SANG KIAI : BIOPIK SEJARAH DENGAN PENYAMPAIAN SANGAT POP

SANG KIAI

Sutradara : Rako Prijanto

Produksi : Rapi Films, 2013

SK17

            Kita masih perlu film-film tentang tokoh-tokoh sejarah perjuangan bangsa lebih banyak lagi, itu benar. Namun lagi, ini adalah pilihan, terlebih dalam keadaan sinema kita sekarang, dimana penonton cenderung lebih tertarik dengan penggambaran sejarah dengan latar melodrama cinta ketimbang pesan-pesan lain. Maka disitulah ‘Sang Kiai’, yang kabarnya sudah disiapkan bertahun-tahun ini, tentang kisah hidup K.H. Hasyim Asy’ari, tokoh pendiri NU (Nahdathul Ulama) yang digelari Hadratus Syaikh (Maha Guru) dalam perjuangan menegakkan kemerdekaan Indonesia dari sisi keagamaan, memilih jalan tengahnya. Resikonya, adalah sebuah penyampaian yang sangat pop dan menjual. Dalam konteks film, apa ini salah? Oh, belum tentu juga.

SK2

            Merentang kisahnya dari tahun 1942 di masa ekspansi Jepang ke Indonesia khususnya Jawa hingga menjelang Agresi Militer Belanda I tahun 1947, konfliknya bermula dari penangkapan K.H. Hasyim Asy’ari (Ikranagara), pimpinan Pondok Pesantren Tebu Ireng yang dituduh menentang pemerintah Jepang. Putra-putra Hasyim, Wahid (Agus Kuncoro), Karim (Boy Permana) dan Yusuf (Dayat Simbaia) berikut tiga santri muda Harun (Adipati Dolken), Kamid (Royhan Hidayat) dan Abdi (Ernest Samudera) mempertahankan situasi pesantren yang kacau sementara perjuangan para santri di lokasi lain terus berkecamuk. Nyai Kapu (Christine Hakim), istri Hasyim diungsikan ke daerah Denaran. Usaha Wahid dan Wahab Hasbullah (Arswendi Nasution) meminta Hasyim dibebaskan bersama Kiai lain awalnya tak langsung menuai hasil hingga akhirnya Jepang mempertimbangkan bekerjasama dengan para Kiai ini.  Hasyim bahkan didudukkan sebagai ketua Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia) yang kemudian diperalat lewat program melipatgandakan hasil bumi untuk kepentingan Jepang, hingga menimbulkan perpecahan dengan Shumubu (Departemen Agama), juga dengan Harun yang memilih keluar dari pesantren setelah Kamid dan K.H.Zainal Mustafa (Iyang P Project) juga menjadi korban. Namun Hasyim terus berjuang dengan cara diplomasi, menerima ajakan Jepang untuk memegang jabatan ketua Shumubu sekaligus demi meningkatkan pengaruhnya, termasuk pembentukan Laskar Hizbullah untuk para santri. Perjuangan ini mulai menampakkan hasil hingga NU membuat Resolusi Jihad melawan tentara sekutu selepas kekalahan Jepang di Surabaya 10 November 1945. Namun perjuangan mereka belum berhenti disana.

SK5

            And a biopic, is a strong vehicle untuk performa aktornya. Great showcases untuk pemilihan aktor yang tepat. At least, ‘Sang Kiai’ meletakkan potensi itu dengan tepat pada Ikranagara, aktor senior yang tentu sudah tak diragukan performanya. Dan masih ada pula Christine Hakim dan Agus Kuncoro meski masih sebatas pendamping. Rako Prijanto, dalam penyutradaraannya juga menunjukkan peningkatan cukup drastis dibanding film-film komedi nyelenehnya yang biasa, dengan dukungan production values tak main-main dalam bangunan set dan unsur sinematis lainnya. Sinematografi dari Muhammad Firdaus, tata artistik dari Frans X.R. Paat, tata kostum dan rias masing-masing dari Gemailla Gea dan Danny Boris Saragi, hingga scoring dari Aghi Narottama yang muncul dengan megah memberi penekanan ke pengadeganan kolosal dibalik set cukup jempolan itu. Sebagian dialog dari skrip Anggoro Saronto juga berhasil menuangkan banyak informasi historis penting dan filosofi perjuangan Sang Kiai, pilihannya berjihad lewat diplomasi dengan menarik termasuk kaidah-kaidah agama dan benturan paham reliji dengan nasionalisme.

SK12

      Masalahnya sekarang kemana sisa fokus itu pergi. Anggoro ternyata memilih tak hanya menyorot sosok K.H. Hasyim Asy’ari semata, tapi menghadirkan banyak tokoh lain untuk kepentingan jualan tadi. Dibalik usaha keakuratan sejarah yang kabarnya memakan waktu riset lebih dari 2,5 tahun, memang ia tak lantas jadi se-bias ‘Soegija’ yang menggunakan cara parabel dalam penyampaian keseluruhan, tapi munculnya terlalu banyak karakter dengan beda-beda penekanan masing-masing, justru jadi sebuah ganjalan yang lumayan besar. Dan bukan cast-cast pendukung ini bermain jelek. Adipati Dolken tetap terlihat mencoba tampil beda menokohkan Harun yang mendapat porsi cukup besar sebagai distraksi itu bersama Dimas Aditya, pemeran Hamzah yang lagi-lagi mendapat subplot dengan fokus lebih sebagai penerjemah yang menyeberang menjadi pejuang kemerdekaan dengan segala kegalauannya. Masih ada pula Meriza F. Batubara yang memerankan Sarinah, istri Harun dalam subplot lovestory-nya, Norman R. Akyuwen, Iyang P Project dan Bung Toni yang cukup mencuri perhatian masing-masing sebagai Kang Solichin, K.H. Zainal Mustafa dan Bung Tomo, serta Nobuyuki Suzuki, Dymas Shimada dan Emil Kusumo sebagai tentara-tentara Jepang.

SK16

          Karakter-karakter ini memang tanpa bisa ditampik, ditampilkan dengan cukup menarik lewat skrip Anggoro, juga jadi faktor jualan yang lebih universal dalam resepsi ke banyak lapisan penonton. Adegan Bung Tomo meneriakkan ‘Allahu Akbar’ juga jadi salah satu adegan terkuatnya, namun di sisi lain semua sempalan ini sedikit berbalik jadi sebuah kanibalisme terhadap fokusnya terhadap sosok K.H. Hasyim Asy’ari, terlebih di perempat akhir film yang jadi sangat bias terhadap biopik-nya sendiri. Belum lagi, title overs/superimposed texts yang tampil menerangkan set-setnya, yang sayangnya dipenuhi beberapa typo dan mengganggu secara tak sejalan dengan production values yang tergarap sangat serius itu. And above all, jualan yang benar-benar tak pada tempatnya adalah memilih band Ungu sebagai pengisi soundtrack-nya, ‘Bila Tiba’ yang terasa kelewat modern untuk disempalkan ke tengah-tengah adegan  tanpa konsistensi yang pas. Dalam terms jualan, tentu sah saja. Namun terus terang, ini adalah distraksi terhadap usaha-usaha bagus yang sudah dibangun dengan baik sejak awal.

SK1

         So, begitulah. Dibalik lebih kurang pertimbangan-pertimbangan jualan dan eksekusi akhir-nya itu, kita memang tak bisa menampik bahwa usaha produser bersama Rako dkk menggelar ‘Sang Kiai’ sebagai biopik sejarah bertaraf cukup kolosal yang jarang-jarang muncul di film kita, terlihat jelas digarap cukup serius dan tak asal-asalan. Pesan-pesannya, keakuratan sejarah dan informasinya juga tersampaikan dengan baik. Namun penyampaiannya yang sangat pop dengan beberapa distraksi ketidakseriusan lain juga harus diakui cukup mengganggu penilaian keseluruhannya. Then again, ini lagi-lagi kembali ke sebuah pilihan. Bagi sebagian orang, bisa jadi tak seimbang, tapi yang jelas, keseriusan yang ada tadi, jelas juga sangat layak dihargai lebih. (dan)

SK6

~ by danieldokter on June 3, 2013.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: