MURSALA : A LOVE BEYOND ANCESTRAL TRADITION

MURSALA

Sutradara : Viva Westi

Produksi : Raj’s Production, 2013

M9

            Kultur wisata kita memang berkembang pesat belakangan ini. Di satu sisi, bagus, karena banyak situs-situs luarbiasa yang selama ini luput dari perhatian banyak orang termasuk dari masyarakat sekitarnya sendiri. But on the other side, pengelolaannya juga seringkali masih berantakan sehingga tak jarang dijadikan sasaran dari para investor asing. Membuka lapangan pekerjaan, jelas. Mengembangkan industri pariwisata ke bangsa luar, pasti. Tapi ada juga dampak yang membuat masyarakatnya tak bisa lagi menikmati kekayaan alam mereka sendiri dengan bebas. Ah, sudahlah. I’m not talking about tourism here. Namun ‘Mursala’ sebuah pulau di pesisir Sibolga, yang dulunya pernah digunakan sebagai set dalam syuting film ‘King Kong’ versi 1933, adalah salah satu situs wisata yang tengah digalakkan kembali oleh pemerintahan daerah Tapanuli Tengah sekarang ini. Thus, okay, film ini punya kepentingan politis dibalik dukungan mereka yang bekerjasama dengan nama-nama sejumlah pengacara dalam pembuatannya, terlebih karena kebanyakan pengacara terkenal disini memang sebagian besar memiliki darah Batak, tapi tentu akan menarik juga untuk mengenalnya dari media film. Dan jangan lupa, apalagi daerah pesisir Sibolga ini memiliki percampuran budaya yang sedikit berbeda dengan budaya Batak yang banyak dikenal orang selama ini termasuk dalam dialeknya, sejauh disampaikan dengan detil-detil yang akurat, kekuatan informasi adalah sesuatu yang bagus, dan termasuk jarang sekali kita dapatkan dalam film-film kita.

M2

            Sekarang mari lihat tentang kultur atau budaya Batak, yang tergolong cukup jarang tampil ke film-film kita sekarang. Kalaupun satu dua karakternya menyempil dalam film-film lain, atau sejumlah kecil film ada yang menyorotnya lebih, kebanyakan masih berupa penghias, penuh dengan tipikalisme bahkan dijadikan sebagai bulan-bulanan lelucon. ‘Maaf, Saya Menghamili Istri Anda’, walaupun cukup lucu tapi memang beresiko kontroversi dalam nada satirnya. ‘Rokkap’ yang adem-ayem saja itu pun bukan film baik yang berhasil menampilkan latar belakang budayanya dengan cermat. ‘Mursala’ bisa jadi memiliki potensi lain, karena tak lagi melulu bicara soal Danau Toba dan tak ingin sekedar berlelucon, orang-orang yang ada di belakangnya juga mengenal dengan baik budayanya sendiri. Sempat juga mengundang protes dari sebuah kelompok adat masyarakat setempatnya, namun akhirnya ‘Mursala’ bisa beredar dengan mulus. Now let’s see the plot.

M6

            Di tengah kesuksesan karirnya sebagai pengacara jujur yang tengah berjuang dalam kasus tuduhan seorang pejabat atas pencurian sandal terhadap seorang anak miskin tak bersalah, Anggiat Simbolon (Rio Dewanto) yang sejak kecil memang bercita-cita sebagai pengacara dipanggil ibunya, Inang Romauli (Reiny Christiana) untuk kembali ke kampungnya menghadiri sebuah acara pernikahan keluarganya. Anggiat yang sudah menjalin hubungan serius dengan presenter teve Clarisa Saragih (Anna Sinaga) lantas berhadapan dengan aturan adat yang tak pernah dikenalnya sejak kecil. Marga mereka termasuk dalam ‘Parna’ (for those who never heard about this, ‘Parna’ adalah singkatan dari Pomparan ni si Raja Naiambaton, yang menurut garis adat adalah marga-marga yang dipercayai sebagai keturunan Raja Naiambaton sehingga tak boleh menikah satu dengan yang lain) sehingga rencana pernikahan itu dianggap tabu. Bertemu kembali dengan sahabat masa kecilnya, Sahat (Mongol) dan pariban-nya, Taruli Sinaga (Titi Rajo Bintang) yang baru menyelesaikan beasiswa kuliahnya di Perancis untuk jadi seorang aktifis kelautan, perhatian Anggiat juga terpaksa terpecah ke usaha pembelaan terhadap Uli yang terkena tuduhan provokasi, bersama sebuah kenyataan masa kecil, keinginan ibunya dan komitmennya terhadap tuntutan adat leluhur yang sangat kuat.

M4

            Memuat banyak informasi-informasi tentang kultur Batak yang sangat kuat menjunjung adat leluhurnya dibalik sebuah kisah cinta terhalang adat, belum lagi subplot soal kehidupan pengacara dalam menangani berbagai kasus berbeda, sisi pengenalan pulau Mursala sebagai tujuan wisata-nya jadi sedikit tertinggal dibalik penggunaan judul itu. Bukan arti keseluruhannya tak bagus, karena selain digawangi oleh orang-orang yang sangat mengerti akan profesi dan budayanya, sutradara Viva Westi beserta seluruh cast dan crew-nya juga terlihat sangat berusaha menampilkan semua aspek itu dengan faktor keakuratan yang cukup tinggi. Subplot demi subplot itu juga bisa dibilang cukup rapi menjahit konklusinya lewat karakterisasi yang terjaga.

M3

            Dari pemaparan adat yang menyeruak dengan jelas sebagai penentu konklusi pilihannya secara sangat jelas serta tak biasa, kebiasaan-kebiasaan kultur Batak untuk tak memandang beda derajat untuk sama-sama duduk di lapo hidangan khas mereka, hingga penggunaan dialek dengan bentuk-bentuk khasnya yang berbeda antara dialek Batak dengan dialek pesisir Sibolga yang berasimilasi dengan dialek Minangkabau dalam skrip yang ditulis oleh Deddy Tubagus, semua tampil cukup mendetil. Penjelasan terhadap karakter-karakternya pun ter-handle dengan baik, termasuk ayah Clarisa yang diperankan Rudy Salam, sebagai orang Batak yang lahir dan besar di Jawa. Hampir tak ada kesalahan terhadap kecenderungan penggunaan semua e kecil menjadi E besar dalam dialek ini seperti yang biasanya suka terlepas dalam film-film kita, lengkap dengan penggunaan kata-kata dalam ciri khas dialek Batak yang menyempil di dialog-dialognya. Bahkan dalam kebanyakan film kita sekarang, detil-detil perbedaan antara orang Batak yang satu dengan yang lain berdasarkan pengembangan karakternya, semua hadir apa adanya dan termasuk paling akurat. Scoring dari Iwang Noorsaid bersama theme song-nya yang dinyanyikan Iwan Fals juga menyatu dengan baik bersama plot dan pengadeganannya.

M7

            Rio Dewanto, Titi Rajo Bintang, Mongol dan Tio Pakusadewo yang memerankan Bapak Uda Anggiat adalah cast yang sangat berhasil menampilkan gestur dan dialek dalam karakter mereka bersama sekumpulan pemeran asli daerah termasuk Reiny Christiana sebagai si Inang. Transisi pemeran Anggiat kecil yang sangat punya kemiripan fisik dengan Rio juga kelihatan meyakinkan. Sayangnya, tak seperti Roy Ricardo yang selain pengacara juga sudah malang-melintang di dunia entertainment sebagai rapper, DJ, MC dan radio broadcaster), Anna Sinaga yang sekaligus memulai debut aktingnya disini selain memproduseri ‘Mursala’, bersama sebagian pengacara lain yang tampil sebagai cameo termasuk Elza Syarief masih terlihat kelewat canggung untuk mengimbangi akting-akting cemerlang pemeran lainnya. Masih ada pula sebuah product placement yang terdengar terlalu konyol di sebuah dialognya.

M5

            Sementara di sisi sinematografi, meski jauh dibawah film terakhir Viva, ‘Rayya, Cahaya Di Atas Cahaya‘ juga dengan DoP yang sama, Ipung Rachmat Syaiful, ‘Mursala’ yang di-shot dengan kamera 16 mm ini masih dapat menampilkan panorama indah pulaunya dibalik kepentingan tujuan promosi wisata itu. Hanya sayang, mungkin konversi digitalnya tak tampil maksimal dengan gambar-gambar yang penuh noise disana-sini. Begitupun, tak adil rasanya menyalahkan kekurangan-kekurangan tadi untuk menampik filmnya secara keseluruhan, karena ‘Mursala’ sungguh punya sejumlah kelebihan yang selama ini luput tersorot dari film-film yang mengetengahkan kultur Batak sebagai tema sentralnya. Paling tidak, keseriusannya masih terlihat cukup tinggi, muatan informasi yang dikandungnya sangat kaya, dan plot serta konflik-konfliknya pun tak pernah jadi terasa berlebihan membangun motivasi-motivasi karakternya menuju endingnya yang juga diakhiri Viva Westi dengan cantik dibalik similaritas karakter Anggiat dan Uli yang dari awal sudah dibangun dengan baik . Pilihan tak biasa yang tetap jadi wajar tanpa terasa pretensius. So yes, this love story beyond ancestral tradition might has some flaws, tapi sekali lagi, digawangi oleh orang-orang yang mengerti muatan profesi dan budayanya, ‘Mursalashowed the accurate presence among both. Dan itu artinya bagus. (dan)

~ by danieldokter on April 19, 2013.

3 Responses to “MURSALA : A LOVE BEYOND ANCESTRAL TRADITION”

  1. PULAU MURSALA……MANTAP….

  2. […] MURSALA : A LOVE BEYOND ANCESTRAL TRADITION. […]

  3. like this…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: