ROBOCOP : A CLASSIC REVIVED

ROBOCOP

Sutradara : José Padilha

Produksi : Strike Entertainment, MGM, Columbia Pictures, 2014

RC3

            Okay. Kita mungkin tak pernah tahu akan jadi seperti apa bila ‘RoboCop’ dihidupkan kembali oleh seorang Darren Aronofsky, which sounds like a terrible mismatch, seperti rencana awalnya di 2010. Namun kelanjutan proyek yang sempat tertunda hingga akhirnya beralih ke sutradara José Padilha, agaknya jauh lebih melegakan. Bagi sebagian orang, karakter ini bisajadi tak jauh beda dengan superhero-superhero lain, apalagi setelah instalmen orisinil awalnya di tahun 1987 dulu berlanjut ke dua sekuel dengan kualitas cukup jeblok berikut serial TV serta line of comics yang bukan juga tergolong kelewat sukses, sementara wave-nya sudah memunculkan cukup banyak rated R rip-off  cyborg fantasies. Tapi bagi fans, terutama yang juga tahu betul siapa Paul Verhoeven, sang sutradara, statusnya jelas akan sangat berbeda. And trust me, orang-orang yang ada di golongan ini, pasti bisa melihat visi yang sama mengapa mereka lantas mengalihkannya ke Padilha. Sineas yang kita semua kenal lewat film fenomenal produksi Brazil, dwilogi (at least ‘til now) ‘Tropa de Elitea.k.a.Elite Squad’ itu.

RC5

               Mungkin lagi-lagi akan muncul pertanyaan klasik dalam penelusurannya. Apa sih yang membuat VerhoevensRoboCop’ bisa menuai sukses baik dari perolehan box office, critics reception hingga memperoleh status klasik? Apa sih yang membuatnya berbeda dari banyak film dengan karakter-karakter sejenis, seperti ‘The Six Million Dollar Man’, ‘Bionic Woman’ sampai ‘Darth Vader’ atau cyborg wanna-be lainnya yang sudah lebih dulu ada dimana-mana? Jawabannya bisa sangat beragam. Kecenderungan eksploitatif Verhoeven yang membuat banyak protes melayang ke pameran kesadisan dan jumlah body counts-nya? Efek Rob Bottin yang membawa sci-fi ini menjadi award contender? Questions of human nature yang mungkin mengundang nama Aronofsky secara over-perceptive di rencana awal (although no, it’s nothing close to Aronofskys human explorations) bahkan membuat banyak orang sinting yang menghubung-hubungkannya dengan propaganda reliji? Atau potensinya menjadi social-political satire in larger themes than just a violent action fantasy, yang bisa menyentil banyak pihak dari pekerja, korporasi, penegak hukum – mafia hingga media? Soal sadis-sadisan itu tentu benar, namun sisi mana yang paling kuat menyokong fondasi keseluruhan plotnya dari bawah, mungkin hanya fans dan orang-orang yang menganggap versi 1987-nya sebagai karya klasik yang akan tahu benar jawabannya. And no, it’s not really a loose remake like many of you have thought before. These people are actually trying to revive a classic in many same ways.

RC4

           Detroit, 2028. As the future of law enforcement, korporasi multinasional OmniCorp sudah menciptakan robot untuk membantu aktifitas militer Amerika di negara-negara konflik. Namun usaha CEO-nya Raymond Sellars (Michael Keaton) buat memasarkan robot-robot ini ke dalam negeri masih tersandung oleh undang-undang yang diberlakukan oleh senator Dreyfus (Zach Grenier) yang didukung oleh kalangan masyarakat robo-phobic. Sellars pun terpaksa mencari jalan lain. Bersama kepala tim ilmuwannya, Dr. Dennett Norton (Gary Oldman), mereka merencanakan pembuatan android prototype lewat subjek polisi-polisi cedera dalam tugas. Disitulah kemudian Alex Murphy (Joel Kinnaman) yang berada dalam kondisi kritis oleh ulah kingpin senjata ilegal Antoine Vallon (Patrick Garrow) yang tengah diinvestigasinya, masuk ke dalam program RoboCop. Memanipulasi situasi, Sellars dengan cepat membuat Clara (Abbie Cornish) menyetujui semuanya, membuat Murphy menjadi ikon law enforcement baru yang serba tangguh sekaligus mematahkan dukungan masyarakat ke undang-undang Dreyfus. Hanya saja, mereka lupa dengan kerumitan yang timbul dari sisi manusiawi Murphy sebagai manusia. Ahli strategi militer Rick Mattox (Jackie Earle Haley) pun ditugaskan untuk meng-counter dukungan Clara dan anaknya, David (John  Paul Ruttan), partner Murphy, Jack Lewis (Michael K. Williams), berikut dendam masa lalu Murphy dan Norton yang makin bersimpati padanya. Soon everything runs amok, menjadi senjata makan tuan untuk OmniCorp sendiri. Part man, part machine, all cop.

RC9

            Dengan rating PG-13, ‘RoboCop’ 2014 ini jelas kehilangan sisi gory exploitation yang dihadirkan Verhoeven. Namun Padilha juga bukan melakukan tugasnya dengan sembarangan. Walau kelihatan lebih tertarik pada social-political satire sebagai elemen kuat source-nya hingga sedikit keterusan dengan penampilan Samuel L. Jackson sebagai Pat Novak, host sebuah acara TV yang mengantarkan narasinya, ia tetap mengemas versinya dengan penuh respek. Ada pengaruh studio juga kabarnya dari proses panjang pembuatannya, namun sisi bagusnya, menahan Padilha untuk tak keterusan seperti apa yang dilakukannya di downgrade formulaTropa de Elite 2’ yang terlalu cerewet, bisa jadi adalah hal yang bagus. At least, curhatannya cukup bisa dibatasi di karakter Novak. So, like a men doing a total fair play, bersama penulis skrip Joshua Zetumer (uncredited writerQuantum Of Solace’ serta the upcomingDuneremake) dan sederet kru-nya dari ‘Tropa de Elite’, dari DoP Lula Carvalho, komposer Pedro Bromfman yang tetap menggunakan main theme orisinil Basil Poledouris dalam scoring barunya, serta editor Daniel Rezende, Padilha tak lantas meninggalkan human exploration-nya terhadap karakter sentral ini. Homage-homage soal set, karakter berikut korporasi OCP dan robot ED-209 yang ada di versi 1987-nya pun tetap dimunculkan.

RC7

               Bukan berarti versi Verhoeven tak punya sisi dramatis yang menyentuh, namun kegilaan eksploitatif Verhoeven memang harus diakui sedikit menenggelamkan sisi yang dihadirkan lewat dramatic scene cukup minim untuk berganti menjadi pembantaian penuh kesadisan di sisa durasinya. Disini, Padilha jauh lebih terus terang menghadirkan heart factor-nya, tanpa membiarkan dramatisasi itu jadi tertinggal oleh gelaran aksi. Social chaos sebagai latar motivasi hitam putih antagonis-nya dikurangi untuk memberikan penekanan lebih dalam sisi politik yang lebih relevan ke gambaran kemungkinan masa depan. Bahkan porsi vengeance-nya ditekan habis untuk lebih memberi ruang ke nafas karakter Murphy sebagai penegak hukum di luar tentunya, pilihan mereka terhadap ageratings. Dan terakhir, tentang upgrade tampilan RoboCop secara fisik, yang sebelumnya sempat diolok-olok banyak orang, mereka tetap membangun detil tahapan-tahapannya dengan penuh respek.

RC8

              Hal lain yang sangat menarik dari versi Padilha juga ada pada scientific explorations yang sangat kuat. Membangun detil-detilnya dengan menarik serta informatif, sambil tetap menyempalkan satir sosial itu, bahasan-bahasan sains dari robotic process hingga ke action scenes-nya jadi terasa sangat logis, sekaligus bekerja luarbiasa tak hanya dalam meletakkan lapis demi lapis konflik manusia lawan korporasi itu, tapi juga ikut memperkuat emosi sebagian karakternya, dari side characters seperti Jay BaruchelJennifer Ehle di sisi komikal orang-orang OmniCorp, Marianne Jean-Baptiste sebagai atasan Murphy, Aimee Garcia sebagai Jae Kim, sampai tentu saja sederet karakter utamanya yang punya cast jauh lebih unggul dari versi aslinya. Being so impeccable, Michael Keaton yang masuk terakhir menggantikan Hugh Laurie memainkan karakter Sellars jauh lebih dalam dari yang dilakukan Ronny Cox dulu. Abbie Cornish membuat karakter Mrs. Murphy bukan hanya sekedar pelengkap sekaligus jadi kekuatan dalam heart upgrading keseluruhannya. Karakter Lewis yang dialihkan jadi man-partner Murphy juga cukup baik dimainkan Michael K. Williams dari ‘Boardwalk Empire’ bersama joke tentang kontras perubahan warna metal RoboCop baru ini.

RC12

            Tapi yang paling bersinar adalah Gary Oldman, Jackie Earle Haley dan Joel Kinnaman sendiri. Skrip Zetumer sudah membawa karakter Norton dan Mattox menjadi kontras penting untuk perjalanan konflik serta karakter Murphy, dan Oldman bersama Earle Haley jelas menambahkan kedalaman dalam penampilan mereka seperti biasanya. Kinnaman pun cukup mengejutkan. Di luar postur wajah yang memang se-tipe dengan dua pemeran RoboCop layar lebar dulu, Peter Weller dan Robert John Burke, lebih dari apa yang sebelumnya kita lihat lewat penampilannya dalam ‘The Killing’ atau dua franchise hit internasional SwediaSnabba Cash’ a.k.a. ‘Easy Money’ dan ‘Johan Falk’, apalagi dengan penelusuran Padilha yang lebih menonjolkan sains ‘robo’ ketimbang ‘cop’, Kinnaman ternyata bisa menerjemahkan ekspresi dari turnover karakternya dengan sangat meyakinkan. Made the audience feel for him, sebagai elemen empati yang paling diperlukan untuk bangunan emosinya.

RC30

            So there you go. Paling tidak, kita sudah punya jawaban untuk proses panjang remakeRoboCop’ ini. Elemen-elemen yang begitu bervariasi membentuk sebuah film jadi karya orisinil Edward NeumeierMichael Miner dengan sentuhan kental Paul Verhoeven yang sudah berkembang menjadi superhero franchise – bukan sebaliknya- memang mau tak mau meletakkan resepsi pemirsanya ke banyak sisi berbeda. But I’d say, it’s a fair play.  Sebagian kekuatannya boleh saja hilang, dari kesadisan sampai iconic punchlines-nya, namun highlight-highlight pengganti serta elemen lain yang masih dipertahankan, juga tak kalah hebat dalam membentuk sebuah reka ulang dengan penuh respek, mostly if you choose hearts and science over violence, dengan action pace yang tak juga terlalu jauh berubah. Like it or not, a classic just got revived. (dan)

RC10

~ by danieldokter on February 15, 2014.

2 Responses to “ROBOCOP : A CLASSIC REVIVED”

  1. Upaya para pembuat boleh diapresiasi – tapi yah, menurut saya kok.. kurang “greget” “gigit”, dan kurang “nendang”. jadi kalau kembali me-review versi Verhoeven, misalnya pada saat Murphy bilang dgn tone robotnya, “Clarence Boddicker…”
    “Dead or alive you’re comin’ with me!”
    itu kan sama merindingnya dengan Suzzanna yg bilang ..”Bang Bokiir…”😀😀 Lha di versi yg ini? Hmmm…

    Dan endingnya saat Dan O Herlihy (bener ya?) nanya, “What’s your name son?”
    “Murphy.”
    dan Robocop theme-nya itu langsung muncul dg gagah menggelegar.. Itu baru ending. Lha yg ini? Saya yakin penonton jg banyak yg garuk2 kepala selesainya Sam Jackson ngomong…

    But then, saya juga baru tahu kalau Robocop baru ternyata PG-13…
    And I like the new ED-209😀

  2. Om, reviewnya bikin lebih keren sih. Biar bacanya semangat. Kayak review di koran Kompas gitu. Berkelas gitu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: