REFRAIN : LOVE SONG WITH ONLY A BETTER VERSE

REFRAIN

Sutradara : Fajar Nugros

Produksi : Maxima Pictures, 2013

REF8

            Trend film adaptasi novel atau teenlit, di satu sisi memang masih jadi jaminan buat keberhasilan film kita. Cast yang menjual, itu beda lagi. ‘Refrain’, jelas punya dua unsur itu, tak peduli sebagian pembacanya yang mengeluh atas pemilihan Afgan sebagai Nata yang jauh dari gambaran novelnya. Novel besutan Winna Effendi itu laku, dan yang mendampingi Afgan adalah Maudy Ayunda. Both are the hottest young stars now, itu benar. Satu lagi, ini adalah produksi Maxima. PH yang selalu bisa menjual filmnya dengan daya promosi tinggi, mostly di tampilan poster yang seringkali dilupakan oleh PH-PH lain. Belum lagi sematan lagu-lagu soundtrack-nya yang ditulis dan dinyanyikan langsung oleh mereka. Segmented bagi pemirsa remaja tentu tak masalah karena merekalah memang yang kini mendominasi pasar film kita yang suka tak tentu arahnya. So, ‘Refrain’ memang punya potensi. Tapi apakah tergarap dengan baik atau tidak, let’s see.

REF5

            Tak ada juga yang spesial dengan plot-nya. Persahabatan Nata (Afgansyah Reza) dan Niki (Maudy Ayunda) sejak kecil dibalik trampolin usang yang menyimpan sejuta cerita itu ternyata berubah saat mereka mulai beranjak dewasa. Nata yang menyimpan rasa terhadap Niki merasa lebih baik berdiam diri menjadi seorang pengagum rahasia, sampai akhirnya Niki yang tak pernah menyadari persaan Nata memilih Oliver (Maxime Bouttier) sebagai kekasihnya. Sementara Annalise (Chelsea Elizabeth Islan), sahabat baru mereka yang kesepian karena karir model ibunya mulai menyukai Nata walaupun bisa membaca rasa suka Nata terhadap Niki. Cinta segiempat ini membuat hubungan Nata dan Niki kian merenggang, dan semua meledak ketika Niki akhirnya mengetahui perasaan Nata terhadapnya. Tapi cinta, akan selalu pulang ke tempatnya.

REF3

            See? Tak ada yang spesial dari plot-nya. Tapi nama-nama yang ada dibalik penggarapannya sebenarnya bisa membuat teen lovestory serba klise itu menjadi menarik. Skripnya digarap Haqi Achmad dan disutradarai Fajar Nugros. Keduanya adalah storyteller yang baik dari karya-karya mereka sebelumnya. Haqi yang sangat menguasai genre romcom remaja dengan dialog-dialog cukup bagus, dan Nugros juga, tak lantas mesti kelihatan seperti FTV, bisa cukup seimbang diantara aspek estetis dan komersil film-filmnya. Ada juga nama Yadi Sugandi, DoP senior yang baru bekerjasama dengan Nugros di ‘Cinta Brontosaurus’. Apalagi, sebagian syutingnya dilakukan sampai ke Eropa, yang notabene paling tidak menunjukkan keseriusan orang-orang di belakangnya.

REF2

            ‘Refrain’ sebenarnya sudah memulai semua dengan baik. Pengenalan terhadap karakter-karakternya meskipun tak didukung latar belakang lebih lengkap, secara filmis tak juga terlalu jadi masalah, termasuk Sophia Latjuba yang hanya muncul lewat foto. Standarnya sebagai adaptasi teenlit juga tak memerlukan hal-hal kelewat njelimet dalam membangun konfliknya, secara lebay-lebay seperti apapun dalam konteks genre ini berikut sasarannya, selalu bisa dimaklumi. Ingat ‘Eiffel I’m In Love’ dulu? Kira-kira seperti itu. Yang penting, chemistry Afgan dan Maudy Ayunda terjalin cukup baik, dan dua pemeran barunya, Maxime Bouttier and mostly Chelsea Elizabeth Islan juga bisa mencuri perhatian di tengah-tengah mereka. Karakter-karakter pendukung lainnya, termasuk Ence Bagus dan Dimas Hary yang muncul sekilas pun masih bisa memberi warna. Scoring Joseph S. Djafar kadang terlalu mendominasi tapi masih bisa bekerja di beberapa adegan penting.

REF1

            Sayang hal baik itu hanya bertahan hingga paruh film. Ketika konfliknya mulai berkembang lebih jauh, ‘Refrain’ seakan kehilangan hati dengan satu-persatu kekuatannya. Saya tak tahu masalah apa yang ada dibalik proses pembuatannya, tapi paruh kedua ‘Refrain’ hampir tak lagi menyisakan potensi yang biasanya kita lihat dari Nugros maupun Haqi, seolah jadi film yang digarap oleh orang berbeda. Storytelling-nya jadi sedikit ngalor-ngidul seakan bolak-balik berjalan di tempat, chemistry yang saling terbangun dengan baik sejak awal mulai kehilangan emosi-emosi dengan turnover karakter yang jadi terlihat tak wajar serta berlebihan, dan ini semakin diperparah oleh penurunan kualitas atau resolusi gambar dari adegan-adegan yang disyut di Eropa. Konklusi yang seharusnya bisa jadi sangat menyentuh malah jadi mentah bersama adegan-adegan akhirnya.

REF4

            Begitupun, dengan segala kekurangan ini dan itu, harus diakui bahwa ‘Refrain’, commercially tetap punya faktor yang tetap menjual. Secara filmis memang terasa ada yang kurang dari paruh kedua hingga akhir, namun dalam membidik penontonnya, ‘Refrain’ bisa jadi mengenai sasarannya dengan tepat. Jelas bukan lantas jatuh ke kategori jelek, tapi seperti sebuah love song, ia justru punya refrain yang tak pernah jadi sekuat verse-nya. Sayang sekali. (dan)

~ by danieldokter on June 23, 2013.

2 Responses to “REFRAIN : LOVE SONG WITH ONLY A BETTER VERSE”

  1. […] sumber : https://danieldokter.wordpress.com/2013/06/23/review-refrain-2013/ […]

  2. […] sumber : https://danieldokter.wordpress.com/2013/06/23/review-refrain-2013/ […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: