SOKOLA RIMBA : AN AFFECTING TALE OF HEROISM

SOKOLA RIMBA

Sutradara : Riri Riza

Produksi : Miles Production, 2013

SR11

            Jumlah penonton kita boleh saja masih terus tak menentu. Tapi satu-dua niat untuk terus menghadirkan tontonan yang baik, tentu harus didukung. Diantara segelintir yang ada, kita beruntung masih punya Mira Lesmana dan Riri Riza, dynamic duo yang terus berjuang di tengah ketidakpastian itu diatas sebuah konsistensi sangat kuat. Setelah ‘Atambua 39°Celsius’, ‘Sokola Rimba’ lagi adalah buktinya, bahwa film mereka, selalu membuka mata tanpa harus ditumpangi niat-niat pretensius yang ada di banyak insipirasi sejenis.

SR10

            Diangkat dari buku non-fiksi berjudul sama karya Butet Manurung, ‘Sokola Rimba’ merupakan memoir yang berisi pengalaman Butet sebagai aktifis pendidikan bagi anak-anak rimba di pedalaman Bukit Duabelas, Jambi. Skrip yang ditulis Riri Riza dengan cerdas menangkap tendensi-tendensi yang ada dibalik penceritaan itu bukan hanya untuk memperkenalkan siapa sebenarnya Butet dan menyadarkan kita kenapa ia layak untuk diekspos lebih, tapi selain act of heroism yang dilakukannya di tengah rintangan yang ada, Riri juga meletakkan concern-nya ke sisi-sisi edukasi serta eksploitasi alam dan lingkungan.

SR1

            Sebagai aktifis yang bekerja pada sebuah LSM konservasi di Jambi, Butet Manurung (diperankan Prisia Nasution) melewatkan hari-harinya mengajar pengetahuan dasar pada anak-anak Suku Anak Dalam yang tinggal di hulu Sungai Makekal, Hutan Bukit Duabelas, Jambi. Aktifitas Butet kesana ternyata menarik perhatian suku hilir, salah satunya dari seorang anak, Nyungsang Bungo yang kemudian menyelamatkannya saat terserang demam akibat Malaria di tengah hutan. Butet pun tergerak untuk melebarkan aktifitasnya ke hilir yang berjarak cukup jauh meski ditentang oleh ketua LSM-nya, Bahar (Rukman Rosadi). Bersama dua muridnya, Beindah dan Nengkabau, mereka menempuh perjalanan panjang ke desa Bungo. Bungo yang selama ini sudah merasa gerah atas ulah developer dan pemerintah terhadap tempat tinggal mereka memang dengan cepat menjadi murid bahkan asistennya bersama anak-anak hilir lainnya, namun pendidikan yang dianggap para tetua suku hilir sebagai kutukan dan pelanggaran adat membuat Butet lagi-lagi harus memperjuangkan idealismenya.

SR3

            Sebagai kekuatan utamanya memerankan sosok Butet di tengah uncompromised act of heroism itu, Prisia Nasution muncul dengan akting tak main-main. Sekilas mungkin tak terlihat terlalu spesial, tapi passionate sparks-nya menerjemahkan idealisme Butet tampil dengan sangat kuat. Native players-nya juga di-cast dengan tepat. Tak hanya Nyungsong Bungo, Beindah dan Nengkabau, Bepak Pengusai dan pemeran-pemeran suku asli lainnya juga tampil bak aktor berpengalaman. Aktor-aktor pendukung lain pun  begitu, dari Rukman Rosadi, Netta K.D. dan Ines Somellera sebagai dr. Astrid Hilde.

SR5

            Di sisi teknis, ‘Sokola Rimba’ juga luarbiasa. Gunnar Nimpuno sekali lagi menunjukkan kepiawaiannya merekam alam bersama sound design Satrio Budiono, termasuk di salah satu adegan jagoannya yang menyempalkan bagian animasi, sementara tata artistik dari Eros Eflin dan tata rias dari Eba Sheba muncul dengan cukup detil. Scoring dari Aksan Sjuman dan theme song dari Bubugiri pun tak kalah dahsyat mengantarkan heroic feel dengan megah di tiap adegannya.

SR2

            Namun hal terbaik dalam ‘Sokola Rimba’ tetaplah eksplorasi Riri dan Mira dalam wrapping keseluruhannya. Pesan edukasi yang diusungnya tetap muncul sebagai elemen terkuat dibalik sosok Butet dalam karakterisasi yang kuat, menyita perhatian dan perasaan dalam strong intimacy tanpa harus didramatisasi berlebihan, tapi dengan cerdas mereka juga memotret banyak ekses dalam kehidupan nyata anak-anak rimba dan isu konservasi alamnya. Bahwa Bukit Duabelas seluas 60.500 hektar itu memang berstatus sebagai national park, namun tetap terancam oleh kepentingan-kepentingan pengusaha CPO dan para pelaku illegal logging. Protes-protes tersirat ini tetap dimunculkan dengan halus termasuk ke LSM yang kerap dikotori niat-niat lain hingga sedikit sisi penggambaran medis yang juga ter-handle dengan cukup serius, membuat perjuangan Butet terasa makin solid. Membuatnya jadi sama sekali tak pretensius, but full of hearts dengan penyampaian sangat komunikatif.

SR8

            So there you go, setelah ‘Atambua 39° Celsius’ yang memotret panasnya kehidupan di ujung Indonesia, Mira dan Riri kini membawa kita menelusuri alam berbeda. Tetap dengan konsep mirip dibalik aspek pengenalan wilayah yang sangat informatif, namun feel dan fokus penceritaannya sama sekali tak sama. Sebuah film Indonesia yang sangat kaya, an affecting tale of heroism and also one of the finest this year. Sayang sekali kalau lagi-lagi keberadaannya harus tergerus oleh tontonan lain yang lebih menarik kebanyakan penonton kita. Go see it in theatres, dan buktikan act of heroism yang sama kuatnya juga ada di film kita. (dan)

~ by danieldokter on November 22, 2013.

2 Responses to “SOKOLA RIMBA : AN AFFECTING TALE OF HEROISM”

  1. tidak ragu deh sama mira lesmana dan riri riza apalagi para aktornya juga sangat berkualitas sekali..

  2. […]  3.      SOKOLA RIMBA […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: