THE MONKEY KING (西游记之大闹天宫) : QUITE A MESSY RETELLING OF A CLASSIC CHINESE MYTHOLOGY

THE MONKEY KING (西游记之大闹天宫)

Sutradara : Cheang Pou-Soi

Produksi : Filmko Entertainment, China Film Group, Mandarin Films, 2014

TMK5

            Not only by its ethnic, hampir semua orang mungkin sudah mengenal kisah kera sakti Sun Wukong / Sun Gokong, lewat salah satu kisah paling terkenalnya, ‘Journey To The West’ yang ditulis oleh Wu Cheng’en, penulis Cina terkenal di masa Dinasti Ming. Berkembang sebagai salah satu folktale dan kisah mitologi mereka yang paling populer walau kerap terlihat sebagai komedi diatas filsafat-filsafat kepercayaan dan ajaran Buddha, adaptasi filmnya sudah banyak sekali dibuat, dari serial hingga layar lebar. Terakhir, ada ‘Journey To The West : Conquering The Demons’ besutan Stephen Chow yang menceritakan ulang kisah ini secara nyeleneh dengan kegilaan berbeda dari komedi klasik Chow berdasar source yang sama, dwilogi ‘A Chinese Odyssey’.

TMK1

            ‘The Monkey King’ yang memakan rentang waktu cukup panjang (lebih dari 3 tahun masa proses pembuatan) dengan bujet seukuran produksi Hollywood sebagai salah satu adaptasi paling ambisius itu sebenarnya tak jauh berbeda dari segi konten plot-nya. Mirip seperti ‘Conquering The Demons’, versi yang digawangi sutradara Cheang Pou-soi (‘Dog Bite Dog’, ‘Motorway’) berdasar skrip alm. Szeto Kam-Yuen yang juga sempat bekerja bersamanya di ‘Motorway’ dan ada dibalik skrip film-film terbaik Donnie Yen (‘SPL/Sha Po Lang’ dan ‘Flashpoint’) menarik kembali kisah itu ke episode paling awal literatur yang biasa hanya diceritakan sekilas sebagai pengantar di banyak adaptasi layar lebarnya. Bedanya, jika versi Chow menonjolkan konsep yang terasa baru bersama signatureKungfu Hustle’-nya, ‘The Monkey King’ membawa nafas adaptasinya ke cara paling klasik, dimana ambisi penggunaan efek sebesar Hollywood’s benchmarks, dengan gimmick 3D dan ensemble cast jagoan pula, akan bisa jadi amunisi terbesarnya. Sempat tertunda sekian lama, kabarnya untuk memaksimalkan effort itu, momen rilisnya di Chinese New Year tahun ini sudah meletakkan hasilnya di salah satu rekor perolehan box office mereka. But how’s the overall result?

TMK2

            Lahir dari batu keramat hasil pengorbanan dewi Nuwa (Zhang Zilin) demi mengembalikan kayangan yang porak-poranda atas serangan iblis yang dipimpin Bull Demon King (Aaron Kwok) , Sun Wukong (Donnie Yen) ternyata tetap tak bisa melepas kenakalannya. Berkali-kali diberi kesempatan oleh Goddess of Mercy (Kelly Chen) lewat taoist master Puti (Hai Yitian) yang ditugasi sebagai mentor-nya, Wukong kerap membuat kerusuhan hingga ke kayangan hingga memancing kemarahan penjaga gerbang kayangan bermata tiga Erlangshen (Peter Ho). Kesempatan ini dibaca oleh Bull Demon King untuk melancarkan kembali serangannya. Menggamit Erlangshen dan mengirim sahabat masa kecil Wukong, siluman rubah putih Ruxue (Xia Zitong) sebagai umpannya, ia berhasil memicu pemberontakan Wukong melawan kayangan dan pemegang tahtanya, Jade Emperor (Chow Yun-fat).

TMK7

            Memilih cara paling klasik dalam penceritaan ulangnya, sayangnya skrip keroyokan Szeto Kam-Yuen, Edmond Wong, Lola Huo dan Dali Chen gagal mengeksplorasi pengembangan karakter-karakter klasik ini dengan kuat. Seringkali terasa terdistraksi oleh inspired concept dari film-film luar Asia secara tumpang tindih, mostly family and animation genre ala Disney, dari karakter ke bangunan set-nya, durasi cukup lebar itu dibiarkan bertele-tele memvisualisasikan ulah Sun Wukong dengan sangat dangkal serta childish. Tendensi terhadap momen perilisannya untuk menyambut Chinese New Year serta memberikan kesempatan bagi Donnie Yen untuk beraksi dengan distinctive wing chun style-nya mungkin bisa dimengerti, namun akibat terburuknya ada di sinkronisasi pace-nya. Dan ini semakin diperparah dengan heavy makeups Donnie Yens Wukong dan kawanan kera dengan base costume yang jatuhnya malah jomplang dengan sebagian penggunaan CGI-nya. Balutan makeup terhadap Donnie dan beberapa aktor itu mungkin bukan sepenuhnya tak bagus, tapi tingkah-polahnya menerjemahkan kenakalan Sun Wukong justru membuat tone-nya jadi terasa semakin konyol ketimbang lucu, tanpa turnover yang baik pula menjelang klimaks pemberontakannya melawan kayangan. Aksi martial arts-nya pun serba terbatas dan lebih dipenuhi penggunaan CGI.

TMK3

            Efek yang digembar-gemborkan sebagai milestone di HK cinema itu pun tergelar cukup sia-sia. At many seuqences, apa yang terlihat di layar bagaikan unfinished CGI yang sangat kasar, patah-patah dan hampir sepenuhnya hanya berlindung di set megah penuh warna yang walaupun cukup baik, namun kelihatan tak jauh beda dengan pencapaian sinema mereka puluhan tahun lalu di film-film folktale/mythology seperti ‘Zu Warriors From The Magic Mountain’-nya Tsui Hark versi awal ’80-an (bukan remake-nya). Ensemble cast yang memuat nama-nama A-list actors hingga penyanyi terkenal mereka pun tak lagi bisa membantu. Dari Kelly Chen, Gigi Leung, Louis Fan, Zhang Zilin dan Joe Chen yang hanya muncul bagaikan cameo, hingga Chow Yun-fat yang sangat tipikal serta Aaron Kwok dalam comical act-nya. Hanya Peter Ho yang lumayan memberikan emosi ke dalam karakternya, serta dalam porsi jauh lebih singkat, kemunculan bocah sakti Na-Cha The Great yang diperankan oleh Calvin Cheng, tapi inipun belum sepenuhnya cukup. Begitu juga sinematografi yang sudah menggamit 2 orang DoP dengan supervisi pihak luar tak juga bisa berbicara banyak. Satu-satunya yang terasa cukup majestis bersama desain dan CGI set, makeup dan kostumnya hanyalah scoring komposer Christopher Young plus dua theme song, ‘Havoc In Heaven’ dari Zhang Heng Yuan dan Bi Xia serta ‘Love In The Time Of Heaven And Earth’ dari Carlson Cheng.

TMK4

            Terjebak menjadi family fantasy yang akhirnya terasa sangat segmented, mungkin ‘The Monkey King’ masih bisa dinikmati oleh sebagian penonton terutama yang memang sudah mengenal kisah ini dengan detil lebih termasuk bidikan etnisnya. Sulit juga menyangkal bahwa daya tariknya sebagai tontonan spesial menyambut Chinese New Year akan jadi distraksi berbeda, plus setup cukup menarik ke sekuel yang akan menampilkan segmen kisah ‘Journey To The West’ yang lebih luas dikenal dengan tampilan sekilas Biksu Tong (kabarnya diperankan oleh aktor Liu Ye) yang mudah-mudahan akan bisa lebih baik dari ini. But for this one, technically, overall result-nya tak se-menyenangkan itu. Quite a messy retelling of a classic chinese mythology, yang masih jauh berada di bawah inovasi Stephen Chow terakhir yang meski melaju nakal tanpa kendali, tapi tetap terasa sangat unik. (dan)

~ by danieldokter on February 9, 2014.

5 Responses to “THE MONKEY KING (西游记之大闹天宫) : QUITE A MESSY RETELLING OF A CLASSIC CHINESE MYTHOLOGY”

  1. I always emailed this web site post page to all my friends, because if
    like to read it after that my links will too.

  2. http://jaysankey.blogspot.com/2014/06/film-ini-menceritakan-tentang-sun-go.html

  3. Thanks for finally talking about >THE MONKEY KING
    (西游记之大闹天宫) : QUITE A MESSY RETELLING OF A CLASSIC CHINESE MYTHOLOGY |
    Dan At The Movies <Loved it!

  4. I got this website from my friend who told me on the
    topic of this web site and now this time I am browsing this website and reading very informative posts at this time.

  5. […] Bagi banyak orang, meski hasil perolehan box-office-nya sangat laris, adaptasi ‘The Monkey King’ karya Cheang Pou-soi yang dirilis menyambut Chinese New Year 2014 dan lebih dikenal sebagai film […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: