THE GUILLOTINES (血滴子): A FAILED RETELLING OF A CLASSIC ICON

THE GUILLOTINES (血滴子)

Sutradara : Andrew Lau

Produksi : Stellar Megamedia Group, We Pictures, 2012

TG1

            There are two sides of coin, untuk film yang melalui proses panjang produksinya di tengah banyaknya permasalahan. Dalam perfilman China – Hong Kong, ‘The Guillotines’ adalah salah satunya. Rencana awalnya sebagai remake film klasik tahun 1976 ‘Master Of The Flying Guillotine’, sekuel dari ‘One Armed Boxer’ –nya Jimmy Wang Yu, ikon yang sudah dikenal luas bagi penggemar film-film martial arts, sempat juga dibuat Shaw Brothers dalam dua instalmen di tahun 1974 dan sekuelnya tahun 1978, termasuk di-crossover dengan karakter Zatoichi di salah satu filmnya, sempat berkali-kali mengalami perubahan skrip, perubahan sutradara dan masih banyak masalah internal lainnya. Andrew Lau yang masuk di saat-saat terakhir saat proyek Peter Chan ini hampir saja dibatalkan, lantas menangani skrip final Jojo Hui dari berbagai draft sebelumnya yang ditulis oleh Joyce Chan, Aubrey Lam, Phillip Lui, Guo Junli dan Chit Ka-kei, menjadi skrip yang berdiri sendiri sebagai instalmen baru. Namun tak bisa juga disangkal, bagian-bagian yang masih tertinggal dari skrip awal itu juga tak bisa melepaskan bagian-bagian dari sejumlah source aslinya. Walau semua aktornya tetap bersedia ikut dalam produksi, keputusan akhir bisa jadi sangat tak populer. Skrip itu lebih mengarahkan ‘The Guillotines’ yang awalnya sudah diberi modal gede untuk martial arts action bertabur efek spesial dibalik gimmick 3D-nya, jadi lebih ke sebuah character-driven drama, but truthfully, dengan konsep yang terlihat sekali penuh dengan inkonsistensi di segala hal.

TG5

            Di masa pemerintahan Manchuria, dinasti Qing, Emperor Yongzheng (Lau Wei-keung) membentuk pasukan pembunuh khusus bernama ‘The Guillotines’ berdasarkan senjata mekanik mutakhir yang digunakan mereka. Melanjutkan misi mereka yang tak pernah mengenal kata gagal, The Guillotines yang dipimpin oleh Leng (Ethan Juan/Ethan Ruan) bersama 5 anggotanya Musen (Li Yuchun), Houjia Shisan (Jing Boran), Chen Tai (Purba Rygal), Hutu (Gao Tian) dan Buka (Zhou Yiwei) ditugaskan untuk menghancurkan gang pemberontak yang dipimpin oleh Tianlang/Wolf (Huang Xiaoming). Arogansi mereka berbalik membuat semua berantakan, bahkan Musen berhasil disandera oleh Tianlang. Leng terus melacak jejak Tianlang yang bersembunyi di sebuah desa terpencil, namun bersamaan dengan itu, pemerintahan yang berpindah ke kaisar berikutnya, Emperor Qianlong (Wen Zhang), justru menyiapkan misi lain bagi Haidu (Shawn Yue), orang penting dibalik masa kecil Leng yang juga seorang penasehat kerajaan. Leng dan anggotanya yang tersisa pun harus memilih diantara serbuan dua pihak, menentukan siapa kawan, siapa lawan.

TG2

            Menampilkan dua bintang idola paling bersinar di perfilman Hong Kong dan China masing-masing Huang Xiaoming dan Ethan Juan, plus Shawn Yue berikut Wen Zhang dan cameo Jimmy Wang Yu dalam peran singkat mereka, plot itu sebenarnya punya kekuatan yang bisa dieksplor lebih dalam style Andrew Lau yang hampir selalu mengutamakan kedalaman lebih dari sekedar pameran aksi di genre-genre sejenis. Adegan pembuka yang tanpa berpanjang-panjang langsung mengarahkan penonton ke homage source aslinya, namun dibesut jauh lebih keren dengan teknologi efek visual luarbiasa dibalik gimmick 3D-nya sebenarnya sudah sangat menjanjikan. Namun disitulah konsep serba bingung itu lantas langsung masuk menghancurkan semuanya.

TG3

            In Andrew Laus signature, jelas tak salah untuk menciptakan sebuah character-driven dramatic plot yang tetap bisa memasukkan homage source-nya jadi sentral cerita sesuai dengan judul yang digunakan, namun agaknya, skrip final itu terlalu asyik bermain di wilayah ini sampai menenggelamkan sisi martial arts yang sudah dibangun dengan baik sebagai pembuka filmnya. What happened next, adalah guliran cerita yang kian terasa tak konsisten menuju konklusi klimaksnya. Mereka malah terlihat bingung membangun porsi protagonis dan antagonis dalam storytelling-nya, tak ingin membuatnya terlihat hitam putih, tapi dengan konsep yang lumayan berantakan untuk membuat penonton bisa memilih mau kemana meletakkan empati terbesar terhadap karakternya. Ethan Juan, Huang Xiaoming dan Shawn Yue yang sebenarnya punya akting dan persona sama kuat pun jadi terlihat bingung dengan konsistensi akting mereka.

TG4

           Dan hal ini semakin mempengaruhi pace-nya yang jadi kacau-balau naik turun tanpa bisa lagi memancing antusiasme ke penelusuran selanjutnya yang kian terasa draggy dan meninggalkan tampilan senjata unik sebagai ikon terpentingnya makin ke belakang. Mereka mungkin harus sadar ketika judul ‘The Guillotines’ diangkat, ikon senjata itu akan jauh lebih memikat ketimbang karakter-karakternya sendiri. Belum lagi antiklimaks yang terlihat ingin sekali memberikan sisi filosofis ke konklusi pilihan karakternya dibalik tema kerajaan dan pemberontakan, dengan kualitas makin tak seimbang dengan adegan pembukanya yang megah itu. Walau keseluruhan production values-nya tetap bagus, tapi ‘The Guillotines’, se-nyata-nyata-nya adalah sebuah retelling yang gagal. Gagal. (dan)

TG6

~ by danieldokter on May 7, 2013.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: