JAVA HEAT : A GENERIC ACTION WITH TACTICAL FORMULA

JAVA HEAT

Sutradara : Conor Allyn

Produksi : Margate House Films, 2013

Jav10

(International Poster)

            Seperti ‘Dead Mine’, tak usah heran kalau dari awal ‘Java Heat’ sudah menimbulkan perdebatan. Sebagian meyakininya sebagai film Indonesia, atas beberapa nama yang ada di dalamnya. Apalagi production house-nya, Margate House Films, meski digawangi Rob Allyn dan putranya Conor Allyn dengan status company Amerika, tapi berbasis di Asia Tenggara termasuk Indonesia, dan sudah memproduksi ‘Merah Putih Trilogy’ yang juga tak bisa dibantah sebagai film Indonesia atas kolaborasi pengusaha Hashim Djojohadikusumo di dalamnya. Sebagian lagi menganggapnya sebagai film Hollywood yang menggunakan talent-talent dan set Indonesia. Tak sepenuhnya salah juga. Semua boleh beranggapan apa saja, Tapi apapun aturan bakunya, atas record-record sebelumnya tadi, saya lebih memilih menyebutnya tetap sebagai sebuah joint venture production, yang juga sudah banyak ada di sejarah perfilman kita. Tak hanya dengan Amerika, tapi juga dengan sejumlah negara lain termasuk Hong Kong dengan Shaw Brothers-nya, yang juga sama-sama didistribusikan ke beberapa negara luar.

Jav6

            Dan usaha mereka untuk menggamit nama legendaris Mickey Rourke serta Kellan Lutz yang juga cukup dikenal disini setelah kemunculannya dalam ‘Twilight’, jelas memberikan kekuatan lain dalam kolaborasi itu. Deretan cast lokalnya pun tak kalah hebat. Ada Ario Bayu, Atiqah Hasiholan, Tio Pakusadewo, Mike Muliadro, Rio Dewanto, Verdi Solaiman, Astri Nurdin, T. Rifnu Wikana, Uli Auliani, Rudy Wowor, Rahayu Saraswati hingga Frans Tumbuan yang sudah jadi langganan di produksi-produksi joint venture sejak dulu. Tapi diatas kombinasi cast itu, highlight menariknya ada pada keberanian Rob dan Conor membesut skripnya diatas latar budaya Indonesia khususnya Jawa Tengah yang sudah sejak lama mereka kenal dari kiprahnya disini, bersama full set Yogyakarta dan kawasan sekitarnya dengan landmark-landmark khas hingga adegan klimaks di tengah-tengah perayaan Waisak Candi Borobudur. Skrip itu juga berani menyentil isu-isu sensitif dari reliji hingga aspek kehidupan keraton dibalik tema terorisme yang diusungnya. Ini memang masih jarang-jarang ada, dan tak salah untuk menganggap ‘Java Heat’ sudah memulai sesuatu dengan beda. Toh mereka menggagasnya dengan taktis meskipun sulit untuk tak mengenali semuanya. Soal budget-nya yang kadang membuat sineas kita hanya bisa menghela nafas dan kebocoran filmnya via internet karena jadwal rilis straight to video di Jerman yang mendahului rilis bioskopnya? Ah, mari tak membicarakan itu disini.

Jav1

            Ditahan sebagai saksi kunci dari ledakan bom di pesta amal yang menewaskan putri keraton Sultana (Atiqah Hasiholan), Jake Travers (Kellan Lutz), lelaki berkebangsaan Amerika yang mengaku bekerja sebagai asisten dosen asing ditangani oleh Letnan Hashim (Ario Bayu), Komandan Detasemen 88 untuk mengungkap kasus ini. Hashim terus mencurigai Jake hingga menyadari bahwa yang mereka hadapi bukan hanya kasus terorisme biasa yang melibatkan gerombolan teroris Islam militan, tapi juga para mafia lokal dan internasional dibalik sebuah rencana kejahatan yang jauh lebih besar dari itu. Di tengah perayaan Waisak di Candi Borobudur, Hashim dan Jake mau tak mau harus bekerjasama untuk menghentikan Malik (Mickey Rourke) sebagai penghubung dari semua konspirasi ini.

Jav7

            Dengan cerdik, Rob dan Conor menuangkan skrip mereka seolah dalam sebuah alternate universe yang bisa beresiko menyinggung banyak orang. Latar Indonesia-nya memang jelas, dan istilah teroris Islam juga tak luput dari sentilan-sentilan, namun tak sekalipun menyebut Yogyakarta sebagai set-nya, mereka memindahkan latar ceritanya ke gambaran keraton Jawa dengan pemerintahan sentralisasi dibawah Sultan (diperankan Rudy Wowor dengan karakterisasi eksentrik rambut gondrong berkuncir yang jelas bukan gambaran seorang Sultan seperti biasanya) sebagai pimpinan tertinggi bersama Perdana Menteri yang juga bernama asing, Vizier (Tio Pakusadewo) dan puteri keraton Sultana (Atiqah Hasiholan). Dengan alternate universe ini, mereka seakan bebas bisa menampilkan sesuatu yang beda termasuk tampilan prajurit keraton bersenjata termasuk rocket launcher yang sudah kita saksikan dalam trailernya.

Jav5

           And if you look closer, satu hal yang tampil paling spesial adalah penggambaran detil-detil tatanan dan batasan budaya serta perilaku ketimuran Indonesia bersama Jawa yang disempalkan penuh kecermatan tinggi  ke dialog-dialog cheesy ala skrip terjemahan bersama adegan-adegan aksi cukup eksplosif ke tengah-tengahnya. Meskipun gambaran keseluruhannya lebih ke action-action generik bahkan dianggap banyak orang lebih mirip film kelas B, tak mengapa juga, karena bersama sinematografi Shane Daly, scoring dari Justin Caine Burnett dan production values lain yang cukup terjaga, meskipun tak semuanya sempurna, ini bagaikan kekurangan dan kelebihan yang sebenarnya jauh saling melengkapi dibalik chemistry bagus diantara para cast-nya, mostly Kellan Lutz dan Ario Bayu sebagai sentralnya. Adegan klimaks yang menggunakan Candi Borobudur di tengah perayaan Waisak penuh lampion juga tak bisa dipungkiri, cukup ter-handle dengan seru.

Jav2

            Paling tidak, ini kalau selama ini Anda rajin mengikuti film-film joint venture kita dari dulu sampai sekarang, dari zaman Barry Prima – Christopher Mitchum, Frank Zagarino, David Bradley, Richard Norton, Cindy Rothrock hingga ‘Dead Mine’ barusan, yang pakemnya seringkali tak menghargai talent kita yang dihabisi sia-sia tanpa ada lead lokal pernah bertahan sebagai ‘the last man standing’, ‘Java Heat’ memiliki perbedaan yang cukup signifikan. Balance-nya cukup terjaga, baik di karakterisasi dan paduan kekumuhan dengan eksotisme, and by looks and actions, ini sudah menyamai produksi-produksi Hollywood di kelas yang tak terlalu terbenam jauh ke bawah sebagai film cult yang segmented. Bahkan bila dibandingkan dengan ‘Merah Putih Trilogy’ dari Margate House, ‘Java Heat’ bisa dianggap sebagai yang terbaik dalam kelas joint venture itu.

Jav8

          So yes, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, ‘Java Heat’ sungguh bukan sebuah produksi asal-asalan belaka. Anda boleh bicara apa saja dengan logika cerita yang berantakan atas beda-beda banyak pandangan, namun ada kecermatan tinggi dalam menampilkan banyak sisi budaya kita yang digelar secara taktis. Sebagian disamarkan, sebagian fiktif dan sebagian digelar dengan sentilan terus terang namun tak juga sampai menghujat, sementara adegan-adegan aksinya, yang meski lagi-lagi generik namun cukup eksplosif dengan porsi lumayan ketat, juga terasa sangat menonjol. At least, peredarannya ke beberapa negara luar tetap bisa memperkenalkan talenta-talenta perfilman kita bersama sebuah pengenalan budaya yang ada, lepas dari beberapa sisi fiktif tadi. Dan itu artinya cukup baik. (dan)

Jav9

Jav11

(Indonesian Poster)

~ by danieldokter on April 24, 2013.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: