekusi setelah tertangkap, tapi gaung perjuangannya bersama Union sudah menjadikannya seorang martir. Memasuki era post apocalyptic tahun 2321 di segmen keenam, ‘Sloosha’s Crossin’ An’ Ev’rything After’ , di sebuah pulau bernama ‘The Big Island’, Zachry (Tom Hanks) yang hidup bersama adiknya Rose dan suaminya Adam (Zhou Xun & Jim Sturgess) serta keponakan kecilnya, Catkin, di sebuah suku primitif ‘The Valley’ kedatangan Meronym (Halle Berry), wanita dari koloni ‘The Prescients’ di luar pulau. Meronym meminta Zachry mendampinginya mencari Cloud Atlas, sebuah stasiun komunikasi yang terletak jauh diatas gunung untuk menghubungi koloni di bumi, sekaligus menyimpan bukti atas sosok Tuhan bagi mereka yang dinamakan Sonmi. Sebagai imbalan menyelamatkan Catkin dari serbuan suku kanibal Kona dengan kepala sukunya (Hugh Grant), Zachry bersedia, namun saat mereka pergi, mereka kembali menyerang dan menghabisi seluruh suku. Meronym sekali lagi muncul sebagai penyelamat dan membawa Zachry dan Catkin meninggalkan ‘The Valley’.

CA3

      Lebih ketimbang hanya berisi genre-crossing dari rentang panjang segmen-segmennya, ‘Cloud Atlas’ berisi filosofi-filosofi interkoneksi tentang humanisme dari zaman ke zaman. Tentang kehidupan, kematian, passion, revolusi, freedom, karma, bahkan prinsip-prinsip reliji diatas sebuah konsekuensi terhadap motivasi dan keputusan-keputusan berbeda, hitam, putih atau abu-abu, yang akan menentukan masa depan generasi berikutnya. Like the butterfly effect on humanism, juga memuat filosofi-filosofi martir dan kepercayaan yang sangat mirip dengan ‘The Matrix’, keenam segmen ini dirajut tanpa kronologi untuk membiarkan penonton bisa menyerap sendiri pesan-pesannya, namun bangunannya sangat rapi dan tak sekalipun membiarkan relasinya jadi melompat-lompat maju mundur seperti interwave-nya. Resepsi yang akan bisa beda-beda bahkan membias kemana-mana, and some may considered it as a negativity bahkan sebuah paham nihilistik yang membantah konsep-konsep reliji, but way beyond that, hal paling depan dalam ‘Cloud Atlas’ adalah soal human consequences yang saling mempengaruhi kehidupan masa lalu, sekarang dan jauh ke masa depan.

CA7

             Di tiap segmen, skrip yang juga ditulis oleh Tykwer dan The Wachowskis dibesut dengan kecermatan luarbiasa. Where each segments sudah memiliki benang merah penghubung baik dari karakterisasi, voiceover dan elemen-elemen aslinya ; surat, tulisan, buku, film bahkan events, mereka masih memberikan detil-detil kecil yang tak kalah penting yang membuat penontonnya harus memberikan perhatian penuh bahkan mau mengulangnya lagi dan lagi untuk mendapatkan detil lebih. But trust me, even you could do your hardest homework on it, mencoba menghubungkan tiap titik menjadi garis dalam koneksi kompleksnya seperti sebuah permainan seru, Anda akan tetap terhanyut dengan flow storytelling-nya yang unik, sangat tak biasa, tapi tak pernah sekalipun jadi membosankan dalam durasi hampir 3 jam. Feel engaged to most of its characters yang diperankan bergantian oleh ensemble cast sangat meriah dibalik rupa-rupa makeup yang juga sangat inovatif. Riasan Jim Sturgess di segmen ‘Sonmi-451’ mungkin akan terasa sedikit mengganggu, tapi selebihnya justru bisa jadi elements of surprise, menggagas begitu banyak trivia buat mengenali siapa saja yang berperan sebagai karakter mana, yang baru ditampilkan di end credits-nya. Dan semua aktor pendukung itu ; Tom Hanks, Halle Berry, Hugh Grant, Hugo Weaving, Jim Broadbent, Jim Sturgess, Ben Whishaw, James D’Arcy, Bae Doona, Zhou Xun, David Gyasi, Keith David hingga Susan Sarandon, menampilkan kedalaman akting tak main-main untuk melengkapi makeup berbeda mereka dengan multiple roles, cross-racial bahkan cross-gender ke tiap segmennya. Chemistry antar karakter dengan various interactions ini tak pernah jadi luntur, tetap konsisten dan semakin menjelaskan konteks-konteks hubungannya secara mendalam.

CA1

               Kekuatan lain yang datang dari desain produksi, art direction, kostum berikut visual bak lukisan cantik dari sinematografi John Toll dan Frank Griebe dan efek visualnya juga luarbiasa juara. Namun tak ada yang lebih baik dari editing Alexander Berner dan scoring dari Tom Tykwer, Johnny Klimek dan Reinhold Heil. Editing masterpiece yang bisa menjahit segmen-segmen dengan gaya penyutradaraan bahkan genre berbeda ini menjadi interwave yang mengalir sangat rapi dengan pace yang terjaga, sementara scoring yang sangat penuh emosi tak hanya muncul sebagai pengiring namun juga benang merah penting dalam beberapa segmennya. Seperti mendengarkan ‘The Cloud Atlas Sextet’ yang akan membuat Anda terhanyut, ‘Cloud Atlas’ hadir bagaikan sebuah cinematic experience yang belum pernah Anda alami sebelumnya. Amazing, mindbending and also breathtaking, this humanism through the passage of time is truly a state of the art! (dan)

CA9

 

 

~ by danieldokter on April 14, 2013.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: