SOEKARNO : ROMANTISASI SEJARAH ALA HANUNG

SOEKARNO 

Sutradara : Hanung Bramantyo

Produksi : MVP Pictures, Dapur Film, 2013

SOE12

            Katanya, biopik paling penting adalah biopik seorang pemimpin bangsa, mostly a nation’s founding father. Begitulah, sejak berita pembuatannya, ‘Soekarno’ sudah menjadi film Indonesia yang sangat ditunggu. Dari open casting untuk menemukan pemeran yang tepat hingga akhirnya press release serta teaser trailer pertama yang memuat sosok Ario Bayu dan Lukman Sardi menjadi tokoh proklamator Indonesia itu muncul, ditambah kisruh pro dan kontra dibalik tuntutan yang marak diberitakan belakangan, ekspektasinya pun semakin besar. Apalagi, nama Hanung Bramantyo yang ada dibalik biopik ‘Sang Pencerah’ dan ‘Habibie & Ainun’ sudah menunjukkan keseriusannya menggarap tema-tema seperti ini. Seolah ia memang merupakan sineas paling tepat untuk menangani ‘Soekarno’, yang meski sosoknya sudah beberapa kali muncul dalam beberapa film, tapi belum pernah dijadikan sebuah biopik utuh tentang kehidupan serta perjuangannya. Seperti apa hasilnya?

SOE6

            Setelah alunan ‘Indonesia Raya’ yang menghimbau seluruh penontonnya berdiri dengan khidmat (ini mungkin belum pernah jadi tradisi di sinema kita namun sangat pantas dibalik sosok yang dibahasnya), ‘Soekarno’ dibuka dengan scene yang berlanjut ke sebuah flashback ke masa kecil Soekarno (Emir Mahira, dewasanya diperankan Ario Bayu). Bernama asli Kusno sebelum akhirnya diganti ayahnya (Sudjiwo Tejo) karena sering sakit-sakitan, Soekarno tumbuh menjadi pemuda cerdas yang harus berhadapan dengan penjajahan Belanda di Indonesia. Semangat perjuangannya tak pernah surut walaupun pledoi-nya membuat ia dipenjara bahkan dibuang oleh Belanda. Rumah tangga Soekarno bersama Inggit Garnasih (Maudy Koesnaedi) yang terguncang atas rasa cintanya pada gadis muda bernama Fatmawati (Tika Bravani) lantas berlanjut ke masa penjajahan Jepang yang ditanggapi Soekarno secara berbeda. Berseberangan dengan rival politiknya, Muhammad Hatta (Lukman Sardi) dan Soetan Sjahrir (Tanta Ginting), di tengah dilemanya, Soekarno memilih untuk tetap memanfaatkan keberadaan Jepang demi mewujudkan cita-cita bangsanya. Memproklamirkan kemerdekaan Indonesia bersama Hatta yang akhirnya berbalik menjadi kolaboratornya.

SOE8

            Walau masih dipenuhi sejumlah kritik ke detil-detil teknisnya, tak akan ada yang menyangkal bahwa Hanung sudah membawa ‘Soekarno’ dengan penggarapan cemerlang. Dari bangunan set serta penggunaan extras yang tak main-main, tata kamera Faozan Rizal, kostum dari Retno Ratih Damayanti dan tata artistik dari Allan Sebastian sudah berhasil menghadirkan nuansa kolosal yang cukup megah. Editing dari Cesa David Luckmansyah, tata suara dari Satrio Budiono hingga scoring bernuansa grande dari Tya Subiakto plus recycle lagu perjuangan ‘Syukur’ yang dibawakan oleh Rossa serta end credits songWanita’ dari Afgan juga sangat menaikkan kelasnya.

SOE3

           Penokohan dari pemilihan cast-nya pun tak sembarangan membangun interaksi akting yang solid. Walau masih terasa sedikit timpang saat disandingkan dengan Lukman Sardi atau cenderung keterusan di penggambaran sisi womanizer-nya, Ario Bayu men-tackle scene-scene grandstanding-nya dengan luarbiasa dibalik kemiripan sosoknya dengan Soekarno. Memerankan Hatta, walau cenderung lebih terlihat sangat ‘Jawa’, Lukman Sardi masih sangat berhasil menunjukkan kepiawaian aktingnya. Maudy Koesnaedi dan Tika Bravani sama-sama menghadirkan emosi terjaga dalam sisi romantisasinya, dan porsi scene stealer yang cukup besar muncul dari Tanta Ginting yang memerankan Syahrir. Masih ada pula dukungan yang sangat baik dari Agus Kuncoro, Norman R. Akyuwen, Rukman Rosadi dan Mathias Muchus. Ferry Salim yang memerankan perwira Jepang Sakaguchi, meskipun lagi-lagi terasa agak komikal, juga tak lantas jadi mengganggu penceritaannya.

SOE7

            Hanya saja, memuat kehidupan panjang Soekarno dibalik humanisasi karakter dan motivasi politik dan perjuangannya, draft besutan Hanung bersama Ben Sihombing yang akhirnya terpilih menjadi skrip finalnya, terasa tak seimbang menghadirkan blend yang baik antara keduanya. Berkali-kali cenderung terjebak ke soap opera cinta segitiga Soekarno dengan Inggit dan Fatmawati dengan porsi berlebih yang menutupi bagian-bagian perjuangan Soekarno serta masih diwarnai pula oleh penggambaran sisi womanizer tokoh ini tanpa garis jelas hendak menyindir atau memberi pembenaran, sejumlah hal penting dari kiprah Soekarno di partai politik atau paham Marhaenisme-nya jadi tak diberi tempat memadai untuk digali lebih jauh.

SOE10

        Tapi untunglah dramatisasi agak kebablasan ini akhirnya secara perlahan bisa dikembalikan ke scene-scene yang menjadi bagian terbaik ‘Soekarno’ di 15-20 menit akhir dari durasi 150 menit keseluruhannya. Secara taktis, tak hanya dalam shot-shot, dialog serta sempalan-sempalan komikal yang bekerja dengan solid, bagian-bagian ini sangat memberi warna sekaligus mencuri hati buat menghadirkan feel patriotis dibalik penggambaran Soekarno – Hatta membawa Indonesia pada sebuah bagian terpenting dalam sejarahnya.

SOE2

           Begitulah. Mari lupakan soal kisruh-kisruhnya atas alasan atau kepentingan apapun yang ada dibaliknya. Namun meski romantisasi ala Hanung ini boleh jadi akan mengecewakan sebagian orang yang menginginkan eksplorasi lebih terhadap sisi historikal perjuangannya, ini lagi-lagi hanyalah sebuah pilihan dalam mengenalkan ulang tokoh sepenting Soekarno terhadap generasi penonton sekarang. Paling tidak, Hanung sudah membawa kisahnya secara cukup informatif dengan penggarapan tak sembarangan. Rekaman peristiwa pledoi terkenalnya ‘Indonesia Menggugat‘, perumusan Pancasila, lagu kebangsaan Indonesia Raya dinyanyikan pertama kali, penjahitan bendera pusaka hingga perumusan dan pembacaan Proklamasi masih mampu dihadirkan dengan rekonstruksi cemerlang. Dan feel patriotis yang sangat menyentuh di bagian penghujung itu, rasanya sudah cukup solid untuk menutupi kekurangan lain yang ada di dalamnya. (dan)

~ by danieldokter on December 18, 2013.

One Response to “SOEKARNO : ROMANTISASI SEJARAH ALA HANUNG”

  1. […] 1. SOEKARNO […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: