WHAT THEY DON’T TALK ABOUT WHEN THEY TALK ABOUT LOVE : A LOVE LESS ORDINARY

WHAT THEY DON’T TALK ABOUT WHEN THEY TALK ABOUT LOVE (YANG TIDAK DIBICARAKAN KETIKA MEMBICARAKAN CINTA)

Sutradara : Mouly Surya

Produksi : Cinesurya Productions, Amalina Pictures, 2013

DTL18

            A good friend of mine said, in movies, problem setiap sineas dengan debut groundbreaking adalah ketakutan terhadap sebuah ‘Sophomore Slump’. Karya kedua yang gagal melampaui yang pertama. Kita semua tahu apa yang sudah diraih Mouly Surya lewat ‘Fiksi’ tempo hari. Kini, melangkah ke karya berikutnya, Mouly ternyata menolak melakukan pendekatan sama untuk membangun signature-nya, walaupun sebagian trace-nya dalam ‘Fiksi’ masih tetap terasa. ‘What They Don’t Talk About When They Talk About Love’ yang awalnya merupakan judul internasional dari titel ‘Yang Tidak Dibicarakan Ketika Membicarakan Cinta’ dan sering disingkat dengan ‘Don’t Talk Love’ ini lebih pure sebagai sebuah arthouse. Idenya boleh jadi sangat simpel dengan membidik coming of age process dari segmentasi penghuni Sekolah Luar Biasa yang punya masalah dengan indera-nya, penglihatan dan pendengaran, in particular. Tapi secara jauh lebih mendasar, this is everybody’s love story. Tentang cinta.

DTL8

            Dan tak ada yang salah atau benar dalam interpretasi terhadap sebuah karya arthouse. Seperti penikmat lukisan tengah mendalami makna yang ada dibalik lukisan kegemarannya, atau seperti ahli jiwa yang menyuruh pasiennya menginterpretasikan bentuk-bentuk fisik dalam tes-tes psikologi, semuanya sah. Anda boleh mengerti, boleh tak mengerti, boleh punya persepsi A, B, C, bahkan sampai Z secara berbeda-beda. Ini juga yang membuat arthouse membutuhkan pemahaman lebih dalam fungsi film yang lebih dari sekedar sebuah hiburan. Made especially for snobs or not, mau dibilang ‘style over substance’ sekalipun, walau ide kecil bisa melebar kemana-mana dalam visualnya yang penuh metafora, paradoks, or whatever, ini memang bukan sesuatu yang mudah. Bagi sebagian lagi, ia malah bisa jadi sebuah keajaiban dalam karya. But trust me, prestasi Mouly bersama tim produser Fauzan Zidni, Parama Adi Wirasmo, Tia Hasibuan dan Ninin Musa plus John Badalu membawanya sebagai salah satu menu tontonan di Sundance Film Festival kemarin, dengan resepsi cukup bagus pula dari banyak kritikus-kritikus internasional, itu jelas didasari niat untuk membuat film yang tak sekedar main-main atau jualan semata. Sayangnya ekshibitor sinema kita hanya menghargainya dengan layar sangat terbatas yang harus disandingkan dengan peredaran reguler film nasional lain ditambah serbuan summer blockbusters ke tengah-tengahnya. Padahal kesempatan untuk bisa menikmati film-film alternatif seperti ini, cukup minim terutama di daerah luar ibukota.

DTL12

            Di sebuah Sekolah Luar Biasa, ada Diana (Karina Salim), penderita kelainan refraksi yang hanya bisa melihat dari jarak sangat dekat,  dan Fitri (Ayushita Nugraha) yang buta sejak lahir. Keduanya mengalami cinta dalam bentuk-bentuk berbeda di tengah obsesi dan keinginan mereka. Selagi Diana mendambakan cinta dari Andhika (Anggun Priambodo), penderita tuna netra yang baru masuk ke sekolahnya, Fitri berhubungan dengan Edo (Nicholas Saputra), free-spirited punk anak ibu penjual makanan (Jajang C. Noer) yang juga seorang tuna rungu, dibalik sebuah mitos lama yang berkembang di sekolah mereka. Semua dibalik keterbatasan yang ada, but love, knows no boundaries.

DTL16

            The first object of beauty dalam ‘Don’t Talk Love’ adalah fantasi Mouly sendiri yang dituangkan lewat skrip besutannya ke bangunan visualisasi dan storytelling-nya. Dalam koridor arthouse dengan segala absurditas termasuk, ehm, kecenderungan sineas kita memasukkan metafora-metafora seksual ke dalamnya, tentunya. Mungkin tak akan mudah dimengerti bagi banyak lapisan penontonnya, namun tetap akan memancing banyak persepsi, sesuai dengan apa yang ingin disampaikannya atau tidak. Tapi bukan berarti ia tak lantas terjebak jadi tak menarik, tak relevan atau membosankan. Dengan cerdas dan dalam, Mouly juga memuat layered alternate reality dan detil-detil simbolik yang terasa begitu spellbinding membawa ‘Don’t Talk Love’ jadi punya daya magis luarbiasa. Tak harus obvious untuk mengarahkan pretensi pemirsanya dengan perbedaan tone, which might be a bit too yesterdays, namun cukup lewat thrill-thrill penting lewat beberapa memorable scenes berikut some brave cinematic attempts yang meski nakal dan liar dari pengadeganan hingga dialog-dialognya, tapi tetap terlihat cantik. Tanpa juga menyampingkan informasi yang ingin disampaikannya dibalik set yang dipilihnya. Tentang sekumpulan manusia dengan kekurangan fisik dengan begitu banyak aspek coming of age dalam konteks pengenalan cinta, dibalik sebuah grand design of life yang bukan lantas membuat mereka jadi serba kurang dibandingkan manusia lain tanpa kekurangan yang sama.

DTL14

            Mengantarkan fantasi-fantasi itu, scoring dari Zeke Khaseli bersama tiga theme song klasik ‘Nurlela’ milik Bing Slamet, ‘Twinkle-Twinkle Little Star’ dan ‘Burung Camar’ yang di-recycled bersama sebuah adegan pembuka yang sangat menghipnotis, juga bekerja dengan sinergisme luarbiasa ke sinematografi Yunus Pasolang, editing Kelvin Nugroho dan tata artistik dari Rita Yossy. Bak sebuah lukisan abstrak yang memerlukan pendalaman lebih, semua unsur-unsur teknis itu menyatu bersama akting jagoan para pendukungnya. Ada Karina Salim yang sangat bersinar menokohkan Diana, Ayushita Nugraha yang meninggalkan atribut tipikalnya sebagai Fitri yang eksploratif, Nicholas Saputra, hypnotic as ever, Lupita Jennifer bahkan dua bintang senior Jajang C. Noer dan Tutie Kirana.

DTL10

            So, siapa bilang arthouse tak bisa tampil menarik? Sebagai tontonan alternatif yang bisa mempertajam intuisi kita menelusuri ide-ide dengan pendekatan berbeda dalam konteks menikmati sebuah karya seni, ini sesekali tentu perlu juga mendapat ruang, walaupun perkembangan film kita sekarang memang lebih memerlukan sebuah keseimbangan antara mainstream dengan segmented untuk kembali merebut kepercayaan penonton ke film Indonesia. Toh untuk semakin menambah pengenalan film kita ke luar, keunggulan dari sisi ini justru lebih banyak dilirik. Mau banyak orang yang membanding-bandingkannya dengan film-film besutan Edwin seperti atas pendekatan liar yang bisa jadi terasa senada, I’ll tell you once again. Tak ada yang salah atau benar dalam beda-beda persepsi terhadap sebuah karya arthouse. You might lose any senses, but love is something everybody should feel. And being magically poetic in its symbolical presentations, Mouly yang jelas-jelas sudah terbebas dari jinx-jinxSophomore Slump‘ dengan karya layar lebar kedua yang makin hebat ini, sudah mengingatkan kita bahwa abnormalitas bukan lantas jadi sebuah penghalang untuk cinta dan kedewasaan. Even more, this might be a love less ordinary! (dan)

DTL13

~ by danieldokter on May 5, 2013.

7 Responses to “WHAT THEY DON’T TALK ABOUT WHEN THEY TALK ABOUT LOVE : A LOVE LESS ORDINARY”

  1. halo!
    boleh tukar link blog?
    saya baru di movie review blog
    lessthan2000.blogspot.com
    salam kenal dan terima kasih🙂

  2. Sama-sama. Salam kenal juga. Linked ya!🙂

  3. Btw keren banget blog-nya. Full of vintage movies! Keep it coming, Nitya!

  4. whoa thank you, yours too :)) vice versa, linked juga :))

  5. […] Read the full reviews here (In Indonesian language) […]

  6. […]  6.      WHAT THEY DON’T TALK WHEN THEY TALK ABOUT LOVE […]

  7. mau dong dvdnya…. nyari ga dapat2 nih…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: