TENGGELAMNYA KAPAL VAN DER WIJCK : BEAUTY OVER INCONSISTENCIES IN A FAIRYTALE ROMANTICIZATION

TENGGELAMNYA KAPAL VAN DER WIJCK 

Sutradara : Sunil Soraya

Produksi : Soraya Intercine Films, 2013

TKVDW1b

            Apa sih syaratnya sebuah tulisan bisa menjadi karya sastra atau literatur klasik? Argumentasi untuk jawabannya boleh saja beragam, tapi pada akhirnya, zaman-lah yang akan berbicara. Karya-karya HAMKA (Haji Abdul Malik Karim Amrullah) lewat novel-novelnya jelas punya kekuatan itu, lewat paham dan pemikiran yang tertuang di dalamnya. Walau beberapa diantaranya hanya terlihat sebagai kisah-kisah klise tentang kasih tak sampai yang sering jadi resep para penulis masa lalu, kebanyakan novel-novel itu berisi kritik keras terhadap tradisi masyarakat, terutama Minangkabau pada masa itu, serta lengkap pula dengan unsur reliji Islami yang kuat.

TKVDW3

            ‘Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck’ juga punya pakem itu. Tak jauh berbeda dengan karya klasik lain belasan tahun sesudahnya, ‘Di Bawah Lindungan Ka’bah’, novel yang diterbitkan pertama kali tahun 1939 setelah dimuat sebagai cerita bersambung dalam majalah ‘Pedoman Masyarakat’ dimana HAMKA menjadi pemimpin redaksinya ini juga mengisahkan kisah kasih tak sampai antara dua karakter utamanya di tengah persoalan adat dan perbedaan latar belakang sosial. Walau belakangan sempat dituding memplagiat karya penulis Perancis, Jean-Baptiste Alphonse Karr, ‘Sous les Tilleuls’ (1832), toh latar belakang adat yang kuat dalam novelnya tetap memberikan batas perbedaan yang jelas. Apalagi penggunaan judulnya, dimana walau menempati bagian kecil dari keseluruhan cerita, kapal ini bukan jadi sekedar gimmick. Kapal uap Belanda yang dikabarkan benar-benar tenggelam di perairan Nusantara tahun 1936 itu sekaligus menjadi simbol dari banyak pemikirannya, dari soal tradisi, lapisan sosial, arogansi, kolonialisme hingga cinta.

TKVDW1a

            Kini, di tangan Soraya Intercine Films, mengikuti kembalinya produksi layar lebar mereka pasca kesuksesan ‘5 cm’ tahun lalu setelah lama stagnan, ‘Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck’ jadi sebuah karya paling ambisius serta termahalnya. Bukan hanya soal bangunan set kapal yang kabarnya benar-benar meliputi riset panjang ke perusahaan aslinya di Belanda, tapi trailer-nya juga sudah tampil dengan kemegahan berbeda dari film-film nasional lain yang pernah ada. Tudingan banyak pihak tentang inspirasi dari ‘Titanic’ atau ‘The Great Gatsby’ tentu tak bisa dihindari dari tampilan itu, but then again, ini sekaligus jadi daya tarik yang sangat jelas buat segmentasi luas pemirsanya. Hasilnya?

TKVDW1

            Darah campuran Zainuddin (Herjunot Ali) yang diperolehnya dari ayah Minang dan ibu Bugis di tengah masyarakat Minangkabau yang masih menganut sistem matriarkal, membuat Zainuddin kerap merasa terasing di tengah niatnya belajar agama dan tinggal menumpang di rumah bibinya (Jajang C. Noer) sepeninggal orangtuanya. Konflik ini semakin berkembang ketika Zainuddin jatuh cinta pada Hayati (Pevita Pearce), seorang gadis minang di kampung bibinya. Zainuddin kemudian terpaksa hijrah ke Padang Panjang meninggalkan Hayati yang mengucap janji setianya pada Zainuddin. Namun belakangan, mengetahui bahwa Hayati dijodohkan dengan Aziz (Reza Rahadian), putra keluarga bangsawan Minang, Zainuddin pun patah hati. Nasib kemudian membawa roda kehidupan berputar setelah Zainuddin mendapat pekerjaan bagus di Surabaya. Hidup mewah sebagai penulis terkenal dari novel-novel yang diilhami kekecewaannya terhadap Hayati, Zainuddin akhirnya terpaksa menampung Aziz dan Hayati yang sudah jatuh miskin di kediamannya. Disini, perasaan di tengah cinta dan dendam itu akhirnya berkecamuk diantara ketiganya.

TKVDW8

            Dalam bangunan set dan tata artistik dari desain produksi Rizal Mantovani, ‘Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck’ memang dipenuhi inkonsistensi. Di satu sisi, mereka mencoba tetap memberi keterangan tempat dan waktu sesuai novelnya, namun penerjemahan visualnya memaksa set itu berpindah ke sebuah dunia antah berantah tanpa batasan waktu yang akurat. Dari color tone dan grading yang bisa jadi akan kelihatan sangat aneh, costume and wardrobes (dari Samuel Wattimena), hingga penataan artistik plus penggunaan ejaan yang tak sesuai zaman dan lokasinya, semua disempalkan nyaris seenaknya demi alasan estetika sinematis. Cantik memang, tapi serba tak sinkron. Kertas HVS, tampilan novel bergaya modern, mobil antik, set kasino, bathtub, kursi bar, style kostum dan asesoris campur-aduk, dance sequence hingga packing infus plastik dan banyak lagi elemen lain yang bercampur-baur tanpa konsistensi. Kalau saja mereka bisa memilih salah satu dengan jelas antara timeline dan lokasi dengan fairytale romanticization yang memang akan lebih menyatu dengan scoring dan lagu-lagu soundtrack bagus dari Nidji itu, juga editing Sastha Sunu dan sinematografi Yudi Datau, semuanya mungkin akan jadi lebih kelihatan sah. Sayangnya, tidak begitu.

TKVDW4

            Hal kedua adalah soal dialek. Dibandingkan dengan ‘Di Bawah Lindungan Ka’bah’ yang nyaris melupakan dialek dalam konsistensi dialog-nya, ‘Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck’ setidaknya mencoba. Kabarnya menghabiskan waktu lama untuk menyiapkan keakuratan di sisi ini, apa yang hadir ke depan layar tak juga bisa dibilang sepenuhnya berhasil. Meski dialek Minangkabau-nya cukup ter-handle oleh Reza Rahadian dan pendukung lain kecuali Pevita Pearce yang lebih sering terdengar berbahasa buku, baik dialek Bugis ataupun Makassar yang mereka tampilkan di banyak adegan yang menempatkan Herjunot jatuhnya malah cenderung seperti dialek Batak atau Karo. Sayang sekali.

TKVDW10

            Yang ketiga tentu ekspektasi ke pengadeganan kapal tenggelam yang seharusnya bisa menjadi klimaks yang sangat menentukan. Sekali lagi, walaupun tertinggal seolah jadi bagian kecil dalam novel aslinya, bagian ini jadi krusial dan layak digunakan sebagai judul karena sekaligus jadi simbol dari banyak pemikiran tadi, hingga tak salah bila divisualkan lebih. Terinspirasi ‘Titanic’ jelas sah-sah saja, sama seperti banyak elemen ‘The Great Gatsby’ versi terbaru yang terang-terangan mereka tampilkan. Sayangnya lagi, tak begitu. Menghabiskan biaya cukup besar untuk membangun set kapal hingga riset ke Belanda itu, adegan ini tak lebih dari beberapa menit, tanpa efek spesial yang tergarap secara layak. Tanpa emosi yang pas pula untuk klimaks durasi panjagnya yang hampir memakan waktu 3 jam.

TKVDW11

            But however, skrip yang ditulis keroyokan oleh Donny Dhirgantoro, penulis 5 cm, Riheam Junianti, sutradara Sunil Soraya hingga sineas senior Imam Tantowi, surprisingly, bisa menghadirkan paham-paham dan pemikiran HAMKA seperti yang tertuang dalam novelnya, dari protes sosial dan tradisi, sentilan humanis soal keangkuhan hati hingga ke sempalan kecil nafas reliji yang tak pernah tertinggal. Ini rasanya adalah hal terpenting yang akhirnya membuat ‘Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck’ jadi cukup runut buat disaksikan bersama performa para pendukungnya. Walau lemah di bagian-bagian awal dengan akting tipikal dan juga dialek yang agak kacau, Herjunot keluar dengan ekspresi lebih total menjelang scene-scene akhir sebagai salah satu penampilan terbaik dibandingkan biasanya. Riasan Pevita Pearce ter-handle secara cukup detil meski belum benar-benar bisa merubahnya menjadi sesosok gadis desa di bagian awal, begitu juga usahanya berdialek yang jatuhnya sangat kaku. Namun sweetheart quality dan chemistry yang cukup lekat dengan Herjunot dan Reza masih bisa menutupi kekurangan itu. Aktor-aktris lain seperti Rangga Djoned, Arzetti Bilbina hingga senior seperti Jajang C. Noer, Afrizal Anoda atau Ninik L. Karim tak terlalu signifikan dibanding beberapa pemeran-pemeran kurang dikenal, namun Reza Rahadian, seperti biasa, tampil dengan kualitas keaktorannya memerankan Aziz, plus Randy Nidji yang meski tanpa dialog-dialog panjang bisa tampil dengan wajar, bahkan mencuri layar.

TKVDW12

            So go figure, dan pastikan Anda ada di barisan mana. Tapi adalah sebuah kenyataan juga, bahwa sejumlah kekurangan yang muncul tadi tak lantas menjadikan ‘Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck’ sama sekali tak layak buat disaksikan. Biar dipenuhi inkonsistensi set dan tata artistik, penuangan kisahnya tak lantas jadi kurangajar terhadap keabadian karya HAMKA menggurat kritik serta protesnya ke pola sosial masyarakat Minangkabau masa itu. Balutan kisah kasih tak sampai-nya pun masih bisa tampil dengan kuat serta cukup menyentuh. Though if you asked me, keunggulan utamanya memang ada pada kemegahan desain produksi dibalik romantisasi dunia dongeng itu, dan saya memilih untuk bertolak buat melihat  pendekatannya dari sana, untuk bisa nyaman menikmati selebihnya. Kemegahan yang memang sulit ditampik, jarang-jarang ada di film kita, dan sudah mengantarkan ‘Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck’ sebagai sebuah sajian yang sangat cantik. Sangat cantik. (dan)

~ by danieldokter on December 24, 2013.

3 Responses to “TENGGELAMNYA KAPAL VAN DER WIJCK : BEAUTY OVER INCONSISTENCIES IN A FAIRYTALE ROMANTICIZATION”

  1. […]  10.  TENGGELAMNYA KAPAL VAN DER WIJCK […]

  2. saya suka ini film, drama sekali tapi film yang bukan asal jadi, setidaknya mereka niat membuat setting pra-kemerdekaan.
    masalah kapal harus kita akui teknologi kita belum sampai ke sana atau kalaupun bisa ke sana, dana kita belum mampu.
    setidaknya ini jauh lebih bagus ketimbang ‘di bawah lindungan Ka’bah’

  3. Baru pertama kali lihat di TV kemarin.
    Kecewa lihat kapalnya, seperti mainan saja, kadang kelihatan kecil kadang kelihatan besar.

    Mengingat judulnya “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck” jadi terkesan seperti anti klimaks.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: