PINTU HARMONIKA : THE LIFE NEXT DOOR ANTHOLOGY

PINTU HARMONIKA

Sutradara : Ilya Sigma, Luna Maya, Sigi Wimala

Produksi : 700 Pictures, 2013

PH8

            In movie terms, katanya, salah satu cara terbaik untuk menyampaikan berbagai macam ide dalam satu kesatuan adalah lewat bentuk omnibus. But more than that, film-film omnibus ini memang punya banyak sisi unik yang membuat baik filmmaker dan penontonnya bisa mengeksplorasi lebih. Things that tied together by particular ideas. And way beyond that, adalah trend yang membuatnya makin subur. ‘Pintu Harmonika’ yang datang dari 700 Pictures setelah kiprah mereka di ‘Catatan (Harian) Si Boy’ tempo hari adalah sebuah omnibus dengan tiga sutradara debutan yang juga sudah dikenal dalam karir film mereka. Ilya Sigma, yang menulis skrip ‘Catatan (Harian) Si Boy’, Luna Maya dan Sigi Wimala. Atas ide dari Ginatri S.Noer bersama novelis Clara Ng yang lantas dikembangkan oleh tim PlotPoint-nya Gina sebagai supervisi, benang merahnya simpel. Pintu harmonika itu memang jadi simbol ruko yang dijadikan similaritas setting tentang sebuah ide seputar kids dan parents dibalik lantai-lantai yang berisi esensi berbeda, tapi lebih dari itu, this is about life, and overall, love. Keunikan lebih justru datang dari tiga genre berbeda untuk merangkainya jadi satu. Ada suka, ada duka.  Just like life itself.

            So, inilah gambaran kehidupan berbeda dibalik tiap warna-warni pintu ruko-nya. Ruko pertama dengan segmen berjudul ‘Otot’ mengisahkan hubungan ayah dan anak laki-lakinya. Firdaus (Donny Damara), duda yang mengelola toko kelontong kecil-kecilan tak pernah menyangka putranya yang selama ini akrab bagaikan kakak dan adik dengannya, Rizal (Fauzan Nasrul) jadi punya masalah dengan kritis identitas dalam pergaulan sosialnya. Di sekolah, lewat sosok yang dibangunnya di dunia maya, Rizal menjelma jadi cowok populer yang all-rounder. Tapi ia mulai menyadari semua kala mulai jatuh cinta dengan Cynthia (Karina Salim), siswi cantik yang mandiri dibalik bantuan yang ditawarkan Rizal untuk penggalangan dana sebuah kompetisi tari sekolah. Di satu sisi, identitas maya itu memang berhasil menarik hati Cynthia, namun resikonya justru ada pada hubungan Rizal dan Firdaus.

PH1

            Disutradarai oleh Ilya Sigma dari skrip besutan Piu Syarif, ‘Otot’ menawarkan tone rom-com yang ceria sebagai pembuka yang juga disisipi dengan adegan musikal dan dance yang cantik. Paparannya tentang karakter Rizal, fanatisme-nya dengan sosok Bruce Lee dan dunia social media dibalik hubungan ayah dan anak laki-lakinya hadir sebagai dayatarik lebih yang menarik. Chemistry antara Fauzan Nasrul, masing-masing dengan Donny Damara dan Karina Salim juga sangat kompak. Pembuka yang asyik untuk menggelar benang merahnya.

PH3

            Ruko kedua dengan judul segmen ‘Skors’ mengisahkan hubungan ayah dengan anak perempuannya. Juni (Nasya Abigail), siswi SMP yang punya hubungan tak akrab dengan ayahnya, Niko (Barry Prima), pemilik usaha sablon yang dianggapnya tak pernah punya waktu untuknya. Sementara ibunya (Inong Nidya Ayu) juga sibuk bekerja kantoran untuk menyokong keluarga. Pelampiasan Juni dilakukannya dengan tindakan bully di sekolah, namun saat sasarannya adalah putri seorang customer (Verdi Solaiman) yang diharapkan Niko untuk mencegah kebangkrutan usahanya, semuanya jadi tambah berantakan.

PH11

            Dari skrip M. Rino Sarjono, penyutradaraan Luna Maya cukup efektif membelokkan tone-nya ke sebuah drama yang membahas isu lebih serius tanpa harus jauh-jauh menempuh storytelling non-linear. Nasya Abigail bermain cukup baik sebagai Juni, namun Barry Prima-lah yang paling bersinar sebagai ayah yang harus menghadapi isu coming of age putrinya dibalik masalah-masalah finansial usaha keluarga. Dibalik postur gedenya, ekspresi Barry tak sekalipun terlepas jadi kelewat emosional, tapi tetap menyimpan kekecewaan dan gestur serba salah seorang ayah yang tak dipandang lebih oleh anak perempuan yang tetap disayanginya. Segmen yang sama baik dalam kapasitas-kapasitas berbeda dengan segmen awal, sekaligus menunjukkan potensi cukup besar buat Luna sebagai sutradara.

PH6

            Ruko ketiga, segmen berjudul ‘Piano’, mengisahkan hubungan single mother, Imelda (Jenny Zhang) dengan anak laki-laki kecilnya, David (Adam Putra Pertama). Demi menghidupi David yang masih SD kelas 3 dan rajin berlatih piano, tetap jadi ibu yang sempurna untuknya, Imelda berjualan kue yang dinamakannya kue malaikat. Usahanya cukup berkembang lewat pemasaran social media, namun belakangan ini menurun karena ia tak lagi punya senyum untuk dibubuhkan pada kue-kuenya, atas jarak yang timbul diantara David dan dirinya. Keanehan-keanehan yang mereka alami di rumahnya mulai perlahan menjelaskan apa yang ada dibalik semuanya.

PH4

            Disutradarai oleh Sigi Wimala berdasar skrip Bagus Bramanti, ‘Piano’ menjadi segmen terkuat diantara ketiga segmen ‘Pintu Harmonika’. Berbeda dengan ‘Otot’ dengan genre romcom dan ‘Skors’ yang lebih ke drama, ‘Piano’ membawa ragam genre-nya dengan perubahan yang cukup jauh melenceng dalam feel-nya, meski tetap menyentuh dan berisi salah satu konklusi inti lewat filosofi tuts hitam dan putih piano, which I won’t tell you in details. Jenny Zhang, model turned actress yang sebelumnya kita lihat lewat ‘May’ dan ‘Karma’ membawa ekspresi melankolis cukup terjaga dalam karakternya sebagai Imelda.

PH2

            So, inilah ‘Pintu Harmonika’. Penggarapan yang meski membawa tiga sutradara debutan, tapi juga didukung tim yang tak main-main. Sinematografi cantik itu dibesut oleh DoP senior Roy Lolang, yang jelas paling dikenal lewat kiprahnya di ‘Ada Apa Dengan Cinta?’ dan ‘Quickie Express’ dan sebentar lagi, ‘Laura & Marsha’, lantas ada editing Cesa David Luckmansyah, tata suara dari Khikmawan Santosa, tata artistik yang cukup baik dari  Okie Yoga Pratama dan Yakobus Dimas Aryo Prabowo serta scoring bagus dari Aghi Narottama dan Bemby Gusti yang masuk dengan pas ke masing-masing genre berbeda tadi. Masih ada juga dua theme song keren dari AndienBernyanyi Denganmu’ dan Frida Tumakaka dengan ‘Enigma’, serta cameo dari Shelomita dan Abimana Aryasatya, yang sangat menarik buat dibahas lebih setelah menontonnya.

            Lebih dari itu, kekuatannya sebenarnya ada di pendekatan omnibus yang cukup tak biasa. Biarpun mungkin akan mendistraksi penontonnya lewat tampilan trailer yang serba ceria dan penyusunan ketiga segmennya beresiko kurang disukai sebagian penonton, ‘Pintu Harmonika’ sudah tampil dengan berani dengan konsepnya. Everybody and everyday stories. Our life next doors. About kids, parenting and family dibalik beda-beda tingkat kesulitan dan isu-isu sosialnya, dengan metafora-metafora yang ada bersama ruko dan pintu yang memerlukan usaha lebih untuk membukanya bersama-sama. Ide yang sangat cemerlang, and most of all, it offers hope when life’s at its worst. Now go open that door with your loved ones, and see this in theatres! (dan)

~ by danieldokter on May 26, 2013.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: