SAGARMATHA : A GOOD EFFORT WITH LOOSE STITCHES

SAGARMATHA

Sutradara : Emil Hiradi

Produksi : Sinema Kelana, Cangkir Kopi Productions, Add Word Productions, 2013

SG9

            Lagi, di tengah stagnansi tema dalam film kita yang dari dulu agaknya selalu jadi kendala, satu-dua yang lantas mencoba menyuguhkan sesuatu yang beda, itu tentu artinya baik. Tapi untuk benar-benar jadi angin segar di tengah banyaknya jualan-jualan medioker yang ada, tak selamanya juga mereka berhasil. Now imagine this. Sebuah road movie yang digabungkan dengan tema persahabatan antar karakternya, itu mungkin biasa. Tapi kombinasinya dengan plot pendakian gunung yang berlokasi di Mount Everest, Himalaya, pasti membuatnya jadi menarik, apalagi bila disajikan dengan keindahan sinematografi dalam meng-capture sisi panoramiknya. Like a cross betweenLaura & Marsha’ dengan ‘5cm’ atau ‘Pencarian Terakhir’, kira-kira, tapi dalam plot perjalanan spiritual yang jauh berbeda serta menyimpan twist di penghujung back and forth storytelling-nya.

SG6

        Tak hanya punya judul unik, ‘Sagarmatha’ yang diambil dari kata Nepali Sanskrit, means ‘head of the sky’ buat menggambarkan puncak Mt. Everest ini juga sekaligus menjadi proyek ambisius yang sempat tertunda sekian lama karena masalah bujet post-produksinya. Dibalik plot yang sebenarnya sangat simpel dan diakui sutradara Emil Hiradi diilhami impian lamanya untuk menapak puncak Himalaya, elemen-elemen yang ada di dalamnya juga tak kalah ambisius. Masalahnya sekarang, seberapa mampu mereka mewujudkan perjuangan itu?

SG4

      Bersahabat sejak kuliah, Shila (Nadine Chandrawinata) dan Kirana (Ranggani Puspandya) punya passion berbeda. Selagi Shila punya mimpi menerbitkan cerpen-cerpennya, Kirana menekuni hobi fotografinya dengan serius. Kini, keduanya menapak impian mereka melakukan perjalanan ke puncak dunia di pegunungan Himalaya, tanpa menyadari bahwa persahabatan mereka perlahan-lahan diuji lewat sebuah memori masa lalu yang seketika menyeruak dibalik keinginan masing-masing.

SG3

         Meski menjadi bagian dari usaha gerilya filmmaking yang sangat terasa penuh passion dibalik keterbatasan yang ada, ‘Sagarmatha’ tetap mampu tampil dengan presentasi sinematis cukup baik. Sinematografi dari Anggi Frisca berhasil merekam banyak aspek untuk membawa ‘Sagarmatha’ muncul semegah judulnya. Dari kekumuhan India khususnya Nepal yang tetap terasa eksotis, lengkap dengan sekilas gambaran budaya masyarakatnya, hingga keindahan panoramik Himalaya yang sangat memanjakan mata. Meski sekilas kelihatan simpel, penata kostum Antoinette Louise juga menghadirkan detil-detil yang bagus, berikut sound department yang bekerja sama baik bersama scoring Yovial Tri Purnomo Virgi. Dikomposisi dengan nuansa etnis cukup kental, scoring itu memberikan romantisasi megah sekaligus meditatif dalam penekanan spiritual journey diantara dua karakter itu. Masih ada pula theme songRaghupati’, spiritual chant India yang di-rearrange Yovial dan dibawakan Kaka Slank.

SG1

            Sayangnya, Emil dan penulis Damas Cendekia terlihat ragu dalam penyampaian storytelling-nya. Twist-nya meski repetitif di tema-tema sejenis boleh jadi cukup menarik, namun mereka nyaris melupakan koherensi dalam narasinya yang seakan bingung mau jadi realis, surealis bahkan absurd bersama kemunculan beberapa karakter dalam perjalanan itu. Damas malah kelihatan lebih asyik berceloteh tentang kultur dan kebiasaan para pendaki gunung ketimbang fokus ke interaksi karakternya. Meski mungkin akan menarik bagi para pelakunya, proses keseluruhannya juga berjalan kelewat panjang hingga tak lagi seimbang dengan porsi visual yang membuat pemirsanya seakan dibawa menyaksikan pameran fotografi ketimbang sebuah proses naratif. Tak ada salahnya juga dengan dialog minim, namun sebagian besar yang tampil ke layar malah kedengaran canggung tanpa bisa mendukung alur maju mundur penceritaannya atau jadi distraksi yang kuat terhadap twist di penghujungnya. Ranggani Puspandya berakting cukup bagus menokohkan Kirana, namun Nadine masih kurang konsisten di banyak adegan dan bangunan chemistry-nya.

SG8

        So yes, ini sayang sekali. Kalau saja mereka mau lebih konsisten menghadirkan kejelasan pola atau paling tidak sedikit keseimbangan dalam jahitan keseluruhannya, ‘Sagarmatha’ bisa tampil jauh lebih baik. We could see bright ideas everywhere, tapi sayang aspek-aspek terpentingnya tertinggal jauh dari kelebihan teknis yang muncul. Good efforts with unfortunately loose stitches. Begitupun, ini adalah sebuah usaha bagus yang sangat layak dihargai lebih. Berhadapan dengan lagi-lagi, minimnya jumlah penonton, semoga kiprah mereka tak hanya berhenti sampai disini. (dan)

~ by danieldokter on December 5, 2013.

3 Responses to “SAGARMATHA : A GOOD EFFORT WITH LOOSE STITCHES”

  1. menurutku benar sekali memang patut dihargai usaha kerasnya menjadikannya bagus,

  2. […] Sumber: SAGARMATHA : A GOOD EFFORT WITH LOOSE STITCHES […]

  3. Reblogged this on Blognya Reni Dwi Pertiwi and commented:
    karya Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: