LASKAR PELANGI SEKUEL 2 : EDENSOR ; ADAPTASI YANG GAGAL MENANGKAP ESENSI

LASKAR PELANGI SEKUEL 2 : EDENSOR

Sutradara : Benni Setiawan

Produksi : Mizan Productions, Falcon Pictures, 2013

ED10

            Di luar status best selling novel karya Andrea Hirata, Riri Riza dan Mira Lesmana memang sudah mengadaptasi dua bagian pertama dari tetralogi ‘Laskar Pelangi’ itu dengan baik. Menerjemahkan ide sederhana tentang perjuangan meraih mimpi yang dipoles begitu inspiratif, tanpa harus jadi sebuah tontonan high profile dengan deretan bintang terkenal di cast utamanya, ‘Laskar Pelangi’ dan ‘Sang Pemimpi’ sudah menjadi film kita yang cukup memorable serta mendapat sambutan sangat baik di perolehan jumlah penontonnya. Namun lantas, pembuatan instalmen ketiganya tertunda sekian lama dengan sejumlah isu. Sempat dikabarkan bakal disutradarai oleh Putrama Tuta dari ‘Catatan Harian Si Boy’, proyek ini akhirnya jatuh ke tangan Benni Setiawan.

ED5

            Empat tahun mungkin sedikit terlalu lama buat menyambung antusiasme pemirsa terutama yang bukan pembaca novelnya. Meski mereka tetap bisa mempertahankan sebagian cast utamanya, satu yang paling krusial, karakter yang menjadi cerminan judul instalmen kedua dan sudah tergambar dengan kuat di penghujung ‘Sang Pemimpi’ oleh Nazril Ilham a.k.a. Ariel, juga terkait banyak isu penundaan itu, akhirnya harus berganti oleh Abimana Aryasatya. Tak mengapa juga, karena gambaran karakter Arai masih terasa cukup dekat di tangan Abimana.

ED2

           Lalu muncul lagi masalah di pemilihan judul. Atas jarak empat tahun bagi non-pembaca novelnya itu, Mizan akhirnya jalan dengan sebuah pilihan agak aneh, dengan judul ‘Laskar Pelangi Sekuel 2’ mendampingi titel ‘Edensor’ sesuai novel, yang lebih sering disebut-sebut. Pertanyaannya sekarang adalah sejauh mana Benni yang sekaligus menulis skripnya bisa meneruskan estafet dengan effort tak main-main dari Riri Riza dan Mira Lesmana? Novel itu sendiri sebenarnya sedikit lebih ringan dari dua pendahulunya. Bagai sebuah suka duka catatan perjalanan, namun jangan salah. Sebagaimana style Andrea menuangkan idenya melalui metafora-metafora menarik, ‘Edensor’ tak lantas kehilangan kekuatannya menanamkan keteguhan hati untuk terus mengejar mimpi.

ED3

            Berhasil meraih mimpi mereka mendapatkan beasiswa S2 di Sorbonne University, Paris, Ikal (Lukman Sardi) dan Arai (Abimana Aryasatya) yang mengambil jurusan berbeda ternyata masih harus berjuang untuk membiayai pendidikannya. Bersahabat dengan Manooj (Gregory Navis), Gonzales (Paris Laurent) dan Ninochka (Emma Chaibedra) dalam mengejar pendidikan itu, hubungan Ikal dan Arai mulai meruncing kala Ikal dekat dengan Katya (Astrid Roos), mahasiswa cantik dan free-spirited asal Jerman. Pasalnya, hubungan itu perlahan menyita perhatian Ikal dengan prinsip-prinsip dan prestasinya, sementara ia juga masih terobsesi untuk menemukan cinta pertamanya dalam sosok seorang gadis bernama A Ling (Shalvynne Chang).

ED7

            Tak ada yang salah dengan interaksi akting para pendukungnya. Walau sebagian orang menuding masalah umur pemerannya, kepentingan chemistry yang memang paling diperlukan dalam kisah-kisah seperti ini tetap bisa hadir dengan bagus. Lukman Sardi dan Abimana tetap bisa berkolaborasi dengan baik bersama pemeran-pemeran lain yang juga bermain cukup menarik, terutama Astrid Roos sebagai scene stealer-nya. Beberapa flashback Belitong yang menghadirkan kembali Mathias Muchus sebagai Ayah Ikal, Arswendi Nasution sebagai Weh serta ZulfannyRendy AhmadFerdian sebagai IkalAraiLintang juga jadi benang merah yang cukup baik meski punya sedikit product placement kurang rapi. Penggunaan bahasa Perancis dan lokasi syuting di Eropa lewat sinematografi Fachmi J. Saad, walau tak terlalu maksimal juga tak jatuh jadi hanya sekedar gimmick tak penting untuk keseluruhannya. Penggarapan teknis lain termasuk scoring Andhika Triyadi berikut lagu ‘Negeri Laskar Pelangi’ dengan nuansa Melayu sangat kental (dibawakan Meda Kawu dari ‘Laskar Pelangi Song Book’) dan Cut Niken dalam dua versi plus end credits songPelangi dan Mimpi’ dari Coboy Junior pun hadir sebagai pengiring yang cukup bagus.

ED9

            Masalah terbesarnya justru datang dari skrip yang ditulis Benni, dan cukup fatal. Seolah hanya menerjemahkan mozaik-mozaik kecil dari novelnya, tanpa konsistensi yang baik pula, Benni lagi-lagi mengulang kesalahannya dalam ‘Madre’ tempo hari. Ketimbang menghadirkan part terpenting dari novelnya yang sekaligus memuat esensi terhadap judul itu, cukup jauh dari style Andrea bercerita dalam novelnya, Benni lebih memilih berpijak di elemen-elemen paling ringan lewat beberapa thrill komedik berisi lika-liku karakternya beradaptasi dengan kehidupan Eropa serta dramatisasi konflik persahabatan dan cinta secara verbal dan berpanjang-panjang. Meski sebagian humor dan emosi dalam interaksinya masih bisa bekerja, storytelling itu jadi dipenuhi dengan penelusuran ngalor-ngidul dan nyaris tanpa klimaks berarti. Fell out flat, kelewat ringan serta jadi jomplang dengan dua film pendahulunya, serta hampir sepenuhnya kehilangan gagasan-gagasan imajinatif Andrea tentang impian dan perjuangan secara mendalam. Apa boleh buat. Untuk sebuah karya yang sudah ditunggu sekian lama, lagi-lagi, ini sayang sekali. (dan)

~ by danieldokter on December 28, 2013.

One Response to “LASKAR PELANGI SEKUEL 2 : EDENSOR ; ADAPTASI YANG GAGAL MENANGKAP ESENSI”

  1. kesalahannya adalah bukan Riri Riza lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: