99 CAHAYA DI LANGIT EROPA : A SPIRITUAL MISSION BEYOND HISTORICAL PATHS

99 CAHAYA DI LANGIT EROPA

Sutradara : Guntur Soeharjanto

Produksi : Maxima Pictures, 2013

991

            Dalam segmentasi yang pas, tema-tema reliji dalam film kita memang masih terus diproduksi. ’99 Cahaya Di Langit Eropa’ ini mungkin sedikit berbeda dengan yang lain. Walau tetap tak terlepas dari elemen love story yang sering disandingkan ke tema itu, adaptasi dari novel berjudul sama ini lebih ke sebuah perjalanan spiritual berbalut misi-misi dakwah dari penulisnya, pasangan suami istri Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra. Satu yang cukup unik adalah penelusuran jejak sejarah yang memang digelar dengan informatif. Digagas agak mirip dengan ‘The Da Vinci Code’ tanpa unsur thriller, sisi petualangannya tetap terlihat.

994

          Meski bagi sebagian orang misi reliji terkadang bisa jadi terkesan pretensius dan tactically, penuh penyesuaian yang dipaksakan, sebagaimana yang kerap kita temukan di argumentasi-argumentasi reliji terhadap science agar bisa terlihat sejalan, ini memang sebuah dakwah. Jadi sah-sah saja. Paling tidak, konten tentang situs-situs historis untuk menyampaikan jejak Islam di Eropa itu bisa dimunculkan dengan informatif, lagi-lagi sebagai aspek yang jarang ada di film kita.

995

            Menemani sang suami, Rangga (Abimana Aryasatya), yang tengah menjalani pendidikannya di Austria, Hanum (Acha Septriasa) tak jarang dilanda kebosanan. Namun semua berubah kala ia bertemu dengan Fatma Pasha (Raline Shah). Wanita Turki yang mencoba menebus kesalahan kakek moyangnya dengan kerendahan hati ini membawa Hanum mengarungi jejak-jejak peradaban Islam di Eropa, mencari pantulan cahaya yang membuat mata dan hati Hanum terbuka untuk sekali lagi jatuh cinta pada kepercayaannya, sekaligus melanjutkan misinya sebagai agen Muslim yang menyebarkan kebaikan.

992

            Oke. Plot simpel berbalut misi yang mau tak mau sulit terhindar dari dakwah-dakwah verbal serta pretensius ini untungnya mampu dibalut dengan penceritaan cukup kuat dari skrip yang ditulis Hanum-Rangga bersama Alim Sudio. Masih ada beberapa hal-hal klise ala sinetron yang belum bisa lepas dari film kita, memang, terutama dari side character Maarja yang diperankan Marissa Nasution, sempalan lagi-lagi dramatisasi penyakit terminal di karakter Aisye (Geccha Tavvara), putri Fatma, serta aji mumpung product placement plus special appearance Fatin Shidqia Lubis yang agak dipaksakan, termasuk pandangan dangkal bangunan konflik yang lagi-lagi tak bisa lepas dari konflik penggunaan hijab atau bicara soal makanan haram. Namun benturan kisah persahabatan Hanum-Rangga dan Fatma bersama karakter-karakter berbeda warna yang diperankan oleh Alex Abbad dan Nino Fernandez sebagai rekan kuliah Rangga dengan kepercayaan berseberangan, serta ilmuwan mualaf Marion Latimer (Dewi Sandra), masih bisa menutupinya, membuat storytelling dibalik durasi panjangnya yang masih belum akan berakhir hanya di satu film cukup enak buat diikuti. Apalagi ada usaha-usaha Hanum-Rangga untuk memberikan beberapa argumen beda untuk sedikit menutupi dakwah verbalnya ketimbang melulu memberikan pembenaran buta soal agama, dan penyampaian dari Guntur Soeharjanto juga seperti biasanya, terasa cukup lancar.

998

            Departemen cast-nya juga mampu berdiri sebagai daya tarik lebih. Meski penggunaan bahasa, mungkin dengan alasan penyampaian dialognya bisa jadi lebih komunikatif, sedikit menjadi ganjalan untuk membuat interaksi karakternya kelihatan logis dimana semua etnis itu bisa berbahasa Indonesia dengan lancar bercampur bahasa negaranya masing-masing, Abimana Aryasatya dan Acha Septriasa, seperti biasa, tampil sangat natural dengan akting lepas mereka. Chemistry mereka, termasuk antara Acha dengan Raline Shah yang cukup meyakinkan sebagai Fatma tergelar dengan bagus, begitu juga ke pemeran-pemeran pendukungnya ; Alex Abbad, Nino Fernandez serta Dewi Sandra.

996

            Namun hal terbaik dalam ’99 Cahaya Di Langit Eropa’ adalah penggarapan teknisnya. Sinematografi Enggar Budiono dan editing Ryan Purwoko benar-benar mampu merekam sudut-sudut situs dan landmark historis Eropa itu tak sekedar jadi latar, tapi seakan ikut bercerita membawa pemirsanya seakan mengikuti live tour. Salah satu adegan terbaiknya, seruan Adzan diatas menara Eifell, berhasil menghadirkan sentuhan yang pas bersama scoring dari Joseph S. Djafar. Tata kostum serta rias dari Retno Ratih Damayanti juga muncul dengan detil-detil cukup terjaga. Sepenggal teaser di penghujungnya buat film kedua yang salah satunya ber-setting di Cordoba itu pun cukup mengundang.

993

            Jadi begitulah. Dibanding banyak film-film reliji belakangan yang dipenuhi hal-hal klise soal cinta-cintaan demi membangun nuansa syahdu genre sejenis tapi malah muncul tanpa juntrungan, ’99 Cahaya Di Langit Eropa’ ini jelas jauh lebih baik. Tanpa berlebay-lebay di aspek yang sama, sempalan love story yang tergelar luas dalam interaksi banyak karakternya justru bisa jadi lebih kuat. Dakwah-dakwah verbal dalam tema reliji jelas sulit untuk dihindari, namun deretan pendukung serta penggarapannya cukup bisa menutupi itu. Dan yang lebih penting, sisi historikal tentang benturan peradaban yang tergelar sangat informatif itu sudah membuat ’99 Cahaya Di Langit Eropa’ hadir sebagai sebuah tontonan universal yang tak hanya terbatas menjangkau segmentasi relijinya. Dan itu artinya cukup bagus. (dan)

~ by danieldokter on December 12, 2013.

4 Responses to “99 CAHAYA DI LANGIT EROPA : A SPIRITUAL MISSION BEYOND HISTORICAL PATHS”

  1. Reblogged this on jejak jejari.

  2. Izin share ya..🙂

  3. 99 cahaya buatku top notch dok! drpd nonton tenggelam sama soekarno yg okelah dr sisi teknis well made n super top notch, tapi 99 cahaya beda! ktia butuh yang beda! itu aja dok. sakses lah film indo beginian! sy katolik dan sy masih bisa merasakan temanya gak biasa even pas mereka bilg tentng bunda maria, sy gak tersinggung karna itu ya terjelaskan. drpd film adriana karya nugros kmrn yang agak maaf mbundet cara pikirnya,cenderung spt nonton sampah. gabisa direview.

  4. Satu yg bikin sy kecewa dngan film ini. kenapa abimana mesti lipsync saat adegan membaca ayat suci al quran, bahkan saar adzan di menara eiffel yg katanya merupakan hal terbaik dr film ini. sungguh sangat disayangkan.
    kalau memang abimana tidak fasih dalam membaca ayat suci al quran, tidak bisa kah ia meluangkan sedikit waktunya untuk belajar betul2 meski hanya sepenggal ayat yang dibacakannya. tak bisakah ia menunjukkan totalitasnya sebagai aktor, tidak hanya dengan fasih berbahasa inggris (bahkan austria dan prancis), tapi juga dalam melafalkan ayat suci al quran. harus kah semua kru merasa puas hanya dengan teknik lipsync tersebut. sungguh ini sangat mengecewakan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: