THE LEGEND OF TRIO MACAN : GOOD EFFORT BEYOND LIMITATIONS

THE LEGEND OF TRIO MACAN

Sutradara : Billy Christian

Produksi : Radikal Pictures, 2013

LTM1

            The truth. Banyak orang memicingkan mata saat sebuah film menjual trend. Tapi sebenarnya tak ada yang salah dengan itu, sejauh bisa digarap baik dengan kekuatan yang jelas, trend apapun, mau dibilang aji mumpung pun, dalam konteks bisnis, tak pernah salah. Hanya saja masih ada pengkotak-kotakan lain dengan segala keterbatasan yang ada. Kelas-kelas trend itu pun dianggap berbeda. Ada yang bisa diterima semua lapisan, ada juga yang segmented dianggap lebih rendah atau lebih tinggi bagi sebagian orang. ‘The Legend Of Trio Macan’ ini sebenarnya sudah direncanakan sejak lama, memanfaatkan hype grup vokal itu dengan kesuksesan singel mereka ‘Iwak Peyek’ di awal tahun 2012. Dengan penggantian 2 personil, mungkin mereka juga ingin membersihkan image jelek yang sebelumnya membawa mereka di dua film horor, maaf, kacrut, ‘Darah Janda Kalong Wewe’ dan ‘Hantu Puncak Datang Bulan’. Sayangnya ada banyak kendala dari pemilihan rumah produksi dan konsep-konsep lainnya, sampai akhirnya Radikal Pictures yang kemarin memproduksi ‘Love Is You’ tetap maju dengan singel yang lebih pas dengan set ini, ‘Cicilalang’, yang gaungnya tak segede ‘Iwak Peyek’, dengan sisa hype yang sudah lumayan lama tertinggal di belakangnya.

TLM2

            Dengan naskah yang ditulis oleh Toha Essa (‘Sumpah, Ini Pocong’), penyutradaraannya diserahkan pada Billy Christian. As we all know, ekspektasi bagi film Indonesia pasca mati suri di tahun 90an dulu memang bukan lagi terletak pada star factor sebagai faktor terbesarnya, tapi lebih ke kredibilitas PH dan sutradara, termasuk orang-orang yang ada di belakangnya. Some may hit or miss, tapi ini adalah patokan yang lebih tepat di luar reaksi penonton yang terus masih berubah-ubah polanya. Dan apapun resepsi orang-orang terhadap ‘Love Is You’-nya Cherrybelle, film itu tetaplah hanya sebuah selebrasi trend, dengan production values yang jelas bukan sekelas dua film horor Trio Macan formasi awal tadi. Lagipula, Billy Christian, jelas punya nama yang cukup menjanjikan dibalik keseriusannya yang sudah kita lihat dalam salah satu segmen ‘Sanubari Jakarta’ dan ‘Hi5teria’. Dan konsep yang ada dibalik ‘The Legend Of Trio Macan’ sendiri memang dari awal terdengar tak main-main. Menghadirkan homage komedi ke film-film kung fu jadul di tengah set Cina Peranakan yang disyut di daerah Rembang dengan hutan serta lokasi eksotiknya, semua ini terdengar cukup menjanjikan. Lagi-lagi, pastinya, bila Anda memang mau menikmati selebrasi trend itu tanpa penggolongan-penggolongan kelas. Ini memang filmnya Trio Macan, yang jelas-jelas tujuannya jualan.

TLM7

            Di sebuah kampung Cina Peranakan, seratus tahun silam, tiga gadis peranakan ; Iva (Iva Novanda), Lia (Lia Ladysta), dan Chaca (Dian Aditya) menjalani takdir mereka menjadi pendekar Trio Macan berdasarkan sebuah ramalan. Madame Nyong (Neni Anggraeni) yang menjalankan tugas ini pun menampung mereka di sebuah usaha health spa tradisional, mendidik mereka menjadi lady escort jagoan. Mereka harus menghadapi Bu Beng Chot (Udin Penyok), ketua perguruan Biji Maut yang sebelumnya sudah memporak-porandakan kehidupan Iva. Pasalnya, untuk melenyapkan kutukan tubuh cebolnya, Beng Chot harus mencari perawan bertato macan yang harus dikawininya sebelum malam Imlek, dan Iva adalah sasarannya. Sekarang, dengan mantan kekasih Iva, A Yang (Rully Fiss) yang sudah berhasil ditarik ke kubu Beng Chot, bersama algojo-algojonya, perang pun berkecamuk dibalik takdir tiga pendekar itu.

TLM9

            Billy dan kru-nya, yang sayang tak punya detil nama dari press-release manapun, sebenarnya sudah mencoba membuat sebuah komedi yang tetap punya production values tak main-main di sisi teknisnya. Set kampung Cina Peranakan tahun 1900-an-nya tampil cukup luarbiasa, bersama tata kostum dan tata artistik yang sama baiknya. Kredit titelnya menarik, scoring bernuansa oriental dengan perpaduan beberapa adegan musikalnya juga terlihat cukup serius. Sayang usaha-usaha memunculkan koreografi fighting dan efek visual sayangnya sama sekali belum maksimal. But however, keseriusan untuk membuat tontonan yang cantik dan stylishly polished sesuai dengan latar set kuno itu sangat perlu mendapat pujian.

TLM6

            Selebihnya adalah kekonyolan yang memang menjadi template utama ‘The Legend Of Trio Macan’ dibalik komedi penuh homage ke film-film kung fu jadulnya. Walau jelas tak ada yang salah dengan pilihan plot itu, masalah utama dalam ‘The Legend Of Trio Macan’ adalah kegagalan dalam bangunan komedinya. Keterbatasan yang memang sangat terlihat ada di SDM pendukungnya, yang rata-rata hanya berusaha menjual kekonyolan lewat gestur-gestur slapstick yang di-overexploited. Dialog-dialog dalam skripnya juga terlihat berusaha tapi masih terasa kurang konsisten. Padahal pemilihan cast pendukungnya sebenarnya sudah cukup bagus untuk menutupi kekurangan Trio Macan sebagai fokus utamanya, termasuk Neni Anggraeni sebagai si Madame. Jadi begitulah. Dibalik production values yang digarap dengan keseriusan tinggi, lengkap dengan homage-homage yang juga terasa, Billy dkk agaknya melupakan porsi terpenting dalam genre sejenis ; penggarapan aksi dan komedinya. With only just a few jokes works, the rest failed to tickle. ‘The Legend Of Trio Macan’ hanya menyisakan good efforts diantara keterbatasan yang tak bisa ter-handle sama baiknya. Sayang sekali. (dan)

~ by danieldokter on May 7, 2013.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: