AFTER EARTH : THE UNFAIRNESS OF THINGS

AFTER EARTH

Sutradara : M. Night Shyamalan

Produksi : Overbrook Entertainment, Blinding Edge Pictures, Columbia Pictures, 2013

AE9

            Kalaulah seorang M. Night Shyamalan dulu tahu bahwa ‘The Sixth Sense’ yang membuat revolusi besar dalam penggunaan twist ending film akan menciptakan standar begitu tinggi terhadap karya-karyanya yang berikut, mungkin ia tak akan pernah mau membuat film itu. But that’s life in movies. Satu karya groundbreaking akan menciptakan ekspektasi tinggi buat penontonnya. Karya-karya Shyamalan setelahnya, ‘Unbreakable’, ‘Signs’ dan ‘The Village’, meski masih diwarnai mixed reviews, masih bisa membayar ekspektasi itu, tapi ‘Lady In The Water’ adalah awal kejatuhannya dengan negative reviews jauh lebih besar ketimbang positifnya, dan terus diikuti ‘The Happening’ hingga mencapai dasar keterpurukannya di adaptasi ‘Avatar : The Last Airbender’. Bahkan ‘Devil’ yang cukup bagus dengan kiprahnya sebagai penulis dan produser tak lagi bisa membebaskannya dari kutukan itu. Semua orang, sampai yang sebenarnya belum menyaksikan semua filmografinya, mengharapkan twist ending se-unik ‘The Sixth Sense’. Meski sebagian resepsi kerap mengkambinghitamkannya, termasuk ‘The Last Airbender’ yang mostly hanya dirusak oleh bangunan karakter Aang kelewat lari dari source-nya, bukan juga berarti Shyamalan tak punya salah. Mungkin terlena dengan kesuksesan ‘The Sixth Sense’, ia keterusan membiarkan hal-hal berbau twist ending itu jadi sebuah signature kuat dalam karyanya, termasuk muncul sebagai cameo yang belakangan semakin membuatnya dicemooh. Padahal, jauh dibalik itu, ada signature lain yang lebih jelas dalam film-filmnya. Kecuali ‘Devil’, all of his movies, termasuk dua sebelum ‘The Sixth Sense’, debutnya di ‘Praying With Anger’ dan ‘Wide Awake’, told many deep aspects about families and some sort of spiritual experience, dua hal yang juga jadi titik penting dalam karirnya.

AE3

            Lantas jauh sebelum perilisannya, kiprah Shyamalan dalam ‘After Earth’ sebuah sci-fi yang sebenarnya lebih merupakan proyek impian Will Smith based on some parts of his life story sebagai putra dari seoarang ayah militer yang keras, walaupun skripnya dikerjakan oleh Shyamalan bersama Gary Whitta yang lebih dulu di-hire Smith, sebenarnya sudah kembali memancing ekspektasi termasuk bagi penonton yang kecewa dengan karya-karya terakhirnya. Hanya saja, ada dua faktor resikonya. Pertama, seperti beberapa film Will Smith terakhir, baik yang dibintangi maupun diproduserinya, ia belum bisa lepas dari nepotisme ala Hollywood dibalik usaha membangun jalan popularitas buat sang putra, Jaden Smith, lengkap dengan nama-nama keluarganya di deretan produser. Jada Pinkett Smith, istrinya, dan adik iparnya, Caleeb Pinkett. Tentu tak ada yang salah dengan ini secara dalam industri film belahan dunia mana pun, nepotisme kerap mewarnai industrinya. But here’s the truth. Mau bagaimanapun Jaden sudah menunjukkan bakat besar lewat ‘The Pursuit Of Happyness’ dan remakeThe Karate Kid’ yang sama-sama punya unsur nepotisme itu, harus diakui, Jaden memang belum punya kharisma sebesar itu untuk kemudian di-push secara over berada diatas Will Smith membawa fokus filmnya.

AE6

       Faktor kedua tentu ada pada Shyamalan sendiri. Bahwa ‘After Earth’, meski tak persis seperti yang dituduhkan banyak pihak padanya sebagai ‘director for hire’, memang bukan murni datang dari idenya yang liar. But if you really knew his movies, you could see why he took Smith’s idea, terlepas dari kabar-kabar ‘After Earth’ adalah perwujudan rencananya berkolaborasi dengan Smith yang sudah lama tertunda. Jauh dibalik fantasi-fantasinya sebagai sebuah sci-fi dengan summer blockbuster treatment (bukan 3D tapi produk pertama Sony yang dipresentasikan dengan teknologi 4K digital format di beberapa alternatif perilisannya), ‘After Earth’ dibangun dengan family aspects dan spiritual experience themes yang sangat kuat. A father to son story. An adventure beyond spiritual journeys. Sedikit mirip ‘The Tree Of Life’ dan tema-tema sejenisnya, tapi dalam balutan penyamaran sci-fi fantasy berbujet tinggi. Sejauh mana mereka meng-handle dua resiko terbesar yang ada dalam kolaborasi ini, in good balance or not, itulah yang jadi pertanyaannya. But note. Keduanya juga punya latar terhadap macam-macam sisi penilaian yang seringkali terasa jadi tak adil, dan kenyataan pula kalau the other critics, blogger bahkan penonton sekalipun, sekarang ini suka mengekor penilaian-penilaian Rotten Tomatoes tanpa mau percaya diri dengan pandangan pribadi.

AE

          In the post apocalyptic future, manusia meneruskan kehidupan baru mereka di sebuah planet baru bernama Nova Prime, sementara bumi menjadi situs karantina kelas 1 dengan semua mutasi makhluk hidup yang dianggap berbahaya. Tapi bukan berarti kehidupan di Nova Prime sepenuhnya aman. Berperang dengan suku alien yang mengandalkan makhluk-makhuk predator mereka yang dinamakan Ursa, Nova Prime membentuk The Ranger Corps, pasukan khusus untuk menghadapi serangan ini dengan komando tertingginya, Jendral Cypher Raige (Will Smith). Cypher memiliki kemampuan ‘ghosting’, tak pernah kenal rasa takut hingga tubuhnya tak menghasilkan hormon bernama feromon yang membuat Ursa bisa mencium jejak mereka. Sementara putranya, Kitai (Jaden Smith), punya ambisi untuk menjadi seorang Ranger setangguh ayahnya akibat sebuah trauma masa kecil yang mengganggu hubungannya dengan Cypher. Kegagalan Kitai lulus dalam recruitment Rangers membuat hubungan itu kian memburuk. Faia (Sophie Okonedo), sang ibu pun mencoba mencairkannya dengan menyarankan Cypher membawa Kitai dalam misi terakhirnya sebelum pensiun. Namun pesawat mereka yang membawa Ursa tawanan malah karam dalam sebuah pendaratan darurat di bumi, menyisakan Kitai dan Cypher dalam keadaan sulit. Kini hubungan mereka kembali diuji dibalik usaha Kitai mengarungi belantara bumi dan menghadapi makhluk-makhluk dan iklim ganas demi menemukan ekor pesawat yang tertinggal jauh di belakang.

AE4

             Kasihan Shyamalan. Hampir sama seperti ‘The Last Airbender’ yang dibantai habis oleh para kritikus, berita tentang hasil box office-nya yang tak sebesar yang diharapkan pun makin menenggelamkan statusnya. But way beyond that, forget what most critics said. Oke, sebagai summer blockbuster era sekarang yang cenderung hadir dengan gempuran aksi yang dimaksimalkan nyaris tanpa jeda, ‘After Earth’ mungkin ketinggalan. Adegan aksinya cukup minim dengan hanya mengandalkan Jaden Smith seorang, tapi bukan berarti technical achievement-nya sama sekali gagal. Dibalik konsep teknis yang keren, set abandoned earth dan Nova Prime-nya memang tak menampilkan detil se-gigantis genre-genre sejenis, tapi jelas, bukan jelek. Animals and any living creatures in both worlds, termasuk alien-alien Ursa, juga secara teknis cukup baik. Sinematografi besutan DoP senior Peter Suschitzky (73 tahun) dari ‘Star Wars V : Empire Strikes Back’ pun tak kalah cantik bersama scoring James Newton Howard, yang ikut membangun feel adventurous dan dramatic touch dalam plotnya dengan bagus. Tak ada yang spesial dengan aktingnya, tapi teknologi 4K digital format itu masih menyisakan kejernihan lebih yang mungkin akan jauh lebih terasa dalam format IMAX.

AE1

           And trust me. Tak ada juga yang salah dengan plot itu. As simple as any father to son stories, coping with traumatic loss and fixing relationships, tampilannya sebagai sci-fi fantasy sebenarnya hanya sekedar gimmick cantik untuk memperkuat statusnya sebagai sajian summer blockbusters. Sebelum ia beranjak menjadi sci-fi, ide awal Smith tentang sepenggal kisah hubungan masa lalunya dengan sang ayah toh bersetting petualangan alam bebas ala ‘Into The Wild’.  Hanya saja mungkin banyak penonton berharap lebih atas nama Will Smith sebagai lead-nya, sementara yang jauh lebih ditonjolkan adalah Jaden yang walau tak sama sekali gagal, memang belum cukup kuat  meng-handle almost a one man show-nya. Tapi malangnya, hampir semua ulasan atau tanggapan tetap saja mengkambinghitamkan Shyamalan dengan alasan klise mereka-mereka yang belum juga mau move on dari ‘The Sixth Sense’. Oh!

AE5

     The truth is, ‘After Earth’ sungguh tak jelek. Ia tetap meninggalkan Shyamalans traces of his signatures. Bukan di twist ending, catat, tapi menggarap sci-fi yang tak sekedar menonjolkan ‘crash boom bang’  lewat filosofi lebih mendalam yang bukan juga propaganda scientology yang dituduhkan banyak orang. Family theme dan sedikit percikan spiritual experience yang kerap hadir di film-filmnya juga sangat terlihat disini, dan tetap bisa menyentuh seperti biasanya. As simple as that, inilah fenomena yang tak jarang terjadi dalam tetek-bengek penilaian sebuah karya bernama film oleh berbagai lapisan penontonnya. The unfairness of things. (dan)

AE8

~ by danieldokter on June 8, 2013.

One Response to “AFTER EARTH : THE UNFAIRNESS OF THINGS”

  1. menurutku gimmick sci-fi nya ini bikin premise utamanya (the father-son bonding thing) agak hilang memang, mungkin karena premisenya akan lebih sampe kalo emotional actingnya lebih bagus. Sayang banget Jaden belum bisa deliver emotional depth, aku malah ngerasa ini jadi repeat performance of his from Karate Kid.

    If anything i really want to blame the trailer instead😛

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: