THE WOLVERINE : A GRITTY KIND OF CLAWS

THE WOLVERINE

Sutradara : James Mangold

Produksi : Marvel Entertainment, The Donners’ Company, Seed Productions, 20th Century Fox, 2013

Wolv2 

            Tak seperti komponen ‘The Avengers’ yang digagas secara konseptual dan penuh kecermatan untuk membangun interkoneksi-nya dalam ‘Marvel Cinematic Universe’, adaptasi ‘X-Men’ dalam sub-franchise yang berbeda memang kadang terasa tumpang tindih dalam interkoneksi satu dengan lainnya. Tak sepenuhnya salah memang, karena seperti universe comic series-nya yang sangat variatif, kaitannya bisa saling berbeda hingga punya macam-macam alternate universe. Hanya saja, dalam bentuk adaptasi film, bagian-bagian franchise itu sering mengalami crossover attempts oleh para penggagasnya, apalagi ketika Brett Ratner dengan ‘X-Men 3 : The Last Stand’ kian mengacau-balaukan semuanya.

Wolv4

            ‘X-Men Origins’ yang awalnya turut direncanakan sebagai sub-franchise adaptasi ini diawali dengan ‘X-Men Origins : Wolverine’ (2009) oleh sutradara Gavin Hood. Namun ketimbang berfokus lebih pada real origin-nya sebagai stand alone spin-off, biarpun tetap punya bahasan historikal karakter ‘X-Men’ paling legendaris ini di dalamnya, film ini ternyata lebih berupa instalmen berbeda dari ‘X-Men’ yang semakin membingungkan timeline-nya, plus karakter ‘Wolverine’ yang lagi-lagi harus berbagi porsi dengan seabrek karakter ‘X-Men’ lain di dalamnya. In the scale of entertainment, biarpun diwarnai bocornya roughcut awal secara online yang sedikit banyak membuyarkan ekspektasi banyak orang, ‘X-Men Origins : Wolverine’ jelas tak jelek. Ia hanya gagal membidik sasarannya sebagai separate part of the whole series. Tapi stinger di post credit-nya sudah memberi gambaran ke story arc yang sudah ditunggu banyak fanboy.

Wolv18

            Sekuel yang akhirnya jadi lebih ke sebuah stand alone story lain, seperti yang dikatakan James Mangold, sutradara terpilih yang akhirnya masuk menggantikan Darren Aronofsky akibat ketidaksesuaian jadwal, membawa adaptasi ‘Wolverine Japanese Sagavol. 1 karya Chris Claremont dan Frank Miller (1982) yang jadi favorit banyak fans-nya sebagai Wolverines first solo outing dalam sejarah universe-nya. Ketimbang menyambung ‘X-Men Origins : Wolverine’ secara keseluruhan, skrip awal Christopher McQuarrie yang direvisi Scott Frank (‘Out Of Sight’, ‘Minority Report’) dan Mark Bomback (‘Constantine’, ‘Live Free Or Die Hard’, ‘Total Recall (2012)’) memilih jalan lain. Lagi-lagi, mereka terjebak ke lubang crossover yang agak melenceng, tapi di sisi lain punya potensi menyambungkan benang merah dari ‘X-Men’ film series yang ada. Melanjutkan timeline pascaThe Last Stand’ untuk dirajut ke sekuel ‘X-Men : First Class’, the anticipatedDays Of Future Past’ dalam mid-credit stinger yang, well, you’ll see, akan punya impact luarbiasa terhadap antusiasme fans-nya.

Wolv11

            Pemilihan James Mangold pun terasa sangat tepat untuk source adaptasi itu. As a remarkable director, filmografi Mangold memang melintasi banyak genre secara variatif, tapi signature western-nya di beberapa filmnya seperti ‘Cop Land’, ‘3:10 To Yuma’, biopik Johnny CashWalk The Line’ hingga ‘Knight And Day’ yang sedikit terlalu pop-cornish itu sedikit banyak jadi referensi yang mantap untuk menggagas Japanese Arc petualangan Wolverine ini. Bukan saja karena genre western, by its long history, memang mendapat pengaruh genre atau film-film Japanese Samurai, baik dari ‘Chanbara’ (swordfight action oriented) atau ‘Jidai-geki’ (myth-samurai oriented), karakter Wolverine dalam story arc itu memang dipenuhi elemen-elemen wajib genre-nya seperti loyalty, code of honors, romance and revenge over a lone-hero in personal motives. Like a samurai without a master, a ronin with hearts, violence and rage to find love and honour where it belongs. Di tangan Mangold, filosofi-filosofi Samurai ini menjadi dasar yang kuat untuk membangun sebuah adaptasi superhero komik yang beda dengan classic western signature.

Wolv15

            Following the event inThe Last Stand’, kehilangan sebagian rekan-rekannya, mostly Jean Grey (Famke Jannsen) di tangannya sendiri, membuat Logan a.k.a Wolverine (Hugh Jackman) berada dalam keadaan terguncang. Mengasingkan diri ke hutan terisolasi, Logan kemudian tak bisa menolak ketika seorang gadis Jepang, Yukio (Rila Fukushima) yang punya kemampuan melihat masa depan berniat membawanya ke Jepang atas sebuah peristiwa masa lalunya dengan Ichirō Yashida (Haruhiko Yamanouchi), perwira Jepang yang diselamatkannya dari bom atom Nagasaki di tahun 1945. Pasalnya, Yashida yang kini menjadi pimpinan perusahaan multinasional di Jepang berada dalam keadaan sekarat dan ingin mengucapkan perpisahan langsung dengannya. Sampai disana, barulah Logan menyadari bahwa ia tengah terjebak dalam sebuah konspirasi atas pertentangan keluarga Yashida, antara Shingen (Hiroyuki Sanada) dan Mariko (Tao Okamoto), putra dan cucu Yashida, yang juga melibatkan Kenuichio Harada (Will Yun Lee), pemanah ulung sahabat masa kecil Mariko, menteri pertahanan korup Noburo Mori (Brian Tee), dan onkologis Yashida yang misterius, Viper (Svetlana Kodchenkova). Kehilangan hampir seluruh kekuatannya, kini Logan harus memilih siapa kawan dan lawan untuk bisa bertahan di tengah hatinya yang mulai terpaut pada Mariko.

APphoto_Film Review The Wolverine

            So you see. Di tengah karakternya yang serba keras dibalik cakar adamantium yang melebihi kekuatan baja, sejarah karakter Wolverine memang dibangun para penggagasnya diatas banyak love stories yang sekaligus memunculkan pertentangan jiwa dalam menggali motivasi dan dramatisasinya. What it means to be immortal, live forever but seeing the decease of someone he loved, fights the ghost from the past dalam peran singkat Famke Jannsen yang sekilas kelihatan useless tapi menyimpan makna sekaligus menggelar teaser ke crossover ‘X-Men’ selanjutnya, dan masih banyak aspek lain yang menjelaskan sosoknya sebagai ‘Lone Wolf Warrior’ dalam universe-nya. Mangold membaca hal ini dengan baik untuk menuangkan style dramatic yang kerap mewarnai kebanyakan filmnya. Brought Wolverine to explore his darker and vulnerable side dalam sebuah kisah pencarian yang tetap diwarnai aksi. More to a gritty character driven western, namun tak harus sepenuhnya menghindari dominasi boom bang effects and action yang tetap diperlukan dalam sebuah comic adaptation summer blockbuster.

Wolv14

            Sisi terbaiknya tentu saja ada pada keleluasaan Mangold untuk menampilkan penggalian karakter Wolverine dalam tendensi sebuah stand alone spin off jauh lebih solid ketimbang instalmen lain khususnya kegagalan film (yang dimaksudkan sebagai) solo outing Wolverine sebelumnya. Bukan harus tak ada karakter mutan lain yang ditampilkan, walaupun Viper banyak dinilai terlalu corny bak Poison Ivy dalam ‘Batman & Robin’ di kostum dan penokohannya, serta tentu saja kemunculan famous villainSilver Samurai’ yang sangat ditunggu namun berbelok jauh dari aslinya ke final showdown yang juga dianggap agak jomplang dengan keseriusan bangunan plot ala Mangold, namun lagi, inilah wujud stand alone story yang diinginkan banyak fans Wolverine yang lebih mengerti perbedaan tone komik-komik solo Wolverine dengan Wolverine saat disandingkan dengan rekan-rekan ‘X-Men’-nya. Apalagi, feel classic western yang disandingkan dengan atmosfer serta filosofi Samurai movies dengan background cukup kuat itu menjelma secara fresh jadi sebuah adaptasi superhero komik yang agak beda dari biasanya.

Wolv19

            Hugh Jackman yang sejak lama menginginkan storyline origin ini kembali ke karakter Wolverine dengan sangat prima. Menerjemahkan painful tiredness dan konflik batinnya dengan kuat, with much less one-liners humor, and mostly, powerful physical looks more than ever. Pemeran pendukungnya juga sama baiknya , dari Hiroyuki Sanada, Will Yun Lee yang masing-masing diberi porsi cukup kuat, dan mostly, dua pemeran wanitanya, Tao Okamoto dan Rila Fukushima yang sangat mencuri perhatian di tiap penampilan mereka. Menunjukkan ketangguhan seimbang dan chemistry erat dalam level-level berbeda terhadap karakter Wolverine.

Wolv3

            Kekuatan lain dalam ‘The Wolverine’ juga terletak pada sinematografi DoP senior Amir Mokri yang berhasil merekam sisi-sisi konflik Yakuza dan Samurai code-nya dibalik set asli Jepang dan sebagian yang di-shot di Australia dengan production design yang keren. Ninja rumbles-nya mungkin bisa jauh lebih intens dan gore, namun selain ini adalah pilihan, action scenes-nya, from many sword fights hingga ke salah satu scene jagoan sebelum final showdown Wolverine vs Silver Samurai yang mengecewakan sebagian orang itu, tak bisa dipungkiri juga hadir dengan sangat seru. Dan jangan lupakan keunggulan penggunaan efek spesial dalam scene fighting on the top of Shinkansen, Japanese high speed bullet train, yang jadi salah satu scene terbaik dalam franchise keseluruhannya. Konversi 3D-nya sebagai yang pertama dalam adaptasi layar lebar franchise ini mungkin tak kelewat spesial dengan popped-up scenes, tapi di sisi lain, memberikan wonderful depth yang cukup detil. Terakhir, jangan buru-buru beranjak dari kursi sebelum menyaksikan mid-credit stinger yang dahsyat. A teaser clue toDays Of Future Past’, which none of you will see it coming.

Wolv16

            So yes, dibalik banyak ekspektasi serta resepsi beda-beda terhadap penonton yang terbagi-bagi antara menginginkan anotherX-Mengigantic installment, fanboys yang tahu batasan stand alone Wolverine story atau instant fanboys yang masih sulit membedakan keduanya, Mangold sudah membawa ‘The Wolverine’ ke level yang berbeda dari franchise-nya. Pendekatan character driven dibalik referensi-referensi western dan samurai genre tanpa harus melenyapkan feel blockbuster sebagai syarat mutlak itu sudah berhasil membawa Wolverine ke tampilan terkuatnya. Lebih bernyawa, and most of all, it breathes viscerally with grittier kind of claws. Bagus! (dan)

~ by danieldokter on July 26, 2013.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: