THE LEGEND OF HERCULES : CELEBRATING SWORD AND SANDAL MOVIES

THE LEGEND OF HERCULES 

Sutradara : Renny Harlin

Produksi : Millennium Films, Summit Entertainment, 2014

LOH8

            So what is really a sword-and-sandal movie genre? Walau mungkin citarasanya terkesan mirip dengan film-film historical epic Hollywood yang terentang panjang dari gladiator themes, swashbuckling, barbarian ke biblical movies atau myths and legends lainnya, mostly the ones made with big budgets, no, ini bukan termasuk ke dalamnya. Paling tidak, produk Hollywood sering menolak disebut itu sejak dulu. Lebih cenderung seperti cemoohan, ‘swords-and-sandalsgenre ini sebenarnya merujuk pada film-film rip-off atau epigon produksi Eropa, mostly Italy, yang sempat berkembang menjadi cinematic trend pertama kali di penghujung tahun ’50-an sebelum sempat marak kembali di tahun ’80-an. Istilah lainnya adalah peplum (bahasa mereka untuk toga atau jubah yang dipakai pasukan ancient Romans or Greeks) movies, yang sebenarnya lebih ke low budget productions dari negara-negara itu. Well known legends or myths seperti ‘Hercules’, ‘Samson’, ‘Goliath’, ‘Maciste’ dan banyak lagi menjadi referensi yang sampai sekarang masih diingat banyak orang sekaligus mempopulerkan beberapa nama seperti Steve Reeves.

LOH2

            However, perkembangannya lantas bukan lagi hanya terpatok disitu. Film-film lowbudgets produksi Cannon di tahun ’80-an kemudian mulai merambah wilayahnya mengikuti ‘Conan The Barbarian’-nya Dino DeLaurentiis yang melejitkan nama Arnold Schwarzenegger dengan ‘Hercules’ atau ‘Sinbad’ versi Lou Ferrigno, sementara Itali tetap memproduksi trashy exploitation epigons seperti ‘Hundra’, ‘Ator’ dan banyak lagi yang lain, bahkan meng-crossover-kannnya dengan sci-fi. Batasannya pun menjadi semakin tak jelas, dan akhirnya lebih mengacu pada production values ketimbang asal negara produksinya. Atau satu yang lebih jelas, berupa produk sinema pop-komersil yang hanya menjual naked muscles dari bintang berotot atau bertubuh kekar, with babes and a little sex, serba cheesy tanpa mementingkan plot, sementara goryness-nya tetap dibatasi untuk jangkauan rating pemirsa yang lebih luas.

LOH6

            ‘The Legend Of Hercules’ a.k.a. ‘Hercules : The Legend Begins‘ yang merupakan versi lain dari legenda sama produksi ParamountMGM yang memasang Dwayne ‘The Rock’ Johnson tahun ini, ‘Hercules : The Thracian Wars’ agaknya ada di ranah itu. Walau budget-nya tak kecil-kecil amat, sekitar 70 juta USD, trailer dan promonya sudah menunjukkan kelas yang lebih berupa B-grade action movies di kelas produksi Millennium Films, hingga ke pilihan aktor-aktor yang ada di dalamnya. Scott Adkins mungkin masalah lain bagi penggemar cult actions, tapi Kellan Lutz, lagi-lagi terkena getahnya, mostly dari kalangan moviebuffs pengguna soc-med atau twi-haters. No wonder, belum apa-apa, ‘The Legend Of Hercules’ sudah dicemooh dan dijauhi kritikus dengan rating super jeblok, tapi lagi, ini toh tak jauh berbeda dari kasus-kasus film sword-and-sandal versi Steve Reeves atau Lou Ferrigno dulu. Dimana sambutan penonton atas nilai hiburannya, terutama pastinya di luar AS, bisa jadi berbanding terbalik. Bahkan siapa tahu beberapa tahun ke depan ia akan sama-sama masuk ke dalam cult classics bagi segmentasi yang tepat.

LOH5

            Di kerajaan Yunani Kuno, Ratu Alcmene (Roxanne McKee) yang kecewa dengan ambisi suaminya, Raja Amphitryon (Scott Adkins) yang gila kekuasaan, memohon perlindungan pada Dewi Hera, istri Zeus. Disaksikan penasehat ratu, Chiron (Rade Šerbedžija), Hera pun berjanji diatas sebuah ramalan bahwa Alcmene akan mengandung putra Zeus bernama Hercules yang bakal membawa perdamaian bagi bangsanya. Tak lama kemudian, bayi yang mereka namakan Alcides (dewasanya diperankan Kellan Lutz) itupun lahir, walaupun Amphitryon tak pernah mengakuinya karena mencurigai Alcmene berselingkuh. Alcides yang beranjak dewasa lantas menjalin hubungan dengan putri Crete, Hebe (Gaia Weiss), hingga memancing kemarahan Iphicles (Liam Garrigan), putra asli Amphitryon. Bersama Amphitryon, Iphicles pun merancang sebuah misi ke Mesir untuk melenyapkan Alcides demi memisahkannya dari Hebe dan kerajaan, namun Alcides berhasil menyelamatkan diri bersama pimpinan pasukannya, Sotiris (Liam McIntyre). Alcmene yang menentang malah menemui ajalnya di tangan Amphitryon. Menyadari rencana jahat ini, walaupun harus menempuh perjalanan panjang menjadi budak dan bertarung di arena gladiator, Alcides pun mencari jalan untuk menyelamatkan Hebe, merebut tahta sekaligus mencari jati diri yang selama ini masih diragukannya sebagai Hercules, putra Zeus.

LOH9

            Dalam pakem sword-and-sandal movies tadi, ‘The Legend Of Hercules’ jelas tak punya salah apa-apa, terlebih bagi pemirsa di luar kalangan yang kelewat serius mengharapkan sesuatu yang lebih dari sekedar perayaan sebuah genre yang tak juga pernah bisa mereka sukai. Ini memang murni hanya sebuah sword-and-sandal action dalam tendensinya sebagai hiburan komersil tanpa iming-iming lain. Mau dibenci sebagian kalangan pun, sama seperti Scott Adkins, Kellan Lutz sebenarnya tak jauh beda dari aktor-aktor seperti Steve Reeves atau Lou Ferrigno yang cenderung lebih menjual naked muscles ketimbang kekuatan akting dalam pilihan karirnya.

LOH10

               Kecuali Johnathon Schaech yang tampil berbeda memerankan algojo Tarak serta Liam McIntyre yang cukup mencuri perhatian sebagai Sotiris, memang tak ada akting yang spesial. Roxanne McKee dan Gaia Weiss hanya berfungsi dalam porsi mereka sebagai show of babes yang jadi unsur wajib genre-nya. Elemen-elemen plot hingga dialog-dialognya luarbiasa cheesy. Selain penggarapan set yang masih lumayan, teknis dan production values-nya pun serba tak spesial, namun dibalik kejatuhan namanya dari sutradara kelas A ke deretan terbawah, Renny Harlin paling tidak masih bisa menampilkan action scenes with some effects, terutama sempalan 3D yang cukup sesuai dengan tendensi komersilnya.

LOH1

           Begitulah. ‘The Legend Of Hercules’, kalaupun tak mau menyebutnya dangkal, predictable, generik, atau apalah, memang hanyalah sebuah hiburan semata. Popcorn entertainment kelas ringan yang cukup seru, menghibur serta tak memerlukan ekspektasi lebih dari para pemirsanya. Toh naked muscles and babes itu memang merupakan resep wajib genre-nya, dan ini lebih ke selebrasi bagi genre sword-and-sandal tadi. So mark your place. Suka atau tidak suka, mau berada diantara pemirsa awam yang datang ke bioskop sekedar mengharapkan hiburan seperti sambutan yang sangat lumayan disini, atau bersusah-payah melawan apa yang sebenarnya sudah Anda ketahui sejak jauh-jauh hari? Obviously your choice, tapi sekali lagi, dalam semurni-murni tendensi kenapa filmnya diproduksi, ‘The Legend Of Herculesstands acquitted from all charges. Not guilty. (dan)

LOH4

~ by danieldokter on February 2, 2014.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: