MIRACLE IN CELL NO. 7 (7번방의 선물) : TONS OF HEARTS, LITRES OF TEARS

MIRACLE IN CELL NO. 7 (7번방의 선물)

Sutradara : Lee Hwan-kyung

Produksi : NEW (Next Entertainment World), 2013

MOC14

            Ask many questions about Korean movies these days. And I’m sure, melebihi banyak sisi-sisi teknologi yang berkembang pesat, kebanyakan akan kembali pada pertanyaan bagaimana film-film melodrama mereka bisa terasa begitu mengaduk-aduk emosi penontonnya. What once belong to Bollywood’s movies, kini sudah berpindah ke Korean movies dalam level yang lebih lagi. Bukan tak banyak film mereka yang punya elemen itu. Kadang bahkan sebagai sempalan yang seakan tak diperlukan juga dalam genre-genre campur aduknya. Most are full of cliches, while many of them were ‘been there, done that’ mix from other countries’ popular movies. Tapi menciptakan emosi yang bisa se-relate itu bagi pemirsanya, itu jelas bukan hal yang mudah.

MOC6

            However, dari sekian banyak tearjerker melodrama mereka, dalam persaingan ketat produk-produknya, yang bisa benar-benar keluar jadi pemenang, potentially a classic that will stand through the test of time, satu yang bakal diingat orang dalam rentang waktu jauh dan tetap akan disebut-sebut, tak semuanya bisa punya pencapaian sama. ’Miracle In Cell No. 7’, trust me on this unless you’re really allergic to tearjerkers, adalah salah satunya. Sejak perilisan domestiknya akhir Januari lalu untuk menyambut Korean’s lunar new year walaupun ber-setting di nuansa christmas, film ini sudah berhasil bertengger sebagai ‘third highest grossing Korean movie of all time’, di bawah ‘The Host’ dan ‘The Thieves’. Dan kenyataan bahwa ia tak juga memiliki kemegahan teknis dan bujet kelas blockbuster mereka atau star factor yang benar-benar kuat, membuat eksistensinya di posisi itu semakin kuat. Seperti banyak film-film biasa dengan pencapaian sejenis, satu fenomena paling jelas, memang ada pada viral effect dari word of mouth-nya. Mau lagi-lagi ini tak ubahnya seperti banyak film Korea lain yang meracik paket barunya dibalik seabrek déjà vu comot sana comot sini (yes, it has many glimpse of similarity to movies likeI Am Sam’ or ‘The Green Mile’ berikut epigonepigon-nya dari berbagai negara), adalah kekuatan emosi yang akhirnya membawa semua orang ingin merasakan experience-nya.

MOC4

            Lewat penuturan seorang pengacara muda, Ye-sung (Park Shin-hye), kita dibawa ke sebuah kisah menyentuh tentang ketidakadilan. Demi menghidupi Ye-sung kecil (Kal So-won), putrinya yang berusia 6 tahun, di tengah kekurangannya sebagai penderita disabilitas perkembangan mental, Lee Yong-gu (Ryu Seung-ryong), bekerja sebagai petugas parkir di sebuah pusat perbelanjaan. Keadaan Yong-gu tak pernah menghalangi kebahagiaan mereka sebagai ayah dan anak hingga sebuah peristiwa tak terduga membawa Yong-gu sebagai tertuduh pembunuhan dan penyerangan seksual seorang anak perempuan pejabat tinggi kepolisian di daerah mereka. Ia dijebloskan ke penjara sambil menunggu putusan akhir hukuman mati, meninggalkan Ye-sung sebatang kara dan terpaksa putus sekolah di sebuah panti asuhan. Di sel nomor 7 tempat Yong-gu menjalani hukumannya, lima narapidana lain, Choi Choon-ho (Park Won-sang), Shin Bong-sik (Jeong Man-sik), Man-bum (Kim Jung-tae), oldman Seo (Kim Gi-cheon) serta pimpinan sel So Yang-ho (Oh Dai-su) yang sempat diselamatkan Yong-gu dari serangan seorang napi, lama-lama menyadari ada yang salah dengan keputusan pengadilan terhadapnya. Dari menyeludupkan Ye-sung untuk bisa bertemu kembali dengan Yong-gu, yang lantas pelan-pelan merubah sentimen kepala penjara Jang Min-hwan (Jung Jin-young) pada sebuah simpati, mereka mulai menggagas rencana untuk menyelamatkan Yong-gu dalam sidang finalnya. Kalau perlu, sekalian melarikan diri dari penjara.

MOC8

            Yes, it’s true. Meski punya latar belakang gangguan mental secara medis berikut sebuah moving tale of injustice dibalik plot melodrama humanis dengan sempalan komedi yang dibangun dari karakter lima napi di sel nomor 7 itu, ‘Miracle In Cell No. 7’ memang terlihat lebih berfokus ke tearjerker ride-nya. Tak seperti banyak film sejenis, Lee Hwan-kyung, sutradara yang belum juga terlalu punya nama tapi sebelumnya sudah membuat beberapa film dengan feel mirip (‘Lump Of Sugar’, ‘Champ’) yang juga menulis skripnya bersama Yu Young-a, Kim Hwang-sung dan Kim Young-seok tak sampai perlu membeberkan lebih detil jenis gangguan mental yang diderita karakter Yong-gu.

MOC3

     Di tengah dinding perbedaan tipis tipe-tipe Pervasive Developmental Disorders (PDD) atau Autistic Spectrum Disorders (ASD), mereka membangun karakter Yong-gu cukup dengan visual yang sedikit banyak menjelaskan diagnosis dan bangunan karakternya. Seperti apa yang dilakukan Sean Penn dalam ‘I Am Sam’, bahkan mungkin Shahrukh Khan dalam ‘My Name Is Khan’ dalam batasan-batasan berbeda, Ryu Seung-ryong yang sudah menyabet dua piala lokal untuk karakter ini, memerankan Yong-gu dengan sangat baik. For one who understands more of its diagnosis aspects, anggapan sebagian orang yang menganggap akting Seung-ryong berlebihan, lebay atau apalah, mungkin juga mekanisme pertahanan ego yang mungkin belum bisa merasa tersentuh, pasti akan bisa ditepis dengan mudah.

MOC15

          And yes, it’s true. Like many other Korean tearjerkers, skrip itu memang mendramatisir plot-nya secara over the top. Push it to the highest limits dengan dialog dan adegan-adegan yang membuat kita benar-benar sulit mencoba memperkuat pertahanan emosi, tapi ingat, bukan berarti meletakkan karakter-karakternya merengek-rengek di layar demi membuat penonton terhanyut, seperti satu kekurangan film kita yang belum bisa dilepaskan sampai sekarang. Back and forth storytelling-nya memang sudah menggiring penonton secara predictable, but look again. Di tengah prediksi terjelek sekalipun, which you already saw it coming, mereka tetap bisa mengaduk-aduk emosi kita. You’ll put a lot of hopes in different characters, yang menandakan kita begitu terhubung dengan karakter-karakternya. Dan tak seperti banyak film Korea lain yang hadir dengan pengenalan karakter terlalu panjang di first act-nya yang kadang keterusan, apa yang ada dalam ‘Miracle In Cell No. 7’ dibalik durasi cukup panjangnya, adalah sesuatu yang efektif.  Therefore, they were done in a really, really, good ways.

MOC17

      Satu lagi miracle terbesarnya adalah Kal So-won yang memerankan Ye-sung kecil. Ber-chemistry dengan luarbiasa dengan Seung-ryong di tengah remarkable acts mereka, aktris cilik ini tampil begitu mencuri hati di setiap scene-nya, bahkan membuat pemeran dewasanya, Park Shin-hye yang notabene lebih dikenal terlihat sedikit kesulitan melanjutkan estafet karakternya. The rest belong to other characters, yang berhasil dibangun skrip itu dengan kecermatan tinggi. With tons of hearts, pemeran lima narapidana plus Jung Jin-young yang memerankan sang kepala penjara dengan turnover karakternya yang juara, bisa bergantian mencuri perhatian di setiap bagian yang menonjolkan detil-detil karakterisasinya, membagi feel comedy dan melodrama-nya bercampur-baur dengan variatif . They even gave a lot of laughs beyond many wet eyes and hurt feelings yang sudah terbangun dengan sendirinya dari interaksi karakter Yong-gu dengan Ye-sung.

MOC10

            Melengkapi latar penuh miracle dari atmosfer christmas serta perayaan reliji atau kultur lokalnya, from the musical choirs to air balloons, scoring dari Lee Dong-june juga bekerja dengan sempurna. Nope, it’s not over the top, tapi benar-benar bisa memanipulasi emosi hingga ke batas yang cukup sulit ditahan menjadi luapan air mata yang bisa tumpah kemana-mana. Sinematografi dari Kang Seung-gi juga turut mendukung storytelling itu tak kalah juaranya. Bahwa mereka membangun melodrama dari sebuah disabilitas dan kejadian luarbiasa yang merubah jalan hidup para karakternya, itu benar, tapi tanpa perlu punya kesamaan nasib dengan mereka, siapapun yang masih punya hati, pasti akan bisa merasakan detil-detil dari tiap emosinya.

MOC11

        So again, trust me on this. A tearjerker melodrama yang bisa membuat penontonnya tak lagi sanggup menahan air mata mereka, itu banyak. Yang pretensius, apa lagi. Tapi satu yang bisa diingat sampai lama dengan banyak sisi kesempurnaan dalam penggarapan keseluruhannya, ones that still can give you more litres of tears and also a lot of smiles at the same time, itu tak akan sering-sering kita dapatkan. Being an instant classic, ‘Miracle In Cell No. 7is a Korean ultimate tearjerker at one of its finest. One of its finest. (dan)

MOC13

~ by danieldokter on July 23, 2013.

7 Responses to “MIRACLE IN CELL NO. 7 (7번방의 선물) : TONS OF HEARTS, LITRES OF TEARS”

  1. Truly are the best !

  2. Film yang luar biasa bagus & mengharukan. Hanya saja saya cukup terganggu dengan adegan sebagaimana ditampilkan dalam 2 picture terakhir di atas. Bukankah saat Ye-sung dewasa dan menjadi pengacara ayahnya sudah dieksekusi? Lalu bagaimana bisa muncul adegan tersebut? Ilusikah? Atau mungkin saya yang bodoh?
    Salam….

    • Menurut saya ye-sung ketika dia dewasa dan menjadi pengacara ingin membenarkan kasus ayahnya yg terkena tuduhan, dan setelah dia terbukti tdk bersalah, ye-sung membebaskan tuntutan seumur hidup ayahnya. Jadi scene awal dan akhir nya ye-sung itu masuk penjara unt jemput ayahnya.

  3. It’s called visual dramatizations🙂. Jadinya ya lebih menyentuh lagi, justru🙂

  4. Ceritanya mirip HARMONY…. tp menurutku harmony jauh lebih bagus dibanding film ini

  5. Gilaaa,,sampe meleler air mataku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: