SNITCH : A TATTLETALE’S TALE

SNITCH

Sutradara : Ric Roman Waugh

Produksi : Exclusive Media, Participant  Media, Image Nation, Summit Ent, 2013

snitch

            Meski sudah membuktikan karirnya di sederet film komedi, dibalik sosok gede dan karir awalnya sebagai wrestler, Dwayne Johnson aka ‘The Rock’, memang tak bisa jauh-jauh dari film aksi. Di satu sisi, tentu bagus, karena arus mainstream Hollywood, in the name of blockbusters, sekarang makin kekurangan action heroes. Tapi di sisi lain, terlebih bagi para penonton kritis, ini bisa lama-lama jadi membosankan. Lepas dari ‘The Mummy’, The Rock sudah bertengger di dua franchise raksasa mereka. ‘Fast And Furious’, dan yang baru saja berlalu, ‘G.I. Joe’. ’Snitch’ adalah film action-nya dalam skala lebih kecil. Tapi bukan berarti tak punya kekuatan. Digarap oleh mantan stuntman kawakan Ric Roman Waugh (previously known as Ric Waugh), dari film-film bermuatan aksi cukup dikenal seperti ’Lethal Weapon 2’, ’Tango And Cash’, ’Total Recall’, ’Hard Target’, ’The One’ hingga ’Gone In 60 Seconds’, skripnya ditulis oleh Justin Haythe dari thriller Robert Redford-Willem DafoeThe Clearing’ dan ’Revolutionary Road’-nya Sam Mendes. Dan kehadiran Susan Sarandon dalam salah satu jajaran cast-nya juga turut mengangkat kelas film ini . Sekilas, ia memang kelihatan menjanjikan.

SN1

            Inspired by true events, katanya, ’Snitch’ yang berlatar perseteruan drug cartel dan intrik hukum dalam kampanye anti narkoba mengarahkan dramatisasinya ke hubungan ayah dan anak antara John Matthews (Dwayne Johnson), pemilik perusahaan konstruksi dan putranya Jason (Rafi Gavron). John yang sudah sejak lama berpisah dengan istrinya, Sylvie Collins (Melina Kanakaredes) dan membina keluarga baru dengan Analisa (Nadine Velazquez) dan putri kecil mereka dianggap Jason tak pernah memperhatikan mereka. Hingga Jason terjebak dalam sebuah ’sting operation’ yang dirancang penegak hukum demi menjaring para pengedar narkoba, John terpaksa turun tangan. Sebagai imbalan permintaan hukuman minimum Jason selama 10 tahun, ia menawarkan diri pada jaksa ambisius Joanne Keeghan (Susan Sarandon) yang tengah berjuang memenangkan kursi pemilihan di Kongres dengan kampanyenya, masuk ke tengah-tengah kartel narkoba Juan Carlos Pintera aka El Topo (Benjamin Bratt) dibawah pengawasan Agent Cooper (Barry Pepper). Menggunakan pegawainya yang punya catatan kejahatan narkoba masa lalu, Daniel James (Jon Bernthal), John lantas memulai misinya sebagai kurir untuk Malik (Michael Kenneth Williams), seorang pengedar lokal. When the stakes got high, nyawa pun jadi taruhannya. Semua demi kebebasan Jason.

SN2

            Menggabungkan father to son drama ke tengah-tengah drug war action yang penuh intrik, dengan pemeran-pemeran pendukung yang lumayan gede pula, ’Snitch’ yang di bioskop kita dibubuhi subtitel ala kamus secara konyol, ’Orang Yang Menginformasikan Sesuatu Kepada Orang Lain’ ini, jelas punya potensi sebagai film action yang tak sekedar menonjolkan aksi. MeansTattletale’, ’Rat’, or ’Informer’ as their slang, latarnya mungkin tak lagi baru, secara tema-tema informan rahasia ini juga sangat lekat ke film-film sejenis. Namun meski bagi sebagian orang bisa terasa sangat ridiculous dan agak terburu-buru di bagian finalnya, skrip Justin Haythe cukup jeli menggali sisi-sisi intrik drug war antara kartel dengan hukum dibalik kepentingan kampanye dan election, sedikit informasi penting tentang ’sting operation’ yang didukung undang-undang disana, juga dari interaksi multikarakter dan tak melulu menggeber adegan aksi.

SNITCH

          Walau tak dengan kualitas award, Susan Sarandon memerankan local attorney Keeghan dengan menarik, dan masih ada Barry Pepper dengan tipikal akting kerasnya bersama Benjamin Bratt yang sudah cukup lama tak muncul di layar lebar. Namun the real scene stealer disini adalah Jon Bernthal. Biasa muncul sebagai supporting cast kurang penting termasuk sebagai Al Capone di ’Night At The Museum 2’ aktor yang makin naik daun sejak kiprahnya di ’The Walking Dead’ ini berhasil mencuri perhatian di tiap scene termasuk penggalian karakternya juga sebagai orangtua yang berjuang demi keluarga. Sebagai Malik yang lebih bekerja menjadi villain dengan ekspos lebih ketimbang Bratt, Michael Kenneth Williams yang lebih dikenal lewat serial-serial teve juga bermain bagus.

SN1A

            Sayangnya, satu faktor terpenting dalam plot itu, father to son theme, yang seharusnya bisa memberikan keseimbangan lewat dramatisasi yang menyentuh sebagaimana film-film aksi lain dengan subtheme yang sama, tak berhasil dibawakan oleh Dwayne Johnson. Dengan aktingnya yang superflat, bahkan lebih parah ketika ia menjajal peran-peran komedi, Johnson malah hanya menampilkan ekspresi mesam-mesem seolah terpaksa ketika skrip menuntutnya tampil penuh emosi. Akting yang bisa dibilang cukup merusak bangunan dramatisnya. Chemistry-nya, baik dengan Rafi Gavron, pemeran putranya, Jason, ataupun dua pemeran wanitanya juga jadi terasa benar-benar mentah hingga ke bagian-bagian akhir. Sementara dalam beberapa scene penting bersama Bernthal, ia juga gagal mengimbanginya. Aksi Johnson hanya bekerja di sekitar 10 menit klimaks truck chasing scenes yang tak bisa dipungkiri, berjalan sangat seru. Apa boleh buat, ‘Snitch’ akhirnya hanya menyisakan final showdown itu plus penampilan Jon Bernthal yang dengan intens men-tackle motivasi karakternya. Ini bisa jauh lebih baik, tapi kenyataannya tidak. Sayang sekali. (dan)

SN6

~ by danieldokter on May 16, 2013.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: