LA TAHZAN : AN ILL-DEFINED RELIGIOUS ROMANCE

LA TAHZAN

Sutradara : Danial Rifki

Produksi : Falcon Pictures, 2013

latahzan12 

            For those who ask, no. It’s not based on the famous self-help books, ‘La Tahzan by DR. Aidh Al-Qarni. Diangkat dari ‘La Tahzan For Students’, yang merupakan series of inspirative books berjudul sama untuk segmen berbeda, seperti versi Islami dari ‘Chicken Soup For The Soul’ yang ditulis oleh kontributor-kontributor lokal, ‘La Tahzan’ bersumber dari salah satu segmen dalam buku yang mengisahkan pengalaman mahasiswa-mahasiswa Indonesia sebagai arubaito (belajar sambil bekerja) di Jepang itu, ‘Pelajar Setengah TKI’ karya Ellnovianty Nine. As a loose adaptation, ditambah dengan banyak pengalaman pribadi Novi, panggilannya, skrip yang akhirnya ditulis oleh Jujur Prananto ini mengetengahkan sebuah kisah cinta segitiga berlatar reliji antara tokoh-tokohnya.

latahzan4

            And for those who ask, yes. ‘La Tahzan’ adalah film yang awalnya berjudul ‘Orenji’ yang sudah sempat diberitakan sejak tahun lalu. Karya penyutradaraan pertama Danial Rifki, penulis skenario ‘Tanah Surga, Katanya…’, film terbaik FFI tahun kemarin ini memang atas berbagai pertimbangan mengalami pergantian judul. Salah satunya, tentulah untuk alasan pemasaran untuk dirilis di momen Lebaran tahun ini. ‘Orenji’ memang punya unsur untuk di-wrap menjadi sebuah romansa reliji yang senada dengan momen itu. Sejauh apa, itu nanti dulu. Tapi yang jelas, menurut pihak produsernya, judul ‘Orenji’ (orange dalam dialek lazim Jepang) juga dianggap kurang menjual. Selain lebih menjelaskan sisi reliji yang punya potensi meraup penonton lebih, mungkin kata ‘La Tahzan’ yang punya arti Jangan Bersedih, yang juga diambil dari kutipan salah satu surat Qur’an ini akan terasa lebih akrab untuk tujuan daya jual ke segmentasinya. Sah-sah saja, apalagi dibalik penundaan itu, sekarang nama Joe Taslim sudah makin dikenal sejak ikut muncul dalam ‘Fast And Furious 6’ barusan, dan satu lagi, theme song yang akhirnya dipilih, ‘Bidadari Surga’ dari alm. Ustadz Jeffry Al-Bukhori juga ikut jadi jualan cukup ampuh.

latahzan7

            The story itself is simple. Mengikuti Hasan (Ario Bayu), laki-laki yang meninggalkan hubungan mereka tanpa jejak, Viona (Atiqah Hasiholan) mengejar cita-citanya ke Jepang. Belajar sambil bekerja di sebuah restoran sushi, sambil mencari keberadaan Hasan, Viona bertemu dengan Yamada (Joe Taslim), seorang fotografer freelance keturunan Indonesia yang langsung menaruh hati padanya bahkan rela mengorbankan apa saja termasuk agamanya. Namun di saat yang sama, jawaban yang ditunggunya dari ketidakjelasan Hasan juga datang. Viona pun berada dalam persimpangan yang sulit buat menentukan pilihan hatinya.

latahzan5

            Hal terbaik dari ‘La Tahzan’ , mostly if you’ve seen the trailer, jelas ada pada tampilan atmosfer Jepang sebagai bagian penting dari latar ceritanya. Tak hanya berhasil merekam sudut-sudut tiap lokasi untuk membangun visual yang ikut menceritakan perasaan karakter-karakter serta nuansa romansa yang kuat dibalik kecantikannya, walaupun pergerakan kameranya di beberapa scene agak mengganggu, sinematografi Yoyok Budi Santoso bekerja cukup baik bersama art directing dari J.B. Adhi Nugroho. Penampilan para pemeran pendukung untuk set Jepang-nya, salah satunya Nobuyuki Suzuki, juga cukup menarik.

latahzan6

            Joe Taslim pun berhasil memerankan Yamada dengan sangat baik. Beyond his great performance, baik dalam gestur, intonasi dan pengucapan dialog-dialog berbahasa Jepang dan Indonesia, aura lovable karakter Yamada sebagai distraksi di tengah hubungan dua karakter utama lainnya muncul dengan prima. Bahkan chemistry-nya dengan Atiqah Hasiholan yang biar bermain baik di paruh akhir tapi tetap terasa miscast dengan karakter Viona yang digambarkan kelewat manja dan menye-menye hingga terasa annoying dengan dialog-dialognya, bisa sedikit terselamatkan.

latahzan8

            Sayangnya, kecuali atmosfer Jepang dalam penekanan atmosfer romansa dan penampilan Joe Taslim tadi, ‘La Tahzan’ tak berhasil membangun fondasi lainnya dengan baik. The worst thing about it adalah bangunan karakternya yang sama sekali tak punya motivasi yang jelas, terutama pada karakter Viona dan Hasan. Sebagai vehicle penting dalam membangun kisah cinta segitiga yang seharusnya bisa jadi sangat menyentuh, sejak awal semuanya terasa tak fokus. Jujur Prananto sebagai penulis skrip yang sudah tak diragukan lagi potensinya sekali ini terlihat gagal membawa penceritaan itu bersama Danial Rifki. Storytelling-nya berantakan, kerap kali di luar logika manusia-manusia normal dan terasa dibuat-buat. Sempalan komedi dari sebagian karakter pendukungnya, yang sebenarnya diperankan dengan cukup lepas oleh Prilly Latuconsina pun tak lagi bisa membantu, begitu juga nama-nama lain seperti Dewi Irawan, Piet Pagau atau Erly Ashy yang tak diberi kesempatan lebih. Dan ini berjalan makin parah menuju paruh kedua saat elemen-elemen relijinya masuk seketika entah dari mana.

Latahzan1

            Tak hanya terlihat sebagai gimmick, tempelan dan kompromisme serta atribut yang dipaksakan, elemen-elemen reliji yang tak diawali dengan deskripsi jelas serta penempatan soundtrack bernuansa sama ini juga tak berusaha dipertahankan untuk penyelesaian konflik yang akhirnya jatuh jadi sangat datar. Filosofi ‘Orenji’ sebagai judul awal yang dipilih dan berkali-kali berusaha menyeruak secara berbeda dalam menjelaskan konflik batin karakter-karakternya ikut pupus tanpa bekas. Scoring cukup baik dari Ricky Lionardi pun tak lagi bisa mengangkatnya. With everything is already a little bit too much, para pembuatnya mungkin berusaha mengemas konklusi unconventional di bagian-bagian endingnya, namun lagi-lagi mereka harus berhadapan dengan motivasi karakter yang sudah berantakan sejak awal tadi, termasuk ke bangunan karakter Ario Bayu yang bukan bermain jelek tapi tak lagi bisa menampilkan sesuatu yang lebih.

latahzan10

            So yes. Ini sayang sekali. ‘La Tahzan’ sebenarnya punya segudang potensi yang bagus dalam menyajikan info-info tentang arubaito di tengah sebuah kisah cinta dengan elemen reliji yang bisa jauh lebih ter-handle dengan bagus, tapi sayangnya tak begitu. Dengan hanya dua keunggulan dibalik unsur-unsur krusial yang tak tergarap dengan sama baik, ‘La Tahzan’ jadinya lebih menyisakan kekecewaan terhadap kalangan pemirsa yang bisa lebih kritis mencerna sebuah tontonan. An unfocused, ill-defined religious romance. Sayang sekali. (dan)

~ by danieldokter on August 4, 2013.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: