HONEYMOON : LAGI-LAGI, OMONG KOSONG MEDIS DI FILM KITA

HONEYMOON

Sutradara : Findo Purwono H.W.

Produksi : Starvision, 2013

HM6

            Seperti salah satu kecenderungan sosial yang lumayan konyol di Indonesia, orangtua yang selalu sibuk mencari menantu dokter buat anaknya, begitu jugalah film kita. Dari zaman jebot sampai sekarang. Hanya saja, alasannya berbeda. Fenomena sosial itu mungkin berhubungan dengan status sosial dan kemapanan meski ini terus terang tak selalu benar, sementara dalam film, ini dijadikan satu tameng buat penelusuran dramatisasi dan mungkin, agar terlihat lebih pintar. Padahal semua juga tahu. Dalam masalah-masalah keahlian, riset-riset yang seharusnya jadi PR buat penulis, juga tak pernah dilaksanakan dengan benar. Kalaupun konsul, hanya sekedarnya. Selebihnya, ada google, artikel, sampai brosur-brosur yang bisa didapat dengan mudah dimana saja. Kadang dibesar-besarkan dengan balutan penyuluhan dibalik pesan moral yang tak pada tempatnya pula. Akibatnya, mencari info medis yang benar di tema-tema yang seringnya sudah seperti makan nasi ini bagai mencari jarum di tumpukan jerami. Satu dari beberapa puluh, itupun kalau Anda beruntung, baru ada yang benar. No wonder, mitos-mitos kesehatan yang salah kaprah terus mewarnai masyarakat kita.

HM3

            Itulah yang terjadi dengan ‘Honeymoon’, produksi terbaru Starvision ini. Oke, dalam jumlah produksinya yang cukup banyak selama setahun, desas-desus kepentingan jualan dengan hanya menyisakan satu-dua judul dari PH-nya yang benar-benar layak, itu juga sudah jadi rahasia umum. ‘Honeymoon’ ini memang agaknya cuma dilepas sebagai kelompok pelengkap tadi, untung-untung laku, kalau tidak, ya sudah. Tapi sayang rasanya melihat potensi dari jajaran cast-nya yang lantas harus rela disia-siakan begitu saja dari kelas produksi sekedar asal-asalan. Diiming-imingi proses cukup menarik dari penulis skrip baru Diana Ali Baraqbah, ambisi itu lumayan gede. Ini belum pernah diangkat dalam film kita, kabarnya. A medically sexual terms namedVaginismus’. Karena menyangkut hal-hal seputar wanita, pengembangannya pun cukup memakai template klise hal-hal tentang keperawanan, pernikahan, yang diakui mereka dari beberapa press release, sudah khatam, katanya. Dan prosesnya penuh dengan riset ini dan riset itu. Terlebih karena ada pula Dr. Boyke dalam cast-nya, untuk menekankannya jadi sebuah penyuluhan masalah-masalah seksual.  Halah. Tolong diingat bahwa ketika mengangkat sebuah info keahlian ke dalam skrip, konsultasi dengan integritas lebih sebenarnya sangat diperlukan ketimbang sekedar ‘oh, bisa..’ dan ‘oh, bisa…’ dari satu hal ke lainnya.

HM4

            Selepas kasus video porno yang melibatkan calon istrinya, Zevana (Garneta Haruni), David (Al Fathir Muchtar), menurut sinopsisnya, bukan tertuang dengan jelas di dialog antara David dan dua sahabatnya, Brian (Wakid Khalid) dan Joe (Nino Fernandez), jadi menetapkan standar lebih tinggi buat mencari pasangan. Nasib mempertemukannya dengan Farah (Shireen Sungkar), putri tunggal seorang single mother pemilik catering kue (Lydia Kandou) di acara ultah yang diadakan ibu David (Meriam Bellina). Singkat cerita, menikahlah mereka. Tapi baru disini David menyadari kalau Farah, yang katanya masih perawan ini, tak pernah mau diajak berhubungan suami istri, padahal ibu dan babe-nya (Jaja Miharja) tak sabar mau menimang cucu. Brian yang begitu terobsesi pada perawan karena istrinya, Rachel (Ardina Rasti) ternyata sudah tak perawan lagi, akhirnya memanfaatkan kesempatan ini dari cerita David yang selalu curhat pada dua sahabatnya. Ia mengumpankan Marsha (Sylvia Fully) untuk merayu David sambil terus berusaha mendekati Farah.

HM1

            Kalaupun harus menyebut kelebihan dari ‘Honeymoon’ dalam menawarkan hiburannya sebagai sebuah tontonan, meskipun balutan keseluruhannya lebih mirip sinetron atau FTV ketimbang film bioskop, tentulah ada di jajaran cast itu. Shireen Sungkar yang memulai debut layar lebarnya sebagai bintang utama setelah sukses di sinetron memang tak bermain jelek, lantas ada nama senior Lydia Kandou bersama duet Meriam Bellina dan Jaja Miharja yang kembali mengulang chemistry jenaka mereka sejak franchise layar lebar ‘Get Married’ dan sempat dipakai juga di ‘Test Pack’ tempo hari. Sisanya, hanya Wakid Khalid yang sudah malang-melintang sebagai model di majalah-majalah pria yang kelihatan kurang terasah dengan ekspresi over-nya. Perempat awal ‘Honeymoon’ yang komikal dan bernada komedi satir di tengah sorotan masalah-masalah sosial orang kita dalam memandang kehidupan keluarga juga sebenarnya tak jelek-jelek amat, terlebih dalam konteks komedi, namun agaknya skrip Diana tadi menyeret lagi problematikanya lebih jauh sampai menjurus ke melodrama tak penting hanya buat menekankan ambisinya membahas soal ‘Vaginismus’ dan soal-soal keperawanan. Ini sayangnya, selain ngalor-ngidul kemana-mana, memanfaatkan isu-isu kehidupan nyata salah satu cast-nya dan seperti biasa, membelit konflik begitu seolah kelihatan begitu serius untuk akhirnya diselesaikan semudah membalik telapak tangan. Pola klise banyak film kita.

HM5

            Yang lebih parah, info-info yang dihadirkan tentang ide utama soal ‘Vaginismus’ itu benar-benar diracik sesuka hati dengan latar dangkal seputar lagi-lagi permasalah klise dalam banyak film kita, dan lebih konyol lagi, digambarkan bak sebuah penyuluhan dari dialog-dialog dokter dengan pasiennya sampai ke tampilan brosur, seolah kasusnya begitu penting dan sering sampai memaksa penontonnya ikut-ikutan resah. Seolah ‘Vaginismus’ ini bisa ditelusuri semudah hanya sekali masuk ruang pemeriksaan tanpa latar penelusuran yang benar, tapi cukup dengan pemaparan ‘tidak pernah mau diajak berhubungan’. Bah.

HM2

            Belum lagi soal penggarapannya. Selain lebih berwujud FTV dalam durasi yang panjangnya sangat tidak efektif, tak ada satupun yang spesial dari sisi teknisnya. Malah, scoring dari Joseph S. Djafar, di satu bagian, meskipun tak mencomot bulat-bulat scoring milik Hans Zimmer di film ‘The Holiday’, tapi sangat terlihat jelas hanya bermodal perubahan 1-2 not serta iringan seperti layaknya banyak sinetron-sinetron kita. So yes, menuju ending yang benar-benar tak masuk akal tanpa mempedulikan logika waras para penontonnya, ini memang cukup parah. Apapun yang dipikirkan si penulis saat melemparkan ide dan menulis skripnya, biarlah jadi tanggungannya sendiri kalau sampai memberikan persepsi yang salah pada penontonnya. I have no other word to say, tapi kalau mau lebih tahu tentang ‘Vaginismus’, be my guest and read my health article taken from Medan’s local media. (dan)

 

MENGENAL VAGINISMUS

            Sudah bukan rahasia lagi kalau film Indonesia memang suka sekali memanfaatkan sesuatu pengetahuan dengan bombastisme jualan yang kadang tak pada tempatnya. Jika Anda sempat menonton sebuah film yang hadir minggu lalu, berjudul ‘Honeymoon’, film itu mengetengahkan isu tentang keadaan yang dikenal dengan nama Vaginismus. Tak tepat juga disebut sebagai penyakit, keadaan yang sering dipicu oleh masalah-masalah psikologis ini memang dikenal dalam dunia medis, namun ada penelusuran penting untuk tak lantas membahasnya secara dangkal dengan iming-iming memberikan informasi akurat, tak peduli bahwa film itu turut menampilkan seorang seksolog dengan status selebritis untuk sedikit mengkuliahi penontonnya mengenai keadaan ini. Karena itu juga, sangat perlu untuk meluruskan persepsi-persepsi yang salah dari penonton yang jadinya dibodoh-bodohi dibalik kepentingan film sebagai produk dagang yang seringkali tak bertanggung jawab itu.

Sekilas Tentang Vaginismus

            Secara definitif, vaginismus adalah suatu keadaan dimana otot vagina, khususnya di sepertiga bagian luar dan sekitarnya mengalami spasme/kejang  secara abnormal bila mendapat stimulasi di daerah tersebut, baik secara seksual bahkan stimulasi lain, sehingga penderitanya sulit melakukan hubungan seksual. Akibat gangguan yang kerap digolongkan dalam sebuah bentuk disfungsi seksual bagi wanita ini, vagina pun akan mengalami reaksi fisik dan psikis yang menyebabkan mereka sulit menerima penetrasi, bahkan hanya untuk sekedar melakukan pemasangan tampon atau hal-hal lain yang berkaitan dengan organ kelamin mereka.

         Bukan berarti wanita penderitanya sama sekali tidak bisa mengalami orgasme, namun keadaan yang bisa membuat gangguan lebih lanjut termasuk rasa sakit bila tetap dipaksa melakukan hubungan seksual itu membuat masalah-masalah psikologisnya biasa makin melebar ke bentuk-bentuk gangguan lain, termasuk dalam interaksi sosial penderitanya. Dan vaginismus sama sekali bukan trauma-trauma seksual biasanya yang menyebabkan penderitanya merasa takut melakukan hubungan seksual. Diagnosisnya tak bisa ditegakkan hanya melalui keluhan satu pihak, terlebih yang belum pernah berhasil melakukan hubungan seksual. Bila hubungan seksual terus dipaksakan, bisa terjadi trauma fisik seperti sobekan atau keadaan lain yang akan membuat gangguannya malah menjadi semakin parah.

             Vaginismus ini bisa menyerang berbagai variasi usia, namun biasanya hanya bisa diketahui dari golongan usia yang sudah aktif secara seksual. Begitupun, bukan berarti yang sebelumnya aman-aman saja tak bisa mengalami gangguannya di usia lebih lanjut akibat pemicu lain yang terjadi dalam kehidupan seksual mereka. Kasusnya sendiri tergolong masih cukup jarang, yakni sekitar 2-3% pada wanita dewasa.

Faktor Penyebab Vaginismus

            Ada beberapa faktor yang dapat memicu timbulnya gangguan ini, antara lain faktor fisik seperti infeksi yang terjadi di sekitar vagina, menyebabkan luka atau trauma di daerah labia hingga ke bagian lebih dalam, ataupun bisa juga karena kelainan anatomis yang dialami penderitanya. Adanya penarikan sisa selaput dara, sobekan pada luka bekas melahirkan juga sering menjadi pemicunya. Faktor fisik ini biasanya dikenal dengan vaginismus primer, tidak bersifat permanen dan masih bisa ditangani dengan cukup simpel. Selain faktor fisik, yang lebih sering menjadi faktor pemicunya adalah faktor psikologis.

          Faktor kedua yang lebih dikenal dengan vaginismus sekunder ini seringnya sangat sulit untuk ditangani karena penelusurannya bisa sangat luas dan memerlukan koordinasi yang baik dari penderitanya. Kebanyakan penderita vaginismus memiliki faktor pemicu traumatik karena ketakutan-ketakutan tertentu saat melakukan hubungan seksual, dan ini bisa disebabkan langsung oleh organ atau juga sering sekali diakibatkan oleh persepsi-persepsi salah dalam memandang hubungan seksual sebagai proses fisiologis yang rata-rata dialami oleh semua orang, seperti anggapan takut hamil, takut tertular penyakit kelamin ataupun trauma perkosaan dan sebagainya. Trauma psikologis yang terjadi juga akan mengganggu proses kontraksi dan relaksasi otot –otot di sekitar vagina yang diperlukan dalam hubungan seksual.

Cara Mengatasi Vaginismus

            Faktor paling utama dalam penanganan kasus-kasus vaginismus biasanya berupa konseling dengan pemberian informasi sedetil mungkin untuk memudahkan penelusuran faktor penyebabnya. Menyembunyikan banyak hal di seputar kehidupan seksual penderitanya akan membuat penanganannya menjadi semakin sulit. Penanganan lain secara fisik bisa dilakukan dengan dilator dalam ukuran bervariasi untuk membiasakan serta merelaksasikan otot vagina yang mengalami spasme atau kekejangan abnormal tadi.

            Latihan-latihan kontraksi otot panggul juga biasanya sangat dianjurkan sebagai tindakan penanganannya, dan ini merupakan langkah yang baik sebelum tindakan-tindakan lebih lanjut dilakukan. Latihan-latihan yang mirip seperti tindakan menghentikan aliran urin dengan mengkontraksikan dan mengendurkan otot di sekitar vagina ini juga bisa dilakukan secara pribadi. Bila dilakukan di bawah bimbingan, dalam beberapa kasus lebih berat, biasanya ditempuh secara bertahap dalam beberapa sesi untuk bisa benar-benar bekerja secara efektif.

      Bila dijumpai adanya infeksi sebagai faktor pemicunya, penggunaan obat-obatan akan bisa menjadi pilihan, atau obat-obatan lain yang sebaiknya baru diberikan bila faktor psikologisnya tak bisa teratasi dengan baik. Sebagian ahli juga menganjurkan pemberian obat-obatan lain yang dapat bekerja dalam relaksasi otot, namun ini tidak boleh diresepkan dengan sembarangan serta cukup rendah efektifitasnya untuk penanganan dengan hasil permanen.

      Hal lain yang juga harus diingat dalam tindakan penanganannya adalah dengan pemahaman terhadap pencegahannya. Edukasi-edukasi seksual yang baik tanpa adanya distraksi terhadap informasi yang salah akan sangat bermanfaat bila dilakukan secara dini terutama sebelum melewati usia pernikahan. Penjagaan kesehatan organ-organ vital juga menjadi salah satu faktor yang sangat penting untuk diperhatikan. (dan)

~ by danieldokter on June 17, 2013.

6 Responses to “HONEYMOON : LAGI-LAGI, OMONG KOSONG MEDIS DI FILM KITA”

  1. Serius amat sih mas, namanya film ya hrs disesuaikan porsi penontonnya lah.. kalau mau disamain sama gejala diatas wahh hrs bner2 adegan ranjang dong, nah lo penonton remaja Dikemanain tuh? Ngg mgkin kan mau ngasih tontonan edukasi malah kena protes, ini Indonesia bkn barat yg bebas berekspresi.

  2. IMO, harus. Informasi yang menyangkut ‘keahlian’, tidak boleh dipaparkan sembarangan🙂. Atau tujuan edukasinya akan salah kaprah.

  3. Film itu tersebut bisa dilihat dari banyak sudut pandang, mungkin dalam sudut pandang medis terkesan mengada-ngada, tp sudut pandang moral, seharusnya film ini cukup menjadi nasehat untuk remaja-remaja kita bahwa “keperawanan” itu sakral.

    Bagi saya, film ini satu diantara film2 yang bagus yg pernah indo buat. Usaha sekecil apapun harus didukung,.

    BIJAKNYA sebuah kritikan tidak hanya menampilkan YANG NEGATIFNYA, tp POSITIFNYA juga tolong diulas.

  4. mau nambahi mas,
    y namany film yo tak mungkn secara detail mas, kn durasiny jga sdkit jdi yng bsa d jelasn hny poin2ny ja,:-D

  5. Ini reviewnya udah bagus, detil dan kritis

  6. Ini reviewnya udah bagus, detil dan kritis. Filmnya memang kaya sinetron. Pantes susah maju kalau kritik membangun malah dipersalahkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: