CAHAYA KECIL : FATHER AND SON’S FAINTED LIGHT

CAHAYA KECIL

Sutradara : Benni Setiawan

Produksi : Phinaeon Entertainment, 2013

CK15

            Father and son theme, hubungan ayah dan anak, hampir selalu jadi tema menarik untuk dieksplor dalam sebuah drama. Add a musical theme in it, apalagi dengan dua pelaku asli di industrinya, jelas akan berpotensi jadi sangat spesial. Begitulah, dari skrip Titien Wattimena dan Benni Setiawan, ‘Cahaya Kecil’ mempertemukan rock star Andy /rif dan Petra Sihombing, juga seorang penyanyi muda yang tengah menanjak di industri musik kita. Dari satu karya terbaiknya, ‘Bukan Cinta Biasa’, ditambah special concern-nya membawa musik atau soundtrack sebagai elemen penting di film-filmnya, Benni juga agaknya sudah punya jam terbang cukup menggarap tema-tema seperti ini. Nanti dulu hasilnya, tapi walau berjudul ‘Cahaya Kecil’, trailer, promo serta sebagian lagu yang sudah muncul di radio sebelum waktu rilisnya, harus diakui sudah menunjukkan cahaya cukup terang sebagai film Indonesia yang berpotensi jadi sangat menarik.

CK11

            Bagi Arya Krishna (Andy /rif), sebenarnya tak ada yang lebih berharga selain putra satu-satunya, Gilang (dewasanya diperankan Petra Sihombing). Namun kehidupan ugal-ugalannya sebagai seorang rock star semakin menenggelamkan hubungannya dengan Gilang. Berkali-kali dikecewakan, kehilangan ibunya (Happy Salma), semua mencapai puncaknya kala Gilang terpaksa putus kuliah di luar negeri karena sebuah skandal yang membuat Arya masuk penjara akibat narkoba, yang juga melibatkan orang terdekat Gilang. Hubungan mereka pun jadi semakin mustahil untuk membaik. Dibalik niatnya menjadi seorang penyanyi, Gilang akhirnya dibantu oleh Abraham (Verdi Solaiman), mantan manager ayahnya dan menjalin hubungan baru dengan Saskia (Taskya Namya), seorang model, tanpa mengetahui Arya turut menyokongnya dari balik terali. Ketika Arya dibebaskan, Gilang yang mulai menapak popularitasnya mau tak mau menyerah pada rencana Ichsan (Ferry Salim), produsernya, untuk mempertemukannya dengan Arya di serangkaian show. Meski bukan langsung berarti sebuah titik balik bagi hubungan mereka, you’ll know the rest.

CK9

            Okay. Benni boleh jadi sudah punya pengalaman untuk menggarap tema-tema seperti ini, tapi mungkin bukan di wilayah yang tak sama sekali terang benderang sebagai tontonan hiburan. Salahnya, skrip yang ikut ditulisnya bersama Titien Wattimena, yang kabarnya memang banyak mengalami perubahan untuk lebih menyesuaikan ke style Benni, seolah tak menemukan jalan buat berpadu menciptakan konflik yang berjalan dengan koherensi serba wajar. Dengan pemilihan masalah seberat yang ada dalam plot-nya, yang nyaris tak akan punya jalan keluar bagi karakter-karakter waras di dunia nyata, storytelling-nya jadi benar-benar berantakan. Benni malah kelihatan lebih asyik mengekspos sentilan-sentilannya terhadap industri musik ketimbang fokus pada konsistensi keseluruhan plot-nya.

CK12

         Lebih dari konflik ayah – ibu dan anak yang akhirnya seolah tergelar sebagai latar tak penting lewat penampilan Happy Salma, konflik utama yang sebenarnya bisa saja relevan dari bangunan karakternya jadi berjalan ngalor-ngidul menuju penyelesaiannya. Mereka sudah berusaha menyelipkan twist untuk mempermudah semuanya, tapi ini juga tak digagas dengan koherensi di sepanjang plot ke konklusi konyol yang serba terburu-buru serta juga turnover karakter-karakter yang ada di dalamnya. Selain dialog-dialog repetitif antar karakter yang membuatnya jadi terasa makin tak wajar, menghilangkan empati pada karakter utama Gilang yang jadi muncul dengan konsistensi berantakan antara pilihan popularitas dengan dendam ke karakter yang katanya dimaksudkan jadi sebuah penghargaan terhadap sosok bernama ayah, imbas terbesarnya ada pada karakter Abraham yang sebenarnya sudah diperankan dengan sangat baik oleh Verdi Solaiman terhadap interaksinya pada semua karakter yang ada. Peran Taskya Namya pun seolah tak berfungsi apa-apa selain terus menerus mengingatkan Gilang dengan dialog berulang.

CK2

         Dengan treatment mendasar yang berantakan seperti ini, agaknya benar-benar susah bagi para aktor yang bermain di dalamnya buat membentuk karakter mereka dengan baik. Masih untung Verdi Solaiman dalam salah satu penampilan terbaiknya bisa tetap bekerja sebagai scene-stealer yang berhasil bersama Doddy Katamsi dan tampilan komikal Ferry Salim sebelum turnover konyol dalam tendensi menyelipkan twist yang datang entah dari mana itu dimunculkan tanpa konsistensi jelas. Tapi Petra dan Andy, meski tetap terlihat berusaha berakting serius sebagai dua karakter utama yang paling berperan membawa plot-nya, benar-benar jadi kehilangan chemistry yang sebenarnya paling diperlukan dalam tema-tema seperti ini. Akibatnya, adegan terpenting di penghujung film yang walau sangat tipikal dalam genre sejenis namun seharusnya bisa memberikan sentuhan luar biasa dibalik lagu besutan Ipang Lazuardi sebagai theme song yang kuat jadi lewat begitu saja. Tanpa jiwa dan tanpa rasa.

CK4

           So begitulah, pada akhirnya, di luar penampilan kuat Verdi bersama sebagian aktor-aktornya, ‘Cahaya Kecil’ hanya menyisakan tata teknis yang masih cukup baik dari sinematografi Bambang Supriadi, artistik dari Kekev Marlov serta scoring Thoersi Argeswara bersama lagu-lagu soundtrack yang bagus dari Ipang Lazuardi. Selebihnya, apa boleh buat. Being potentially good, ‘Cahaya Kecil’ berakhir persis seperti judul yang diusungnya. Terdengar puitis namun redup. A father and son’s fainted light. Lagi-lagi, sayang sekali. (dan)

~ by danieldokter on October 9, 2013.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: