PACIFIC RIM : THE UNDERWHELMING WONDERS

PACIFIC RIM

Sutradara : Guillermo del Toro

Produksi : Legendary Pictures, Warner Bros, 2013

Rim15

            Ask many people on their list of enthusiasm to this year’s summer movies. Selain ‘Man Of Steel’, you will easily gotPacific Rimon those lists. Alasannya simpel. Because almost every kids grew up with these kind of stories. Robots. Monsters. Their rumbles over mankind. Dan Guillermo del Toro sudah sejak jauh-jauh hari menjelaskan konsepnya. Bahwa ‘Pacific Rim’, adalah sebuah meta dari kultur pop Asia, mostly Japanese, about Mecha and Kaiju genres, manga or anime, yang sudah berkembang mewarnai dunia dalam sejarah panjangnya.

Rim7

            Jangan lupa juga isu-isu yang mewarnai anggapan bahwa ‘Pacific Rim’ tak ubahnya akan seperti  ‘Godzilla vs Transformers’ dalam cita rasa Hollywood hingga tuduhan-tuduhan del Toro melakukan rip-off terhadap Michael BaysTransformers’ yang sudah membawa franchise itu ke sebuah keajaiban sinematis baru di zamannya bersama Steven Spielberg dan ILM & Digital Domain. del Toro has stated it clear, thatPacific Rimwill be far different thanTransformers’. “We are far, far, far away from that in a very willing fashion. For good or bad, this is my movie. This is my universe and my creation, and I do not create through comparison.”, katanya. Dan kenyataan juga bahwa ukuran robot dan lawan yang berbeda, sudah menggaris ide homage atau tribute itu pada sebuah meta. Love letter. Atau apalah sebutannya. And all that’s left is a hope for another cinematic wonders, yang jadi semakin besar kala banyak review luar menyambutnya dengan luarbiasa. Jawdropping, breathtaking, dan pujian-pujian selangit lainnya.

Rim2

            Dongeng meta del Toro ini pun dimulai dengan penjelasan yang sangat scientific ketimbang hanya sekedar fantasi-fantasi dari planet lain, menggagas jelas beda alien-alien biasanya dengan Kaijuwhich is very cool, sekaligus batas tegas bahwa ini akan jadi sebuah presentasi yang berbeda di tangan del Toro yang menulis skripnya bersama Travis Beacham. In the near future, bumi dan isinya harus menghadapi serangan Kaiju, monster-monster raksasa dari sebuah portal di dasar Samudera Pasifik. Then comes the famous tagline yang sudah bertaburan di trailer-nya. ‘To Fight Monsters, We Created Monsters of Our Own’. Under the name Jaeger, robot-robot raksasa yang dikontrol oleh dua atau lebih pilot yang menggunakan masing-masing otak kanan dan kiri-nya melalui device yang menyatukan impuls-impuls persarafan serta memori mereka.

Rim9

           Dibawah komando Stacker Pentecost (Idris Elba), program ini berhasil mengalahkan serangan Kaiju di berbagai belahan dunia dan mendapat dukungan dari semua negara. Namun kenyataan bahwa ternyata invasi ini adalah proses panjang dengan level Kaiju yang makin kuat, Jaeger kian terpuruk. Pendanaannya dihentikan, dan sisa Jaeger dipindahkan ke Hong Kong sambil menunggu solusi yang lebih baik. Dengan empat Jaeger yang tersisa ; Crimson Typhoon dari Cina, Cherno Alpha dari Rusia, Gypsy Danger dari Amerika dan Striker Eureka dari Australia sebagai Jaeger terhandal yang dikemudikan ayah dan anak bermasalah, Herc dan Chuck Hansen (Max Martini & Robert Kazinsky), Stacker yang merencanakan sebuah misi final kembali merekrut mantan pilot Gypsy Danger, Raleigh Becket (Charlie Hunnam) yang menyimpan trauma setelah kehilangan kakaknya (Diego Klattenhoff). Mako Mori (Rinko Kikuchi), cewek Jepang yang juga punya trauma masa lalu dibalik hubungan adoptifnya dengan Stacker, ditugaskan merekrut co-pilot untuk Raleigh, tapi diam-diam mengharapkan dirinya yang terpilih.

Rim4

             Sementara itu dua ilmuwan eksentrik, Dr. Newton Geizler (Charlie Day) dan Dr. Hermann Gottlieb (Burn Gorman) yang saling berseberangan dalam teori-teori mereka meneliti pola invasi Kaiju, atas saran Stacker terpaksa bekerjasama dengan Hannibal Chau (Ron Perlman), mafia makelar organ tubuh Kaiju ilegal yang menyandang dana tambahan untuk program Jaeger. Di tengah serangan Kaiju yang makin masif dan kepunahan umat manusia yang kian terdesak, satu-satunya cara menghentikan invasi ini adalah dengan misi bunuh diri, mengirim Gypsy Danger dengan reaktor nuklirnya untuk menembus portal Kaiju di dasar Samudera Pasifik.

Rim11

              Just like del Toros vision dalam membawa keajaiban visual kisah meta-nya untuk memperkenalkan perpaduan genre ini secara lintas generasi, ‘Pacific Rim’ memang berhasil mengenai sasarannya. Sophisticated visuals, epic beauty, atau apalah sebutannya, pertarungan mecha dan kaiju ini tampil dengan megah dan gigantis. Biar hampir keseluruhan latar set-nya digagas del Toro dengan dark style-nya di tengah kegelapan malam, royal rumble menembus keramaian kota, ombak raksasa lautan Pasifik hingga atmosfer luar angkasa itu berhasil membangkitkan sisi kanak-kanak penontonnya dengan fun factor yang luarbiasa seru dibalik skala desain produksinya yang tak bisa ditampik dalam kelas summer blockbusters. Membuka pengembangannya menjadi sebuah franchise baru non-adaptasi melainkan dibangun dari homage ke genre mecha dan kaiju movies, teknologinya terasa sangat Hollywood, namun tanpa harus meninggalkan nuansa aslinya dengan nafas Asia yang kental. Scoring dari Ramin Djawadi juga menampilkan melodic theme yang sudah jarang-jarang kita dapatkan dari blockbuster-blockbuster sekarang.

Rim3

      Ok. Gimmick 3D-nya memang konversi karena sejak awal del Toro sebenarnya menolak presentasi ini, namun dorongan dari Legendary Pictures membuat del Toro merubah pendiriannya dengan syarat konversi yang lebih serius dalam waktu lebih lama. It gave us wonderful depth walaupun selebihnya tak terlalu popped-up, namun detil-detil serbuan ombak, tetesan air, salju hingga percikan api muncul dengan keindahan lebih. Editing dari Peter Amundson dan John Gilroy dengan dukungan dua rekan del Toro, the well-known Alejandro González Iñárritu dan Alfonso Cuarón juga digagas dengan pace ketat dalam durasinya yang cukup panjang namun tak sekalipun membuat penonton bosan. Soal efek jangan ditanya. Teknologi ‘Transformers’ yang sudah dimiliki ILM sebagai pilihan utama del Toro jelas sudah sangat membantu konsepnya, ditambah dengan visual effect supervisor John Knoll dari ‘Star Wars prequel trilogy’, ‘Avatar’ dan ‘Pirates Of The Caribbean franchise’ bersama Hal T. Hickel, berikut bantuan Legacy Effects dengan Shane Mahan (‘Iron Man’) dan John Rosengrant (‘Real Steel’). Semua punya referensi bagus tentang movies’ robotic science dalam penggarapan efek-efeknya.

Rim10

But….

Rim1

     Bukan berarti ‘Pacific Rim’ lantas jadi sempurna di semua sisi penggarapannya. In many ways, dukungan banyak bakat luarbiasa dalam sisi teknisnya, sayangnya tak bisa memberikan sesuatu yang benar-benar baru. ‘Pacific Rimsurely has many cinematic wonders sesuai janji del Toro, but most of them are ‘been there, seen that’ wonders. Cukup jauh dari breakthrough effect technology yang kita saksikan dalam instalmen-instalmen ‘Transformers’, mostly the first, a truly jawdropping one, ditambah presentasi malam yang akhirnya jadi bumerang untuk menutupi detil-detil penting buat pengenalan karakternya. Mau atau tidak mau, di sisi ini ‘Pacific Rim’ memang harus dan sangat harus dibandingkan dengan ‘Transformers’, atau bahkan ‘Real Steel’ serta many marks ofIron Mansuits, dimana pemirsanya akan langsung dengan mudah bisa mengenali detil perbedaan karakter-karakter itu secara langsung melekat. Baik di karakter mecha atau kaiju-nya, pilihan del Toro untuk menggagas kebanyakan sisi teknisnya dibalik kegelapan mau tak mau membuat penonton harus menyisakan perhatian lebih untuk bisa betul-betul mengenali karakter-karakter ini. For an attempt on making it into franchise, ini jelas tak terlalu baik. Final showdown-nya pun sayangnya tak lebih memikat dari satu battle scene sebelumnya.

Rim6

           The next flaws lies on its dramatizations. del Toro yang sekali ini memilih lari dari style storytelling-nya yang biasa, in most of his horror fantasy works with traces of traumatized childhood, hanya meninggalkan signature-nya di sebuah adegan flashback memori Mako kecil yang diperankan dengan luarbiasa oleh aktris cilik Mana Ashida. Kalaupun ada sisanya, itu hanya berupa dark comedy dari karakter Hannibal Chau yang diperankan Ron Perlman hingga ke mid credit scene-nya, namun selebihnya, salahnya del Toro tak memilih kedalaman seperti biasa dalam menggagas bangunan plot berdasar banyak homage ke genre-nya ini. Bersama Beacham dalam penulisan skrip hingga ke dialog-dialog di luar penjelasan science untuk penekanan karakter-karakternya, del Toro malah memilih cliché storytelling yang tak berbeda jauh dengan template yang biasa digunakan Michael Bay or Roland Emmerich dalam film-film mereka. Meletakkan dramatisasinya dalam banyak family values, brother to brother, father to son, father to daughter hingga sacrifices to reach victory on the war of mankind, semuanya jadi terbata-bata dengan raw emotions yang benar-benar terasa soulless, tak seperti apa yang ada di pakem mecha dan kaiju movies pada umumnya, atau template klise yang digunakan Bay atau Emmerich itu.

Rim5

     Dan ini masih diperparah lagi dengan akting-akting flat para pendukungnya. Some of them are surely kick-ass in action scenes, dari Charlie Hunnam, Idris Elba, Rinko Kikuchi and the rest of the cast. Namun membawa emosi dalam storytelling dan dialog-dialog penuh human values that supposed to be hitting you hard to the heart, semuanya bisa dibilang kelewat flat, walaupun jelas bukan akting kelas award juga yang dicari dalam film-film seperti ini. While Hunnam dan Kikuchi tergelincir ke chemistry yang lebih ke erotic ketimbang simpati dibalik trauma yang mirip, Martini dan Kazinsky kehilangan eksposnya yang tiba-tiba menyeruak ke bagian akhir yang terasa dipaksakan, porsi paling parah ada di Idris Elba yang meletakkan penekanan wise-ass karakternya bukan ke aura atau ekspresi, namun lebih ke tipikal akting bentak sana bentak sini dengan level volume suara yang serba tak imbang dengan lawannya. Banyak sekali dialog bagus dalam usaha dramatisasi itu termasuk quote keren ‘Tonight, we are cancelling the apocalypse’ yang seharusnya bisa sekuat apa yang dilakukan Bill Pullman dalam ‘Independence Day’ dibalik geeky typical sosoknya namun bisa jadi begitu meyakinkan, lewat begitu saja tanpa emosi yang seharusnya, to the most important feel in many climax on the victory of mankind’s similar themes.

Rim12

       Hanya duo Charlie Day dan Burn Gorman yang terlihat seperti Willem Dafoe muda, plus Ron Perlman yang bekerja sangat baik membangun sisi komedi seperti apa yang dilakukan John Torturro di ‘Transformers’. Pendeknya, you won’t really care about most characters, their fight and motivations, bahkan lebih parah dari seabrek blockbuster ala Bay atau Emmerich yang dianggap cheesy itu. Kecuali mau meninggalkan template klise storytelling itu dan benar-benar fokus di geberan aksi-aksinya, del Toro agaknya masih harus belajar banyak membangun atmosfer cheesy yang bisa sejalan dengan emosinya. Apa boleh buat, without any depth like usual del Torosall that’s left is only a soulless loud clangs, booms and bangs.

Rim8

            So go draw your conclusions. In that grande production design and scales, walau hampir tak ada jawdropping moments seperti yang dihebohkan banyak orang dari perkembangan teknologi efek dalam rentang waktu 7 tahun setelah ‘Transformers’, di tengah-tengah ‘been there and seen thatkind of cinematic wonders-nya, memang tetap sulit untuk menampik ‘Pacific Rim’ tak berhasil. Gelaran aksi dan efek-efek itu memang paling tidak sudah menyuguhkan apa yang ingin kita lihat dari sebuah royal rumble Mecha vs Kaiju dengan fun, super keren dan luarbiasa seru. Tapi dalam balutan keseluruhan, del Toro dan timnya belum bisa benar-benar memompa level-nya jauh melambung dengan universal receptions yang solid. Many mixed reviews dengan resepsi yang sangat bertolak belakang sudah membuktikan itu. Yes, it might still has the cinematic wonders. Some best bits. But overall, it’s obviously the underwhelming wonders. Semoga sekuelnya yang sudah sejak lama mendapat lampu hijau walaupun Legendary Pictures sekarang sudah bergabung dengan Universal pasca ‘Man Of Steel’ bisa jauh lebih baik dari ini. (dan)

Rim14

~ by danieldokter on July 12, 2013.

6 Responses to “PACIFIC RIM : THE UNDERWHELMING WONDERS”

  1. ada spoiler di akhir paragraf kelima, Bang

  2. @Hikari sepertinya tidak termasuk spoiler karena mission tersebut sudah disebut di 20 menit awal cerita. Saya setuju sekali dengan review ini, dimana dramatisasi di film ini terkesan tipis sekali dan fokus ke adegan2 kick-ass kaiju vs jaeger malah terlalu banyak. Sepertinya Del Toro benar-benar tidak ingin ada corny moments yg berlebih, sehingga adegan tangis, greget dan momen2 yang membuat terpana diadakan seminim mungkin.

    Mengenai adegan2 actionnya….bisa dibilang jempol saya akan lebih tinggi mengacung kalau : 1. adegan klimaks tidak terlalu gelap 2. beberapa momen seperti “tanker”, “dibawa terbang”, “jatuh dr ketinggian” tidak terlebih dulu diumbar di trailer…

    Tapi tetap ini film yang berkesan sekali. Bisa lebih baik, tapi kalau pencapaiannya sudah begini tinggi, 2 jam lebih berlalu tanpa rasa bosan. Semoga di sequelnya Del Toro banyak perbaikan (kendati dengan pendapatan box office yg cenderung biasa, a sequel is very unlikely, unless they gonna do it with less budget and more international cast). Maybe.

  3. About the mission ya? Sori kalo sampe spoiler🙂. iya, sayang sekali banyak yg ga tertangani sama kerennya kaya efek dan rumbling action-nya🙂. thanks for the comment, though🙂

  4. setelah nonton, ternyata memang bukan spoiler.
    sejak awal sudah disebutkan cara mengalahkan kaijunya.😀

  5. […]         Bekerjasama dengan salah satu komunitas filmmaker di Medan, Oneto Films (@onetofilms) ; Onet Adithia Rizlan (@onetpenulis), Embart Nugroho (@embartnugroho) dan As Gea (@asgeaone),  serta Ari (@arieeanggara) dari akun twitter @commentfilm dalam pengaturan konten dan Yovita Rizka Hastari (@yovitayopie) sebagai host, Medan Movie Bloggers menggagas sebuah webseries review film yang direncanakan akan hadir secara berkala. Untuk episode pertama, kami akan membahas background and various reviews dari ‘Pacific Rim’. […]

  6. hadir sob, jangan lupa kunjungan balik ke blog ku ya, ditunggu komentarnya, makasih .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: