ROMANTINI : ROMAN KLISE DAN AJI MUMPUNG DI FILM KITA

ROMANTINI

Sutradara : Monty Tiwa

Produksi : E-motion Entertainment, 2013

RM6

      Dalam tendensi jualan, aji mumpung memang tak pernah salah. Apalagi di industri film. Mau sebagian orang banyak mencemooh, toh penonton kita memang jarang-jarang tak tertarik dengan kontennya. ‘Romantini’ yang menjual nama Ashanty bersama Anang dan Aurel Hermansyah ini juga ada di jalur itu. Disutradarai Monty Tiwa, sejak kabar pembuatannya, ‘Romantini’ memang sudah banyak memunculkan reaksi-reaksi di social media. Sebagian miring, tapi sebenarnya tak begitu adil juga kalau tak melihatnya terlebih dulu. Toh Monty juga bukan sineas sembarangan di film-film kita. Yang lebih penting adalah bagaimana ia mengemas keseluruhannya menjadi sebuah tontonan yang kalaupun punya banyak kekurangan, tapi sesuai dengan sasaran pasarnya.

RM9

      Kartini (Ashanty Hermansyah), seorang mantan penyanyi organ tunggal keliling sebenarnya punya mimpi menjadi biduanita sukses. Sayang ia meletakkan impiannya pada lelaki yang salah. Menikah dengan Rahman (Dwi Sasono) yang gagal membawa Kartini ke mimpinya, mereka malah hidup luntang-lantung di Jakarta. Rahman yang kehilangan pekerjaan sebagai sopir bus terhanyut dalam hidupnya sebagai pengangguran. Demi Pelangi (Aurel Hermansyah), putri mereka satu-satunya yang juga mewarisi bakatnya, sambil jadi buruh cuci, Kartini terpaksa bekerja sebagai lady escort di sebuah pub karaoke. Rahman yang terus merongrong mereka akhirnya tersadar ketika tabungan kontrakan mereka yang dipercayakannya ke orang yang salah raib begitu saja meninggalkan Kartini berjuang sendirian menambah shiftnya sebagai cleaning lady dengan Rahman yang masuk penjara. Kini hanya ada satu cara untuk bisa menyelamatkan semuanya. Kembali berjuang, namun kali ini untuk mimpi Pelangi.

RM3

      See the plot? Kalau ‘Azrax’ –nya Aa Gatot kemarin punya ambisi dibalik konsep mereka membuat sebuah film yang mereka sebut ‘film kampung’, merujuk ke elemen-elemen aksi dalam template musikal Rhoma Irama bagi masyarakat kelas menengah ke bawah yang suka atau tidak sempat jadi trend dalam film-film jadul kita, ‘Romantini’ menggunakan formula klise dalam template yang juga lekat di film-film dangdut Elvy Sukaesih di era itu, sebutlah seperti ‘Mandi Madu’ atau ‘Cubit-Cubitan’ walaupun jelas dengan keberadaan Ashanty-Anang dan Aurel latar musiknya adalah musik pop.

RM1

      Sebagai roman klise, naskahnya yang dibesut oleh N. Ivander Tedjasukmana, Monty bersama Sumarsono, juru kamera dan produser senior yang juga sudah banyak bekerjasama dengan Monty sebelumnya, memang dipenuhi oleh elemen-elemen jualan penderitaan yang kerap jadi bangunan utama dalam genre klasik tadi. Karakter-karakter miring tentang istri yang disia-siakan, bekerja sebagai wanita penghibur dengan “prinsip” (tanda kutip), suami kejam, anak yang merasa tersisihkan, lengkap dengan karakter-karakter antagonis lain sampai yang bersimpati dengan penderitaan itu. Sudah jatuh, tertimpa tangga, kelindes mobil dan jatuh ke got, tapi tetap punya unsur perjuangan yang juga serba klise, kira-kira seperti itu.

RM5

      However, hal terbaik dalam ‘Romantini’ adalah kejujuran mereka menuangkan klise-klise tadi tanpa sekalipun mencoba terlihat lebih pintar atau mencoba menaikkan kelasnya dalam tujuan itu. Sesuai dengan bidikan pasarnya, semua nyaris seperti apa adanya saja termasuk ke sempalan komedi dan adegan penampilan Aurel bersama band-nya sebagai klimaks yang tetap dibiarkan ‘kampungan’,  Monty hanya menambahkan signature ngocol-ngocolnya di beberapa sisi untuk membuat ‘Romantini’ bisa sedikit jadi lebih menarik dalam trend sekarang, membawa konklusi akhir dan scene ending-nya paling tidak tak jadi se-klise genre-genre sejenis. Dan mereka tak salah memilih Ashanty untuk memegang porsi pemeran utama bersama Dwi Sasono, yang memang kerap bisa memunculkan eksplorasi terbaiknya hanya di film-film Monty. Bahkan Aurel yang meski aktingnya masih sangat kaku bisa pas menempati karakter Pelangi bersama penampilan singkat Anang dan beberapa cameo-nya, dari Anji Drive, Liza Natalia, Pongky Barata, Ria Irawan, Nina Tamam dan Amink.

RM8

      Penampilan pendukung lain seperti Iang Darmawan, anggota Project Pop yang terlihat kian serius menjajal peran-peran non komedi-nya, Zaid Assidiq dan Ridwan Ghani yang memulai debut layar lebarnya dalam ‘Oh Baby’ juga cukup baik. Namun yang paling menyita perhatian adalah Mario Irwinsyah dalam peran waria-nya sebagai Yuyun, banci salon yang selalu jadi pertolongan buat Kartini. Walau peran banci ini sepertinya selalu jadi tolok ukur kesuksesan eksplorasi peran seorang aktor di industri perfilman kita, seperti Verdi Solaiman barusan lewat ‘Cahaya Kecil’ dan banyak lagi peran serupa dalam menyambung legacy Didi Petet sebagai Emon di ‘Catatan Si Boy’, Mario bertransformasi dengan serius memerankan karakternya, dan catat ini. Tanpa harus jadi nyeleneh sebagai objek lawakan.

RM4

      Departemen teknisnya juga masih tergolong cukup baik, terutama di tata kamera Rollie Markiano dan scoring dari Bongky BIP dan Garden Bramanto. Jadi begitulah. Sebagai sebuah aji mumpung dibalik formula klise-nya, ‘Romantini’ mungkin tak lantas jadi sangat film kelewat bagus juga. Namun kejujuran mereka mengemas elemen-elemennya sesuai bidikan pasarnya, paling tidak harus sedikit lebih dihargai. Yang begini, jelas tak ada salahnya. (dan)

~ by danieldokter on October 14, 2013.

One Response to “ROMANTINI : ROMAN KLISE DAN AJI MUMPUNG DI FILM KITA”

  1. Pengalaman saya sebagai Escort lokal, membawa saya terjerumus di dunia glamor yg salah, saya terlena, meskipun dr wanita2 tersebut sy mendapatkan pekerjaan baik selain melayani mereka, Tapi menjadi salah, ketika sy tidak bisa. Mengendalikan nafsu dan mengerem utk hidup foya2 tiap hari, sampai dititik ingin bertaubat, saya tersadarkan ketika :
    1. Anak istri tidak pernah saya nafkahi
    2. Tabungan ludes
    3. Cicilan rumah tidak terbayar
    4. Hutang menumpuk hampir 600 juta

    Saya memutuskan utk mengakhiri semuanya, dengan jalan :
    1. Menanggung resiko yg akan sy hadapi
    2. Akan banyak org yg menagih hutang
    3. Kehilangan pekerjaan
    4. Kehilangan keluarga

    Dan kemudian yang datang adalah
    1. Kemudahan sedikit demi sedikit
    2. Pemberian modal usaha dr sahabat
    3. Sedikit demi sedikit mengumpulkan nafkah
    4. Ini yang saya masih blm ada jawaban,
    Saya jelaskan :
    Ketika memutuskan utk melepas semuanya, masih ada yg Belum bisa saya lepas dalam hal melakukan dosa, ada seorang wanita LC karaoke disalah satu lokalisasi kecil di semarang, dia istilahnya yg paling laris disana, dia sudah menjalin hubungan dg pengusaha kaya beristri, dan dia dijadikan simpanan dengan diberi fasilitas rumah tinggal dan mobil utk dia bekerja
    Nah sampai tulisan ini saya buat, saya masih blm bisa melepas dia, Tapi perubahan di dalam diri saya semakin baik, sampai dititik saya sudah tidak mau berzina dengan dia

    Sedangkan perubahan didiri dia adalah, dia sudah mulai belajar utk lepas dr pekerjaan itu dengan berdagang pakaian, sekolah, Tapi utk dia melakukan zina dengan yg lain, semestinya sih masih, itu yg. Saya sayangkan

    Saya saat ini memang blm mempunyai penghasilan besar lagi, dan diperusahaan ini, saya konsentrasi utk menghasilkan uang banyak yg halal dengan dagang aksesoris mobil dengan karyawan yg lumayan banyak, untuk menutup2 hutang2 saya

    Kemarin sempet ada salah satu org yg saya hutangi melaporkan saya ke kepolisian, dg jaminan keluarga, saya saat ini sudah kembali ke orangtua….

    Mungkin anda atau Siapa bisa memberikan arahan atas jalan cerita hidup saya ini…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: