OPTATISSIMUS : OFF THE BEATEN PATH AND UNAVOIDABLY PREACHY

OPTATISSIMUS (DOA PERTAMA)

Sutradara : Dirmawan Hatta

Produksi : Flix Pictures, 2013

OPT9

            Ah. Di luar segmentasinya, in religious ways, mungkin banyak orang yang bingung, baik dengan judul dan perilisannya yang adem-ayem saja tanpa promosi meluas. As a superlative dari kata latin ‘Optatus’, means desire, doa atau keinginan, judul latin ini dibandrol subjudul ‘Doa Pertama’. So yes, sesuai idenya yang terinspirasi dari pengalaman spiritual tokoh gereja / pendiri Gereja Bethany Indonesia, Pdt. Abraham Alex Tanuseputra atas sebuah musibah yang kemudian membulatkan tekadnya jadi seorang pelayan Tuhan, ‘Optatissimus’ memang ada di segmentasi film reliji Kristen. Satu yang sangat jarang ada di film kita, dari dulu hingga sekarang, sekaligus sebenarnya sangat diperlukan dalam membangun keberagaman sudut pandang dalam genre itu. Toh tak ada bedanya dengan film-film reliji lain, meski idiom-idiom atau ikon dalam visual dan penggunaan bahasa bisa jadi akan sangat segmented, pesannya sama-sama mengajarkan kebaikan. Bedanya, ‘Optatissimus’ memang dibangun secara lebih terus-terang dalam genre itu. Tetap ada subplot-subplot, namun tak sampai mendistraksi lebih untuk kepentingan jualan semata. Tapi bukan berarti ini tak punya resiko buat jadi sebuah khotbah dengan latar visual.

OPT1

         Dan Dirmawan Hatta, yang baru memulai debut penyutradaraan sekaligus menulis naskahnya, juga bukan orang baru di perfilman kita. Sebagai penulis, ia sudah menghasilkan ‘Dealova’ dan ‘May’ dari PH yang sama, lantas ada ‘Keumala’ yang memang agak salah kaprah dalam memuat info medis di penyusunan plotnya,  serta dua yang paling baik, ‘The Mirror Never Lies’ dan ‘King’. Stay true to its purpose, Dirmawan memang tak melarikan naskahnya kemana-mana. Sebagian inspirasi dari kisah hidup Pdt. Alex itu dituangkannya ke gambaran penuh metafora, paradoks, alegori, atau apapun Anda menyebutnya. Lewat dialog karakter-karakternya yang poetical, bertabur voiceover dan visual-visual set yang cenderung mengarah ke sebuah arthouse berisi perumpamaan yang mau tak mau akan membutuhkan tafsir yang akan jauh lebih terserap oleh segmentasinya. So yes, again, this is unavoidably preachy, tapi jelas tak salah. Dalam koridornya sebagai religion movie yang lebih pure, ‘Optatissimus’ bahkan lebih terus terang dari ‘The Tree Of Life’ sekali pun. The rest, is your choice. Tapi lagi, sesekali tentu tak ada salahnya menikmati sudut pandang beda tanpa pikiran-pikiran sempit ke sebuah indoktrinasi. Sepanjang punya tujuan baik, mau apapun cercaan-cercaan dibalik kehidupan seorang pendeta yang jadi kenyataan juga di nyinyir-nyinyiran masyarakat kita, ia jelas tak salah.

OPT2

            Berbeda dengan istrinya, Yunita (Nadhira Suryadi), mantan pemain akordion yang kini bekerja sebagai seorang sales mobil, Andreas (Rio Dewanto) bukanlah sesosok manusia relijius. Ini membuat rumahtangga mereka semakin renggang, belum lagi ditambah dengan kesulitan ekonomi yang membuat Andreas harus menggadaikan mobil kesayangannya. Ketika ia berhasil menebus kembali mobil itu, sebuah musibah yang sama-sama mempertaruhkan jiwa orang lain dan jiwanya, justru datang ke hadapannya. Satu-satunya tempatnya mengadu adalah Piet (Landung Simatupang), seorang koster gereja tempat Yunita beribadah. Lewat petunjuk Piet, di sebuah malam panjang itu, Andreas mulai melihat balik tanda-tanda yang ada dalam kehidupannya selama ini. Bukan dengan mata, tapi dengan rasa.

OPT6

            Menyatu dalam gagasan itu, ‘Optatissimus’, yang bagi sebagian orang malah punya potensi menjadi sebuah hidden gem dalam sinema kita, memang punya aspek-aspek penggarapan yang sangat baik. Mengantarkan interaksi karakter dan plotnya yang juga bisa dibilang sangat minimalis, sinematografi Joseph Fofid dari ‘Dealova’ dan ‘Rindu Kami PadaMu’ datang dengan shot-shot cantik yang meski kerap bergerak sangat perlahan namun tak hanya ikut bicara dibalik metafora dan perumpamaannya, juga bekerja di scene-scene panoramik tanpa meninggalkan esensinya. Tata suara dari Adityawan Susanto dan scoring dari Rizky Sasono yang juga sama minimalis dengan dentingan pianonya juga menyatu dengan baik. Seluruh cast-nya bermain cukup baik, dari terutama aktor-aktor panggung Landung Simatupang, Gunawan Maryanto, pemeran si orang gila terpasung dalam kandang di tengah danau, dan Rossa Rosadi yang sebelumnya sudah kita lihat dalam ‘Mata Tertutup’ dan ‘Soegija‘, yang tampil relevan dengan sisi penceritaannya. Rio Dewanto dan Nadhira Suryadi sendiri terlihat sangat natural. Salah satu adegan terkuat yang menampilkan interaksi Rio dengan Rossa di tengah shot-shot close-up yang intens serta menakutkan juga jadi highlight cukup luarbiasa dalam ‘Optatissimus’, bersama gambaran sebuah penyerahan batin secara simbolis di endingnya yang kuat.

OPT7

            Tapi bukan berarti ‘Optatissimus’ tak punya kekurangan. Nanti dulu soal kecenderungannya menjadi segmented dan sebagian ketidakmungkinan menghindari pesan-pesan preachy yang memang membuat penontonnya seolah sedang mengikuti khotbah dari pemuka agamanya, yang membuat penonton di luar reliji yang dibahas bisa jadi akan merasa kurang nyaman. Kekurangan terbesar ‘Optatissimus’ adalah pilihan back and forth storytelling Dirmawan yang tak diimbangi dengan kejelasan visual lewat tampilan kostum dan tata rias-nya. Walau ini biasanya jadi faktor-faktor tricky dalam sebuah arthouse untuk memancing pemahaman lebih bagi penontonnya, tapi dalam genre sejenis yang menaburkan pesan-pesan keTuhanan seperti ini, bangunan emosi seharusnya bisa bekerja sama kuat dengan isi khotbah-nya. Toh tujuan akhirnya bukan hanya ingin menggambarkan kisah hidup source-nya, tapi lebih dari itu, mengajak penonton ikut merasakan pengalaman spiritual yang ada di dalamnya.

OPT5

            So, jauh dibalik tone filmnya yang sekilas terlihat kelewat hening hingga membuat banyak penonton awam yang tak mengenal source inspiratif dan sisi relijinya cenderung memilih walkout sebelum film selesai, dengan anggapan-anggapan melelahkan atau membosankan untuk menunggu konklusinya, apa yang dibahas dalam ‘Optatissimus’ sebenarnya sangat dalam. Pendekatan ide dan storytelling-nya boleh jadi eksperimental, tapi di lain sisi juga tak biasa dan tergolong unik, dan dalam memberi warna bagi perfilman kita, ia berhak dihargai lebih. Off the beaten path and unavoidably preachy, tapi sama sekali tak berarti jelek. (dan)

OPT11

~ by danieldokter on May 25, 2013.

One Response to “OPTATISSIMUS : OFF THE BEATEN PATH AND UNAVOIDABLY PREACHY”

  1. […] ini. reaksi saya: bagus dan positif. Itu opini saya. Jika ingin membaca opini yang lainnya: [ini], dan […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: