AIR MATA TERAKHIR BUNDA & HATI KE HATI : INDONESIAN MOTHER’S WEEK

AIR MATA TERAKHIR BUNDA / HATI KE HATI

Sutradara : Endri Pelita / Reka Wijaya

Produksi : RK 23 Pictures / Anak Negeri Film & X-Code Films, 2013

            Entah sengaja atau tidak, minggu lalu dua film Indonesia yang beredar memang punya kesamaan. Bukan dalam tema, persisnya, tapi dalam beberapa elemen utamanya. Meski peringatan Hari Ibu Nasional masih jauh, kedua film ini bicara tentang hal yang sama. Motherhood. ‘Air Mata Terakhir Bunda’, produksi keenam RK (Rumah Kreatif) 23 Pictures yang diangkat dari novel berjudul sama karya Kirana Kejora mungkin sedikit lebih terus terang ketimbang ‘Hati Ke Hati’ dari Anak Negeri Film (‘7 Hati 7 Cinta 7 Wanita’) yang dibalut dengan nuansa road/buddy movie, black comedy dan juga bicara tentang impact dari sebuah pernikahan, lengkap dengan aspek feminis yang masih berlanjut dari produser Intan Kieflie sebagai salah satu penggagasnya.

AMTB10

            Lewat skrip adaptasi yang ditulis oleh Danial Rifki dan sutradara Endri Pelita, ‘Air Mata Terakhir Bunda’ memang tak berfokus pada bencana lumpur Lapindo, Sidoarjo yang digagas sekedar menjadi latar ceritanya. Malah, wrapping-nya lebih ke sebuah kisah inspiratif tentang kesuksesan seorang anak dari single mother memperjuangkan sekolah hingga gelar sarjananya dibalik rasa terima kasih terhadap sang Bunda. Sriyani (Happy Salma) yang ditinggal suaminya (Tabah Penemuan) untuk perempuan lain terpaksa membesarkan dua anaknya, Iqbal (Rizky Hanggono) dan Delta (Vino G. Bastian) hanya dengan bekerja menjadi buruh cuci setrika sambil berjualan lontong kupang keliling bersama sepedanya.

HKH1

            Sementara ‘Hati Ke Hati’ yang skripnya ditulis oleh sutradara Reka Wijaya mengisahkan dua perempuan, Kinaras (Intan Kieflie) dan Lara (Sausan Machari) yang terpaksa menempuh perjalanan satu malam untuk menyelesaikan masalah mereka. Tak seperti Lara yang jadi korban eksploitasi Salep (yup, namanya Salep / diperankan Dwi Sasono), suami yang kerap menjualnya ke lelaki-lelaki hidung belang tanpa peduli putri mereka Ambar (Nayyara Laluntia) yang punya kekurangan, Kinaras aalah seorang pengusaha butik sukses yang hidup mapan bersama Asmaradana (Mike Lucock), seorang arsitek muda. Hanya saja, Kinaras dan Asmaradana yang mendambakan anak tak kunjung mendapatkannya di usia pernikahan tahun keempat mereka. Keputusan Lara untuk melarikan diri dari Salep melibatkan kehidupan Kinaras yang tak pernah diduga sebelumnya.

AMTB3

            Di tengah kian lesunya film-film kita dengan penurunan jumlah penonton, niat untuk membuat film yang baik memang masih jelas terlihat dari sejumlah sineas atau PH. Namun sayangnya, seringkali, lagi-lagi niat ini tak dibarengi dengan eksekusi yang benar-benar baik. Entah karena soal keterbatasan ini dan itu dalam produksinya, skrip yang lemah sering jadi ganjalan utama dalam film-film itu, berbanding terbalik dengan sinematografi yang biasanya selalu mampu memberikan polesan lebih.

AMTB5

            Hal inilah yang kita jumpai dalam ‘Air Mata Terakhir Bunda’. Sebagai usaha yang baik dari RK 23 Pictures yang sudah memproduksi beragam genre dalam deretan filmografinya dengan kualitas yang rata-rata lemah, skrip Danial Rifki dan Endri Pelita lagi-lagi tersandung dalam masalah penceritaan. Dalam sebuah novel mungkin tak ada salahnya menggunakan sebuah kisah sukses mirip biopik yang terentang dalam timeline panjang untuk memunculkan tribute pada sosok seorang ibu, tapi skrip itu mungkin lupa bahwa ini adalah adaptasi film. Meletakkan senjata utamanya pada karakterisasi yang membuat sepenting apa kisah itu lantas bisa menarik empati penontonnya, itu yang mereka tak punya. Sementara mencoba menghindari eksploitasi kisah-kisah bencana Lapindo untuk sekedar jadi latar itu di satu sisi ada baiknya untuk menghindari klise-klise ala film kita, tapi sebaliknya, juga kehilangan kekuatan dalam penekanan karakterisasinya.

AMTB2

            Apa yang terjadi dalam ‘Air Mata Terakhir Bunda’ adalah sebuah penceritaan mirip biopik tanpa rasa kedekatan sama sekali. Belum lagi, skrip itu terlalu sibuk membangun kisahnya di masa kecil para karakternya, lengkap dengan side characters yang bisa jadi akan mendukung penceritaan ala novel tanpa memunculkan sosok sang Ibu secara solid. Dan ini makin diperparah ketika second act-nya mengantarkan kita ke kisah Delta di masa perkuliahannya dengan fokus yang makin tak seimbang. Akibatnya, sebuah adegan terpenting yang seharusnya paling memicu emosi dalam inti utama kisahnya jadi terasa lewat begitu saja, begitu pula dengan usaha mereka menuangkannya dalam penceritaan alur balik yang sebenarnya bisa menjadi lebih menarik.

AMTB4

            Tapi tak ada yang salah dengan pendukungnya. Sebagai Delta – Iqbal kecil dan sahabat Delta, Ilman Lazulva, Reza Farhan dan Endy Arfian bermain cukup bagus. Chemistry mereka hingga dewasa yang diperankan oleh Vino G. BastianRizky Hanggono dan Sean Hasyim pun masih terkoneksi dengan luarbiasa wajar. Side characters lain, Mamiek Prakoso, yang walau terlalu mendominasi sebagian film pun tampil bagus memberi highlight bersama penampilan singkat Marsha Timothy, dan tentu saja Happy Salma yang sayangnya tak diekspos sebagaimana yang sebenarnya diperlukan dalam penceritaan keseluruhannya. Dan jangan tanya sinematografinya. Paling tidak, ada keseriusan penggarapan yang masih jelas terlihat. Memotret sisi-sisi pengenalan wilayah Sidoarjo, DoP Gunung Nusa Pelita menghadirkan sentuhan yang sangat menonjol bersama scoring dari Ricky Lionardi. Namun sayangnya, skrip itu terlalu lemah untuk bisa lebih terselamatkan. Padahal, kisah-kisah tentang keteguhan seorang ibu dibalik interkoneksi dengan plot perjuangan kesuksesan anak-anaknya selalu bisa jadi senjata yang bagus dalam memicu emosi penontonnya. Sayang sekali.

HKH2

            Sementara ‘Hati Ke Hati’ sayangnya hanya menyisakan ide cemerlang dari Intan Kieflie, tapi tidak dengan eksekusi yang baik dari Reka Wijaya, sineas potensial yang seringkali tersandung banyak keterbatasan dalam karya-karyanya. Walau oleh sebagian orang dianggap aji mumpung dibalik profesinya sebagai seorang desainer muslimah, produser, penyanyi hingga aktris, harus diakui bahwa Intan punya kredibilitas lebih dibalik multitalenta yang ia miliki. Kiprah perdananya di ‘7 Hati 7 Cinta 7 Wanita’ sudah menunjukkan itu, dan dalam ‘Hati Ke Hati’, ia juga membangun chemistry kompak dengan Sausan Machari, model yang sudah lama tak tampil ke layar lebar sejak debutnya dalam ‘Detik Terakhir’. Penokohan mereka juga pas, hanya saja mungkin ada sisi estetika dalam framing di pengadeganannya yang terpaksa mengalah dengan kontras postur dua pemeran utama itu untuk benar-benar jadi paduan yang enak dilihat.

HKH7

            Lagi-lagi, masalah utamanya adalah skrip. Juga punya elemen kuat tentang motherhood yang juga sekaligus jadi motivasi dua wanita itu untuk memulai interkoneksi karakternya dalam sejumlah show of feminism, sejak awal alasannya kurang tergali dengan meyakinkan. Reka justru lebih asyik menonjolkan punchline-punchline panjang tentang marriage impact yang apa boleh buat tak bisa terasa padu dengan penceritaan yang sudah dimulai dengan sangat tidak rapi termasuk sedikit twist yang sebenarnya juga bisa lebih menarik. Elemen-elemen klise tentang PSK dan masalah kehamilan yang tak diinginkan yang jadi resep baku banyak film kita sebenarnya relevan, namun juga gagal tergali lebih personal. Belum lagi masalah aspek sinematis lain yang terlihat mentah dibalik bujetnya yang kabarnya memang cukup terbatas.

HKH5

          Mau semua aktornya dari Intan, Sausan dan Dwi Sasono berakting bagus berikut Mike Lucock dan Fiona Callaghan yang juga cukup baik, ‘Hati Ke Hati’ tak lagi bisa terselamatkan sepenuhnya. Bukan saja kehilangan elemen motherhood yang seharusnya jadi motivasi penting dari kedekatan dua karakter utama dan kepedulian dibalik motif antar karakter itu menuju ke bagian-bagian konklusinya yang kacau balau, yang terlihat malah lebih mirip dagelan ketimbang sebuah black comedy yang kuat. Ini juga, apa boleh buat, sayang sekali. Dua tontonan yang seharusnya punya potensi sebagai lineup film-film Indonesia yang baik di tahun ini, akhirnya lagi-lagi lewat begitu saja. Sayang sekali. (dan)

 

~ by danieldokter on October 9, 2013.

One Response to “AIR MATA TERAKHIR BUNDA & HATI KE HATI : INDONESIAN MOTHER’S WEEK”

  1. Thanks for review nya.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: