STAR TREK INTO DARKNESS : BOLDLY GO WHERE NO MAN HAS GONE BEFORE

STAR TREK INTO DARKNESS

Sutradara : J.J. Abrams

Produksi : Bad Robot Productions, K/O Paper Products, Skydance Productions, Paramount Pictures, 2013

STID11

            Atas dua kubu franchise petualangan klasik di tengah bintang yang kerap berseteru, katanya, ‘Star Trekis a cult. Sementara ‘Star Wars’, mainstream. Ah, I refuse to thought so. Dua-duanya jelas bisa kemana saja. Bisa mainstream, atau juga jadi cult dibalik pemujaan fanatik seabrek fans-nya yang bahkan kadang lebih dari sebuah reliji. Tapi jelas ada perbedaan signifikan diantara keduanya. WhileStar Wars’ lebih banyak bermain di teknologi dan seru-seruan, ‘Star Trek’, dari dulu sampai ke ragam series-nya, lebih mengutamakan sisi fiksi ilmiah terapannya. So, inilah yang jadi alasan utama mengapa J.J. Abrams ditarik ke reboot franchise teatrikalnya di tahun 2009. Abrams yang memang mengaku bukan Trekkies, sebutan untuk fans fanatik ‘Star Trek’, dan lebih cenderung ke ‘Star Wars’, diharapkan membawa keseimbangan ke tengah-tengahnya, bersama penulis Roberto Orci dan Alex Kurtzman yang sudah bekerjasama dengannya di ‘Alias’, yang memang adalah para Trekkies.

STID13

                 Hasilnya sudah kita saksikan. In any reboot history, J.J. Abrams’ ‘Star Trek’ jadi salah satu inovasi paling baik yang pernah ada. Reboot yang memang mengacak-acak habis template kreator asli Gene Roddenberry, tapi tak sekalipun meninggalkan respek besar dibaliknya. Being overly creative, Orci dan Kurtzman menghadirkan sebuah universe baru yang tetap dibangun di atas dasar Prime Universe semua instalmennya dengan teori-teori fisika kuantum yang diracik dengan sebuah konsistensi luarbiasa. Dan mereka tahu kekuatannya. Kini bersama Damon Lindelof, kreator ‘Lost’ yang lagi-lagi juga seorang Trekkies sekaligus produser reboot itu, berikut co-producer Bryan Burk dan Abrams sendiri yang bergabung ke dalam penulisan skripnya, they’re ready to raise every bars to this new voyage of the Enterprise.

STID10

            Okay, embel-embel ‘Into Darkness’ itu awalnya memang kedengaran sedikit ridiculous dan tak lazim. Banyak orang bahkan para trekkies sendiri menanggapinya dengan cemoohan. Tapi nanti dulu. Sejak 9 menit extended preview-nya di-bundling dengan versi IMAXThe Hobbit’ akhir tahun lalu, persepsi itu berubah. Isu-isu bahwa mereka membawa pengembangannya ke instalmen terbaik franchise bioskop orisinilnya, ‘Star Trek II : The Wrath Of Khan’ (1982) terlihat semakin jelas dengan kehadiran Benedict Cumberbatch sebagai sosok villain bernama John Harrison yang meninggalkan banyak jejak ke arah sana. A hunch that might came true, but trust me. Abrams dan tim-nya punya fokus lain yang jauh lebih besar dibalik dugaan-dugaan itu. Mostly for Trekkies yang hafal betul instalmen orisinilnya, dengan tetap menyisakan balance di sisi petualangan seru bagi para fans baru atau penonton yang baru mengenal universe baru dari reboot-nya di tahun 2009. In 3D dan IMAX 3D gimmicks, yang bukan sekedar produk-produk konversi tak berarti.

STID 5

            Starts with Enterprise’s observation going berserk in Nibiru Planet, usaha Captain James T. Kirk (Chris Pine) menyelamatkan nyawa Spock (Zachary Quinto) dengan melanggar aturan penting membuat semua tambah berantakan. Oleh Admiral Pike (Bruce Greenwood), Kirk diganjar penurunan pangkat dan Spock yang ngotot mempertahankan kebenaran laporannya dipindah ke USS (United Space Ship) lain. Namun serangan teroris John Harrison (Benedict Cumberbatch) ke pusat Starfleet di London membuat Kirk maju menawarkan diri pada Admiral Marcus (Peter Weller) untuk kembali ke Enterprise dengan torpedo spesial demi memburu Harrison ke planet Kronos, kediaman bangsa Klingon yang masih berperang dengan Federasi. Teknisi Montgomery ‘Scotty’ Scott (Simon Pegg) memilih mundur karena khawatir dengan efek torpedo itu bagi Enterprise, meninggalkan Kirk, Spock, Dr. Leonard ‘Bones’ McCoy (Karl Urban) bersama dua letnan-nya Hikaru Sulu (John Cho) dan Nyota Uhura (Zoe Saldana) serta navigator Pavel Chekov (Anton Yelchin) yang mengisi posisi Scotty. Seorang scientist wanita, Carol Wallace (Alice Eve) yang mengaku diutus Admiral Marcus ikut bergabung. Mendapati Harrison berbalik membantu mereka dari serangan Klingon bahkan kemudian menyerahkan diri sebagai tawanan Enterprise, Kirk dan timnya berhadapan dengan kasus jauh lebih pelik yang membuat masing-masing harus menggunakan intuisi mereka di tengah keselamatan awak Enterprise yang dijebak dalam sebuah intrik mematikan. Menyibak siapa sebenarnya Harrison, teroris dengan kekuatan jauh diatas mereka berikut otak di belakang semuanya, sekaligus mempertahankan persahabatannya dengan Spock dibalik permainan takdir yang berbalik akibat perjalanan waktu yang dilakukan penjahat Romulan, Nero (played by Eric Bana), sebelumnya.

STID 6

            You may admire any of ‘Star Trek Into Darkness’ powerful aspects, yang jelas-jelas hanya punya satu terjemahan dalam kelas gigantis production values-nya sebagai summer blockbuster dengan digdaya teknologinya. J.J. Abramslens flares. Set dan CGI visual effects lain dari ILM (Industrial Light And Magic) –nya George Lucas sebagai awal kerjasama dengan Abrams menuju kiprahnya di kelanjutan franchise ‘Star Wars’ nanti oleh supervisor visual efek Roger Guyett bersama timnya. Action serta petualangan super seru dibalik gimmick 3D serta IMAX treatment-nya yang luarbiasa memanjakan mata. Ensemble karakter-karakter legendaris dengan chemistry yang terasa makin erat meskipun ‘Into Darkness’ sangat menonjolkan bromance antara Chris Pine sebagai Kirk dan Zachary Quinto sebagai Spock secara jauh lebih dominan, among the entire enterprise crews. Benedict Cumberbatch yang begitu sempurna membawakan karakter villain mengerikan dengan detil gestur dan intonasi-intonasi yang sangat memorable dan akan menempel jauh setelah filmnya berakhir. Keikutsertaan bintang senior Peter ‘RoboCop’ Weller, Leonard Nimoy pemeran Spock asli, serta Alice Eve sebagai added babes-treat-nya.  Kick-ass quotes di dialog-dialog dan sempalan komedinya. Sinematografi Daniel Mindel yang sebelumnya jadi bagian di film-film Tony & Ridley Scott era ’90-an sebelum bergabung dengan tim Abrams. Editing Maryann Brandon dan Mary Jo Markey yang menjaga peningkatan intensitas pace-nya sepanjang durasi lebih dari dua jam. Scoring Michael Giacchino, tampilan para Nibirians dari Nibiru serta Klingons berikut wardrobes serta gadget-gadget klasik seperti communicators, phasers atau tricorders dengan inovasi baru namun tetap berpegang setia dibalik tie-ins penuh respek ke universe ‘Star Trek’ aslinya. Semua twist berlapisnya walaupun dari beberapa bulan lalu semua forum yang ada di dunia maya, if you followed them as well, sudah mengarah ke konklusi yang sama. Anything. Terserah. Dan mungkin masih banyak lagi.

STID 3

            But the best thing aboutInto Darkness’, adalah sebuah kekuatan konsep. Dari bangunan plot yang dirancang Abrams, Lindelof, Kurtzman dan Orci serta Burk dengan kecermatan tinggi, tak hanya ke Prime Universe ‘Star Trek’, tapi juga dengan konsistensi sangat terjaga ke alternate or parralel universe yang sudah mereka mulai dari instalmen reboot awalnya, mereka masih bisa menyisakan storytelling-nya sebagai standalone sequel yang tetap bisa dinikmati dengan seimbang bahkan bagi non-Trekkies dan penonton yang baru mengenal karakternya dari versi 2009. Judulnya boleh saja ‘Into Darkness’ karena hampir semua karakternya di-push ke ujung-ujung edgy resiko terberat mereka, namun tone-nya tak lantas tergelincir jadi kelewat serius. Membawa semua pengembangannya ke level yang lebih dan lebih lagi, Abrams yang kabarnya juga terinspirasi sebuah thriller underrated tahun 1989 yang punya heart factor berlebih, ‘An Innocent Man’-nya Peter Yates yang dibintangi Tom Selleck dan David ‘Sledgehammer’ Rasche, seolah membalik tiap bagian penting skrip dari sekuel orisinal tahun 1982 yang paling fenomenal dalam franchise layar lebarnya itu dengan konsep butterfly effects, quantum physics dan games of faith yang terus berlanjut dengan taktis menuju twist berlapis di konklusi akhirnya. All that you guessed may be right as easy, but there will be more and more than just that. So there you go. Apapun alasannya, J.J. Abrams sudah membawa sekuel ini sebagai salah satu kandidat summer blockbuster terbaik tahun ini. They just raised every bars bigger and better to this legendary franchise. Boldly go where no man has gone before! (dan)

STID12

~ by danieldokter on May 13, 2013.

3 Responses to “STAR TREK INTO DARKNESS : BOLDLY GO WHERE NO MAN HAS GONE BEFORE”

  1. […]  4.      STAR TREK INTO DARKNESS […]

  2. […] STAR TREK INTO DARKNESS – Roger Guyett, Patrick Tubach, Ben Grossmann and Burt Dalton […]

  3. […] STAR TREK INTO DARKNESS – Roger Guyett, Patrick Tubach, Ben Grossmann and Burt Dalton […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: