OBLIVION : KOSINSKI AND HIS SCI-FI SIGNATURE

OBLIVION

Sutradara : Joseph Kosinski

Produksi : Radical Studios, Chernin Entertainment, Relativity Media, Universal Pictures, 2013

OB17

            There’s a rip-off. There’s a template. Then there’s a meta, which now comes as a cinematic trend in Hollywood, saat ide-ide fresh mungkin sudah makin susah dijumpai. Sesuatu yang harusnya masing-masing sangat berbeda, tapi sering tak bisa dibedakan oleh orang yang hanya tahu setengah-setengah tentang genre-nya. Truth. Tapi benar juga, in a meta, percampuran banyak karya-karya klasik dalam genre-nya, kadang akan terbentur pada resepsi deja-vu yang membuatnya jadi cenderung segmented. ‘Cabin In The Woods’, satu dari banyak meta, terhadap genre horor, juga sudah menunjukkan variasi persepsi itu. But I’ll assure you one thing. Jangan terburu-buru bangga dengan praduga bahwa ‘Oblivionis a rip-off or even using usual templates, hanya saja karena Anda kebetulan sudah menyaksikan ‘Moon’ (2009), sebuah british sci-fi fenonemal karya Duncan Jones dengan pendekatan semi arthouse yang juga sangat segmented.

OB1

          Do note this. ‘Oblivion’ jelas-jelas adalah sebuah kecerdasan seorang Joseph Kosinski meramu homage dan referensi (katanya terhadap ‘70s sci-fis namun juga lebih dari itu) based on his unpublished graphic novel berjudul sama yang digagasnya di tahun 2005 bersama Arvid Nelson. Tahun 2005. Jadi jauh sebelum Duncan Jones membesut ‘Moon’. Walau belum pernah dirilis, rights-nya sudah dibeli oleh Disney sejak 2010 dari Radical Comics atas kiprah Kosinski dengan ‘Tron : Legacy’ –nya di studio itu, namun kemudian melepasnya ke Universal karena merasa plotnya terlalu dewasa. ‘Tron : Legacy’ yang menuai mixed reviews-pun jelas bukan gagal, tapi lebih berupa segmented culture yang hanya bisa dinikmati orang-orang yang mengerti universe franchise-nya. Kosinski yang sudah menulis draft skripnya bersama William Monahan (‘The Departed’) lantas disempurnakan oleh Karl Gajdusek dan kemudian difinalisasi Michael Arndt dari ‘Little Miss Sunshine’ dan ‘Toy Story 3’, tetap dibawah kontrol Kosinski. Dengan masuknya Tom Cruise berikut banyak nama terkenal termasuk Jessica Chastain sebelum akhirnya Olga Kurylenko dan Andrea Riseborough officially announced sebagai cast-nya, hype-nya pun semakin melambung. Walau begitu, dengan latar yang mirip dengan ‘After Earth’-nya M. Night Shyamalan, mereka tak berani mempertaruhkan rilisnya ke tengah-tengah pertarungan summer movies, tapi memilih lebih sebagai pembuka jalan sebelum ‘Iron Man 3’ memulainya nanti.

OB9

               Earth is a memory worth fighting for. Dari narasi Jack Harper (Tom Cruise), kita dibawa ke masa 60 tahun setelah invasi alien membuat bumi menjadi planet post-apocalyptic setelah melawan mereka dengan nuklir. Jack yang bekerja sebagai mekanik drone, robot pemantau, di stasiun 49, satu dari stasiun-stasiun berupa menara tinggi diatas bumi untuk membersihkan bumi dari sisa invasi dan menetralkan radiasi, bersama Victoria (Andrea Riseborough) bertanggung jawab pada Sally (Melissa Leo), pimpinan mereka yang hidup bersama sisa penghuni bumi yang sudah dipindahkan ke stasiun angkasa luar menunggu kepindahan manusia ke bulan Saturnus, Titan, yang mereka janjikan. Satu yang mengganggu Jack yang sebenarnya masih mencoba mengamankan beberapa source yang tersisa dari kepunahan bumi secara diam-diam, bahkan dari Victoria yang memegang komitmen tugasnya dengan setia, adalah ia dihantui oleh mimpi berisi visi New York sebelum invasi dengan sesosok wanita misterius (Olga Kurylenko). Semua tak terjawab hingga akhirnya Jack berhadapan dengan pesawat karam berisi kapsul-kapsul tidur berisi astronotnya. Menyelamatkan satu survivor yang tersisa, Julia, yang ternyata adalah wanita misterius itu membuat Jack mulai semakin dalam menelusuri mimpi-mimpi ini, berikut mendapati bahwa ada gerakan manusia yang dikepalai oleh Malcolm Beech (Morgan Freeman) bersama Sykes (Nikolaj Coster-Waldau), military expert tangan kanannya yang menangkap mereka demi informasi yang tak pernah disangkanya selama ini. Semua berbalik dari sana, dan Jack harus berjuang untuk menentukan pilihan nuraninya. But earth, is a memory worth fighting for.

OB13

            Now there’s only one problem with the reception. Lebih dari sci-fi-sci-fi lain, Kosinski memang membesut ‘Oblivion’ sebagai racikan penuh referensi, a meta, yang jelas akan membagi pemirsanya. If you’re not that into sci-fi, you’re going to lost in the middle untuk mengikuti imajinasi Kosinski dan Nelson dari source graphic novel aslinya. Menyangkanya hanya sekedar sci-fi biasa yang memerlukan proses ketat buat menahan penonton mengikuti storytelling dibalik durasinya yang lebih dari 120 menit. But the truth, every piece of it was absolutely needed buat membangun kombinasi dari elemen-elemen itu sebagai sebuah meta yang pasti akan terasa luarbiasa menarik bagi para penggemar sci-fi sejati yang tak hanya sekedar mencoba atau malu-malu buat mengaku bahwa genre ini tak pernah jadi favorit mereka.

OB5

           And no, it’s not justMoon’, dibalik dugaan terinspirasi sebagian orang. Ada begitu banyak referensi berupa homage-homage ke various sci-fi’s subgenres yang dihadirkan Kosinski buat menjahit benang merah plot utamanya. Dari klasik-klasik seperti ‘Star Wars’, ‘2001 : Space Odyssey’-nya Stanley Kubrick yang banyak dianggap sebagai sci-fi bible tapi tak sepenuhnya punya sisi fiksi melainkan lebih ke filosofi, ‘Planet Of The Apes’ dan seabrek sci-fi post apocalyptic dengan human resistance themes termasuk sekuel-sekuel ‘Mad Max’, sci-fi lovestory seperti ‘Wall-E’, mindgames dan oblivion conspiracy ala ‘Total Recall’, elemen-elemen dari creatures sci-fi seperti ‘Alienfranchise,  ke ‘The Matrix’, ‘I, Robot’, bahkan yang paling pop sekalipun seperti ‘Independence Day’, and many more with different recognitions dari sci-fi real fans.

OB10

   Kosinski juga masih menambahkan signature-nya mengkombinasikan sci-fi dengan musik sebagai elemen penting bangunannya. Jika ‘Tron : Legacy’ punya Daft Punk, yang bagi sebagian orang jauh lebih menarik mereka ketimbang filmnya, ‘Oblivion’ punya M83, electronic/shoegaze band dari Antibes di seluruh komposisi scoring karya frontman-nya, Anthony Gonzales bersama Joseph Trapanese, berikut theme song keren berjudul sama, featured Susanne Sundfør. Dan tak ada yang lebih baik dari penggunaan lagu klasik Procol Harum’s ‘A Whiter Shade Of Pale’ to define humanity di dalam salah satu adegan paling keren yang memuat filosofi humanis dalam kisah-kisah sci-fi after earth-nya. Efek keroyokan hasil kerja Gentle Giant Studios, Pixomondo dan Digital Domain serta seluruh visualnya sebagai rilisan film pertama yang menggunakan Sony CineAlta F65 dengan resolusi 4K pun tampil sebesar kelasnya sebagai sebuah blockbuster.

OB15

            Tak bisa pula dipungkiri bahwa Tom Cruise berikut sejumlah jajaran cast-nya merupakan daya jual yang tinggi demi menarik non sci-fi fans ataupun fake fans-nya. Cruise might still be the usual Cruise dengan aura suave-nya yang jarang-jarang bisa berubah, tapi bersama Olga Kurylenko dan Andrea Riseborough yang belakangan kian sering muncul di penokohan karakter yang cukup pas, berikut nama besar Morgan FreemanMelissa Leo dan the uprising Nikolaj Coster-Waldau, aktor Denmark yang makin bersinar sejak ‘Headhunters’ dan kiprahnya dalam ‘Game Of Thrones’, keseluruhan chemistry antar cast-nya sudah bekerja dengan sangat menarik ke karakterisasi mereka.

OB8

            So it’s true.  Dibalik seru-seruan dan visualnya sebagai high budget blockbuster, seperti yang dikatakan petinggi-petinggi Universal, bahwa ‘Oblivionis one of the most beautiful scripts we’ve ever come across’ yang mungkin tak akan pernah disadari oleh penonton yang memang pada dasarnya tak pernah benar-benar masuk ke genre ini, all I can say is that will be your loss, untuk melewatkan petualangan imajinatif penuh referensi bertabur respek pada karya-karya klasik di genre-nya. ‘Oblivion’ jelas bukan sci-fi yang kelewat fenomenal atau paling baik diantara yang lain, bahkan mungkin masih jauh dari itu. Tapi sebagai sebuah meta, ini sudah mendekati penghormatan Joss Whedon terhadap genre horor di ‘Cabin In The Woods’. Dan genre sci-fi sangat boleh berbangga memiliki seorang Joseph Kosinski dalam universe mereka. (dan)

OB18

~ by danieldokter on April 14, 2013.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: