WANITA TETAP WANITA : AN EFFORT AMONG CLASSIC CONFLICTS

WANITA TETAP WANITA

Sutradara : Didi Riyadi, Reza Rahadian, Teuku Wisnu, Irwansyah

Produksi : R1 Pictures, 2013

WTW12 

            Dari konsepnya, ‘Wanita Tetap Wanita’ memang menawarkan sesuatu yang sangat menarik. Sesuai judulnya, film ini berbicara tentang wanita. Katanya, tentang kekuatan dibalik banyak anggapan kelemahan terhadap kaum ini, dari beragam latar belakang, pekerjaan, cinta dan kehidupan sosial mereka. Karakter dan sudut pandangnya juga dibesut oleh para wanita lewat penulis skripnya ; Ilma Fathnufrida, Lily Nailufar Mahbob, Hotnida Harahap, Wina Aswir dan Yunya Larasati. Cast utamanya juga sama. Ada Zaskia Sungkar dalam debut layar lebarnya, Renata Kusmanto, Revalina S. Temat, Shireen Sungkar dan Fahrani (credited as Fahrani Empel). Hanya saja, sutradaranya bukan wanita.

            Digarap sebagai omnibus dalam interwoven storytelling untuk menyambung benang merahnya, sebuah rare cinematic style yang sudah pernah muncul dalam beberapa film kita seperti ‘Kuldesak’ dan ‘Dilema’, ada lagi yang spesial dari film ini. Bahwa keempat sutradara dari lima segmennya adalah aktor-aktor yang sudah sangat dikenal. Ada Didi Riyadi, Reza Rahadian, Teuku Wisnu dan Irwansyah dalam dua segmen, serta Irwansyah, Raffi Ahmad dan Furqy sebagai produser. So, dibalik banyak keunikan konsep yang diusung PH baru bernama R1 Pictures itu, this is mostly a tribute for women. Now let’s see each segments.

Cupcake (Didi Riyadi, Ilma Fathnufrida)

            Shana (Zaskia Sungkar) yang punya trauma akibat ditinggal calon suaminya di hari pernikahannya mencoba meneruskan hidup dengan membuka gerai cupcake bersama sahabatnya Jasmine. Lewat aktifitas baru ini, secara perlahan Shana bisa kembali mendapatkan semangat hidup, sekaligus mendekatkannya dengan Fauzan (Didi Riyadi), kakak Jasmine. Namun trauma itu ternyata datang kembali dalam kehidupannya.

WTW6 

With Or Without (Reza Rahadian, Lily Nailufar Mahbob)

            Trauma percintaan di masa lalu Adith (Renata Kusmanto) yang kini berprofesi sebagai seorang penulis membuatnya menutup diri terhadap lawan jenisnya. Hingga suatu ketika, Adith bertemu dengan Rangga (Marcell Domits), seorang supir taksi sarjana filsafat dengan rahasia masa lalu yang pelan-pelan bisa membuka hatinya kembali.

WTW9

First Crush (Teuku Wisnu, Hotnida Harahap)

            Bertunangan dengan Iko (Irwansyah), seorang aktor terkenal, Nurma (Revalina S. Temat) ternyata tak pernah bisa melupakan cinta pertamanya dalam sosok guru les SMP yang kini sudah menjadi seorang pengacara sukses, Andy (Teuku Wisnu). Lulus sebagai seorang sarjana hukum, Nurma mengejar mimpinya untuk bekerja sebagai partner di firma hukum milik Andy. Di tengah sebuah kasus tentang pembunuhan akibat KDRT terhadap seorang ibu rumah tangga, hubungan itu kembali berlanjut. Padahal, Andy sudah berkeluarga.

WTW8 

Reach The Star (Irwansyah, Wina Aswir)

            Kinan (Shireen Sungkar) punya impian untuk memberangkatkan ibunya (Dewi Irawan) naik haji sepeninggal ayahnya. Ia pun menempuh karir sebagai seorang pramugari di sebuah maskapai penerbangan internasional. Walau cukup teguh memegang prinsipnya, Kinan tak bisa menghindar saat sebuah gosip skandal dengan seorang pilot senior muncul ke hadapannya, sementara Iko (Irwansyah), aktor terkenal yang tengah mendekatinya membuat gosip itu tersebar ke media.

WTW2 

In Between (Irwansyah, Yunya Larasati)

            Segmen yang juga disutradarai oleh Irwansyah ini mengisahkan Vanya (Fahrani Empel), seorang model yang terpaksa menghidupi dua orang adiknya, Teddy dan Lola, penderita autisme yang sangat menggemari cupcakes. Masalah lain timbul ketika Vanya harus menghadapi Dion, lelaki nakal dari agensinya yang siap menjegal karirnya bila Vanya menolak niat Dion untuk memilikinya.

WTW5

            Tanpa bisa ditampik, sebagai omnibus dengan konsep serba menarik tadi, tak hanya dengan actors turn directors effort-nya, ‘Wanita Tetap Wanita’ memang mengusung sebuah niat baik berupa sebuah penghargaan besar bagi kaum wanita. Tak ada yang salah juga dengan debut keroyokan dari Didi Riyadi, Reza Rahadian, Teuku Wisnu dan Irwansyah yang sekaligus menjadi produser dalam penyutradaraan masing-masing. Mereka kelihatan serius meng-handle konsep itu serapi mungkin dalam balutan interwoven storytelling-nya. Mencoba keluar dari zona aman lewat pemisahan bagian-bagian segmennya, namun sayangnya, mereka seakan tak menyadari bahwa usaha hebat itu berjalan diatas sebuah bangunan serba lemah dari skripnya.

            Memuat konflik-konflik klasik (kalau Anda tak mau menyebutnya klise) dan sudah berulang kali tampil dalam film-film kita bahkan yang bukan mengusung tema feminis sekalipun, hampir semua segmennya jadi tak lagi menyisakan eksplorasi akting lebih dari para pendukungnya, termasuk ke dialog-dialognya yang jadi sangat terasa dipaksakan untuk menghindari dasar klise hampir di setiap scene yang menerjemahkan skripnya. At many times, konflik-konflik yang juga sudah mewarnai banyak sinetron tanpa kualitas ini jadi tak mampu memberi ruang bagi penonton untuk bisa lebih peduli terhadap karakter-karakternya.

          Jangan juga heran kalau kita lagi-lagi disuguhkan adegan batuk-batuk darah untuk menjelaskan kondisi penyakit yang tak pernah jelas dan asal-asalan saja di film kita, berikut elemen-elemen lain yang tak kalah klise buat meracik sebuah plot dramatis. Dari perselingkuhan, trauma-trauma cinta yang itu-itu lagi hingga perkosaan tetap disempalkan ke dalamnya. Ditambah usaha mereka menyelipkan twist-twist agak basi yang malah makin dikacaukan dengan style interwoven ketimbang mencoba tampil lebih linear, hasilnya adalah penceritaan yang terasa draggy, nyaris tanpa emosi dan belum bisa sepenuhnnya memisahkan diri dari atmosfer-atmosfer sinetron.

            Padahal, semua pendukungnya juga sudah kelihatan sangat berusaha. Zaskia sebagai Shana yang memegang benang merah terpenting dalam konklusinya dan Shireen sebagai Kinan terlihat lebih total ketimbang akting-akting mereka di sinetron, sementara Renata Kusmanto dan Marcell Domits membangun chemistry yang lebih baik. Farhani mendapat karakter yang pas dengan sosoknya, Didi Riyadi cukup lumayan, namun Irwansyah tetap seorang Irwansyah biasanya, dan meski Revalina S. Temat sudah jadi pemicu yang baik, Teuku Wisnu tampil paling payah memerankan tipikal seorang pengacara berdarah Batak yang kelihatan terlalu dibuat-buat. Masih ada juga aktris senior Dewi Irawan yang jelas tak pernah tampil dengan akting main-main, namun terpaksa berkompromi dengan treatment klise ala film kita.

            Selebihnya, ‘Wanita Tetap Wanita’ masih menyisakan sinematografi cukup cantik dari Regina Anindita, editing Andhy Pulung dan David Dhuha yang juga rapi memisah-misah bagian segmen dalam interwoven storytelling itu, berikut scoring dari Melly dan Anto Hoed yang walau sangat tipikal tapi masih mampu menyokong beberapa adegannya. Secara keseluruhan, ‘Wanita Tetap Wanita’ dengan konsep uniknya tetap layak buat ditonton, tapi masalah terbesarnya ada pada fondasi yang terlalu lemah untuk bisa menyampaikan sebuah usaha yang baik dari para aktor sebagai sutradara debutan ini. An effort among many, many, classic conflicts. Sayang sekali. (dan)

~ by danieldokter on September 21, 2013.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: