THE CALL : ALMOST A TAUT AND GRIPPING SMALL SCALE THRILLER

THE CALL

Sutradara : Brad Anderson

Produksi : WWE Studios, Stage 6 Films, TriStar Pictures, 2013

Call6 

            Beredar di masa-masa off season tahun ini, ‘The Call’ merupakan sebuah thriller yang cukup banyak mendapat sambutan. It came from Brad Anderson, a small scale director yang sebenarnya cukup visioner sejak ‘Next Stop Wonderland’ di tahun 1998. Lupakan ‘Vanishing In 7th Street’ (2010), namun ‘Session 9’ (2001) dan ‘Transsiberian’ (2008) yang ikut ditulisnya pun tergolong film-film kecil dengan konsep cukup kuat, termasuk tentunya, ‘The Machinist’ yang paling diingat banyak orang karena performa juara Christian Bale. So, even when he’s not being a writer, Brad Anderson sepertinya punya signature cukup spesial dalam memilih proyek. Might be small ones, but has quite a high concept di dalamnya.

Call1

            ‘The Call’ sendiri berasal dari ide Richard D’Ovidio (‘Exit Wounds‘, ‘Th13teen Ghosts‘) yang sekaligus menulis skripnya. Sempat direncanakan sebagai premiere plot serial TV berjudul ‘The Hive’, film ini menyorot sebuah profesi yang cukup sering tampil di film namun hampir tak pernah jadi fokus utama. Operator 9-1-1 yang dipadukan dengan kidnapping thriller seru. Sounds intriguing, apalagi D’Ovidio membesutnya dengan nafas feminis kuat dari dua karakter utama yang dibintangi Halle Berry, yang sudah kian jarang merilis film yang layak dibalik statusnya sebagai aktris pemenang Oscar, bersama bintang cilik yang tengah beranjak remaja, Abigail Breslin, also an Oscar nominee actress dari ‘Little Miss Sunshine’.

Call2

            Sejak trauma yang dialaminya selepas menerima telefon seorang gadis yang jadi korban pembunuh serial, operator 9-1-1 senior Jordan Turner (Halle Berry) berpindah tugas menjadi seorang trainer. Namun bayang-bayang sang pembunuh kembali mendatanginya saat Jordan kembali berhadapan dengan telefon dari Casey Welson (Abigail Breslin), gadis remaja yang tengah berada dalam bagasi sebuah kendaraan misterius. Trauma Jordan lantas membuatnya langsung mengambil alih kasus ini, membimbing Casey lewat telefon sambil berkoordinasi dengan kepolisian lewat kekasihnya, officer Paul Phillips (Morris Chestnut). Ketika identitas dan motif sang pembunuh terkuak, Jordan mau tak mau harus berpacu dengan waktu demi menyelamatkan Casey dan juga trauma panjangnya.

Call3

            ‘The Call’ memang dimulai dengan penuturan fast paced yang terasa sangat efektif dibalik pengenalan karakter dan sedikit informasi seputar profesi operator 9-1-1. Nuansa thriller-nya, a taut and gripping one, I assured you, juga tak memerlukan durasi kelewat lama untuk menggempur penontonnya nyaris tanpa jeda dengan salah satu scene jagoan di tengah-tengah kendaraan yang melaju di jalan tol. Sama seperti karya-karya Brad Anderson lain dalam kelas small scale-nya, skrip D’Ovidio di bagian-bagian ini tak pernah sekalipun mencoba kelihatan pintar dengan pengalihan-pengalihan whodunit twist yang kerap jadi trend dalam thriller-thriller sejenis. It goes as cliché  using old fashioned cinematic techniques as many other movies with kidnapping themes, tapi tetap bisa luar biasa menyampaikan sisi thrilling-nya. Baik Halle Berry, Abigail Breslin dan Michael Eklund, pemeran villain-nya bermain intens menokohkan karakter mereka bersama pemeran pendukung lain termasuk Morris Chestnut yang juga sama efektifnya. Score dari John Debney pun tergolong cukup bagus membangun atmosfer thriller-nya.

Jordan Turner (Halle Berry) in TriStar Pictures thriller THE CALL.

            However, ini juga jadi semacam bumerang untuk mengeksekusi konklusi akhirnya. Bahwa ‘The Call’ memang merupakan sebuah produk Hollywood yang tak bisa jauh-jauh keluar dari pakemnya, di satu sisi juga membuat D’Ovidio dan Anderson seperti tak punya pilihan untuk bisa bergerak jauh meneruskan ride penuh suspens ini ke third act-nya. Belum lagi soal-soal modus dan motif untuk menambah gruesomeness-nya yang mungkin sudah terlalu sering kita lihat dan tak juga ter-handle sama baiknya. Many critics might consider it as generics, but I’d rather call it a compromise one, yang tak juga bisa berbuat banyak untuk menyelamatkan ‘The Call’. Tentu tak ada yang salah dengan predictable conclusions, tapi final act yang seakan menjadi pilihan sulit ini akhrinya malah kehilangan momen-momen suspens yang sudah dibangun dengan fondasi kuat di dua pertiga bagian awalnya. Apa boleh buat. ‘The Call’ jelas tak jadi jelek dengan pencapaian-pencapaian itu, tapi final act-nya, terus-terang, mengecewakan. Almost a taut and gripping small scale thriller, overall. Almost. (dan)

~ by danieldokter on August 19, 2013.

One Response to “THE CALL : ALMOST A TAUT AND GRIPPING SMALL SCALE THRILLER”

  1. Setuju banget kalau ini film seru dan menegangkan. Sedikit buruk di akhir, tapi tidaklah mengganggu, mengingatkan film seperti Disturbia, film yang kuat di dua pertiga, tapi tertatih-tatih di ending. Sebisa mungkin ditonton di layar lebar, kalau sudah selesai melihat semua blockbuster. A small pleasure.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: