MANUSIA SETENGAH SALMON : A SLIGHTLY BETTER COMEDY SEQUEL

MANUSIA SETENGAH SALMON

Sutradara : Herdanius Larobu

Produksi : Starvision, 2013

MS2

            Komedi akan dengan mudah menciptakan segmentasi, itu memang benar. Dimanapun, resepsi dari komedi yang mengedepankan seorang komedian sebagai titik tumpu kekuatannya, akan berhadapan dengan soal-soal like atau dislike. Tapi apapun itu, Radiyta Dika jelas sudah jadi sebuah fenomena dalam trend comedy writings dalam novel maupun di panggung-panggung stand up comedian sekarang ini. Dalam perhitungan bisnis pun anak ini cukup luarbiasa. Menggagas tiga film layar lebar sekaligus di tahun ini dengan pemasaran jitu lewat webseries dan kekuatan social media, sama seperti ‘Cinta Brontosaurus’ dan ‘Cinta Dalam Kardus’, bioskop-bioskop yang memutar filmnya langsung dipenuhi penonton. Itu jarang-jarang terjadi di film kita.

MS10

            Sebagai sekuel dari ‘Cinta Brontosaurus’, sutradaranya berpindah dari Fajar Nugros ke Herdanius Larobu, sineas yang biasanya berkutat di proyek-proyek behind the scenes. Mungkin Nugros tengah sibuk menggarap film terbarunya ‘Adriana’, namun nama istrinya, Susanti Dewi, tetap ada di kursi produser pelaksana. Dengan skrip yang tetap ditulis Raditya Dika berdasarkan novel berjudul sama, trailer-nya sudah menunjukkan bahwa ‘Manusia Setengah Salmon’ tak akan jauh-jauh lari dari pendahulunya.

MS9

            Setelah putus dengan Jessica (Eriska Rein), kehilangan Kosasih (Soleh Solihun) yang kini berkarir sebagai anggota boyband dan harus berinteraksi dengan supir baru, Sugiman (Insan Nur Akbar) yang bau ketek, Dika (Raditya Dika) masih mandeg di ide-idenya sebagai penulis. Kegalauannya semakin bertambah kala ibu dan ayahnya (Dewi Irawan & Bucek) memutuskan untuk pindah rumah. Ayahnya pun meminta waktu lebih dari Dika untuk bisa bermain-main bersamanya. Walau tak setuju karena sulit melepas kenangannya, Dika akhirnya mulai menyadari setelah bertemu dengan Patricia (Kimberly Ryder), bahwa kadang, sebuah perpindahan selalu jadi bagian dari kehidupan manusia. Seperti salmon dengan koloni yang selalu berpindah dalam siklus hidup mereka.

MS5

            Dibandingkan ‘Cinta Brontosaurus’ yang menggelar metafora cinta bisa kadaluwarsa untuk membangun plot-nya, kegemaran Dika menggunakan simbol-simbol dan subtext dalam komedinya, mostly animals’ various nature, terasa jauh lebih universal dalam ‘Manusia Setengah Salmon’. Tetap dengan elemen-elemen sebuah perjalanan untuk memahami cinta, namun dalam konten yang lebih familiar, yang juga dengan sendirinya bisa berbicara lebih luas tentang hubungan-hubungan keluarga. Disini, ‘Manusia Setengah Salmon’ menjadi jauh lebih lancar membangun konflik-konflik yang tentunya tetap dibarengi dengan komedi ala Dika. Scene-scene Dika bersama ibunya yang diperankan Dewi Irawan untuk mencari rumah baru pun ikut jadi konten yang kuat dalam membangun sisi komedinya jadi jauh lebih lucu bersama Bucek yang walaupun sering terpeleset menerjemahkan dialek ‘Medan’ diantara nafas Melayu dan Batak tetap bisa jadi highlight yang lumayan.

MS8

            ‘Manusia Setengah Salmon’ boleh saja kehilangan karakter Kosasih yang di ‘Cinta Brontosarus’ berhasil menjadi scene-stealer di tangan Soleh Solihun, atau Ronny P. Tjandra sebagai produser. Tapi kemunculan Insan Nur Akbar sebagai Sugiman dan editor-nya yang diperankan MoSidik dalam porsi komedik yang lebih juga terasa fresh menjadi gantinya. Kelebihan lainnya jelas terletak pada chemistry Dika dan Kimberly Ryder yang jauh lebih natural ketimbang Eriska Rein di film pendahulunya. Bermain lepas sebagai Patricia, Kimberly Ryder terasa sangat bekerja dalam bangunan chemistry itu, membuatnya jauh lebih cantik dan bernyawa. Sementara di sisi teknis, sinematografi Yadi Sugandi, tata artistik dari J.B. Adhi Nugroho dan scoring Andhika Triyadi tetap bekerja dengan baik dalam sentuhan-sentuhan sinematisnya, memberikan kontinuitas yang baik terhadap pengarahan Herdanius.

MS6

            Dengan konten serta elemen-elemen yang sudah cukup kuat itu, dalam banyak hal, ‘Manusia Setengah Salmon’ memang sudah menjadi sebuah sekuel komedi yang berhasil melewati predesesor-nya. Ia memang bukan ‘Cinta Dalam Kardus’ yang digagas dengan treatment penuh simbol secara berbeda, namun dalam konteks komedi Dika sebagai sebuah tontonan pop, this is a slightly better comedy sequel. Tentu lagi-lagi dengan catatan, bila Anda bisa merasa comfort dengan style comedy Raditya Dika. (dan)

~ by danieldokter on October 14, 2013.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: