PENGKHIANATAN G30S PKI : A LOOK BACK TO OUR CINEMATIC GREATNESS

               Masih ingat dulu di zaman orde baru di tanggal ini TVRI selalu memutar sebuah film yang sama? Dan bukan hanya itu, semua anak sekolah di seluruh Indonesia juga wajib menghadiri pemutaran bergilirnya di bioskop-bioskop. ‘Pengkhianatan G30S PKI‘ yang diproduksi oleh PPFN dan disutradarai Arifin C. Noer (alm.), memang sudah lenyap ditelan zaman dengan usaha-usaha pelurusan sejarah dari banyak pencitraan-pencitraan orde baru. Hanya bisa dinikmati dari VCD dengan kualitas seadanya oleh generasi sekarang, di luar urusan sejarah, film ini sebenarnya menyimpan banyak potensi kebesaran produksi film kita di masa lalu. Tulisan ini sebenarnya dibuat untuk konten salah satu majalah film kita September tahun lalu, namun akhirnya urung dimuat karena masalah intern di dalamnya. So I decided to keep it for this moment. Bukan untuk mengenang sejarahnya, tapi lebih ke pencapaian filmisnya. This is absolutely one of our cinematic best. Enjoy.

PENGKHIANATAN G30S PKI

Sutradara : Arifin C. Noer

Produksi : PPFN, 1982

G30S7           

            Nanti dulu soal kontroversi pembohongan publik atau pencitraan sejarah. Dalam sejarah panjang sinema bangsa kita, film yang dulu jadi tontonan wajib seluruh siswa sekolah dan rutin diputar setiap tahun di televisi ini, merupakan sebuah tonggak kebesaran yang sulit untuk disanggah atas banyak elemen sinematis yang ada di dalamnya. Saat penonton awam bicara tentang adegan-adegannya yang begitu mencekam, sebagian besarnya masih begitu diingat sampai sekarang, disitu pula seorang Arifin C. Noer berhasil membangun atmosfer filmis yang dibesutnya dengan gaya semi dokumenter, seolah sebuah rekonstruksi, tapi sama sekali bukan tanpa rasa. 220 menit keseluruhan durasi yang sangat memorable, luar biasa mengerikan namun tak sedikit pun membuat penontonnya memalingkan muka dari filmnya. Walau berpuluh tahun kemudian jadi sebuah propaganda, pencapaian ini, adalah kenyataan.

G30S2

            Diangkat dari deskripsi sejarah versi pemerintah Orde Baru, ‘Pengkhianatan G30S PKI’ yang dalam titel alternatifnya berjudul ‘Penumpasan Pengkhianatan G30S PKI’ sebagai pengganti dari judul awal SOB (Sejarah Orde Baru) ini seolah dibagi menjadi dua bagian film yang selalu ditengahi jeda. Bagian pertamanya menggambarkan pergolakan politik yang dimulai dari rencana pemberontakan Partai Komunis Indonesia dibawah pimpinan Kolonel Untung (Bram Adrianto) dan D.N. Aidit (Syu’bah Asa) mengkudeta Presiden Soekarno (Umar Kayam) dengan sasaran para Jendral TNI, yang diculik dan kemudian disiksa sampai mati di Lubang Buaya (belakangan dianugerahi gelar Pahlawan Revolusi). Ketujuh korban adalah Letjen Ahmad Yani, Mayjen Soeprapto, Mayjen Haryono M.T. , Mayjen S. Parman, Brigjen D.I. Panjaitan, Brigjen Soetojo Siswomihardjo, serta Lettu Pierre A. Tandean (Wawan Sarwani / sekarang Wawan Wanisar), ajudan Jendral A.H. Nasution yang luput dari penculikan, plus putri kecilnya sendiri yang jadi korban, Ade Irma Suryani Nasution. Bagian keduanya kemudian menggambarkan usaha-usaha penumpasan pemberontakan itu dibawah pimpinan Mayjen Soeharto (Amoroso Katamsi) yang mengambil alih kekuasaan pemerintah dengan tone heroisme yang jelas. Dalam semalam, Soeharto berhasil mengembalikan pemerintahan ke tangan Republik Indonesia yang akhirnya diperingati sebagai Hari Kesaktian Pancasila.

G30S5

            Now let’s look back,  mengapa film ini menjadi begitu hebat tidak hanya pada masanya tapi juga hingga sekarang. Dibalik skenario Arifin yang entah digagas dengan tekanan atau mungkin memang berdasar pengetahuan sejarah bangsa pada masa-masa Orde Baru tersebut, dimana masih banyak fakta sejarah yang kabarnya disimpan rapat-rapat oleh rejim pemerintahannya, Arifin tak sekedar sedang merekonstruksi sejarah. Walau dalam penggarapan keseluruhannya terdapat banyak dramatisasi yang sedikit over dalam menekankan garis antagonis ke karakter-karakter PKI, pendalaman storytelling-nya luar biasa. Dialognya boleh jadi teatrikal, namun pengadeganan serta akting para pendukung yang rata-rata bukan aktor komersil yang menjual pada masanya, hadir dengan natural.

G30S8

             Dan Arifin memulai narasinya dari gambaran situasi politik yang tengah dilanda kekacauan dengan detil-detil yang nyaris sempurna. Dari adegan Presiden Soekarno yang tengah sakit keras dalam tampuk kepemimpinannya, tanpa harus batuk-batuk darah dengan make-up pucat ala kebanyakan film kita, karakter yang diperankan Umar Kayam itu cukup ditunjukkan nyaris tanpa semangat seorang pemimpin. Bayangan terhadap kudeta itu sudah dimulai dari dialog-dialog awal, dan rapat-rapat Polit Biro PKI yang dihadirkan dengan atmosfer kelam yang sangat mengerikan. Dari set besutan tata artistik Farraz Effendy hingga shot-shot close up penata kamera Hasan Basri Jafar ke piringan hitam yang tengah berputar, siaran radio yang tengah memberitakan keadaan politiknya, wajah-wajah bopeng dan full of scars para petinggi PKI, asap rokok yang terus mengepul serta bergelas-gelas kopi hitam dan puntungan rokok di asbak, dialog-dialog teatrikal dalam skrip Arifin bersama skor garapan Embie C. Noer hadir menggempur suasana sangat mencekam ke rencana-rencana kudeta itu. Kehandalan Arifin dalam latar belakang teaternya tampak jelas lewat semua pengaturan blocking di adegan-adegan ini.

G30S9

            Di tengah situasi politik itu, gambaran sosial masyarakatnya juga tak luput memberi jiwa pada narasinya. Pembagian jelas kelas-kelas masyarakat dari pegawai pemerintah, pensiunan, hingga gelandangan di tengah kehidupan masyarakat kumuh dengan setting dan tone serba muram semakin memperjelas latar keresahan yang ada di saat itu. Dinding-dinding jalan yang penuh dengan coretan, masyarakat yang mengantri beras demi kehidupan mereka, semuanya dihadirkan dengan detil. Bahkan kontras-kontras gambaran istana negara dengan kehidupan yang serba megah, bertolak belakang dengan kemiskinan yang melanda rakyat ikut muncul dari pengadeganan yang dibesut Arifin.

G30S3

          Dan atmosfer mencekam itu kian mencapai puncaknya dalam adegan-adegan penculikan para Jendral. Dari truk yang berhenti, pasukan-pasukan Cakrabirawa PKI yang melompat turun dengan senjata dan menyatroni rumah dan keluarga para Jendral, semua hadir dengan penggarapan luarbiasa. Bahkan beberapa dramatisasi ke adegan memorable seperti pada putri Mayjen D.I. Panjaitan yang histeris membasuh mukanya dengan darah sang ayah yang sebenarnya sangat over berhasil membuat penonton semakin miris. Belum lagi adegan penodaan agama hingga penyiksaan yang dibesut Arifin dengan brutalisme kesadisan mirip film-film slasher. Meski di beberapa sisi bisa terasa komikal, kucuran darah dan mockup-mockup-nya meyakinkan serta tak tampak konyol seperti di film-film kita era itu, dialog-dialog fenomenal seperti ‘Darah Itu Merah, Jendral!’, tampilan mimik para gerwani dibalik lagu ‘Genjer-Genjer’, bahkan dinding tepas tempat menyelipkan pisau silet untuk melakukan penyiksaan yang divisualkan lengkap dengan detil-detil irisan itu, semua sukses membuat feel traumatik bagi setiap penonton yang pasti akan merinding menyaksikan adegannya.

G30S4

           Dari pengalaman traumatik yang muncul lewat adegan-adegan ini, Arifin sudah sukses menggaris bagian pertamanya untuk kemudian membombardir penonton lewat heroisme seorang Soeharto di bagian keduanya. Dan heroisme itu juga bukan lantas jadi berlebihan bak film-film perang atau aksi, namun cukup membuat penonton mulai bernafas lega menyaksikan langkah-langkah yang dilakukan Soeharto untuk menumpas kudeta dan pemberontakan itu. Apapun tujuannya, membangun sebuah pencitraan atau tidak, tapi yang jelas, semua penonton seakan di-brainwash untuk menerima karakter Soeharto sebagai pahlawan yang menyelamatkan segalanya. Tone filmnya pun perlahan mulai berubah seolah kita mulai melihat masyarakat melangkah ke sebuah zaman baru dimana semua kekacauannya secara bertahap sudah terselesaikan. Semua boleh saja terasa berlebihan, tapi batasan teknis dalam hal filmisnya, jelas ter-handle dengan sangat baik dan ini yang terpenting, apapun alasannya, Arifin sudah sangat sukses berkomunikasi dengan penonton yang merasakan secara total apa yang ingin disampaikannya sebagai tujuan dari tiap-tiap adegan.

G30S1

          Diatas semua kesempurnaan sinematis itu, kita juga tak akan bisa menampik nilai kolosal ‘Pengkhianatan G30S PKI’ lewat tampilan lebih dari 10 ribu figuran serta (kabarnya) 120 orang yang memerankan tokoh nyata dengan pemilihan cast yang sangat cermat. Bukan saja bisa tampil dalam kemiripan fisiknya, akting-akting para pendukung utama hingga yang sambil lewat pun terjaga dengan sempurna. Sayang sekali kontroversi sejarah dibalik semua pencitraan dan pembohongan publik itu akhirnya menenggelamkan film ini dari kesempatan generasi sekarang untuk dapat menyaksikannya kembali berulang-ulang. Kita mungkin tak lagi dianjurkan belajar dari paparan sejarahnya, namun dari kehebatan pencapaian sinematisnya, ini adalah sebuah pembelajaran yang sangat berharga. A look back to our cinematic greatness!  (dan)

~ by danieldokter on September 29, 2013.

2 Responses to “PENGKHIANATAN G30S PKI : A LOOK BACK TO OUR CINEMATIC GREATNESS”

  1. yg gw sesalkan, dlm tindakan penumpasan PKI dan GERWANI, dilakukan dg biadab dan tdk berprikemanusiaan. spt tdk punya agama saja.
    kok bsa org indonesia kejam spt itu. gw tdk menyangka.

  2. menurut gw cakrabirawa, tni-ad nya soeharto, petinggi pki terlibat g30s tp cakrabirawa dan pki hanya pingin menculik saja. tp tni-ad nya soeharto niat nya beda, yaitu membunuh tanpa sepengetahuan cakrabirawa dan pki. kmdian stlh jendral2 terbunuh tiba tiba tni-ad nya soeharto mengkambing hitamkan cakrabirawa dan pki.. dan menumpas mrk. krn mrk pengikut setia soekarno. mrk penghalang soeharto merebut kekuasaan soekarno. kalau jendral2 dibunuh, soeharto mudah naik pangkat. kalau pki ditumpas, soeharto mudah merebut kekuasaan soekarno. krn gk ada lg pendukung soekarno.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: