9 SUMMERS 10 AUTUMNS : THE GREATEST DREAM CALLED HOME

9 SUMMERS 10 AUTUMNS

Sutradara : Ifa Isfansyah

Produksi : PT Artura Insanindo, PT Angka Fortuna Artindo, 2013

9S10A11

            Masih dalam trend adaptasi novel laris berisi kisah sukses dengan nilai-nilai inspiratif, kini giliran Iwan Setyawan dengan novelnya yang berjudul ‘9 Summers 10 Autumns’. Novel ini memang berisi kisah sejati Iwan yang datang dari Batu, Malang, yang dikenal dengan sebutan Kota Apel, hingga berhasil mewujudkan mimpinya bekerja di Nielsen Company, New York, Big Apple. Satu tema yang mungkin bisa jadi sangat simpel, tapi juga sekalian bisa mewakili impian banyak orang. Tapi satu yang paling penting, seperti dalam novelnya, lebih dari sekedar kisah zero to hero, esensi terbesarnya justru ada pada sebuah penghargaan terhadap keluarga. So, ini memang bukan sekedar sebuah aji mumpung dibalik trend yang ada. Produser Edwin Nazir dan Arya Pradana dari rumah produksi baru mereka yang berhasil menggamit Ifa Isfansyah sebagai sutradara, sejak awal terlihat berusaha untuk membuat tontonan yang baik. Proses syuting yang berjalan dari Batu, Bogor, Jakarta hingga New York, casting cermat yang digawangi Dewi Irawan sebagai casting director-nya, hingga promo-promonya mulai diluncurkan, sudah bisa membangun ekspektasi awal akan seperti apa filmnya.

9S10A1

            Sebagai anak seorang sopir angkot (Alex Komang) dan Ibunya (Dewi Irawan) yang hanya ibu rumah tangga biasa tanpa latar pendidikan tinggi, Iwan (Ihsan Tarore) yang dipanggil Bayek hidup bersama empat saudara perempuannya di tengah segala keterbatasan dan mimpi-mimpi untuk bisa hidup lebih baik. Apalagi ia tak tumbuh seperti yang diinginkan Bapaknya yang keras. Ketimbang jadi serba jantan di tengah kehidupan luar rumah yang keras, Iwan memilih bergelimang dengan buku-buku pelajaran. Kegemarannya terhadap matematika justru berhasil mengantarkannya ke bangku kuliah di Bogor, jadi lulusan terbaik dan mengejar mimpinya hingga ke New York. Masa lalu getir yang memunculkan banyak masalah psikologis, tapi juga dibalik semua itu, ada kehangatan dan dukungan keluarga yang tak pernah bisa dilupakannya.

9S10A9

            So you see. Hal terbaik dalam ‘9 Summer 10 Autumns’ justru adalah sebuah storytelling yang terasa real dan sangat jujur diceritakan Iwan sebagai tokoh sentralnya. Tak seperti kebanyakan pakem film kita, kisah sejati ini tak pernah hadir dengan dramatisasi berlebih, narsis terhadap karakternya dan unsur-unsur permisif lain yang menjadikannya sebagai sosok pahlawan moralis, namun secara seimbang bicara tentang kelebihan dan kekurangan di tengah masing-masing karakter di sekelilingnya dalam usaha mewujudkan mimpi itu. Tanpa berusaha menekankan banyak pembenaran-pembenaran semu, skrip yang ditulis oleh Fajar Nugroho, Ifa Isfansyah dan Iwan sendiri juga dengan cerdas menangkap esensinya lebih dari kisah sukses biasa, tapi penuh nilai berharga tentang hubungan-hubungan keluarga. Might be softly and slowly told, tak bombastis seperti banyak film bergenre sejenis, tapi semua bagian yang tertuang dalam skrip berikut dialog-dialognya punya interkoneksi sangat konsisten dan mengalir cukup lancar bahkan seringkali menyentuh dalam back and forth storytelling-nya. Beberapa juga terasa filosofis tapi tak lantas jadi terdengar mengkuliahi. Bahwa dalam pendekatan sangat manusiawi, semua bisa benar atau salah, tapi ada koneksi-koneksi yang tak pernah bisa diingkari, berikut sedikit garis bawah bahwa edukasi itu sangat penting artinya. Dan siapa bilang kita tak perlu matematika selain untuk menghitung uang?

9S10A1a

            Pemilihan casting adalah kekuatan lain dari ‘9 Summer 10 Autumns’. Ihsan Tarore yang didapuk menokohkan sosok asli Iwan, if you ever met him, menerjemahkan semua gesturnya dengan baik, dengan dialek yang cukup pas pula. Pemeran-pemeran pendukungnya, dari Agni Pratistha, Hayria Faturrahman, Shafil Hamdi Nawara pemeran Iwan kecil yang mendapat porsi cukup banyak, Roby Muhamad, sosiolog terkenal dengan riset-riset socmed bersama Dira Sugandi yang baru memulai debut akting layar lebarnya sekaligus mengisi theme song ciptaan Elfa Zulham bersama IhsanBawalah Aku Kembali’ juga tampil dengan baik. Dan masih ada nama-nama senior seperti Ence Bagus, Epy Kusnandar, Ade Irawan dan Ria Irawan dalam penampilan singkat mereka. Namun dua nama yang paling bersinar tentulah Dewi Irawan bersama Alex Komang yang memerankan Bapak dan Ibu Iwan. Selagi Dewi tampil di tengah kesederhanaan sosoknya sebagai struggling mother yang tak pernah kehilangan harapannya terhadap Iwan, Alex Komang menerjemahkan sosok Bapak tanpa harus terlihat kontras dalam karakterisasinya. Ia bisa keras setengah mati, namun sorot mata dan gestur dalam method acting itu selalu bisa meyakinkan kita sebagai Bapak yang mencintai anaknya dengan tulus.

9S10A5

            Penggarapannya pun luar biasa. Semua sudah tahu kualitas Ifa, yang katanya sejak lama bermimpi membuat film tentang hubungan father to son yang kental. Tapi sinematografi Gandang Warah yang unggul sekali merekam gambar-gambar dari set Batu hingga sudut-sudut keramaian New York, editing Edi Cahyono, tata rias dan kostum masing-masing dari Jerry Octavianus dan Auguste Soesastro, Khairriyah Sari bersama Liza Mashita bekerja dengan sinergisme luarbiasa ke tata artistik dari Eros Eflin. Dari buku-buku pelajaran SD, wardrobes, berbagai jenis lembaran rupiah, excerpts-excerpts siaran televisi, radiotape, wartel, ponsel, semuanya hadir dengan detil-detil sangat rapi dan cermat membangun perpindahan set-nya dari awal ‘80an ke masa sekarang. Scoring dari Elfa Zulham juga mengisi emosi adegannya sama baiknya.

9S10A1c

            So, silahkan enjoy genre-genre gorefests, blockbusters, atau arthouses sekalipun. Tapi jangan pernah menutup mata terhadap film-film simpel yang selalu mengingatkan kita tentang hubungan-hubungan keluarga. Bahwa dibalik tampilan simpel, kita bisa menemukan banyak kesempurnaan teknis yang ikut membangunnya jadi sebuah karya yang luarbiasa baik. Inspiring movies mungkin banyak. But ones that made you want to go straight home, holding your parents, your loved ones and cherish them as well, itu sedikit. Only movies that made by heart and with love, yang bisa menyajikan kehangatan itu, dan ‘9 Summers 10 Autumns’ adalah salah satunya. Film yang memang mengajarkan kita untuk berusaha mengejar mimpi, but the greatest dream, kadang ada bersama orang-orang terdekat kita. Now that’s a home, and don’t ever forget that. (dan)

~ by danieldokter on April 26, 2013.

5 Responses to “9 SUMMERS 10 AUTUMNS : THE GREATEST DREAM CALLED HOME”

  1. […] 9 SUMMERS 10 AUTUMNS : THE GREATEST DREAM CALLED HOME […]

  2. setuju banget bang

  3. Setuju banget sama tulisannya. Sy sudah baca bukunya dan pas liat filmnya bener-bener suka sama filmnya. Narasinya juga bagus. Salah satu film Indonesia terbaik tahun ini.

  4. Wowwww.. so detail.. bener banget tuh, dengan tema yang sangat simple, namun jalan ceritanya sangat inspiratif..

  5. […]  4.      9 SUMMERS 10 AUTUMNS […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: