I, FRANKENSTEIN : AN EXHAUSTING FORMULA OF FANTASY ACTION

I, FRANKENSTEIN

Sutradara : Stuart Beattie

Produksi : Lakeshore Entertainment, Hopscotch Features, Sidney Kimmel Entertainment, Lionsgate, 2014

IF2

            What exactly do you need to create a fantasy action adaptation franchise?I, Frankenstein’, jelas punya persyaratan utamanya, yang bukan juga sebuah proyek coba-coba. Kevin Grevioux, penulis graphic novel yang hampir selalu muncul di film-filmnya termasuk yang satu ini, adalah otak dibalik franchiseUnderworld’ bersama Len Wiseman. Walau gagal di instalmen terakhirnya, tak bisa dipungkiri bahwa ‘Underworld’ yang dibangunnya dengan mengkombinasikan premis ala Romeo & Juliet di dunia vampire & lycans merupakan franchise yang cukup kuat mendatangkan keuntungan. Stuart Beattie, sutradaranya, juga bukan orang baru di dunia film. Sineas Australia yang memulai karir sebagai penulis ini punya filmografi cukup keren dari ‘Pirates Of The Caribbean : The Curse Of The Black Pearl’, ‘Collateral’, ’30 Days Of Night’, ‘Punisher : War Zone’ hingga ‘G.I. Joe : Rise Of The Cobra’ sebelum masuk ke dunia penyutradaraan lewat film Australia adaptasi novel teen sci-fi warTomorrow : When The War Began’, yang juga meraih sukses baik dari box office, resepsi kritikus hingga award-award bergengsi di negaranya. Dan diatas semua, sosok Frankenstein yang pertama kali dimunculkan penulis Mary Shelley di tahun 1818, pasti sudah sangat akrab bagi semua orang.

IF8

            But beware. Beda dengan novel, komik ataupun graphic novel yang interpretasinya akan sangat relatif, kalau mau diperhatikan, sejarah sinema juga sudah menunjukkan bahwa rata-rata penonton tak bersikap sebaik itu terhadap franchise-franchise sejenis, kecuali mungkin di ranah animasi, untuk menerima sosok monster atau creature buruk rupa yang jauh dari kesan cool sebagai protagonis utama dalam visual. Bukan seperti ‘Underworld’, ‘Ghost Rider’ ataupun ‘Blade’ dalam konteks protagonis monster, tapi lebih dekat ke gambaran ‘Jonah Hex’ yang benar-benar buruk rupa. Belum lagi, formula-formula seperti ini memang kerap dipandang sebelah mata oleh kebanyakan kritikus. Satu resiko terberat yang ditanggung ‘I, Frankenstein’, tak peduli siapapun aktor yang ada dibaliknya. And yes, ini memang bukan kisah klasik karakternya, melainkan reka ulang dimana sang monster dilempar ke tengah fantasy universe-nya untuk menjadi sosok demon hunter bak seorang superhero.

IF3

            Dimulai dengan narasi legenda klasiknya yang berlanjut pada pelarian sang monster (Aaron Eckhart) setelah akhir mengenaskan penciptanya, Dr. Victor Frankenstein (Aden Young), ia kemudian diselamatkan oleh dua gargoyle dari serangan iblis. Dibawa ke ratu gargoyle, Lenore (Miranda Otto) dan tangan kanannya Gideon (Jai Courtney), makhluk ini lantas diberi nama Adam dan diajak menjadi prajurit gargoyle untuk memerangi pasukan iblis demi melindungi umat manusia. Adam yang menolak lantas melanjutkan hidupnya hingga ke masa sekarang. Namun menyaksikan iblis-iblis ini ternyata masih berkeliaran dengan pimpinannya, Prince Naberius (Bill Nighy) yang menyaru sebagai pengusaha milyuner Charles Wessex dan melakukan eksperimen sama dengan eksistensinya lewat seorang ilmuwan Terra Wade (Yvonne Strahovski) atas jurnal Dr. Frankenstein, Adam akhirnya memilih untuk bergabung dengan pasukan gargoyle.

IF6

            Walaupun desain produksi, penggunaan efek-efek CGI dan faktor teknis lain termasuk scoring Johnny KlimekReinhold Heil dari ‘Cloud Atlas’ sungguh tak jelek bersama jualan gimmick 3D-nya, masalah krusial dalam ‘I, Frankenstein’ ada pada skrip yang ditulis Beattie berdasar novel grafis Grevioux. Bukan saja tak mampu memberi penekanan empati pada karakter-karakternya, pengembangan konfliknya juga cenderung tampil dengan intensitas yang datar dan membosankan. Tak sampai separah ‘Legion’ dalam bangunan premis mirip diatas kisah prajurit-prajurit malaikat melawan iblis, namun tetap gagal membuat pemirsanya peduli dengan motivasi-motivasi yang ada. Benar bahwa ini adalah sebuah blockbuster yang semata-mata hanya bertujuan komersil, tapi fondasi serba tanggung itu pada akhirnya memang memupuskan semua potensinya, meninggalkan hanya gelaran CGI action yang juga hanya punya intensitas sedikit meningkat menjelang bagian-bagian klimaksnya.

IF4

            Dan ini masih diperparah oleh jajaran cast-nya. Sudah bangunan karakter itu tergelar dengan sangat lemah dibalik tampilan sosok monster buruk rupa yang sulit mengundang simpati penonton rata-rata, Aaron Eckhart pun tak mampu menampilkan aura yang kuat sebagai lead. Nyaris tanpa pendalaman karakter lebih dibalik mockup yang lebih mengacu ke versi Frankenstein arahan Kenneth Branagh yang diperankan Robert De Niro, walau tak sehancur itu, ia juga tak bisa meng-handle koreografi yang kabarnya sudah memakan waktu latihan berbulan-bulan oleh martial arts experts Ron Balicki dan Diana Lee Inosanto yang membawa style Kali, Filipino martial arts ke dalam adegan-adegan aksinya. Begitu juga Jai Courtney yang sebenarnya sudah punya kredit cukup di instalmen ‘Die Hard’ kemarin berikut Miranda Otto yang kelihatan jauh menua serta Yvonne Strahovski sebagai Terra Wade yang feel romance-nya ke karakter Frankenstein juga tak terbangun dengan baik. Bill Nighy pun lagi-lagi hanya mengulang-ulang perannya di sejumlah film-film sejenis sehingga tak lagi kelihatan menarik. An exhausting formula of fantasy action, yang juga gagal memaksimalkan semua potensi yang dimilikinya. Apa boleh buat. (dan)

IF7

~ by danieldokter on February 22, 2014.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: