ENDER’S GAME : A THOUGHT-PROVOKING WAR BALLAD

ENDER’S GAME

Sutradara : Gavin Hood

Produksi : Chartoff Productions, Taleswapper, Odd Lot Entertainment, K/O Paper Products, Digital Domain, Summit Entertainment & Lionsgate, 2013

EG9

            Meski merupakan adaptasi novel yang terlihat seperti teen sci-fi fantasy yang kabarnya bakal berkembang menjadi franchise, juga seperti trailer-nya, jangan terkecoh. ‘Ender’s Game’ sama sekali tak sesederhana itu. Lebih dari sheer and fun sci-fi dibalik premis futuristic space military academy against alien invasions, diangkat dari award winning novel karya Orson Scott Card yang pertama kali diterbitkan tahun 1985 dan di-revisi tahun 1991 untuk menyesuaikan latar politiknya, berikut sekuel dan prekuel berjumlah 15 buku, ‘Ender’s Game’ adalah sebuah war protest yang cenderung sangat ekstrim.

EG8

            Sejak lama diincar banyak produser untuk diangkat ke layar lebar, Orson Scott Card punya idealisme yang tak mudah untuk diruntuhkan. Percaya bahwa novelnya hampir mustahil untuk diangkat orang lain ke film tanpa merubah misi itu, terlebih ketika perundingannya dengan berbagai studio tak menghasilkan visi yang sama, Card mulai mengembangkan skripnya sendiri dengan banyak revisi di akhir ’90-an. Usaha membawanya ke studio berkali-kali lagi-lagi mengalami kegagalan kreatif hingga di tahun 2010 ia mencapai kesepakatan dengan Odd Lot dan Gavin Hood sebagai sutradara yang sekaligus menulis ulang skrip itu. Dengan nama-nama seperti Roberto Orci dan Alex Kurtzman diantara para produsernya, termasuk Robert Chartoff, produser legendaris dari ‘Raging Bull’ dan franchiseRocky’, ‘Ender’s Game’ juga tercatat sebagai kiprah pertama VFX company Digital Domain, founded by James Cameron, Stan Winston dan Scott Ross, dalam memproduksi film setelah sempat dinyatakan bangkrut di tahun 2012.

EG2

            Di tahun 2086, bumi dikisahkan berhasil mengalahkan invasi alien Formics lewat pengorbanan seorang pimpinan armada perang Mazer Rackham. Untuk mencegah serangan masa depan, pemerintahan militer membentuk akademi khusus dalam tujuan regenerasi para kadetnya sejak usia sangat muda. Merekrut anak-anak yang mereka anggap punya potensi khusus dalam taktik militer. Disitulah kemudian Andrew ‘Ender’ Wiggin (Asa Butterfield) menarik perhatian dua pimpinan International Fleet, Kolonel Hyrum Graff (Harrison Ford) dan Mayor Gwen Anderson (Viola Davis). Dibalik hubungan eratnya dengan kakak perempuannya, Valentine (Abigail Breslin) dan masalah kejiwaan kakak tertuanya, Peter (Jimmy Pinchak), reaksi Ender terhadap ancaman di sekolahnya dianggap mereka punya kelebihan itu. Memulai rekrutmennya di Battle School, Ender yang awalnya dibenci karena perlakuan spesial dari Graff mulai mendapat respek dari kadet-kadet lain, namun Graff tetap menahan koneksi emosi dan kerinduannya terhadap Valentine. Menunjukkan kelebihan intuisi ini, dengan cepat, Ender dipromosikan ke satuan khusus Salamander dimana lagi-lagi ia berseteru dengan commander Bonzo (Moisés Arias), dan lantas ditransfer menjadi komando Dragon Army. Dibawa ke Eros, sebuah basis militer International Fleet di bekas koloni Formics, Ender bahkan diperkenankan merekrut sendiri anggota-anggotanya termasuk Petra Arkanian (Hailee Steinfeld) yang bersimpati padanya sejak awal, dibawah bimbingan prajurit misterius (Ben Kingsley). Disinilah Ender dan rekan-rekannya kemudian memulai simulasi tempur yang bakal mengantarkannya ke sebuah petualangan baru, dimana Ender mau tak mau berada dalam pertarungan batin yang tak pernah dibayangkannya.

EG1

            Then again, jangan terkecoh dengan tampilan ‘Ender’s Game’ dari banyak sisi promosinya, mostly if you never heard about the novels or even read them. Walau dimulai dengan template-template klasik alien invasions dan space academy seperti ‘Starship Troopers’ atau ‘Star Trek’, lengkap dengan konflik-konflik sama klasik diantara para kadet, atasan serta ambisi-ambisi dibalik tema patriotik, ‘Ender’s Game’ punya konklusi yang sungguh-sungguh berbeda. Hampir di paruh awalnya, ‘Ender’s Game’ bisa jadi menyenangkan semua penonton lewat feel  ‘Top Gun’ dan ‘An Officer and a Gentleman’ dan banyak film sejenisnya, tak ketinggalan dengan sepenggal love story-nya, only this time to kids and teens in space, tapi tak begitu di sisa durasinya yang diisi dengan beribu questions of morality in a war. Bagi sebagian orang, ia akan jadi sebuah sajian sangat berbeda bersama misi Orson Scott Card menyampaikan pesan-pesan protesnya, namun yang mengharapkan sci-fi adventure seru, bisa jadi akan sangat dikecewakan lewat penantian ke konklusi itu.

EG10

            Tapi jangan tanya soal teknis penggarapannya. Di tangan Digital Domain yang sekaligus berada di barisan terdepan penggarapan efek visualnya, walau tak pernah bergulir menjadi pure entertainment dengan gegap-gempita human vs aliens war scenes, set dan beberapa efek visualnya tampil dengan sangat baik terutama di adegan-adegan ‘Battle Room’ di tengah zero gravity-nya. Sinematografi DoP asal Australia Donald McAlpine yang biasa bekerja di film-film Jack Ryan-nya Harrison Ford serta sudah bekerjasama dengan Gavin Hood di ‘X-Men Origins : Wolverine’ juga bekerja dengan baik bersama scoring Steve Jablonsky dalam bangunan emosinya.

EG4

            Asa Butterfield yang namanya langsung menanjak lewat penampilannya di ‘Hugo’ tempo hari pun sangat bersinar menokohkan Ender Wiggin. Menerjemahkan emosi dan pertarungan psikologis Ender sebagai kadet cilik ke ultimate war machine, Butterfield tampil dengan pendalaman akting tak main-main. Dukungan dari Hailee Steinfeld, Viola Davis, Ben Kingsley, Moisés Arias serta Abigail Breslin yang memang hanya diberi porsi terbatas juga cukup membantu. Hanya saja ada sedikit kekurangan dalam peran sentral lain yang diperankan Harrison Ford. Known better with his star quality, Ford sayangnya tak bisa maksimal menggambarkan ambiguitas karakter Graff antara dads-like mentor yang tegas dengan military superior penuh ambisi ke dalam ‘Ender’s Game’. Dalam batas abu-abu karakterisasi yang mirip, Ford salahnya lebih memilih pendekatan aktingnya di ‘K-19 : The Widowmaker’ ketimbang apa yang pernah dicapainya dalam ‘Mosquito Coast’. At many times, ia terlalu fokus membuat karakternya tetap terlihat lovable, dan ini sedikit agak mendistraksi bangunan chemistry-nya dengan Butterfield.

EG11

            Begitupun, bukan berarti ‘Ender’s Game’ lantas menjadi film yang gagal. Malah, dalam keseluruhan wrapping-nya, as praised by the original writer himself, Gavin Hood tetap bisa membawa misi anti-perangnya dengan cukup lantang bersama relevansi hebat lewat bangunan sebagian karakternya. Meski cenderung sangat ekstrim dibalik resiko mengecewakan sebagian penonton dengan ekspektasi berbeda (baca=salah), konflik-konflik moralitas, kekejaman politik hingga isu genoside-nya dalam sebuah kondisi peperangan tetap muncul dengan solid. Filled with questions of morality, ‘Ender’s Gameis a thought-provoking war ballad. (dan)

EG12

~ by danieldokter on November 9, 2013.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: