ENDLESS LOVE : THE BLAND GOES DUMB

ENDLESS LOVE 

Sutradara : Shana Feste

Produksi : Bluegrass Films, Fake Empire Productions, Universal Pictures, 2014

EL8

            Selamat datang kecenderungan baru Hollywood. Love stories remake. And no, I don’t mean classics likeRomeo And Juliet’ yang masih bakal terus akan di-remake dalam berbagai versi ke depannya. Instead, mereka mulai membongkar file-file romantic movies-nya dari dekade-dekade lalu untuk di-daur ulang, dimana momen Valentine’s Day jadi senjata ampuh buat perilisannya. Dua yang langsung muncul tahun ini selain ‘About Last Night’ yang walau menggunakan judul sama sebenarnya bukan remake dari versi 1986 melainkan adaptasi ulang drama panggung dari David Mamet, ‘Sexual Perversity In Chicago’ dalam versi African-American, adalah ‘Endless Love’.

EL6

            Now let’s take a look back. To some cult romantic fans, versi 1981 Franco Zeffirelli yang merupakan adaptasi dari novel berjudul sama tulisan Scott Spencer ini adalah sebuah karya klasik. Perolehan box office-nya di tahun itu, termasuk di Indonesia, tergolong sukses atas faktor Brooke Shields. Juga mencatat penampilan perdana Tom Cruise dan salah satu filmografi di awal karir James Spader, resepsi kritikus sungguh berbanding terbalik, dan kenyataan pula bahwa filmnya jatuh ke dalam status rare untuk bisa dinikmati banyak generasi berikut dengan rilis homevideo sangat terbatas. Yang jadi jauh lebih populer dengan everlasting status justru theme song cantiknya, ‘Endless Love’ yang ditulis Lionel Richie dan dibawakannya bersama Diana Ross. Praised as the greatest duet song of all time by Billboard, bertengger selama 9 minggu di peringkat teratas penjualan singel sekaligus menghasilkan nominasi Oscar, Golden Globe serta Grammy untuk Best Song.

EL7

            Di luar resepsi kritikus, kualitas versi 1981 ini sebenarnya bukan terlalu buruk. It was bland, but actually not that bland. Paling tidak, lewat skrip yang ditulis Judith Rascoe, walaupun terbilang jauh dari sempurna, Zeffirelli sebenarnya sudah mencoba menuangkan banyak ide dalam source-nya untuk membuat ‘Endless Love’ tak jadi sebuah kisah cinta remaja biasa yang lagi marak di tahun itu. Ada konflik-konflik tentang coming of age, trauma perceraian orangtua, kenakalan remaja sampai masalah pyromania bahkan politik. Tone melankolisnya pun mengikuti trend film-film saat itu yang lebih cenderung tak mengakhiri filmnya dengan konklusi menyenangkan, dan paling tidak, walau tetap lebih terjebak ke melodrama menye-menye meninggalkan potensi lebih tadi, chemistry Brooke Shields-Martin Hewitt bersama performa aktor-aktor pendukungnya cukup baik. So, dalam usaha remake dari sutradara Shana Feste (‘Country Strong’), harusnya mereka bisa membaca kekuatan versi lamanya. Sayangnya tak begitu.

EL2

            Masih berfokus di karakter yang sama, Jade Butterfield (Gabriella Wilde) yang datang dari keluarga terhormat dokter bedah Hugh Butterfield (Bruce Greenwood) menemukan cintanya seusai kelulusan SMU pada David Elliott (Alex Pettyfer), rekan satu sekolah yang selama ini menyimpan perasaannya pada Jade. Kontras dengan Jade, David hanyalah seorang anak pemilik bengkel kecil, Harry Elliott (Robert Patrick) yang notabene bukan siapa-siapa. Hanya ada trauma masa lalu dari masing-masing keluarga yang akhirnya membuat Jade dan David makin dekat, dan walaupun David dengan cepat bisa mencuri hati ibu Jade (Joely Richardson) dan kakaknya, Keith (Rhys Wakefield), Hugh tetap tak menyetujui hubungan ini dan mencoba memisahkan keduanya.

EL3

            Walau tetap membawa statusnya sebagai adaptasi novel Scott Spencer, remake ini agaknya cenderung hanya meminjam judul dan karakter tanpa mengangkat subplot-subplot yang sama buat membangun konfliknya. Skrip yang ditulis Shana Feste dan Joshua Safran (‘Gossip Girlseries) itu tampaknya memang mencoba melenyapkan semua kerumitan konflik dalam source aslinya untuk memindahkan versi mereka hanya menyorot soal coming of age, teen innocence dan first sexual experiences yang serba simpel, tapi hasilnya malah makin berantakan. Ada sedikit subplot soal trauma keluarga yang mungkin mereka harapkan cukup untuk membangun konfliknya, tapi ini juga lantas lewat tanpa kesan lebih.

EL11

            Hal terburuknya ada di chemistry Gabriella Wilde dan Alex Pettyfer yang tak sekalipun bisa terbangun dengan baik lewat gestur pas dua remaja yang sedang dimabuk cinta, bahkan secara fisik pun gagal tersampaikan walau sudah dibantu dengan sex scenes yang cukup padat. Yang ada hanya jualan fisik masing-masing untuk pangsa penonton remaja yang jelas akan gampang menyukai sosok keduanya tanpa kedalaman apa-apa. Perubahan skrip itu justru akhirnya membuat Shana dan Joshua kelihatan setengah mati membangun turnover karakter Hugh sebagai antagonis tanggung yang serba plin-plan dan benar-benar dangkal hingga tak lagi masuk akal, meskipun Bruce Greenwood tampil dengan akting paling baik diantara yang lain. Begitu juga dengan Joely Richardson, Anna Enger dan Rhys Wakefield yang harusnya bisa berfungsi jadi bagian dalam konflik-konfliknya, sementara Robert Patrick tak diberi kesempatan lebih dengan bagian konflik keluarga Elliott yang tertinggal jauh ke belakang. Dan kekurangan-kekurangan ini masih berlanjut dengan pilihan konklusi jauh berbeda, serba digampangkan hingga jadi benar-benar kelihatan konyol dan tolol.

EL5

            Diatas semuanya, adalah benar-benar suatu kesalahan tak mencoba menghadirkan recycled terhadap theme song legendarisnya. Boleh saja mereka mencoba membangun atmosfer beda yang lebih up to date dari pemilihan lagu-lagu dalam soundtrack-nya, yang sebenarnya juga bukan jelek. Scoring Christophe Beck juga cukup baik, namun melepaskan everlasting theme song itu sebagai bagian terkuat adaptasi lama yang masih begitu kuat diingat sampai sekarang, sekali lagi, adalah sebuah kesalahan besar. Kalaupun masih ada satu yang perlu dipuji dari versi baru ini adalah sinematografi Andrew Dunn yang berhasil menghadirkan feel romantic cukup kuat lewat tampilan visualnya. Selebihnya, apa boleh buat, ‘Endless Love’ versi baru ini nyaris nol besar, apalagi endless. The bland now goes dumb. (dan)

~ by danieldokter on February 21, 2014.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: