12 MENIT : KEMENANGAN UNTUK SELAMANYA ; THE BEATS THAT ROCK YOUR HEART

12 MENIT : KEMENANGAN UNTUK SELAMANYA

Sutradara : Hanny R. Saputra

Produksi : Big Pictures Production, Cinevisi, 2014

TM3

            Let me ask you. Apa film fiksi dengan tema utama tentang marching band yang Anda ingat? Walau mungkin tak dikenal terlalu luas, the one and only answer might be justDrumline’ (2002) yang dibintangi Nick Cannon. Sementara di film Indonesia, jelas belum pernah ada film yang mengangkat tema ini sebagai sorotan utamanya. Dari situ, ’12 Menit’ memang menjadi breakthrough yang kedengaran sangat menarik dalam sinema kita, apalagi dengan kenyataan bahwa kita punya marching band daerah, Bontang PKT (binaan Pupuk Kaltim) yang sudah mencatat kemenangan fenomenal 10 kali sebagai juara umum  Grand Prix Marching Band nasional, bahkan sampai ke ajang internasional dari World Association Marching Show Bands di tahun 1998 dan 2001.

TM7

             Oleh Oka Aurora yang menulis skripnya, kisah perjuangan dan semangat anak-anak marching band dari Bontang ini menjadi inspirasi yang kemudian juga dituangkan ke dalam novel sebagai companion-nya. Jauh diatas dramatisasi plot dan sedikit kepentingan pengenalan wilayah yang juga jadi informasi penting latarnya, bahwa 12 menit yang diangkat sebagai judul tersebut, bukan saja merupakan durasi maksimal tiap penampil di event nasional yang bisa jadi kelewat singkat dibanding latihan berat yang mereka jalani selama ribuan jam, tapi sekaligus jadi tujuan karakter-karakternya untuk meraih mimpi dari berbagai motivasi yang berbeda.

TM6

             Bagi Rene (Titi Rajo Bintang), pelatih marching band profesional yang baru saja direkrut Bimo (Verdi Solaiman), manager Vincero, kelompok marching band asal Bontang untuk bisa mengikuti Grand Prix Marching Band di Jakarta, adalah sebuah tantangan berat. Bukan saja karena kemampuan dan pengalaman para anggota yang ada sangat meragukan, waktu tiga bulan untuk bisa menyatukan seratusan anggotanya juga bukan hal gampang. Menyeleksi ulang satu-persatu kandidatnya, Rene lantas meletakkan harapan terbesarnya pada tiga anak berbakat yang masing-masing punya masalah berbeda. Elaine (Amanda Sutanto), gadis berdarah Jepang yang mengikuti ayahnya, Higoshi (Nobuyuki Suzuki) pindah ke Bontang demi pekerjaannya sebagai konsultan PKT harus memilih antara prestasi sekolah yang jadi ambisi Higoshi dengan minat yang didukung penuh ibunya (Olga Lydia), Tara (Arum Sekarwangi) yang menyimpan trauma pedih dan tinggal bersama kakek-neneknya (Didi PetetNiniek L. Karim), serta Lahang (Hudri), anak dari suku pedalaman yang harus membagi perhatian terhadap sang ayah (Egy Fadly) yang sakit-sakitan. Berulang kali menemui jalan buntu hingga harus masuk ke dalam konflik masing-masing, di tengah kekerasan hati yang membuatnya kerap berbenturan dengan tim serta anak didiknya, Rene juga tak mau menyerah begitu saja.

TM5

        Hal terbaik dalam ’12 menit’ memang harus diakui ada dalam eksplorasi skrip Oka. Ketimbang menghadirkan plot klise zero to hero perjuangan sekelompok orang dalam tujuan yang sama, Oka memilih untuk lebih menelusuri konflik serta dramatisasi  karakter-karakter pilihannya dengan fokus lebih. Tak sepenuhnya sempurna memang, terutama dalam beberapa pilihan justifikasi motif dan keseimbangan pembahasan terhadap karakter-karakter tersebut, namun paling tidak, di saat film sejenis mungkin memilih menuntaskan semuanya dengan mudah serta klise, usaha Oka menghadirkan proses-prosesnya dengan detil-detil berbeda dan lebih wajar terlihat dengan jelas, hingga ke eksplorasi kultur berbeda para karakternya, dari suku pedalaman ke ekspatriat asing. Bangunan komunikasinya ke konflik-konflik yang lazim dihadapi orang-orang dalam tim sejenis juga sangat related, tak mengada-ada ataupun berlebihan.

TM1

            Dramatisasinya tampil dengan baik di tangan tiga aktor belia yang sama sekali belum punya bakat akting ini. Ketimbang memaksakan profil produknya dengan bintang-bintang utama yang punya nama, pemilihan aktor-aktor ini jadi terasa lebih pas, terutama Amanda Sutanto yang didapat lewat casting ketat serta Hudri yang memang berasal dari tim asli marching band PKT. Pendukung lain yang kebanyakan juga sama dari timnya mungkin tak semuanya berakting baik, namun dalam marching band scenes yang mau tak mau harus jadi fokus penting, akurasinya akan jauh lebih baik.

TM4

               Bersama mereka, aktor-aktor seniornya juga tampil bagus. Didi Petet dan Niniek L. Karim jelas tak lagi perlu dipertanyakan. Sebagai Higoshi, aktor berdarah Jepang Nobuyuki Suzuki juga tampil dengan sangat baik, sementara Olga Lydia dan Verdi Solaiman bisa meng-handle scene-scene mereka untuk tetap menyita perhatian pemirsanya. Namun yang terbaik tetaplah pemilihan Titi Rajo Bintang sebagai Rene. Walau di beberapa titik karakternya punya potensi buat tergelincir ke feel kelewat ambisius yang bisa merusak bangunan empati penonton, latar karirnya sebagai drummer jelas membuat pendalaman karakternya sebagai pelatih tampil dengan ekspresi luarbiasa. Ditambah Aksan Sjuman yang punya sinergi sangat baik terhadap dramatisasinya, no wonder, dengan aspek-aspek yang kuat ini, penyutradaraan Hanny R. Saputra yang biasanya masih suka naik turun di sejumlah filmnya seakan terasa jauh lebih serius dan benar-benar menemukan jalannya.

TM8

            Di luar kelebihan-kelebihan itu, ’12 Menit’ bukannya tak punya kekurangan. Mostly bagi pemerhati lebih yang mengikuti proses demi proses publikasi selama pembuatannya termasuk syuting yang dilakukan selama Grand Prix Marching Band tahun lalu di Istora Senayan, bujet besar pembuatannya agak disayangkan tak begitu terasa di adegan yang harusnya jadi highlight terbaik, mengantarkan penampilan marching band di klimaks yang dibesut tepat berdurasi 12 menit itu. Editing dari Wawan I. Wibowo dalam beberapa detilnya sudah cukup baik, namun penggunaan lebih dari 12 bahkan kabarnya 24 kamera itu masih kurang sebanding dengan apa yang tampil ke layar. It’s good, cukup untuk menyiratkan ‘kemenangan untuk selamanya’ seperti pilihan judul serta pesannya, tapi masih tak seimbang dengan effort penggarapan sebesar itu, terlebih lagi karena aransemen ulang lagu-lagu Dewa yang menjadi pilihannya kurang bisa muncul dengan majestic beat dan anthemic feel yang maksimal.

TM2

           Begitupun, kekurangan ini bukannya sampai merusak keseluruhan tampilan ’12 Menit’ sebagai salah satu film Indonesia yang jelas-jelas menunjukkan keseriusan lebih dalam penggarapannya. Bersama kekayaan informasi dan tema sentral yang jarang-jarang didapat dari kebanyakan film kita, ’12 Menit’ tetap memberikan motivasi kuat untuk sebuah pesan-pesan dan perjuangan menetukan pilihan hati, meraih tujuan serta sangat menginspirasi dibalik feelgood and warmhearted dramatization-nya. Klimaks itu mungkin membuat sebagian dari kita cenderung jadi ingin se-cerewet Rene sebagai drill instructor mereka, but the rest of the beats, will still rock your heart out. Don’t miss this one! (dan)

~ by danieldokter on February 5, 2014.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: