EPIC : BEAUTIFULLY ANIMATED, BUT NOT PERFECTLY CRAFTED

EPIC

Sutradara : Chris Wedge

Produksi : Blue Sky Studios & 20th Century Fox Animation, 2013

EP9

            Beyond animation trends, studio-studio animasi memang dituntut untuk terus melakukan inovasi dalam tema-nya. Fox dengan Blue Sky Studios, sebagai salah satu pemain terdepan setelah kesuksesan ‘Ice Age’ bersama Pixar dan Dreamworks, kini mengangkat buku anak-anak besutan William Joyce, ‘The Leaf Men And The Brave Good Bugs’ ke animasi terbaru mereka. Jungle life sets mungkin sudah banyak, but ones behind father and daughter relationships, in biological science, ide ceritanya memang tergolong sangat unik dan mungkin belum pernah diangkat sebagai latar cerita animasi-animasi sejenis.

EP6

            Ini tentang dekomposisi organik, pembusukan biota hutan dan interaksi mikroorganisme yang dipindahkan ke metafora epic action-adventure para makhluk hidup fantasinya. Sempat berpindah ke Pixar dan John Lasseter sebelum akhirnya kembali ke Fox, ‘Epic’ yang datang dari ide Chris Wedge (‘Ice Age’) berdasar buku Joyce itu juga punya satu dayatarik lain dengan masuknya beberapa musisi seperti Beyoncé Knowles, Pitbull dan Aerosmith’s Steven Tyler, ke susunan voicecast yang seperti biasa juga menempatkan kekuatannya di nama-nama terkenal. Official trailer dengan soundtrack anthem ‘The Lightning Strike (What If This Storm Ends?)’-nya Snow Patrol juga sudah terasa epik dibalik visual 3D menjanjikan, tak kalah dengan ‘Legend Of The Guardians : The Owls Of Ga’hoole’ tempo hari. But what about the whole movie?

EP3

            Lies deep in the jungle, hutan ternyata merupakan sebuah kerajaan yang dipimpin oleh seorang ratu bernama Tara, Queen Of The Forest (Beyoncé Knowles). Musuh mereka adalah makhluk pembusuk lewat tembakan panah mereka, called The Boggans, yang dipimpin oleh Mandrake (Christoph Waltz) bersama Jendral sekaligus putranya, Dagda (Blake Anderson). Sebagai pertahanannya, ratu memiliki pasukan bernama The Leafmen dibawah komando tangguhnya, Ronin (Colin Farrell), yang selama ini berjuang melindungi makhluk hutan dari kematian mereka. Professor Bomba (Jason Sudeikis), ilmuwan eksentrik yang sudah lama menghabiskan waktunya menyelidiki kehidupan mikro ini hingga kehilangan keluarganya tak bisa menolak ketika putrinya, Mary Katherine a.k.a. M.K. (Amanda Seyfried) datang menyambangi sepeninggal sang ibu. Selagi mencoba membina hubungan baru mereka, hutan ternyata berada dalam keadaan bahaya. Tara yang selama ini mencintai Ronin sejak kecil namun terbentur perbedaan kelas dengan kode prajuritnya, terpaksa mengorbankan diri dalam sebuah serangan Mandrake dan The Boggans yang mengamuk atas kematian Dagda, membawa jantung hutan (The Pod) untuk segera diselamatkan. M.K. yang masuk ke hutan mencari anjingnya, Ozzie, secara tak sengaja menjadi pemilik barunya. Berubah menjadi makhluk mini, M.K. pun terseret dalam petualangan barunya. Menyelamatkan hutan bersama para Leafmen, Ronin dan murid pembangkangnya, Nod (Josh Hutcherson) yang juga saling jatuh cinta dengan M.K., sekaligus harus meyakinkan Bomba yang tengah mencari M.K. dibalik kebenaran hipotesis penelitian panjang itu.

EP5

            Satu faktor terunggul dalam ‘Epic’, yang tampil se-epik pilihan judul itu, adalah animasi Blue Sky Studios dibawah arahan Chris Wedge yang tampil begitu cantik dalam penggambaran fable and epic adventure-nya. Metafora biologis itu muncul dengan solid lewat karakter-karakter Leafmen, Queen Of The Forest, makhluk-makhluk hutan dan The Boggans sebagai villain. Karakter M.K. dan Bomba, ayahnya juga jadi kombinasi yang menarik ke ceritanya. Adegan aksi dan war scenes-nya pun tak kalah seru dengan animasi sejenis, bahkan film-film live action. LikeFerngully : The Last Rainforest’ –nya Don Bluth yang dikombinasikan dengan ‘James Camerons Avatar’, dua film yang diakui Wedge jadi inspirasinya mengembangkan buku Joyce dengan inovatif, ‘Epic’ benar-benar menunjukkan keunggulan Blue Sky dalam meracik sebuah blockbuster animasi. Voicetalents-nya pun tak main-main. Dari Amanda Seyfried, Jason Sudeikis,  Josh Hutcherson, Colin Farrell, Christoph Waltz duo komedian Aziz Ansari dan Chris O’Dowd serta tiga musisi termasuk Beyoncé yang mengisi theme songRise Up’-nya bersama Sia, semua memberikan sentuhan cukup baik pada karakternya.

EP4

            Namun sayangnya, Wedge juga terbentur pada kepentingan itu. Bahwa bersama penulis skrip keroyokan James V. Hart, Daniel Shere, Tom J. Astle, Matt Ember serta sang kreator, William Joyce sendiri, membawa cerita yang sangat kental dengan biological science dan diracik penuh pameran aksi, ia tak bisa lagi berkompromi secara maksimal dengan fun factor dari sisi komedi-nya sebagai animasi tontonan segala umur. Selain beberapa distraksi kelewat dewasa dengan deceased characters yang mau tak mau harus digambarkan tanpa pertimbangan bagi pemirsa belia, penambahan beberapa karakter yang harusnya bisa mencairkan keseriusannya lewat komedi-komedi yang lebih universal pun terpaksa sangat dibatasi. Penampilan Steven Tyler sebagai Nim Galuu, Pitbull sebagai Bufo, serta Aziz Ansari – Chris O’Dowd sebagai duo snail Mub & Grub yang bertugas membawa sisi komedinya, walaupun tetap menarik tetap tak bisa membawanya sedikit lebih mendominasi.

EPIC

            Dan lebih dari itu, yang paling disayangkan adalah gimmick 3D-nya. As an animated 3D feature, bukan produk-produk konversi live action, 3D dalam ‘Epic’ memang tak sampai tak berfungsi, namun masalahnya, keseimbangan depth dan popped-up scenes-nya benar-benar tak tergarap dengan maksimal. Kedalaman 3D-nya dalam set mystical jungle itu bagus, tapi tak sekalipun gimmick itu terlihat kelewat menonjol ke luar, dan hampir tak ada pula highlight scenes buat menonjolkannya. Padahal, semua pasti bisa membayangkan potensi yang ada hanya dengan melihat adegan-adegan dalam versi 2D-nya. Panah-panah melayang, Tara’s magical scenes, any war scenes between The Leafmen and The Boggans, bahkan kekacauan di ruang riset Professor Bomba, semua hampir tak memberikan efek popped-up pada penggunaan 3D-nya.

EP2

            So, inilah ‘Epic’. I’m sure, tak ada yang bisa memprotes keindahan animasi dalam menggambarkan set dan karakterisasi itu. Ide-ide yang memuat metafora biologis organisme hutan itu juga luarbiasa hebatnya. Storytelling-nya, meskipun kerap kelewat serius, tapi masih tergolong cukup lancar dengan sisi adventurous dan action scenes yang fun dibalik scoring Danny Elfman yang tetap bagus seperti biasa. Namun sayang dalam penggarapan keseluruhannya, mereka gagal memberi keseimbangan dalam porsi yang sebenarnya mutlak diperlukan berada dalam balance yang baik buat sebuah blockbuster animasi. Fun factor dalam komedinya tertinggal jauh di belakang, dan gimmick 3D-nya, sekali lagi bukan jelek, namun tak maksimal. Bright ideas, beautifully animated, but overall, not perfectly crafted. Sayang sekali. (dan)

EP11

~ by danieldokter on May 29, 2013.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: