MY MOVIE JOURNAL : THE BEST INDONESIAN MOVIES OF 2013

MY MOVIE JOURNAL : THE BEST INDONESIAN MOVIES OF 2013

BIM16

            Tahun 2013 sudah hampir berakhir, namun jumlah penonton film nasional kita agaknya belum juga membaik. Sejak tahun lalu ada sedikit pergeseran, dari pendapatan terbesar yang biasanya di saat-saat liburan lebaran, kini menjadi akhir tahun. Walau masih cukup jauh dari perolehan ‘5 cm’ dan ‘Habibie & Ainun’, pola ini masih berlangsung dengan film-film unggulan akhir tahun yang masih bisa bersaing bahkan menggeser film luar. Ada ‘Soekarno’, yang meski banyak diprediksi laku keras namun masih berada di bawah ’99 Cahaya Di Langit Eropa’ dan ‘Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck’.

             Masalahnya sebenarnya ada di pola selera penonton yang memang tetap sulit untuk ditebak, selain juga sarana ekshibisi yang terbatas dan harus berbagi dengan banyak film lain baik lokal maupun luar. Kita tak pernah bisa tahu, paling tidak sampai sekarang, apa sebenarnya yang diinginkan penonton film nasional. Apakah konten cerita, pendekatan emosi, star factor, pretty faces, penggarapan serba grande dan mewah, genre baru, semuanya masih cukup sulit terdeteksi. Di saat sebagian mengaku sudah kapok disuguhi produk-produk tak layak, toh masih cukup banyak juga karya-karya yang berani menyentuh ranah baru dalam hal genre atau pendekatan lain, walaupun belum semuanya berhasil.

           So let’s keep hoping. Hadirnya sekuel ‘The Raid’ dan sebuah joint venture yang cukup high profile bersama studio legendaris Nikkatsu, Jepang, ‘Killers’ tahun depan mungkin cukup bisa memberi harapan. Di luar itu, usaha-usaha dari pencinta film Indonesia seperti yang ada di Piala Maya, yang sudah menginjak usia ke-2 nya mungkin juga bisa jadi alternatif untuk menunjukkan ke masyarakat terutama pengguna social media, bahwa masih ada film Indonesia yang layak buat diapresiasi. Digagas tanpa kepentingan-kepentingan sampingan dengan hasil-hasil yang diharapkan bisa lebih eligible, gaungnya sudah berkembang semakin luas dalam sebuah keseimbangan yang diharapkan bisa membentuk suatu formula di tengah-tengah diantara penonton, penilai/kritikus serta juga pelaku industri dan semua stakeholder-nya.

           And here’s my list of this year’s finest 13 with 2 runner-ups. Karya-karya yang terasa sekali digagas dengan passion lebih serta juga sangat personal, rata-rata sangat terasa sebagai labor of love dari para pembuatnya. Mari dukung dan terus beri apresiasi untuk film Indonesia berkualitas.

 1.      FINDING SRIMULAT

BIM1

Tak hanya merupakan passion sutradara Charles Gozali sejak lama buat mengumpulkan dan menghadirkan kelompok seni lawak kesayangannya, Srimulat, kembali ke layar lebar, romansa budaya ini juga punya niat memperkenalkan kembali Srimulat ke generasi sekarang. Tapi diatas semuanya, seperti ekspresi Reza Rahadian sebagai karakter utama yang menyatukan kembali Srimulat, sudah persis menjelaskan di sepanjang film, bahwa atmosfer warmthness dalam sebuah film, mostly in a comedy, bukan hal mudah untuk didapat. Plotnya boleh jadi sangat klise dan ringan seperti template-template reunion film lainnya, tapi dengan feel nostalgiknya, this is the kind of comedy that can make you laugh and cry at the same time.

 2.      HARI INI PASTI MENANG

BIM2

Sekilas ia boleh saja kelihatan hanya seperti film sepakbola biasa yang jadi spesialisasi Andibachtiar Yusuf biasanya. Tapi dibaliknya, skrip yang ditulis Swastika Nohara sekaligus memuat banyak isu menarik yang dibahas dengan penggarapan artistik serta efek sangat rapi. Sebuah drama sosial yang bicara lantang soal politik, olahraga, judi bola hingga tribute for dads yang sangat menyentuh.

 3.      SOKOLA RIMBA

BIM3

Dari dynamic duo Mira Lesmana dan Riri Riza, ini adalah biopik adaptasi dari novel berjudul sama. Mengenalkan kita ke sosok Butet Manurung (diperankan Prisia Nasution) yang berjuang dalam usaha edukasi anak-anak rimba, esensi terkuatnya sekaligus ada disana. Ketika banyak film sejenis mengajarkan pentingnya pendidikan untuk meraih materi, Mira dan Riri justru mengajak kita kembali ke tujuan yang paling mendasar. Knowledge is the greatest treasure of all.

 4.      9 SUMMERS 10 AUTUMNS

BIM4

Lebih dari sisi edukatif yang diusungnya, hal terbaik dari penerjemahan novel berdasar pengalaman pribadi penulis Iwan Setyawan ini adalah esensi tentang kampung halaman dan hubungan-hubungan keluarga. Skrip yang ditulisnya bersama sutradara Ifa Isfansyah dan Fajar Nugros berhasil memunculkan kehangatan ini lewat akting cemerlang Alex Komang, Dewi Irawan dan Ihsan Tarore. A kind of movie that at the end made us want to go straight home and holding our loved ones.

 5.      NOAH : AWAL SEMULA

BIM5

Rockumentary layar lebar pertama karya Putrama Tuta yang jadi sebuah karya one of a kind dari pendekatan naratifnya yang berbeda, membawa kita ke balik panggung sebuah band fenomenal. More than just a rockumentary, tanpa harus muncul dengan kumpulan concert footage, tiap ketukan irama yang hadir di dalamnya berhasil menerjemahkan hal terpenting dari subjeknya. Passion.

 6.      WHAT THEY DON’T TALK WHEN THEY TALK ABOUT LOVE

BIM7

Dari sutradara Mouly Surya, sebuah coming of age movie yang digagas dibalik masalah disabilitas dengan balutan arthouse yang kuat. Penuh simbol, sarat makna, luarbiasa liar, namun tetap nyaman buat disaksikan. Film Indonesia pertama yang diputar di Sundance.

 7.      BELENGGU

BIM8

A thriller with layered twists dari Upi. Stylishly designed and intensely told, dengan akting bagus dari Imelda Therrine dan Abimana. Genre serta effort yang jarang-jarang ada di film kita.

 8.      RECTOVERSO

BIM9

Omnibus adaptasi dari novel karya Dewi ‘Dee’ Lestari dengan kekuatan cukup seimbang antar segmen serta menyatu dengan filosofi hati dalam lagu-lagunya. Segmen ‘Malaikat Juga Tahu’ karya Marcella Zalianty adalah bagian terbaiknya, dengan interaksi akting luarbiasa dari Lukman Sardi dan Dewi Irawan.

 9.      SOMETHING IN THE WAY

BIM10

Dari Teddy Soeriaatmadja, sebuah drama dengan pendekatan sangat berani, namun relevansi kontennya cukup baik. Reza Rahadian bermain bagus, dan Ratu Felisha belum pernah tampil sebaik ini. Daring and lustfully intense.

 10.  TENGGELAMNYA KAPAL VAN DER WIJCK

BIM6

Adaptasi sastra klasik HAMKA yang penuh dengan inkonsistensi dalam set serta tata artistiknya, namun surprisingly, romantisasi fairytale dari desain produksi Rizal Mantovani berhasil menyatukan puitisasi dialog, scoring serta soundtrack bagus dari Nidji dalam blend yang sangat menarik. Kekurangannya banyak, terutama dalam soal dialek yang justru mengundang tawa penonton di momen-momen dramatisnya, tapi tak bisa dipungkiri juga, tanpa lantas jadi kurangajar terhadap paham dan pemikiran HAMKA, skrip itu justru mampu menyampaikan semua esensinya dengan baik. Effort hebat dan grande production-nya belum pernah ada di film kita. Cantik sekali.

 11.  LAURA & MARSHA

BIM11

Road movie dengan latar set Eropa yang cantik dari sinematografi Roy Lolang. Chemistry dua karakter utama, Adinia Wirasti dan Prisia Nasution, diatas sebuah kisah persahabatan yang menyentuh juga sangat kuat.

 12.  TAMPAN TAILOR

BIM12

A down to earth and heartwarming father to son tale yang memikat. Salah satu penampilan terbaik Vino G. Bastian.

 13.  CINTA DALAM KARDUS

BIM13

Style komedi Raditya Dika bisa jadi akan segmented. Tapi Salman Aristo berhasil menyajikan pendekatan berbeda. Dengan simbol-simbol yang tertuang dalam tata artistik menarik, pemirsanya tak lantas jadi bosan disuguhkan sebuah komedi yang nyaris hanya dibangun dengan single set. Unik, simple and sweet.

RUNNER UP :

1. SOEKARNO

BIM17

Biopik founding father dan proklamator Indonesia yang sayangnya terlalu terlena di gambaran soap opera cinta segitiga historisnya. Begitupun, penggarapannya tetap layak mendapat apresiasi lebih, dan 15 menit penghujungnya benar-benar punya feel patriotis yang sangat kuat. Ario Bayu bermain bagus di scene-scene grandstanding atas kemiripannya dengan sosok Soekarno, dan Lukman Sardi, seperti biasa, tampil sangat baik sebagai Hatta.

2. KISAH 3 TITIK

BIM18

Drama sosial dengan style interwoven cukup unik dibalik isu buruh wanita. Getir dan cenderung kelewat pahit, tapi tetap sangat menyentuh dengan nafas feminisme yang kuat.

~ by danieldokter on December 30, 2013.

4 Responses to “MY MOVIE JOURNAL : THE BEST INDONESIAN MOVIES OF 2013”

  1. salam kenal bung Dan, saya baru nonton 2 saja dari daftar di atas. Tapi semakin kemari sepertinya film kita semakin berkualitas ya. Walau masih berharap ada yang sekelas filmnya Teguh Karya dan Stumandjaya.

  2. Salam kenal juga. Amin, harapannya ya emang begitu🙂

  3. Salam kenal dokter dan.. Saya Fajriani dakhra mahasiswa tingkat akhir Universitas Bakie, Jakarta. Jurusan Ilmu Komunikasi, konsentrasi Public relations.
    Sekarang saya sedang melakukan penelitian terkait salah satu budaya di Indonesia yang diangkat melalui film, yaitu budaya minang kabau. Judul dari penelitian saya adalah citra budaya minang dalam film tenggelamnya kapal van der wijck.
    Saya sedang mencari narasumber, seorang pengamat film yang telah menonton film tersebut dan saya lihat dokter telah mereview film tersebut. berdasarkan kriteria pengamat film yang saya inginkan, dokter masuk dalam kategori tersebut. Saya ingin menjadikan dokter sebagai narasumber saya.
    Apakah Dokter Danil berkenan untuk saya jadikan narasumber untuk penelitian saya? Saya sangat berharap atas ketersediaannya.. Terima kasih sebelumnya dok..

  4. Silahkan di-email ke danieldokter@yahoo.com detilnya ya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: