CINTA/MATI : A QUITE FRESH ATTEMPT WITH TOO MANY INCOHERENCE

CINTA/MATI

Sutradara : Ody C. Harahap

Produksi : Shooting Star  & Bigtree Pictures, 2013

CM10

            Dibalik geliat produksi film Indonesia dalam periode paruh kedua tahun ini yang seakan semakin menurun karena mungkin disebabkan terus anjloknya jumlah penonton, satu dua film memang masih menyimpan potensi menarik. ‘Cinta/Mati’ jelas adalah salah satunya. Bukan hanya tampil sedikit berbeda dari yang lain terutama dalam genre yang kali ini mengusung black comedy dalam balutan rom-com, satu yang masih jarang dibuat sineas kita, dari press release dan trailer-nya pun kita tahu bahwa film ini menggantungkan kekuatannya pada hanya dua karakter utamanya. Ada penggabungan ‘Before Sunrise’ dan suicidal themes yang kontroversial sebagai temanya. It was true, bahwa ‘Cinta/Mati’ memang digagas dengan sebuah semangat low budget filmmaking, dibalik kabar, entah benar atau tidak, bahwa dana produksinya merupakan kelanjutan dari sebuah proyek yang batal dibuat. Karena itu juga proses pembuatannya sempat berkali-kali tertunda karena masalah dana, yang bahkan akhirnya mendorong seluruh kru-nya ikut membantu. So you see, alasan kuat bagi orang-orang yang terlibat di dalamnya pasti paling tidak sejalan dengan potensi yang ada. Ini menarik.

CM7

            Lantas siapa nama penting yang ada dibalik filmnya? Dari filmografinya, sutradara Ody C. Harahap, jelas bukan sekedar nama dengan riwayat kualitas asal-asalan. Debut layar lebarnya yang dimulai dari ‘Bangsal 13’, sebuah horor yang meski punya penyampaian medis yang memalukan dalam dialog-dialognya, boleh dibilang sangat lumayan. Penyutradaraan terakhirnya, ‘Ratu Kostmopolitan’ memang tak terlalu bagus, begitu juga ‘Alexandria’. Namun selebihnya, ada ‘Selamanya’ yang berhasil memadukan elemen klise film kita, narkoba, dengan sebuah kisah cinta menyentuh, dua instalmen ‘Kawin Kontrak’ yang meski sangat nakal tapi intentionally cukup fresh dengan kualitas tak berbeda jauh, dan tentu saja ‘Punk In Love’, sebuah social rom-com yang bagus. Di barisan aktor, juga ada Vino G. Bastian. Jauh dari sekedar aktingnya yang jarang tampil mengecewakan, even in some of his bad movies, totalitasnya sebagai aktor yang kerap begitu gencar mempromosikan filmnya dengan interaksi yang bagus lewat socmed dibanding aktor-aktor lain, jelas memberikan angin segar dalam perjuangan film nasional memperoleh kembali penggemarnya. Oh ya, about the title, don’t believe what you saw in LSF card di awal filmnya. Judul ‘Cinta Separo Mati’ itu kabarnya sekedar penggunaan judul karena regulasi yang ada, bahwa judul ‘Cinta/Mati’ sebelumnya sudah pernah didaftarkan ke lembaga itu.

CM8

            Patah hati oleh calon suami (Dion Wiyoko) yang berselingkuh dengan sahabatnya sendiri, Acid (Astrid Tiar) berniat mengakhiri hidupnya. Saat akan melakukannya, ia secara tak sengaja bertemu dengan Jaya (Vino G. Bastian), seorang musisi slenge’an yang lantas diminta Acid untuk membantunya mewujudkan keinginan ini. Apesnya, usaha itu terus-menerus gagal hingga akhirnya Acid mengetahui rahasia yang selama ini disimpan Jaya dari dirinya. A night full of adventures, where everything comes without warning. Just like love.

CM9

            Oke. Permasalahan paling serius dalam ‘Cinta/Mati’ adalah skrip yang dibesut oleh Ody C. Harahap bersama Akbar Maraputra yang juga menggagas cerita unik itu. Usaha untuk mengembangkannya menjadi sebuah black comedy yang dipicu oleh situasi dengan kekuatan dialog serta interaksi antar hanya dua karakter yang menghias layar di sepanjang film dalam timeline satu malam, persis seperti ‘Before Sunrise’ sayangnya malah mentok di dialog-dialog yang seakan tak tahu mau mereka kembangkan kemana. Bagian-bagian awal yang berisi eksplorasi berbagai cara untuk mengakhiri hidup, like a hundred ways to kill yourself that gone berserk, meski lagi-lagi diawali dengan motivasi klise urusan-urusan selingkuh yang belum bisa lepas dari pola film kita membangun konfliknya, sebenarnya sudah tergelar dengan sangat baik, juga efektif terhadap pengenalan karakternya. Apalagi, chemistry antara Vino dan Astrid juga muncul dengan sangat lovable sebagai vehicle untuk membawa penontonnya bisa menikmati dialog demi dialog hampir sepanjang tigaperempat filmnya, dibalik pemilihan set dan sinematografi bagus Padri Nadeak, terutama di adegan-adegan mercusuar itu. Tanpa juga harus mengandalkan scoring selain beberapa lagu-lagu soundtrack yang juga cukup pas dengan pengadeganannya.

CM1

            Sayangnya selanjutnya tidak begitu. Alih-alih mau menghadirkan dialog dengan relevansi penuh terhadap motif sekaligus proses empati yang wajar, koneksi dan koherensi diantaranya malah muncul terputus-putus hingga akhirnya menempatkan dua karakter ini seperti dua orang yang seakan tak tahu lagi mau ngomong apa untuk mengembangkan ceritanya. Yang kemudian hadir adalah dialog-dialog repetitif yang terus-menerus diulang-ulang, berikut respon-respon obrolan mati dengan umpatan-umpatan dari, maaf, anjing, monyet, sampai maaf, tai dan titit. Mereka seakan lupa dalam plot seperti ini, meski berpijak di sebuah chaos untuk membangun black comedy-nya, proses pengembangan chemistry buat mengedepankan rom-com-nya juga jadi persyaratan yang sama penting, dan ini malah semakin terpeleset menuju ke third act-nya, dimana semuanya meledak tak kira-kira seperti peluru kendali lepas kontrol.

CM2

            Plot-nya boleh saja berisi pesan-pesan ‘without warningin a lovestory, namun diawali dengan dramatisasi tangis-tangisan yang entah datang dari mana serta seketika mau serba instan untuk memulai kisah cinta-cintaannya , third actCinta/Mati’ malah tergelincir ke kenakalan penulis cerita yang benar-benar terasa oversubstance. Dalam seketika, di bagian-bagian ini, ‘Cinta/Mati’ lagi-lagi harus terperosok ke elemen-elemen klise lain dalam film kita, yang tak pernah mau bergerak jauh dari masalah selangkangan, baik untuk membangun twist dan motivasi-motivasi karakternya. Dari twist yang sangat sinetron itu, lantas jadi sebuah komedi jorok yang lagi-lagi, maaf, mungkin mau mewakili ketakutan umum laki-laki di negeri ini, dimana dari 10 lelaki, 4 diantaranya takut tak bisa ereksi, 4 lagi takut ejakulasi dini, dan menyisakan hanya 2 yang takut mati, plot-nya melangkah jauh keluar arah. Meski masih menyisakan beberapa turnover yang cukup wajar dalam bangunan karakternya di dalam dialog-dialog itu, tapi keseluruhan bagian-bagian ini malah lebih terasa mengganggu ketimbang lucu. Penuh dengan inkoherensi untuk meletakkan sisi komedi, drama dan lovestory-nya tanpa konsistensi yang baik.

CM4

            But however, untunglah, mereka tak lantas kelewat lama berlarut-larut disana. Dengan chemistry bagus Vino dan Astrid yang juga untungnya masih tetap bisa berjalan begitu lekat menerjemahkan perjalanan plot yang absurd dan penuh inkoherensi ini, titik pacunya ke konklusi akhir masih tetap bisa muncul dengan bagus, bahkan dengan guliran scene-scene akhir yang secara menghentak bisa kembali ke jalur awal yang berbeda dari kebanyakan film lain. Meski beresiko tak disukai sebagian penonton, penekanan black comedy itu jadi terasa begitu kuat dalam konklusi akhirnya.

CM5

            So begitulah. Di tengah kekurangan-kekurangan tadi, ‘Cinta/Mati’ bukan juga secara keseluruhan menjadi film yang gagal. Usaha-usaha mereka yang ada di belakangnya untuk mengetengahkan sesuatu yang sedikit berbeda terutama dalam genre tentu masih sangat layak dihargai dengan penggarapan teknis yang juga bukan sembarangan dibalik sisi low budget filmmaking-nya. Masih cukup bertabur juga penempatan joke-joke situasional yang tepat serta memancing tawa di duapertiga awal, dan percayalah, hal terbaik-nya tetap ada pada chemistry Vino G. Bastian dan Astrid Tiar, yang sungguh-sungguh sangat menyelamatkan ‘Cinta/Mati’ sebagai film Indonesia yang masih layak buat dilirik. Di tengah kelebihan dan kekurangannya, dalam perfilman kita, this is a quite fresh attempt to blend ‘Before Sunrise’ and suicidal theme,  but unfortunately, has too many inconherence along the way. (dan)

~ by danieldokter on September 1, 2013.

2 Responses to “CINTA/MATI : A QUITE FRESH ATTEMPT WITH TOO MANY INCOHERENCE”

  1. kayaknya bagus nih film,, wajib nonton,,

  2. full movie nya dong share udah 2 tahun gk di upload di internet nih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: