THE MORTAL INSTRUMENTS : CITY OF BONES ; JUST ANOTHER YOUNG ADULT FANTASY ADAPTATION

THE MORTAL INSTRUMENTS : CITY OF BONES

Sutradara : Harald Zwart

Produksi : Constantin Films, Screen Gems, 2013

MI12 

            Say whatever you want. But the truth, here’s a trend called Young Adult Movie Adaptation. Bagi sebagian orang, ini hanya seperti epigon-epigon-nya ‘The Twilight Saga’. Tapi toh kita tak pernah tahu yang mana yang benar-benar meletakkan orisinalitasnya pertama kali. Jauh sebelum ‘Twilight’, bukan juga genre-nya sama sekali tak ada. Yang jelas, elemen-elemen yang ada dalam kebanyakan franchise young adult itu sekarang, memang tak lari terlalu jauh dari pakem satu sama lain. Yang membedakannya hanyalah karakter, set dan nama-nama unik yang dipakai untuk membangun universe-nya. Selebihnya, teen love triangle? Check. Vampires? Check. Werewolves? Check. Witch or Warlock? Check. Other mythical creatures? Check. Kalaupun ada terobosan baru, juga tak sampai terlalu menonjol dibandingkan elemen-elemen wajib tadi. However, in movie business, jelas tak ada salahnya mengadaptasi novel-novel young adult yang sukses. Hanya saja, tak terlalu jauh berbeda dari superhero adaptations, mereka punya target audience yang beda lagi. Sah saja.

MI1

            ‘The Mortal Instruments’ sendiri merupakan adaptasi dari novel series berjudul sama dari penulis Cassandra Clare. 5 dari 6 serial novel itu sudah dirilis dengan status best seller, dan ‘City Of Bones’ adalah buku pertamanya. Set in contemporary New York, seorang gadis biasa Clarissa ‘Clary’ Fray (Lily Collins) tak menyadari bahwa visinya terhadap simbol-simbol aneh yang muncul seketika akan menjadi awal petualangan baru dari identitas rahasianya, yang selama ini tersimpan rapi oleh sang ibu, Jocelyn (Lena Headey) bersama temannya Luke Garroway (Aidan Turner). Lewat pertemuan misterius dengan Jace Wayland (Jamie Campbell Bower), Clary pelan-pelan menyadari bahwa dirinya adalah seorang ‘shadowhunter’, makhluk-makhluk yang dilatih untuk menumpas iblis-iblis tersembunyi di bumi, sama seperti Jace.

MI6

           Namun Jocelyn keburu diculik oleh Emil Pangborn (Kevin Durand) dan Samuel Blackwell (Robert Maillet) yang merupakan suruhan Valentine (Jonathan Rhys-Meyers), sosok misterius yang memburu Clary atas kekuatan sebagai ‘shadowhunter’ yang tak disadarinya bersama sebuah cawan rahasia ‘The Mortal Cup’. Bersama sahabatnya, Simon Lewis (Robert Sheehan) yang diam-diam mencintai Clary, mereka bergabung dengan ‘shadowhunter’ lainnya, Alec Lightwood (Kevin Zegers) dan Isabelle Lightwood (Jemima West) di sebuah tempat rahasia bernama The Institute yang dipimpin oleh Hodge Starkweather (Jared Harris). Atas petunjuk Hodge, mereka bergerak ke City Of Bones, makam para ‘shadowhunter’ untuk mencari petunjuk dari Brother Jeremiah (Stephen R. Hart) dan penyihir tangguh Magnus Bane (Godfrey Gao). As almost everyone turns out not to be what they seem, kini Clary harus menjajal kekuatan dan intuisinya. Menghadapi amukan para vampire, werewolf, serta serangan Valentine yang terus membuntuti mereka demi menyelamatkan Jocelyn, termasuk cinta segitiga antara dirinya dengan Jace dan Simon.

MI5

            Sebagai young adult adaptation dengan terobosan menggabungkan banyak elemen-elemen ‘wajib’ dari genre-nya, at many times, ‘City Of Bones’ memang terasa sedikit penuh sesak sejak awal. Belum lagi masuknya subplot-subplot yang terlihat sekali maunya menggelar twist berlapis, bukan hanya dari konflik tapi juga karakter-karakternya, treatment dari skrip Jessica Postigo Paquette yang baru memulai karir layar lebarnya sebagai screenwriter terasa tak fokus dan melompat-lompat, lengkap dengan dialog-dialog yang kelewat cheesy. Penyutradaraan Harald Zwart, sineas Norwegia yang sebelumnya kita kenal lewat ‘Agent Cody Banks’, ‘Pink Panther 2’ dan ‘The Karate Kid’ versi baru pun jadi kelihatan sangat keteteran menggelar informasi serta motif-motif karakter yang seringkali muncul terlalu tiba-tiba.

MI7

            Adegan klimaks yang digagas terbagi-bagi ini juga membuat inkoherensi antar adegan dibalik editing Michael Kahn jadi sangat terasa mengganggu. Bukan saja merusak bangunan adegan-adegan aksi dengan time-lapse yang berantakan di klimaksnya, unsur romance dan teen love triangle-nya pun lebih terasa ridiculous ketimbang memikat, dan ini berlanjut begitu awkward dibalik forbidden love theme-nya sampai ke scene-scene penutup. Padahal durasi 130 menit sebenarnya sudah cukup panjang untuk bisa membangun detil-detilnya sedikit lebih dari apa yang kita saksikan. Sinematografi dari DoP asal Swedia Geir Hartly Andreassen yang barusan kita lihat dalam ‘Kon-Tiki’ juga cukup bagus, tapi benar-benar sulit jika mengetahui siapa Kahn dengan filmografi panjangnya sebagai peraih Academy Awards terutama di sebaris karya-karya Steven Spielberg.

MI9

            Begitupun, di luar kurang kuatnya chemistry antara Lily Collins – Robert Sheehan dan Jamie Campbell Bower sebagai pentolan utamanya, ‘City Of Bones’ masih menyisakan deretan cast berisi nama-nama cukup dikenal yang bisa sedikit membuatnya lebih layak untuk disaksikan bersama treatment creatures effect dan set-nya yang bukan sekedar asal-asalan. Jonathan Rhys-Meyers mungkin tampil sedikit kelewat lemah sebagai main villain yang malah tenggelam dari duo Kevin Durand dan Robert Maillet, begitu juga Jared Harris dan Lena Headey yang tak banyak diberikan kesempatan lebih, namun mantan aktor cilik Kevin Zegers dari ‘Air Bud’ bersama Jemima West, aktor Taiwan Godfrey Gao, C.C.H. Pounder pemeran Madame Dorothea dan Aidan Turner yang memerankan Luke Garroway masih bisa mencuri perhatian dibalik karakterisasi mereka yang tak juga dibangun terlalu baik di skripnya.

MI10

            Dan dalam wujudnya sebagai young adult adaptation, dengan elemen scoring dan soundtrack yang harus tampil menjual, untunglah ‘City Of Bones’ masih menyisakan scoring bagus dari Atli Örvarsson, komposer terkenal asal Islandia yang selama ini memuat kontribusinya dalam orkestrasi Hans Zimmer dari ‘Pirates Of The Caribbean’, ‘The Holiday’ hingga ‘Man Of Steel’, berikut lagu-lagu soundtrack yang juga cukup memikat, terutama dua nomor yang dijadikan singel, love themeWhen The Darkness Comes’ dari Colbie Caillat dan ‘Almost Is Never Enough’ dari Ariana Grande dan Nathan Sykes.

MI8

            Jadi begitulah. Dari beberapa unsur yang masih bisa menyelamatkan tadi, ‘City Of Bonesmight had some of its moments. Tapi secara keseluruhan, terutama sebagai pembuka franchise yang sebenarnya wajib punya kekuatan lebih untuk membangun fondasi yang kuat ke instalmen-instalmen selanjutnya, ini bisa dibilang cukup payah. Just another young adult fantasy adaptation that goes only for its fans, dan tak lebih dari itu. (dan)

~ by danieldokter on August 29, 2013.

One Response to “THE MORTAL INSTRUMENTS : CITY OF BONES ; JUST ANOTHER YOUNG ADULT FANTASY ADAPTATION”

  1. […] Say whatever you want. But the truth, here’s a trend called Young Adult Movie Adaptation. Bagi sebagian orang, ini hanya seperti epigon-epigon-nya ‘The Twilight Saga’. Tapi toh kita tak pernah tahu yang mana yang benar-benar meletakkan orisinalitasnya pertama kali. Jauh sebelum ‘Twilight’, bukan juga genre-nya sama sekali tak ada. Yang jelas, elemen-elemen yang ada dalam kebanyakan franchise young adult itu sekarang, memang tak lari terlalu jauh dari BACA SELANJUTNYA […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: